Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Bab 74


__ADS_3

Dokter pun melakukan percobaan ketiga. Jika di percobaan ketiga dengan daya maksimal juga tidak bisa membuat jantung Billy berdetak, maka Billy pun dinyatakan meninggal dunia.


Deg. Dan di percobaan ketiga ini, detak jantung Billy juga tak mau kembali.


"Pukul sepuluh lewat empat puluh menit, pasien atas nama Billy dinyatakan meninggal." Ucap dokter.


Tangis yang sedari tadi Lucky tahan pecah begitu saja saat dokter menyatakan Billy meninggal.


"Yang sabar pak." Ucap dokter sambil menepuk pundak Lucky. Kemudian keluar dari kamar itu, meninggalkan perawat yang sedang melepas semua alat bantu yang menempel di tubuh Billy.


"Pak Lucky." Panggil salah seorang polisi.


Lucky pun menghentikan tangisnya dan menyeka air matanya.


"Kami akan menghubungi keluarga pak Billy dan akan mengirimkan jenasah pak Billy kembali ke negaranya." Ucap polisi tersebut.


"Lakukan lah pak. Tapi kalau keluarganya tidak mau menerima jenasah Billy, beritahu saya, biar saya yang akan memakamkan Billy di negara ini. Tapi sebelumnya buat perjanjian tertulis dengan keluarganya dan tolong urus surat-suratnya pak kalau memang keluarga Billy tidak mau mengurus jenasah Billy."


"Baik pak. Akan kami lakukan." Jawab polisi tersebut.


Lucky pun berjalan ke arah Billy yang sudah terbujur kaku.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan mu pada ku Bill. Meski kau membawa aku semakin dalam ke dunia gelap, tapi hanya diri mu lah satu-satunya yang mau mendengar keluh kesah ku saat itu. Terimakasih sudah menjadi teman ku Bill." Ucap Lucky di depan jenasah Billy sambil terisak.


Setelah mengatakan itu Lucky pun keluar dari dalam kamar isolasi.


Kini Lucky sudah berada dalam mobilnya.


Ia tak langsung menyalakan mesin mobil, lama ia terdiam di dalam mobil untuk menata hatinya. Ia kembali mengingat momen-momen dimana ia pertama kali bertemu dengan Billy, momen dimana saat itu Lucky sangat butuh teman bicara yang tidak ia dapatkan dari orangtuanya, momen dimana ia ingin di percaya, momen dimana ia di pedulikan. Dan saat itu Billy hadir dan memberikan semua yang Lucky butuhkan, teman bicara yang mempercayai dan memperdulikan dirinya.


KRIING..KRIING..KRIING.


Nada dering panggilan masuk memecah suasana hati Lucky yang sedang melow.


"Ayu." Lirih Lucky saat melihat nama Ayu di layar ponselnya.


Lucky menarik nafasnya dan membuang nafasnya kasar sebelum menggeser tombol hijau.


"Ya sayang." Jawab Lucky.


"Mas, nanti kalau datang tolong beliin pepaya sama pisang yah. Perut ku begah banget mas, belum bo•ker-bo•ker juga."


"Iya sayang. Kya gak rewel kan?"


"Tadi sempet rewel sebentar, tapi begitu ibu selimutin pake kaos kamu, Kya langsung tenang lagi, udah tidur nyenyak lagi malahan." Jawab Ayu.


"Ya udah, kamu istirahat juga. Nanti aku beliin pepaya sama pisangnya. ASI kamu gimana?"

__ADS_1


"Masih sedikit mas."


"Nanti sekalian aku beli suplemen untuk memperbanyak ASI kalau gitu. Kamu jangan stress yah."


"Iya mas. Ya udah, mas juga istirahat aja dulu di rumah, baru kesini." Ucap Ayu. Ayu tidak tau kalau saat ini suaminya belum sampai rumah.


Ayu pun hendak mengakhiri panggilan teleponnya.


"Yu.."


"Ya mas. Kenapa?"


"Aku cinta kamu Yu, sangat sangat cinta sama kamu." Ucap Lucky dengan suara seperti sedang menahan tangis.


"Iya mas, aku juga cinta sama mas Lucky." Jawab Ayu.


"Ya udah, mas istirahat yah. I love you papa Kya."


"I love you so much mama Kya." Jawab Lucky .


Panggilan pun berakhir.


Lucky yang sudah tidak tahan untuk mengeluarkan tangisannya, ia sesunggukkan di dalam mobil.


Rasa di dalam dadanya sungguh bercampur aduk hari ini. Senang menjadi seorang ayah tapi sekaligus sedih karena kehilangan sosok yang pernah menemaninya disaat ia butuh perhatian. Biar bagaimana pun Billy adalah sosok yang pernah memberi rasa nyaman dalam hidup Lucky sebelum akhirnya Lucky menyadari kalau rasa nyaman yang Billy berikan ada di zona yang salah.


Puas menumpahkan rasa sedih karena kematian Billy, baru lah Lucky menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukan mobil itu menuju rumah orangtuanya.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Lucky juga sudah puas mengistirahatkan tubuhnya di rumah orangtuanya. Kini ia sedang bersiap pergi ke rumah sakit.


"Mbak, pepaya sama pisang nya udah di masukin ke kotak makanan?" Tanya Lucky kepada asisten rumah tangga.


"Sudah pak, sebentar saya ambil." Jawab si asisten rumah tangga. Si asisten rumah tangga pun mengambil kotak bekal yang berisi pepaya dan pisang serta sayur katuk yang mama Tyas suruh untuk di bawa ke rumah sakit.


"Ini pak." Asisten rumah tangga pun memberikan kotak bekal itu pada Lucky.


Lucky pun mengambil kotak bekal itu dari tangan si asisten rumah tangga.


"Saya pergi yah mbak." Pamit Lucky pada si asisten rumah tangga.


Setelah berpamitan, Lucky pun keluar dari rumah dan berjalan menuju mobilnya. Masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil lalu mengendarai mobilnya keluar dari rumah orangtuanya.


Setelah lima belas perjalanan, mobil yang Lucky kendarai pun sampai di rumah sakit.


Ting. Pintu lift yang membawa Lucky ke lantai dimana kamar rawat Ayu berada terbuka.


Ceklek. Lucky membuka pintu kamar rawat Ayu.

__ADS_1


Suara tangis baby Kya yang sendu menyambut kedatangan Lucky.


Lucky pun melangkahkan kakinya menghampiri bu Endang yang sedang berusaha menenangkan baby Kya. Sedangkan mama Tyas sedang berusaha menenangkan Ayu.


"Kya kenapa buk?" Tanya Lucky pada ibu mertuanya.


"Laper kayaknya."


"Terus itu Ayu kenapa?"


"Pu•tingnya lecet, jadi sakit pas Kya en•en."


Lucky pun bingung yang mana yang harus di tenangkan dulu.


Tak tega dengan baby Kya yang masih bayi menangis sendu, Lucky pun memilih untuk mengambil alih baby Kya dahulu.


"Cup...cup..anak papa. Kya laper yah? Tunggu yah sayang, mama lagi kesakitan. Cup..cup." Lucky menenangkan baby Kya sambil sedikit mengayun-ayun dan menepuk bokong anaknya pelan.


Baby Kya pun berhasil Lucky tenangkan. Setelah baby Kya tenang, baru lah Lucky berjalan mendekati Ayu.


"Kamu gak pa-pa?" Tanya Lucky.


"Sini Ky mama gendong Kya nya." Ucap mama Tyas agar Lucky bisa leluasa menenangkan Ayu.


"Gak usah mah, nanti Kya nangis lagi." Tolak Lucky halus.


Mama Tyas pun pergi dari antara Lucky dan Ayu.


"Pu•ting kamu lecet? Sakit banget?" Tanya Lucky.


Ayu mengangguk.


"Sakit banget yah sampe kamu nangis?"


"Sakit nya sih masih bisa aku tahan, cuma aku tuh kasihan sama Kya karena ASI aku sedikit jadi nya Kya gak kenyang. Aku tuh ngerasain Kya nyedotnya udah sekuat tenaga, tapi ASI yang keluar gak bisa bikin Kya kenyang." Jawab Ayu. Air mata mulai menggenang di matanya.


"Udah gak usah nangis. Kita bantu pake susu formula aja yah, nanti kalau ASI kamu udah keluar banyak baru berhenti pake susu formula."


"Tapi aku mau kasih eksklusif mas buat Kya."


"Ya kalau kamu memang mau kasih ASI eksklusif buat Kya yah jangan stress gini dong. Stressnya kamu itu bisa jadi bibit baby blues sayang."


Ayu diam. Mungkin karena Ayu sangat ingin memberikan yang terbaik untuk bayi nya, jadi ia memasang target untuk produksi ASI nya dan ketika pruduksi ASI nya tidak sesuai harapan, Ayu menjadi rendah diri.


"Mau coba en•enin lagi gak? Kalau mau, kamu harus positif thinking. Gak masalah ASI nya mau keluar sedikit yang penting keluar. Kalau Kya laper lagi kan, bisa di en•enin lagi. Gimana, mau gak?"


Ayu menganggukkan kepalanya. Dari pada baby Kya harus di bantu susu formula, nanti takutnya baby Kya jadi tidak mau ASI lagi karena sudah merasakan susu formula.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


💋💋 Selamat Natal buat readers Teronghot yang solehot smarthot yang merayakan Natal. 💋💋


__ADS_2