Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Bab 59


__ADS_3

"Kamu kok baru dateng sih Dam? Mbak tuh khawatir tau gak sama kamu. Mbak takut kamu bikin ulah lagi."


"Gak lah mbak. Adam udah puas lah bandel. Sekarang sibuk ngisi pundi-pundi, biar bisa bahagian ibu sama bapak."


"Oh iya mbak, Orang yang mau berbuat jahat sama mbak masih neror?" Tanya Adam.


"Gak tau. Kan bukan mbak yang di teror Dam, tapi mas mu ini yang di teror."


"Iya mas, apa yang ngancem mbak Ayu masih suka neror?" Tanya Adam pada Lucky.


Lucky hanya menggelengkan kepalanya. Ia berbohong karena Billy masih terus meneror Lucky dengan ancaman akan menghabisi nyawa Ayu. Bukan lewat pesan atau telepon, melainkan melalui surat kaleng yang Billy kirim ke rumah sakit.


Dan hal itu membuat Lucky semakin yakin kalau Billy ada di negaranya. Tapi Lucky tidak mau memberitahu Ayu, mengingat Ayu yang sedang hamil, yang tidak boleh di buat stress apalagi Ayu masih hamil muda.


Meski Lucky merahasiakan dari Ayu, tapi Lucky tidak merahasiakan dari Sonia dan meminta Sonia untuk tidak memberitahu Ayu.


Melihat wajah kakak iparnya yang aneh, Adam tau ada sesuatu yang tidak beres yang sedang di sembunyikan suami kakaknya.


"Mbak, Adam laper nih, bikinin nasi goreng dong." Pinta Adam, tujuannya agar dirinya dan sang kakak ipar bisa membicarakan hal yang sedang kakak iparnya sembunyikan.


"Duuh Dam, mbak lagi gak bisa nyium bawang-bawangan. Gimana kalau Sonia aja yang bikinin kamu nasi goreng?" Tawar Ayu.


"Tapi Adam maunya nasi goreng buatan mbak Ayu." Rengek Adam sambil memberikan kode pada Lucky dengan matanya untuk membantunya membujuk kakaknya.


Lucky yang paham akan kode mata yang di berikan Adam pun, mulai membujuk Ayu.


"Bikinin lah Yu, manatau aja Adam kena kehamilan simpatik karena baru ketemu sama kamu." Bujuk Lucky.


"Emang bisa gitu mas? Bukannya kehamilan simpatik hanya menimpa suami yang istrinya hamil?" Tanya Ayu menolak percaya.


"Kamu sama Adam kan sedarah Yu, kehamilan simpatik itu kan karena ikatan batin, jadi bisa aja setelah ngeliat kamu Adam jadi ngidam." Jawab Lucky.


"Tapi aku gak bisa nyium bawang-bawangan mas."


"Pake masker Yu, terus maskernya tetesin minyak kayu putih jadi bau bawangnya gak kecium. Minta tolong juga sama Sonia untuk potong bawang." Kata Lucky memberi ide cemerlang.


Ayu pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ide sang suami.


"Jangan macem-macem yah mas sama Adam." Bisik Ayu memberi peringatan pada suaminya sebelum beranjak dari tempat duduk.


"Iya sayang." Jawab Lucky sambil mencubit gemas pipi istrinya.


Ayu pun berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruang tamu menuju dapur.


Sepeninggal Ayu dari ruang tamu, Adam pun mulai mendekati suami kakaknya itu dan duduk di tempat yang Ayu duduki tadi.

__ADS_1


Melihat Adam yang pindah tempat duduk, jantung Lucky jadi deg deg ser, bukan karena bibit penyuka terong tumbuh lagi dalam dirinya, melainkan takut tiba-tiba Ayu kembali ke ruang tamu dan melihat Lucky dan Adam duduk bersebelahan, bisa-bisa Ayu jadi salah paham lagi dengan dirinya.


"Jujur mas, sebenarnya orang itu masih neror kan?" Tanya Adam dengan suara yang sangat pelan.


Lucky tak menjawab, ia memilih untuk pindah tempat duduk dulu, mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.


"Mas..jujur dong mas." Paksa Adam sambil terus mendempeti kakak iparnya.


Oh..Adam, apa kamu tidak lihat wajah kakak ipar mu sekarang yang sedang ketakutan karena ulah mu.


"Kamu bisa diem gak di tempat mu. Jaga jarak.!!" Perintah Lucky tegas pada adik iparnya.


"Kalau kejauhan nanti mbak Ayu denger."


"Yah di pelanin lah suara mu!! Aku gak budeg kok!! Udah sana jauh-jauh.!" Perintah Lucky lagi.


Mau tak mau Adam pun menjauh dari Lucky.


"Sekarang mas Lucky jujur sama aku, orang itu masih neror mbak Ayu kan?"


Lucky menganggukkan kepalanya.


Lucky pun mulai menceritakan rangkaian teror yang Billy berikan padanya di rumah sakit.


"Kalau gitu kita harus kasih pengamanan super ketat buat mbak Ayu mas. Satu bodyguard aja gak cukup mas untuk jagain mbak Ayu dari psikopat."


"Aku juga maunya begitu Dam, tapi takutnya mbak mu curiga. Aku gak mau mbak mu stres karena ketakutan, mbak mu kan lagi hamil."


"Itu gampang mas, aku akan minta bantuan sama teman-teman aku untuk mengawasi mbak Ayu dari jauh."


"Serius?"


"Serius mas, serahin aja sama Adam."


Lucky pun menganggukkan kepalanya mempercayakan keselamatan istrinya di tangan adik iparnya.


✨✨✨


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Lucky sedang bersiap-siap untuk pergi kerumah sakit. Sebenarnya hari ini adalah jadwalnya ia libur, tapi karena ada pasien darurat yang baru mengalami kecelakaan dan harus melakukan operasi darurat kerena mengalami pendarahan di bagian perut, mau tak mau Lucky pun harus siap. Apalagi di rumah sakit itu, Lucky adalah salah satu dokter terbaik.


Dan mendadaknya panggilan operasi itu membuat Ayu berpikiran yang tidak-tidak dengan suaminya. Sepertinya Ayu masih trauma jika suaminya tiba-tiba ada panggilan darurat. Jangan salahkan Ayu yang memiliki trauma, itu semua juga karena ulah Lucky yang dulu membohongi Ayu dengan alasan pekerjaan, padahal suaminya itu pergi bermain anggar dengan mantan kekasihnya.


Cup. Lucky mengecup kening Ayu sebelum keluar dari dalam kamar.


"Gak usah nganter, kamu di kamar aja. Ingat, jangan kemana-mana tanpa pengawasan Sonia." Ucap Lucky memberi peringatan pada Ayu.

__ADS_1


Dengan raut wajah sok ikhlas, Ayu menganggukkan kepalanya.


"Ya udah aku pergi yah." Pamit Lucky.


"Mas..." lirih Ayu saat suaminya hendak berjalan.


"Kenapa?"


"Mas Lucky lama gak?"


"Gak tau, lihat kondisi pasiennya dulu. Kenapa? Kamu takut tidur sendirian? Kalau takut kamu minta aja Sonia temanin kamu tidur."


Ayu menganggukkan kepalanya lagi, padahal bukan itu kegundahan hati Ayu.


Cup. Lucky kembali mengecup puncak kepala istrinya dan mengelusnya sebelum ia keluar dari dalam kamar.


"Sonia, tolong kamu jaga ketat istri saya. Dan satu lagi, kalau saya lama pulang, temani istri saya tidur yah." Pinta Lucky pada Sonia yang sedang berjaga di depan kamarnya.


"Baik pak." Jawab Sonia tegas dan lugas.


Lucky pun melangkahkan kaki nya turun ke lantai bawah. Dan begitu Lucky turun, Sonia pun masuk ke dalam kamar bosnya itu untuk menemani Ayu.


"Bu Ayu kenapa? Lapar?" Tanya Sonia saat melihat istri bos nya itu gelisah.


"Biasanya apa yang kamu lakukan kalau sedang gelisah?" Ayu malah balik bertanya pada Sonia.


"Biasanya saya akan pergi ke tempat saya latihan bela diri dan membuang rasa gelisah saya dengan meninjui samsak. Apa Bu Ayu sedang gelisah sekarang?"


Ayu menganggukkan kepalanya.


"Saya gelisah memikirkan suami saya."


"Apa Bu Ayu takut suami ibu berbuat yang macam-macam?" Tebak Sonia.


Ayu menganggukkan kepalanya lagi.


"Kalau menurut saya, Bu Ayu tidak perlu khawatir. Menurut saya, pak Lucky itu laki-laki yang sangat setia, dari sorot matanya saja saya bisa melihat kalau pak Lucky sangat mencintai Bu Ayu. Jadi tidak mungkin ia tergoda dengan wanita lain." Ucap Sonia menenangkan Ayu. Tapi sayangnya Sonia salah persepsi, Ayu bukan khawatir suaminya itu main serong melainkan takut suaminya itu main terong.


Ayu menghela nafasnya, tidak mungkin juga ia membuka aib suaminya pada Sonia.


"Udah buk, gak usah khawatir. Bu Ayu kan lagi hamil, jadi harus terus positif thinking."


Ayu pun duduk diatas ranjangnya dan menyalakan televisi yang sengaja Lucky sediakan dalam kamar agar istrinya itu tidak keluar-keluar kamar kalau Lucky sedang tidak berada di rumah.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2