
Setelah pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya Pak Andar dan Bu Endang pun memaafkan kesalahan Adam dan menerima Sonia dan Cantika sebagai menantu dan cucu mereka. Apalagi kalau bukan Cantika yang menjadi alasan mereka memaafkan si bungsu yang suka bikin masalah.
Rasanya tak adil jika mereka tidak memberi kesempatan pada Adam sedangkan Lucky dan keluarganya yang telah jelas-jelas menipu mereka, mereka beri maaf.
Setelah membuka pintu maaf yang selebar-lebarnya untuk Adam, suasana yang tadi sempat menegang pun akhirnya mencair.
"Jadi Pak, Buk. Sebentar lagi peringatan setahun meninggalnya Karen. Apa Bapak sama Ibu mau ikut kami ke kota B untuk sama-sama memanjatkan doa?" Tanya Adam.
Pak Andar dan Bu Endang yang sedang bermain dengan Cantika pun saling memandang lalu tak lama mereka berdua pun kompak mengangguk.
"Iya Dam, pasti kami akan ikut." Jawab Bu Endang.
"Mbak juga ikut Dam." Timpal Ayu.
"Tapi bukannya mbak sama mas, mau honeymoon? "
"Memangnya peringatan setahunnya Karen?"
Adam pun memberitahu tanggal meninggalnya Karen. Dan ternyata tanggal meninggalnya Karen tidak bertabrakan dengan jadwal keberangkatan Ayu-Lucky honeymoon.
"Oh.. mbak kan berangkatnya tiga hari setelah itu. Jadi bisa lah mbak ikut." Jawab Ayu.
"Kamu mau kan mas, ikut ke kota B?" Tanya Ayu pada suaminya.
Lucky hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja.
"Tunggu Dam. Berarti hari itu, Cantika juga genap setahun dong?" Tanya Ayu.
Adam dan Sonia kompak menganggukkan kepala mereka.
"Gak ada perayaan ulangtahun Cantika?" Tanya Ayu.
"Mau nya sih mbak. Tapi gak etis aja masa di hari setahun mamanya Cantika meninggal, kita ngadain acara ulangtahun. Kalau pun dirayakan paling cuma syukuran kecil-kecilan bersama anak yatim dan penderita autoimun aja." Jawab Adam.
Ayu melihat wajah Sonia dan pak Zidane. Terlihat raut wajah kecewa dari mereka berdua mendengar jawaban Adam. Bukan hanya Sonia dan pak Zidane, bahkan Ayu pun sebenarnya kecewa dengan jawaban Adam.
"Bagaimana kalau dua hari setelah peringatan meninggalnya Karen, kita adakan perayaan kecil-kecilan untuk Cantika. Biar ada dokumentasi Dam saat Cantika besar nanti. Ini kan ulangtahun pertamanya, apalagi perjuangan yang Cantika lewati gak mudah, jadi paling gak kita buat lah perayaan kecil-kecilan."
"Iya, Ibu setuju dengan usul Mbak mu. Bukan hanya sekedar syukuran tapi kita buatlah perayaan walaupun gak terlalu mewah. Cukup ada balon warna-warni, kue ulangtahun dua tingkat, dan bingkisan snack dan nasi kuning. Yang di undang juga cukup anak-anak komplek, sepupu-sepupu Cantika, anak-anak panti asuhan." Timpal Bu Endang.
Adam menghela nafasnya sambil menatap putri semata wayangnya.
"Baik lah kalau begitu. Dua hari setelah peringatan setahun Karen, kita buat acara ulangtahun untuk Cantika." Jawab Adam.
Mendengar jawaban Adam, raut wajah kecewa musnah seketika dari wajah Sonia dan Pak Zidane.
Setelah urusan dengan keluarga Adam selesai. Keesokan harinya Pak Zidane, Adam, Sonia dan Cantika pun datang menemui orang tua Pak Zidane. Tujuannya sama, untuk mengajak orang tua Pak Zidane ikut berziarah ke kota B.
FLASHBACK OFF
Acara ulang tahun Cantika yang sederhana namun sangat berkesan itu pun selesai tepat pukul enam sore.
__ADS_1
Setelah membereskan sisa-sisa acara, dan setelah para tamu undangan dan orangtua Adam pulang, Adam, Sonia dan Cantika pun masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Apalagi sekarang sudah pukul delapan malam dan sudah waktunya memang Cantika tidur.
Sama seperti malam-malam sebelumnya, Adam lah yang meninabobokan Cantika dengan membacakan dongeng sebelum tidur. Tapi malam kali ini berbeda. Karena box bayi yang biasanya tidak pernah terpakai, malam ini Adam pakai untuk membaringkan Cantika begitu Cantika terlelap.
Melihat Adam membaringkan Cantika dalam box nya, jantung Sonia berdegup kencang.
"Kenapa Cantika di taro disitu? Apa jangan-jangan mas Adam mau..." Sonia menggelengkan kepalanya untuk mengeluarkan pikiran mesum dari otaknya.
"Kamu kenapa?" Tanya Adam saat melihat Sonia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gak pa-pa mas." Jawab Sonia.
"A-aku tidur duluan yah mas." Kata Sonia lagi. Ia ingin menghindar dari Adam jika apa yang ia pikirkan barusan benar adanya.
Adam tak menjawab, ia malah berjalan menuju ranjang dan duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Sonia.
Jelas saja, jantung Sonia makin berdegup kencang.
"Son..."
"Iya mas."
"Apa kamu gak capek dengan pernikahan kita yang kayak gini?"
"Maksudnya?"
"Kita menikah udah hampir setahun, tapi selama setahun itu kita saling menutup diri. Apa kamu gak capek begitu terus?"
"Tapi kan kamu juga begitu." Balas Adam tak mau kalah.
Padahal seisi rumah juga tau kalau Adam lah yang lebih menutup dirinya dari Sonia.
"Tapi sekarang aku ingin membuka diri ku untuk pernikahan kita." Kata Adam lagi.
"Ya walaupun sekarang aku belum memiliki perasaan apapun pada mu, aku harap mulai sekarang kita harus saling membuka hati. Agar cinta bisa hadir dalam pernikahan kita." Lanjut Adam.
"Apa kamu juga mau membuka diri untuk pernikahan kita? Dan mau menjadi istri ku yang seutuhnya?"
Sonia diam sejenak memikirkan kata-kata Adam tapi tak lama ia pun menganggukkan kepalanya.
Melihat Sonia mengangguk, Adam makin mendekatkan dirinya dengan Sonia yang sedang berbaring.
"Kamu mau apa?"
"Bukannya tadi kamu bilang mau jadi istri ku yang seutuhnya?"
"Tapi mas..."
"Tutup saja mata mu dan ikuti alurnya." Kata Adam sambil mengelus pipi Sonia.
Seperti terkena hipnotis, Sonia pun menutup matanya.
__ADS_1
Dan disaat Sonia sudah menutup matanya, Adam pun mendekatkan bibirnya ke bibir Sonia. Bibir mereka pun sudah melekat.
Adam pun mulai mengunyah bibir Sonia perlahan, tapi sayangnya tidak ada balasan dari Sonia. Maklum, ini pertama kalinya bagi Sonia.
Karena tak ada balasan dari Sonia, Adam melepaskan sejenak kunyahan bibirnya itu.
"Respon Son." Kata Adam.
"Aku gak bisa mas."
"Apa kamu belum pernah ciuman sebelumnya?"
Sonia menggelengkan kepalanya.
Adam menghela nafasnya.
"Murid baru lagi." Gumam Adam dalam hatinya.
Padahal di pikiran Adam, dirinya tidak perlu lagi memberi pelajaran tekhnik dasar penyengatan dengan Sonia, mengingat umur Sonia yang lebih tua dua tahun darinya. Tapi ternyata Adam salah, umur bukan lah jaminan untuk mengukur ilmu seseorang tentang sebuah ritual kramat.
"Kalau begitu, ikuti saja seperti yang aku lakukan." Kata Adam. Adam pun kembali menempelkan bibirnya di bibir Sonia, lalu mengunyah bibir itu perlahan.
Sonia pun melakukan seperti yang Adam katakan. Ia membuka mulutnya dan membalas kunyahan bibir Adam meskipun tak semahir yang Adam lakukan.
Pergulatan bibir pun semakin memanas, karena merasakan stok oksigen dalam paru-paru menipis, Adam pun menjeda sejenak pergulatan bibir mereka dan berpindah ke leher Sonia.
"Eugh..." lenguh Sonia saat merasakan sentuhan bibir Adam di lehernya.
Mendengar Sonia melenguh, hasrat Adam semakin meninggi, ia semakin menggila memberi sentuhan di leher Sonia hingga terbentuk lah jejak kepemilikan disana.
Tangan Adam pun tak tinggal diam. Tangannya mulai menyusup balik piyama yang Sonia pakai.
Merasakan ada tangan besar menyusup di balik piyamanya bagai pencuri, refleks Sonia menangkap tangan Adam dan memelintir tangan suaminya itu yang belum juga sampai di susu gantung Sonia.
"Aaaarrrkkkkh..." teriak Adam.
Mendengar teriakan Adam, sontak Sonia melepaskan tangannya yang sedang memelintir tangan Adam.
"Kamu apa-apaan sih!!!" Bentak Adam.
"Maaf mas, refleks." Jawab Sonia merasa bersalah.
"Refleks-refleks!!! Sakit tau!!! Ngerusak suasana aja!!" Omel Adam.
"Ya maaf mas. Namanya juga refleks. Ini kan pertama kalinya buat aku, jadi tubuh aku spontan ngasih alarm bahaya, yah.. jadinya refleks deh. Maaf yah mas." Jawab Sonia.
Adam menghela nafas kasar.
"Ya sudah lah, lanjutkan saja tidur mu. Aku sudah gak mood." Kata Adam. Adam pun berdiri dan berjalan memutar langkahnya menuju sisi ranjang yang kosong di sebelah Sonia. Lalu membaringkan tubuhnya kasar di atas ranjang, kemudian mematikan lampu kamar dengan remote lalu mematikan lampu tidur yang ada di nakas.
Tau suaminya kesal karena ulahnya, bukannya membujuk Adam, Sonia malah melakukan hal yang sama dengan Adam, tidur membelakangi Adam dan mematikan lampu tidur di atas nakas yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...