
Dan dokter pun melakukan percobaan ke empat. Dan...
"Oeeek...oeeeek...oeek." suara tangis bayi begitu menggelegar memenuhi ruang bersalin.
Selamat yah pak, buk, anaknya perempuan. Semuanya lengkap. Ucap sang dokter.
Tanpa memotong tali pusar terlebih dulu, sang dokter langsung meletakkan bayi perempuan Lucky ke atas dada untuk di melakukan IMD.
"Mas..anak kita." Lirih Ayu saat melihat sosok bayi mungil yang masih merah ada di atas dadanya.
"Iya Yu, anak kita." Balas Lucky, air mata Lucky pun meleleh melihat sosok bayi yang ada di atas dada istrinya.
Sosok bayi yang tak pernah ia bayangkan dalam hidupnya saat ia menjadi penyuka sesama jenis.
Setelah satu jam melakukan IMD, bayi cantik itu pun di angkat dari atas dada Ayu untuk di bersihkan dan di berikan vitamin K dan tetes mata untuk mencegah bakteri yang masuk ke mata. Namun sebelum itu, tak lupa dokter memotong tali pusar bayi cantik itu sebelum bidan membawanya.
Setelah bayi cantik itu dibersihkan dan di beri vitamin, bidan pun memindahkan bayi cantik itu ke kamar rawat Ayu. Sedangkan Ayu sendiri masih harus di observasi satu jam lagi di ruang observasi dan pastinya di temani sang suami yang selalu setia menemani Ayu.
Ceklek. Bidan membuka ruang bersalin.
Ke empat orang tua yang menunggu di depan pintu ruang bersalin pun berdiri.
"Selamat yah pak, buk. Cucu nya perempuan, semuanya lengkap." Ucap sang bidan.
"Cantiknya cucu oma." Ucap mama Tyas saat melihat anak hasil pembuktian kesembuhan anak bungsunya yang ada dalam gendongan bidan.
"Ibu nya gimana? Baik-baik aja kan?" Tanya bu Endang.
Sebahagia apapun bu Endang melihat cucu nya, tapi rasa khawatir akan anak perempuan satu-sarunya lebih besar.
"Ibu nya baik-baik aja kok buk, sekarang sedang di observasi." Jawab buk bidan.
"Mari buk kita bawa dedeknya ke kamar." Ajak buk bidan yang menggendong bayi cantik itu.
Di dalam ruang observasi.
Suara isak tangis terdengar samar-samar di ruang observasi yang hening itu.
Ternyata Lucky sedang menangis di pojokan dekat pintu ruang observasi. Ia menggigit sapu tangan agar suara tangisnya tak terdengar Ayu yang sedang istirahat. Ia menangis karena rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Ayu yang sedang terbaring lemas di atas ranjang, perlahan membuka matanya karena samar-samar mendengar suara orang menangis.
"Mas..." lirih Ayu memanggil suaminya.
Mendengar istrinya memanggil, cepat-cepat Lucky menyeka air mata dan ingusnya, lalu memasukkan sapu tangannya ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Kemudian berjalan dengan gaya coolnya ke arah ranjang mendekati istrinya.
"Ya sayang.."
"Mas Lucky nangis?"
Lucky menggelengkan kepalanya.
"Gak kok."
"Masa sih? Kayaknya tadi aku denger suara orang nangis deh."
"Kamu salah denger kali sayang. Atau gak kamu lagi mimpi." Sangkal Lucky.
"Mimpi gimana sih mas, orang aku gak tidur."
Cup. Satu kecupan lembut Lucky berikan di bibir Ayu agar istrinya itu tak lagi membahas suara tangisan.
Dirinya terlalu malu untuk mengakui kalau dirinya lah yang menangis, mungkin Lucky lupa kalau Ayu bahkan sudah melihat bagaimana jika dirinya sedang tantrum.
"Gak usah mikir yang aneh-aneh sayang, mending kamu istirahat yah." Ucap Lucky mengalihkan pembicaraan.
Ayu menganggukkan kepalanya.
"Mas..ikh geli." Ayu mendorong wajah suaminya karena kumis dan jenggot yang mulai tumbuh di wajah suaminya menusuk-nusuk saat Lucky menciumi wajahnya.
Bukannya berhenti, Lucky malah makin merangkum wajah istrinya dan mengunyah bibir istrinya dengan lembut. Ayu bisa apa kalau sudah begitu, ia hanya bisa menikmati dan membalas kunyahan bibir suaminya.
"Ekhem." Belum sampai satu menit mereka saling mengunyah bibir dan membelit lidah, suara deheman menghentikan aksi kunyah dan belit Ayu dan Lucky.
Dan ternyata tersangka perusak aksi kunyah mengunyah dan belit membelit adalah bidan yang ingin mengecek kondisi Ayu.
Sontak Lucky pun melepas tautan bibir mereka. Lucky terlihat biasa saja, sedangkan Ayu, wajahnya sudah sangat memerah, rasa malunya sudah tak bisa di katakan sebesar apa karena ketahuan sedang perang bibir dengan suaminya.
"Maaf yah pak, buk, ganggu. Saya cek dulu yah tensinya ibu. Nanti baru di lanjut lagi." Ucap sang bidan sambil senyum-senyum.
"Tapi pak, jangan sampe keterusan yah. Baru boleh bikin es campur sama istri minimal empat puluh hari." Lanjut sang bidan.
"Iya buk bidan, saya tau kok." Jawab Lucky santai sambil menyeka sisa saliva di bibirnya.
Bu bidan pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar jawaban Lucky.
"Kondisi istrinya stabil yah pak, kira-kira setengah jam lagi udah bisa masuk kamar." Ucap buk bidan setelah memeriksa kondisi Ayu.
"Terimakasih buk bidan." Jawab Lucky.
__ADS_1
Buk bidan pun keluar dari dalam ruang observasi.
"Ish.. kamu tuh gak ada malu-malunya yah mas, kesel deh." Omel Ayu setelah buk bidan keluar dari ruang observasi.
"Kenapa harus malu Yu, kan yang aku cium istri aku bukan istri orang." Jawab Lucky santai.
"Udah gak usah di pikirin. Kalau kamu stres, nanti ASI kamu gak keluar loh."
Ayu memutar bola matanya malas menanggapi ucapan suaminya.
Cup. Tiba-tiba Lucky kembali mengecup bibir Ayu.
"Ikh mas, baru aja kena razia, udah di bikin lagi." Omel Ayu.
"Cuma cuma kecup doang Yu, biar kamu gak ngambek lagi." Jawab Lucky.
"Makasih yah sayang, udah rela bertaruh nyawa untuk ngelahirin anak kita, buah cinta kita." Ucap Lucky. Kata-kata yang sedari tertahan dalam hatinya.
Bukan karena gengsi mengatakannya, namun karena takut air matanya meleleh saat mengatakan hal itu. Makanya, ia menunggu suasana hatinya tidak melow lagi baru Lucky bisa mengucapkan kalimat yang harus di ucapkan kaum suami pada istrinya yang telah melahirkan buah cinta mereka ke dunia.
"Sama-sama mas, aku juga berterimakasih banget sama mas Lucky. Kalau bukan karena bibit yang mas Lucky tanam di rahim aku, mana mungkin aku bisa ngerasain perjuangan seorang ibu seperti sekarang ini." Balas Ayu
"Aku makin cinta sama kamu. Seandainya waktu itu kamu milih ninggalin aku, mungkin..."
"Sst..!! Gak usah di ungkit lagi, kita kan udah janji gak akan ngungkit itu lagi." Cepat-cepat Ayu menempelkan jari telunjuknya di bibir Lucky, karena tak ingin mendengar suaminya mengungkit masa-masa kelam pernikahan mereka.
Lucky mengambil jari telunjuk Ayu yang menempel di bibirnya dan mencium tangan Ayu bertubi-tubi.
"Oh..iya, kamu mau makan apa? Nanti kalau kamu udah masuk ke kamar, biar aku beliin." Tanya Lucky sambil mengelus kening istrinya.
"Lagi pengen sup buntut yang di jalan xxx. Mas mau kan beliin ke sana?"
"Pasti dong sayang. Kamu mau makan apa aja, tinggal bilang sama aku. Pasti aku.."
"Pasti mas beliin semua yang aku mau makan kan?" Tanya Ayu memotong kalimat Lucky.
Lucky menggeleng.
"Pasti aku sortir dulu mana makanan yang baik untuk kamu dan anak aku. Inget, sekarang kamu lagi menyusui, jadi harus makan makanan yang sehat. Dan aku akan lebih ketat lagi menyortir makanan yang mau kamu makan." Jawab Lucky.
"Iikh..mas Lucky!!!" Rengek Ayu. Padahal ia sudah sempat senang.
Nasib mu lah Yu nikah sama dokter bucin, jadinya bukan soal makanan pun harus kena seleksi dulu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1