
Dengan langkah perlahan Adam masuk ke dalam rumah kakaknya itu. Matanya berkeliling melihat situasi dan kondisi rumah.
"Mbak... mbak Ayu." Panggil Adam.
Tapi tak ada yang menyahut panggilan Adam. Rasa penasaran Adam pun semakin menjadi-jadi, ia terus melangkahkan kakinya masuk ke area dapur.
Di dapur samar-samar ia mendengar suara orang meneriaki nama kakaknya. Adam pun menajamkan telinganya untuk mencari sumber suara dan ternyata suara itu bersumber dari gudang yang ada di halaman belakang.
Karena rasa penasaran semakin merajalela dalam hati dan pikirannya, Adam pun berjalan mendekati gudang itu. Suara seorang wanita yang ia yakini itu adalah suara Sonia yang sedang memanggil nama kakaknya dengan histeris semakin terdengar jelas di telinga Adam.
Adam pun sampai di depan pintu gudang, matanya langsung membelalak sempurna saat melihat seorang pria yang sedang berjalan mendekati Sonia dengan sebilah pisau di tangannya.
Tak ingin sampai laki-laki itu menghujam Sonia lebih dulu, Adam pun berlari mendekati laki-laki itu dan...
BUGH..BUGH..BUGH..
Adam pun langsung memberikan tinjuan bertubi-tubi pada laki-laki itu, bahkan sampai laki-laki itu terkapar di lantai pun, Adam masih mendaratkan bogem mentahnya pada laki-laki itu.
"Cepat bawa mbak Ayu kerumah sakit." Teriak Adam pada semua anak buahnya yang tadi mengekorinya dari belakang saat dirinya sedang mengambil nafas.
Sonia pun menggendong Ayu, dan satu anak buah Adam menggotong Lila.
Membawa Ayu dan Lila keluar dari dalam gudang.
"Siapa kau? Saya tidak punya urusan sama mu!!!" Teriak laki-laki itu.
"Jelas kau berurusan dengan ku, karena wanita yang kau sakiti adalah kakak ku!!! Harusnya sebelum kau berniat menyakiti kakak ku, kau cari tau dulu tentangnya!!!" Balas Adam tak kalah berteriak dari laki-laki itu.
"Cih..buat apa aku mencari tau tentang wanita sialan itu!! Yang aku mau wanita sialan itu musnah dari dunia ini, karena wanita sialan itu sudah merenggut kebahagiaan ku!!"
Adam mengernyitkan keningnya, mencerna kata-kata laki-laki itu.
"Merenggut kebahagiaan? Apa mbak Ayu sudah memperkosa laki-laki ini? Lalu mbak Ayu gak mau bertanggung jawab dan malah menikahi mas Lucky? Kalau memang begitu kan, seharusnya tidak jadi masalah. Malah si tengik ini yang untung." Adam menerka-nerka kalimat yang laki-laki itu katakan.
"Aakh..tidak mungkin, masa iya seperti itu." Gumam Adam lagi.
Otak Adam yang cetek tak sanggup memikirkan maksud perkataan laki-laki yang ia tinju bertubi-tubi itu yang sesungguhnya. Adam pun berniat menanyakan langsung apa yang membuat laki-laki itu sangat dendam pada kakaknya.
Namun saat Adam ingin menanyakan, tiba-tiba saja ponsel Adam berbunyi.
Adam pun merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya. Tertera nama Lucky yang menghubunginya, kemudian menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
"Ha-" Belum selesai Adam menyapa kakak iparnya, Lucky sudah memberi perintah pada Adam.
"Dam, kamu tahan Billy disitu. Jangan ada yang lapor polisi. Biar aku yang memberi pelajaran langsung dengan tangan ku." Perintah Lucky.
"Oke. Baik mas." Jawab Adam.
__ADS_1
Panggilan pun berakhir.
"Oh.. laki-laki ini namanya Billy." Gumam Adam sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celana.
"Ambilkan tali dan lakban. Kita sekap dulu laki-laki ini sampai mas Lucky datang." Perintah Adam pada anak buahnya.
"Baik pak."
"Dan kau, bersiap-siap lah menerima amukan kakak ipar ku karena sudah menyentuh istrinya. Dan satu lagi, kalau sampai terjadi apa-apa pada calon keponakan ku, habis kau ditangan ku.!" Ancam Adam.
Tak lama anak buah Adam pun datang membawa tali dan lakban yang di perintahkan Adam padanya. Anak buah Adam pun mengikat kaki dan tangan Billy, menyumpal mulut Billy dengan kaos kaki salah satu anak buah Adam yang sudah seminggu tidak di cuci.
"Kalian jaga disini jangan sampai orang ini kabur." Perintah Adam.
"Baik pak." Jawab anak buah Adam.
Adam pun keluar dari dalam gudang, membiarkan Billy di jaga ketat oleh tiga anak buah Adam.
✨✨✨
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
Setelah Lucky datang dan memberi pelajaran pada Billy dengan tangannya langsung, Adam pun langsung membawa Billy ke kantor polisi. Adam pun memberi keterangan pada pihak kepolisian sesuai dengan apa yang ia lihat.
Setelah selesai memberi keterangan di kantor polisi, Adam pun pergi kerumah sakit tempat kakaknya di rawat, ia ingin melihat kondisi kakaknya sebelum pulang kerumah.
Ceklek. Adam membuka pintu kamar rawat Ayu dengan perlahan.
Lucky yang sedang duduk di sebelah ranjang Ayu pun menoleh untuk melihat siapa yang membuka pintu.
"Gimana Dam? Kamu udah urus Billy?" Tanya Lucky saat melihat Adam yang ternyata membuka pintu.
Adam hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya sambil berjalan mendekati ranjang Ayu.
"Mbak Ayu beneran gak pa-pa kan mas? Terus keponakan aku gimana?" Tanya Adam khawatir.
"Gak pa-pa. Mereka berdua baik-baik aja kok." Jawab Lucky.
"Aku tuh masih penasaran deh mas, kenapa laki-laki itu ngincer mbak Ayu. Setau aku mbak Ayu tuh orang yang gak suka nyari masalah sama orang." Tanya Adam.
"Ayo ikut saya, biar saya ceritakan semua sama kamu." Jawab Lucky sambil mengangkat bokongnya dari tempat duduk dan berjalan keluar dari kamar rawat inap Ayu.
Adam pun mengikuti Lucky keluar dari kamar rawat Ayu.
Kini mereka sudah duduk di depan kamar rawat Ayu.
"Sebelum aku cerita tentang Billy, apa kamu mau berjanji untuk merahasiakan ini dari siapapun?" Tanya Lucky.
__ADS_1
Karena rasa penasaran yang besar, Adam pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Aku janji." Ucap Adam.
"Aku harap kamu jangan kaget setelah mendengar cerita aku ini." Ucap Lucky.
Lucky pun mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan sebelum memulai ceritanya.
"Billy itu adalah mantan kekasih ku." Kata Lucky tanpa basa-basi.
"Hah?" Mulut Adam menganga dan matanya berulang kali mengerjap mendengar pengakuan Lucky.
"Ma-maksud mas Lucky, mbak Ayu kali yang mantan pacarnya si laki-laki itu." Adam masih menolak percaya dengan pengakuan Lucky.
Lucky menggelengkan kepalanya.
"Bukan Ayu, Dam, tapi aku." Jawab Lucky.
Pengakuan Lucky ini benar-benar belum bisa masuk di akal seorang Adam yang notabene pria sejati dan belum pernah masuk di circle Lucky. Karena di pemikiran Adam, hanya laki-laki gemulai lah yang menyukai sesama jenis. Tapi ini, dari yang ia lihat baik Lucky maupun Billy tak ada satupun dari mereka yang terlihat gemulai alias ben•chong.
"Hahahaha.... mas Lucky becanda aja nih!!! Kita lagi ngomong serius ini mas." Tawa Adam sambil menepuk lengan suami kakaknya itu.
Lucky memejamkan matanya sambil menghela nafasnya kasar.
"Aku serius Dam, gak lagi becanda. Aku ini mantan g•a•y!!!" Jawab Lucky penuh penekanan.
Melihat wajah serius kakak iparnya dan nada suara yang penuh penekanan, Adam yakin kalau kakak iparnya itu memang sedang tidak bercanda. Dan pendengarannya pun juga tidak salah.
Wajah Adam seketika berubah menjadi pucat, perlahan ia menggeser bokongnya ke tempat duduk kosong yang ada di sebelahnya agar menjauhi kakak iparnya itu.
Tapi baru saja beberapa centimeter bokongnya bergeser, Lucky langsung menarik tangan Adam hingga membuat mereka berdempetan.
"Mas... mas.. please mas, jangan sama saya mas. Saya normal mas, botol jin saya cuma mau mengeras sama perempuan mas. Lepasin saya mas, saya mohon mas." Rengek Adam sambil menutup matanya dan melipat kedua tangannya di depan wajahnya.
CLETAK. Lucky pun langsung menyentil kening Adam.
"Kan aku bilang mantan, bodoh!!! Kalau aku masih suka nge•mute terong gak mungkin kakak mu sekarang blendung!!!" Omel Lucky.
"Bener sekarang mas Lucky udah gak suka terong? Udah suka apem?" Tanya Adam menyelidik.
Lucky hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Kamu masih mau denger cerita saya gak?" Tanya Lucky.
"Masih mas. Cerita lah." Jawab Adam.
Dan Lucky pun menceritakan pada Adam tentang hubungannya dengan Billy, tentang alasan kenapa ia menikah dengan Ayu dan sampai cerita tentang kecemburuan Billy pada Ayu.
__ADS_1
BERSAMBUNG....