Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Bab 36


__ADS_3

Perlu diketahui bahwa American Psychiatric Association (APA) dan World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa homoseksualitas adalah suatu gangguan mental. Menyukai sesama jenis merupakan salah satu kelainan orientasi seksual (dikenal juga sebagai homoseksual) yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor lingkungan, budaya, emosional, hormonal, dan biologis. Setiap orang yang memiliki orientasi seksual ini pasti dipengaruhi oleh latar belakang yang berbeda. Untuk menangani kelainan orientasi seksual ini pertama-tama diperlukan niat yang kuat dari orang tersebut. Tanpa niat yang kuat, usaha apapun tidak akan banyak berpengaruh. Penderitanya juga dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis kejiwaan untuk mengetahui lebih jauh apakah ada hal-hal yang mempengaruhi kelainan seksual ini misalnya riwayat pelecehan seksual sebelumnya. Selain itu, menjauhi pergaulan yang dapat mempengaruhi kelainan orientasi seksual ini juga merupakan hal yang dapat dilakukan tak lupa juga peran keluarga sangat diperlukan.


Sebenarnya saat masih SMU Lucky sudah memberitahu kepada kedua orangtuanya tentang kelainan yang ia rasakan, tapi sayangnya kedua orangtuanya tidak menanggapi serius pengakuan Lucky. Lucky pun berusaha sendiri untuk menyembuhkan sakit mentalnya, tapi apalah daya ia tidak mampu karena tidak ada dukungan dari keluarga dan tidak ada yang memotivasinya untuk sembuh. Dan itu berlangsung sangat lah lama, sampai akhirnya ia bertemu dengan Billy yang juga memiliki penyakit yang sama dengan dirinya. Billy pun berhasil mencuci otak Lucky sampai mereka menjalin hubungan.


Namun sekarang berbeda, ia sudah menemukan sosok Ayu yang menjadi motivasinya untuk sembuh dan mendapat dukungan dari keluarganya, jadi semangat untuk sembuh pun kembali berkobar dalam dirinya.


Intinya jaman sekarang, bukan hanya anak perempuan saja yang harus di jaga, tapi anak laki-laki pun harus di jaga dan di beri edukasi seksual sejak dini. Peran orangtua sangat lah penting untuk tumbuh kembang anak. Jangan mencaci orang-orang yang mengalami penyimpangan, karena mereka sebenarnya adalah korban dari ketidak pedulian keluarga mereka, korban dari pola didik orangtua yang salah.


Melihat keharuan di depan matanya, Ayu pun tak sadar ikut meneteskan airmatanya.


"Pokoknya Ky, berusaha lah sekuat mungkin dalam waktu tiga bulan ini, jangan membuang kesempatan yang ada." Ucap Lingga sambil melepaskan pelukan Lucky dari tubuhnya.


"Pasti bang." Jawab Lucky mantap.


Lucky pun menyeka airmatanya, kemudian menoleh ke arah Ayu yang sedang menatapnya sedari tadi.


"Kita bicara di luar yuk, Yu?" Ajak Lucky yang ingin bicara empat mata pada Ayu.


Ayu menganggukkan kepalanya kemudian berjalan terlebih dahulu keluar dari dalam kamar rawat mama Tyas dan di susul Lucky dari belakang.


Kini Lucky dan Ayu sudah berada di taman rumah sakit, mereka duduk di bangku yang ada di pojokan. (Cie...cie...mojok nih yee...jomblo jangan beper yah!! 😂😛)


"Yu..mas..." mereka berdua kompak ingin membuka percakapan terlebih dahulu.


Mereka pun senyum-senyum sendiri karena salting.


"Mas dulu deh." Ucap Ayu mengalah.

__ADS_1


"Kamu dulu lah Yu, ladies first." Jawab Lucky juga mengalah.


"Mas dulu aja, aku lupa mau ngomong apa."


Di beri kesempatan bicara terlebih dahulu oleh Ayu, Lucky menarik nafasnya sebelum mulai bicara.


"Makasih yah Yu udah ngasih aku kesempatan." Ucap Lucky memulai pembicaraannya.


"Aku belum ngasih kesempatan kok mas, kan laki-laki itu belum pergi dari negara ini." Jawab Ayu.


"Ya, tapi sebentar lagi dia kan akan pergi."


"Tapi mas, aku lebih suka kalau mas sendiri yang mengusir laki-laki itu. Bukan bang Lingga dan bang Leo." Ucap Ayu yang mengutarakan keinginannya.


"Aku juga pasti ikut sama mereka kok Yu, kalau perlu kamu juga ikut, biar kamu lihat sendiri kalau aku sudah benar-benar mengakhiri hubungan ku dengannya." Jawab Lucky.


"Mas..."


"Ya.."


"Malam itu, apa benar mas Lucky dan laki-laki itu pergi ke hotel, karena takut aku datang mengganggu kesenangan kalian?"


"Hotel?" Tanya Lucky dengan raut wajah bingung.


Ayu menganggukkan kepalanya.


Lucky menggeleng.

__ADS_1


"Malam itu aku di rumah sakit. Sebenarnya malam itu memang aku balik lagi ke unit Billy untuk ngambil tas ku yang tertinggal, karena dalam tas ada dompet, ponsel dan agenda penting, aku takut Billy memanfaatkan itu semua untuk hal yang tidak baik, karena aku tau bagaimana sifat Billy. Tapi saat aku masuk ke dalam unitnya, ternyata Billy sudah terkapar di lantai, ia melakukan percobaan bunuh diri. Jadi cepat-cepat aku melarikannya ke rumah sakit. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya satpam apartemen, dia lihat kok waktu aku gotong Billy ke mobil, malah satpam itu yang bantu ambil kunci mobil dari dalam tas aku, dan kamu juga bisa cek cctv kalau kamu masih kurang puas." Jawab Lucky.


"Tapi kenapa laki-laki itu bilang kalau kalian ada di hotel?"


"Kapan?"


"Pagi nya aku nelpon ke nomor mas Lucky, tapi laki-laki itu yang jawab telponnya dan bilang kalau kalian sedang di hotel."


Lucky mengernyitkan keningnya mengingat-ingat dimana dirinya saat Ayu menelpon sehingga membuat Billy berkesempatan menjawab panggilan dari Ayu.


"Ah..saat itu aku sedang mengurus administrasi Billy. Aku meninggalkan tas ku di ruang tidur dokter jaga. Pantas saja saat aku selesai mengurus administrasi dan menghampiri Billy di bangsal, Billy sudah tidak ada lagi disana. Saat aku tanya dia habis dari toilet." Jawab Lucky setelah mengingat kejadian pagi itu.


"Oh..jadi bener mas Lucky sama dia gak ke hotel?" Tanya Ayu sekali lagi.


"Gak Yu, aku berani sumpah." Jawab Lucky sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V ke udara."


Ayu hanya mengulas senyum tipis di bibirnya menanggapi sumpah Lucky.


Melihat Ayu tersenyum, Lucky pun menarik tubuh Ayu dan memeluknya.


"Kamu percaya kan sama ku?" Tanya Lucky sambil mengelus rambut Ayu.


Ayu menganggukkan kepalanya.


"LUUUUUUCK!!!!!" teriak seseorang dari kejauhan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2