Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 30


__ADS_3

Kini mereka sudah berada di depan pintu kamar VVIP yang ada di rumah sakit itu.


Ceklek. David pun memutar handle pintu.


"Silahkan masuk Tuan." Pinta David.


Adam pun masuk ke dalam kamar VVIP itu.


Mata Adam membelalak kaget saat melihat orang yang sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien.


"Papa.." Kaget Adam.


"Adam." Balas pak Zidane dengan suara lirihnya.


"Papa kenapa bisa begini. Papa sakit apa?"


"Tuan Zidane terkena kanker darah stadium tiga. Seharusnya dua hari yang lalu Tuan Zidane menjalani kemoterapi tapi karena kondisi fisik Tuan Zidane tidak baik, maka kemoterapi di jadwal ulang minggu depan." Jawab David.


"Sejak kapan papa sakit kanker?"


"Sepertinya Tuan Zidane baru tau penyakitnya kira-kira satu tahunan. Tapi kalau saya sendiri baru tau Tuan Zidane mengidap sakit kanker dua hari yang lalu. Itupun karena di hubungi pihak rumah sakit." Jawab Zidane.


Adam terduduk lemas di kursi yang ada di samping ranjang pak Zidane.


"Kenapa papa gak bilang sama Adam dari awal sih pah."


"Pa-pa gak ma-u buat kalian kha-watir." Jawab pak Zidane dengan nafas yang tersendat-sendat.


"Jadi ini alasan papa menikahkan Adam dengan Karen? Karena papa sudah tau penyakit papa, iya pah?"


Pak Zidane menjawab dengan anggukan kepala.


"Pa-pa ya-kin ka-mu adalah laki-laki yang tepat un-tuk Ka-ren."


"To-long ja-ga Ka-ren dan bahagiakan dia. Hi-dup Ka-ren sudah menderita da-ri bayi, kasihan dia."


"Adam gak mampu bahagiain Karen sendiri pah, Adam juga butuh papa. Apalagi Karen sekarang lagi hamil, Adam gak bisa bayangin gimana hancurnya hati Karen kalau tau orang yang sangat dicintainya menderita kanker."


"To-long jangan beritahu Karen sam-pai hari kepergian saya da-tang."


"Gak!! Adam gak mau!!! Ka-lau memang papa mau Adam merahasiakan ini dari Karen, papa harus papa sembuh." Tolak Adam tegas.


"Maaf Tuan Adam, tadi dokter memberitahu saya ada baiknya pak Zidane di bawa ke Singapura untuk pengobatan. Karena di sana alat-alat lebih lengkap." Sela David.


"Kalau begitu urus kepindahan papa ke Singapura, berikan perawatan yang terbaik untuk papa."


"Ti-dak perlu Adam. Kalau papa berobat di Si-nga-pura, nanti Ka-ren tau ka-lau papa sakit."

__ADS_1


"Papa gak usah khawatirin Karen, Karen urusan Adam. Papa fokus aja ke pengobatan papa. Dan kalau papa ngotot gak mau berobat di Singapura, sekarang juga Adam laporin ke Karen. Papa pilih mana?"


Pak Zidane menghela nafasnya.


"Ba-ik lah. Pa-pa ikut mau sa-ja." Jawab pak Zidane pasrah.


"Pak David tolong urus semuanya." Pinta Adam pada asisten pak Zidane itu.


"Baik Tuan." David pun keluar dari dalam kamar rawat pak Zidane untuk menemui dokter yang menangani pak Zidane.


✨✨✨


Setelah kurang lebih dua jam berada di rumah sakit menemani pak Zidane sampai keputusan kapan pemindahan papa mertuanya akan di berangkatkan ke Singapura, Adam pun kembali ke kantor.


David dan Adam pun sepakat akan memindahkan pak Zidane dua hari lagi. Sekarang tinggal Adam yang harus memutar otaknya untuk mencari alasan agar Karen tidak tau kalau papanya pergi ke Singapura untuk melakukan pengobatan.


Sudah setengah jam Adam duduk di kursi kebesarannya tanpa membolak-balikkan kertas yang menumpuk di meja kerjanya yang sudah meronta minta di jamah oleh Adam, ia hanya memutar-mutar pena nya sambil memikirkan alasan yang harus ia katakan pada Karen.


"Ya sepertinya cara itu bagus juga." Monolog Adam saat mendapat ide yang paling masuk akal.


Adam berencana akan membawa Karen pindah ke kota P dengan alasan pak Zidane mengutus Adam untuk mengurus perusahaan tambang yang ada di kota P.


Sebelum memberitahu Karen, Adam menghubungi David terlebih dulu untuk menanyakan pendapat David mengenai idenya itu. Dan ternyata David pun menyetujui ide Adam. Adam pun meminta David untuk memberitahu dan meminta persetujuan pak Zidane untuk membohongi Karen.


Setelah pak Zidane memberi persetujuannya, Adam pun meninggalkan kantor dan pulang ke rumah untuk membicarakan masalah ini dengan Karen.


Kini Adam sudah berada di rumah pak Zidane.


"Kangen sama istri Bik."


Bik Narti tersenyum tipis mendengar jawaban Adam.


"Tumben gak bawa apa-apa Tuan? Biasanya kalau pulang kerja selalu bawa tentengan."


"Iya nih Bik lagi gak kepikiran tadi mau beli apa sangking kangennya sama istri." Jawab Adam.


"Saya naik dulu yah Bik." Adam pun melanjutkan langkah kakinya menuju lantai atas dimana kamarnya dengan Karen berada.


Ceklek. Adam membuka pintu kamarnya.


Dan terlihatlah Karen sedang menonton drama Korea.


Mendengar pintu terbuka, Karen pun menoleh ke arah pintu.


"Kak Adam." Teriak Karen kesenangan. Karen pun cepat-cepat turun dari tempat tidur dan berlari mendekati Adam.


"Eh.. jangan lari.." teriak Adam. Melihat Karen lari dalam keadaan sedang hamil, benar-benar membuat jantung Adam seperti terkena gempa bumi berkekuatan 9SR.

__ADS_1


Sangking senangnya suaminya datang Karen sama sekali tidak memperdulikan peringatan Adam dan langsung nemplok ke tubuh Adam seperti anak koala yang sedang dalam gendongan ibunya.


"Masih jam tiga kok udah pulang kak?"


"Berkat doa kamu juga lah sayang. Pasti tadi kamu doain aku kan supaya segala urusan dengan klien cepat selesai?"


Karen menganggukkan kepalanya karena memang benar setelah Adam pergi bekerja, Karen mendoakan Adam untuk bisa cepat pulang.


"Makasih yah udah di doain."


Cup. Adam pun mengecup bibir istrinya.


"Tapi sayang, aku gak bawa apa-apa loh, gak pa-pa kan?" Tanya Adam, ia takut istrinya merajuk karena dirinya tak membawa apa-apa. Padahal selama ini Karen juga tidak pernah minta di bawakan apa-apa, Adam saja yang selalu berinisiatif sendiri.


"Kata siapa kakak gak bawa apa-apa. Kan kakak selalu bawa cinta kakak untuk aku." Gombal Karen.


"Pinter gombal sekarang kamu yah." Balas Adam sambil mencubit pipi istrinya gemas.


"Papa ada di kantor gak kak? Daritadi aku hubungin ponsel papa tapi gak aktif. Katanya cuma tiga hari ke luar kota, tapi sampai sekarang kok belum pulang-pulang."


Adam menghela nafasnya lalu berjalan menuju sofa dengan Karen yang masih dalam gendongannya.


"Papa lagi sibuk sayang. Ada sedikit masalah disana. Dan..."


"Dan apa?"


"Dan aku diminta papa untuk mengurus perusahaan yang di kota P."


"Apa masalahnya serius sampe-sampe papa gak aktifin ponselnya?"


"Gak terlalu serius sayang, tapi cukup menyita waktu papa." Jawab Adam.


"Mmmm... kamu mau kan ikut aku ke kota P?" Tanya Adam.


"Berapa lama?"


"Mungkin dalam waktu yang lama, karena papa meminta aku untuk mengurus perusahaan disana bukan hanya sekedar mengawasi." Jawab Adam.


"Jadi gimana, mau kan?"


Karen nampak berpikir ada sedikit keraguan dalam diri Karen. Yang pertama karena dirinya masih trauma dengan kejadian perampokan di rumah yang ada di kota P. Dan yang kedua, ia tidak ingin meninggalkan papa nya sendiri.


"Ya udah kalau kamu gak mau, biar aku kesana sendiri aja. Nanti aku pulang sebulan atau dua bulan sekali, gak pa-pa kan?" Tanya Adam pura-pura karena tau kalau Karen tidak mau ikut dengannya.


"Hah.. kok gitu?!! Gak!! Gak!! Aku gak mau kayak gitu. Aku ikut kakak kalau gitu." Jawab Karen. Dibanding rasa traumanya, Karen lebih takut kalau suaminya tinggal sendirian di kota P, takut suaminya di goda penjual apem dan susu keliling.


Adam tersenyum penuh kemenangan mendengar Karen yang akhirnya mau ikut dengannya. Mudah-mudahan saja rencananya berjalan lancar. Pak Zidane bisa berobat di Singapura dan Karen tidak perlu tau tentang penyakit papanya.

__ADS_1


Bukan maksud Adam merahasiakan penyakit pak Zidane dari Karen, tapi ini semua demi kebaikan Karen karena sekarang Karen sedang hamil, Adam takut Karen akan drop jika tau papanya terkena kanker.


BERSAMBUNG...


__ADS_2