
"Mas..." lirih Ayu sambil merangkul pundak suaminya.
"Kamu gak pa-pa?" Tanya Ayu. Dari mata Lucky, Ayu bisa melihat kesedihan yang mendalam saat suaminya itu menceritakan tentang kepergian Billy.
Lucky tersenyum.
"Aku gak pa-pa sayang. Aku hanya sedih karena Billy meninggal sebelum dia kembali ke jalan yang benar. Apalagi, sampai Billy sudah terbujur kaku pun, keluarga Billy tidak mau menerima jasadnya."
"Astaga." Lirih mama Tyas dan bu Endang kompak.
"Kenapa mereka seperti itu? Biar bagaimana pun Billy itu keluarga mereka."
"Entah lah mah. Yang Lucky tau, keluarga Billy itu keras dan perfeksionis. Jika ada salah satu anggota keluarga yang melakukan kesalahan, mereka tidak akan lagi menganggap anggota keluarga mereka yang berbuat kesalahan itu. Dan setau Lucky, hal itu juga yang membuat Billy menjadi menyimpang."
"Apa orangtuanya sadar kalau perbuatan mereka yang sudah merusak mental Billy dan membuat Billy seperti itu?"
"Kalau mereka sadar, pasti mereka akan merangkul Billy di masa-masa sulitnya. Bukan malah meninggalkannya bahkan tidak mengakuinya sebagai keluarga." Jawab Lucky.
"Lucky beruntung punya keluarga seperti kalian, disaat masa-masa tersulit Lucky, kalian semua ada untuk Lucky." Ucap Lucky.
"Terutama kamu Yu, kalau kamu gak bertahan disisi ku, gak mungkin aku kembali normal. Makasih yah sayang. Cup." Satu kecupan Lucky berikan di kening Ayu.
"Lalu, kalau keluarga almarhum nak Billy tidak mau menerima jenasahnya, terus jenasah almarhum nak Billy mau di kubur dimana?" Tanya bu Endang membuka suaranya.
"Lucky yang akan urus bu, hitung-hitung sebagai penghormatan dan rasa terimakasih Lucky pada Billy karena pernah menjadi orang yang ada di sisi Lucky disaat Lucky butuh teman bicara." Jawab Lucky.
"Gak pa-pa kan Yu, kalau aku yang urus jenasah Lucky?" Tanya Lucky pada Ayu.
"Iya mas, lakukan lah. Walau Billy sudah dua kali membuat ku hampir kehilangan nyawa, tapi mendengar keluarganya tidak mau mengurusnya, aku juga iba mas."
"Jadi kapan rencananya kamu akan memakamkan Billy?"
"Tunggu semua dokumen sekaligus surat penolakan dari keluarga Billy selesai di urus. Dan rencananya, Billy akan di kremasi, karena dulu Billy pernah berpesan pada Lucky kalau nanti ia meninggal, Billy minta jasadnya di kremasi."
"Lakukan lah yang terbaik nak, biar bagaimana pun, almarhum adalah manusia yang layak mendapat penghormatan terakhir di dunia." Ucap bu Endang.
__ADS_1
"Iya bu."
"Nanti aku ikut yah mas, kalau Billy mau di kremasi." Ucap Ayu.
"Iya sayang. Nanti kita semua harus datang ke pemakaman Billy." Jawab Lucky.
Lucky pun bernafas lega karena sudah menceritakan tentang kematian Billy pada keluarganya. Padahal, Lucky sempat berpikir akan ada drama marah-marah, nangis-nangis dan ngambek-ngambek kalau Lucky menceritakan dirinya yang pergi ke rumah sakit dan berniat mengurus pemakaman Billy tanpa berunding terlebih dulu dengan Ayu.
✨✨✨
Seminggu kemudian.
Sudah lima hari Ayu pulang ke rumah orangtua Lucky. Jenasah Billy pun juga sudah di kremasi tiga hari yang lalu.
Bukan hanya Lucky dan keluarga yang datang ke pemakaman Billy, rekan kerja Lucky di rumah sakit juga pada berdatangan, karena Billy juga pernah bekerja di rumah sakit yang sama dengan Lucky, walau hanya beberapa bulan saja.
Bu Endang juga sudah pulang ke kota M karena tidak tega meninggalkan suaminya sendirian di kota M. Bu Endang, pak Andar dan Ayu juga belum tau tentang Adam yang sudah menikah. Adam benar-benar pintar merahasiakan tentang pernikahannya.
Sejak kejadian yang menimpa Ayu, dan setelah Lucky bercerita pada Adam tentang Lucky yang mantan pemain anggar, Adam tak pernah muncul lagi. Hanya via panggilan video call itu pun hanya beberapa kali. Bukan karena Adam geli dengan kakak iparnya itu, hanya saja karena Adam sibuk menggantikan papa mertuanya mengurus perusahan tambangnya di kota P.
Sonia, bodyguard Ayu juga sudah tidak bekerja lagi. Bukan karena di pecat, melainkan karena Sonia kini bekerja sebagai bodyguard istri Adam.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Biasanya jam segini baby Kya sudah tertidur kembali.
Lucky pun baru pulang dari dinas malamnya.
"Rumah kok sepi mah, Ayu sama Kya mana?" Tanya Lucky pada sang mama yang menyambut kedatangannya.
"Di kamar. Jam segini kan Kya bobok Ky." Jawab mama Tyas.
"Lucky ke kamar dulu yah mah." Pamit Lucky.
"Kya nya jangan di bangunin yah Ky, kasihan Ayu, dia juga butuh istirahat." Mama Tyas memberi peringatan pada Lucky.
__ADS_1
"Iya mah." Jawab Lucky.
Lucky pun menapaki anak tangga untuk naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
Ceklek. Lucky membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan.
"Yu..Ayu sayang. Mama Kya." Panggil Lucky dengan suara seperti orang berbisik karena tak melihat Ayu di ruang tidur. Hanya ada baby Kya yang tertidur di box bayi.
Mendengar suara air di kamar mandi, Lucky tak lagi memanggil Ayu, karena yakin kalau yang ada di kamar mandi adalah istrinya.
Lucky pun berjalan mendekati box bayi dan memandang wajah baby Kya yang sedang tertidur. ASI Ayu yang sudah melimpah ruah serta baby Kya yang rakus en•en seperti bapaknya, membuat bobot baby Kya meningkat drastis, pipinya juga sudah tembem seperti bapao.
Saat sedang menatap wajah putri kecilnya yang sedang tertidur, samar-samar Lucky mendengar suara rintihan dari kamar mandi.
"Ayu kenapa?" Gumam Lucky sambil mengernyitkan keningnya, mencoba-coba menerka yang di lakukan istrinya di kamar mandi.
"Apa lagi cabut bulu ke•tek?" Terka Lucky.
"Akh..masa cabut bulu ke•tek meringis kayak gitu." Gumam Lucky lagi mematahkan asumsinya sendiri.
Tak ingin di hantui rasa penasaran, Lucky pun berjalan mendekati pintu kamar mandi. Lalu memutar handle pintu kamar mandi yang ternyata tidak Ayu kunci.
Ceklek. Lucky membuka pintu kamar mandi.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Lucky sambil berjalan ke arah Ayu yang sedang duduk di closet. Ayu sedang berusaha buang air besar.
"Perut aku mules mas, tapi e•eknya keras. Mau ngeden, tapi takut jahitan di jalan lahirnya Kya robek." jawab Ayu sambil meringis. Keringat dingin mengucur di wajah Ayu.
"Jadi dari lahiran sampai sekarang, baru ini kamu mau buang air besar?"
Ayu mengangguk.
"Kenapa kamu gak bilang sih Yu! Aku pikir kamu udah bisa buang air besar, karena kamu gak ngeluh susah bo•ker." Omel Lucky.
"Ayo bangun dulu. Aku tanya mama dulu, punya stok obat pencahar gak." Lucky membantu Ayu bangun dari duduknya di closet.
__ADS_1
Lalu memapah istrinya keluar kamar mandi seperti orang sakit keras, padahal Ayu hanya susah buang air besar saja.
BERSAMBUNG...