Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Bab 31


__ADS_3

Setelah hampir lima belas menit Ayu buang air besar, Ayu pun lanjut mandi.


Lima belas menit kemudian, Ayu pun keluar dari dalam kamar mandi.


Ia berjalan menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya terlebih dahulu, Ayu pun mendaratkan bokongnya di kursi meja rias.


Saat tangannya hendak mencolokkan kabel hairdryer ke kontak listrik, rasa penasaran akan keberadaan suaminya meronta-ronta. Tak ingin lama-lama di hantui rasa penasaran, Ayu pun berdiri dari kursi meja rias dan berjalan menuju nakas sebelah tempat tidurnya untuk mengambil ponselnya dan melakukan panggilan ke nomor Lucky.


Tuuut...tuuut...tuuut.


"Halo.." jawab laki-laki di seberang telpon, tapi Ayu tau kalau yang menjawab bukan lah suaminya, melainkan...


"Kamu..!!! Kenapa kamu yang jawab telpon mas Lucky? Mas Luckynya mana?!"


"Hei.!!! Kalau aku yang jawab telponnya Luck, berarti Luck nya lagi ada sama ku. Luck masih tidur, semalaman kami begadang. Terlalu banyak gaya yang eksplor."


Ya..laki-laki yang menjawab telpon Ayu adalah Billy.


Mendengar kata-kata Billy, jelas saja Ayu meradang.


"Bohong!!! Jangan ngarang kamu!!!" Ayu menolak percaya dengan ucapan Billy.


"Ya sudah kalau gak percaya. Datang aja kesini. Tapi jangan datang ke apartemen ku yah, soalnya kami lagi di hotel sekarang." Ucap Billy makin memanas-manasi hati Ayu.


Dan usaha Billy memanas-manasi hati Ayu pun berhasil, Ayu langsung mengakhiri panggilan telponnya.


Ia langsung terduduk lemas di tepi ranjang sambil menangis.


"Sepertinya mas Lucky memang gak bisa lepas dari laki-laki itu. Aku nyerah mas, kalau memang kamu lebih memilih dia di banding aku. Padahal kalau kamu memilih aku dan meninggalkan laki-laki itu, aku akan menerima mu apa adanya dan siap membantu menyembuhkan mu. Tapi sekarang aku sadar, aku sama sekali tidak berarti apa-apa untuk mu." Ucap Ayu sambil berlinang air ketuban,eh..salah air mata maksudnya.


Ayu pun beranjak dari tepi ranjang dan kembali ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya. Setelah rambutnya kering ia masuk ke ruang ganti dan memakai pakaiannya. Ayu pun mengambil ponselnya dan memesan taksi online, bukan untuk ke hotel mencari sang suami melainkan ingin pergi ke rumah mertuanya dan mengutarakan niatnya yang ingin bercerai dari Lucky.

__ADS_1


Selesai memesan taksi online, sambil menunggu taksi itu datang, Ayu pun memoleskan bedak ke wajahnya.


Tak sampai lima belas menit menunggu, taksi online pesanan Ayu pun datang. Ayu yang sudah berada di lobi lima menit sebelum taksi itu datang, langsung naik ke dalam mobil ketika taksi itu sudah berada di pelataran gedung apartemen.


✨✨✨


Setelah melewati perjalanan yang cukup lama karena jarak rumah orangtua Lucky dengan apartemen tempat tinggal Ayu dan Lucky sangat jauh di tambah lagi kemacetan lalu lintas di pagi hari, akhirnya taksi online yang membawa Ayu ke rumah orangtua Lucky tiba juga di depan rumah orangtua suaminya itu.


Setelah membayar ongkos sesuai tarif, Ayu pun turun dari dalam taksi.


Lama ia memandangi rumah besar milik mertuanya itu. Ia ragu untuk memberitahu mertuanya tentang masalah rumah tangganya mengingat sang mama mertua yang kondisi kesehatannya turun naik.


"Loh...non Ayu, kok berdiri disitu bukannya masuk?" Tanya salah satu asisten rumah tangga di rumah mertuanya yang baru pulang dari pasar.


"Ah..ini mau masuk kok mbak." Jawab Ayu.


Mau tak mau Ayu pun masuk ke dalam rumah orangtua Lucky.


Si mbak asisten pun masuk ke dalam untuk meletakkan barang belanjaan sekaligus memberitahu mama Tyas tentang kedatangan Ayu.


Tak lama mama Tyas pun datang.


"Tumben pagi-pagi kamu udah disini? Kamu sendiri kesini? Lucky mana?" Serentetan pertanyaan mama Tyas layangkan pada Ayu sambil mendaratkan bokongnya di atas single sofa.


"Ayu kesini sendiri mah, kalau mas Lucky...dia...." Ayu ragu mengatakan pada mama mertuanya kalau suaminya sedang berada di hotel bersama Billy.


"Lucky kerja? Dia masih gak bisa ngurangin kesibukannya? Dia masih milih di rumah sakit seharian daripada nemenin kamu dirumah atau ngajak kamu jalan-jalan?" Tanya mama Tyas mengintimidasi.


Ayu tak menjawab, ia malah menundukkan wajahnya menahan tangis.


"Kamu ada sini Yu? Lucky mana?" Tiba-tiba saja suara papa Lutfi memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa detik.

__ADS_1


"Ayu kesini sendiri pah, anak kamu masih lebih memilih pekerjaannya di banding istrinya." Malah mama Tyas yang menjawab pertanyaan papa Lutfi dengan ketus.


"Anak itu..." geram papa Lutfi.


"Pah...mah...ada yang mau Ayu sampein." Ayu pun mulai membuka suaranya. Mumpung hatinya lagi mantap-mantap nya untuk memberitahu masalah rumah tangganya denga Lucky, jadi ia tidak boleh menunda-nunda lagi mengutarakan keinginannya yang ingin bercerai dari Lucky.


Mendengar suara Ayu yang terdengar serius, sontak papa Lutfi dan mama Tyas menoleh ke arah Ayu. Mama Tyas langsung berdiri dari tempat duduknya dan duduk di sebelah Ayu, sedangkan papa Lutfi mendudukkan bokongnya di single sofa tempat yang mama Tyas duduki tadi.


"Kenapa Yu, apa ada masalah? Apa Lucky berbuat kasar pada mu?" Tanya mama Tyas khawatir.


Ayu menggeleng. Karena Lucky memang tidak pernah mengasarinya secara fisik, sikapnya selalu lemah lembut dan penuh perhatian. Tapi sayangnya yang Lucky lukai bukan fisik Ayu melainkan hati Ayu. Luka fisik masih bisa sembuh, tapi luka hati sangat susah sembuh dan meninggalkan rasa trauma yang mendalam.


"Mas Lucky gak pernah ngasarin Ayu mah. Tapi mas Lucky udah nyakitin Ayu, dia bohongin Ayu." Jawab Ayu sambil terisak.


Mama Tyas dan papa Lutfi saling pandang sejenak mendengar pengakuan Ayu.


"M-maksud kamu Lucky bohongin kamu apa?" Tanya mama Tyas, takut-takut Ayu sudah mengetahui penyimpangan anaknya itu.


Kalau iya, mama Tyas dan papa Lutfi juga pantas untuk disalahkan karena tidak memberitahu Ayu sejak awal.


"Mas Lucky...mas Lucky..mas Lucky penyuka sesama jenis mah." Ucap Ayu susah payah sambil terisak.


"Aaaakh..." tiba-tiba saja dada mama Tyas sesak kemudian jatuh pingsan.


"Mah..." teriak Ayu dan papa Lutfi saat melihat mama Tyas pingsan.


"Kamu jaga disini, biar papa ambil obat dan peralatan pertolongan pertama." Ucap papa Lutfi pada Ayu.


Dengan keadaan panik papa Lutfi berlari menuju kamarnya untuk mengambil obat mama Tyas dan tabung oksigen.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2