
Mendengar suara orang ambruk, pasukan bertopeng Bimo yang ada di lantai bawah pun naik ke lantai atas untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Dan disaat yang bersamaan, datanglah pasukan berjas hitam dengan tubuh tinggi besar yang berjumlah lebih dari sepuluh orang masuk ke dalam rumah dan menyerang pasukan bertopeng Bimo.
Ternyata tiga bodyguard pak Zidane yang biasa mengawal pak Zidane, kalah banyak dengan pasukan bertopeng Bimo yang jika di hitung jumlahnya lebih dari sepuluh, apalagi pasukan bertopeng Bimo ada yang membawa senjata api dan senjata tajam, sedangkan pasukan berjas hitam pak Zidane hanya menggunakan ilmu beladiri yang mereka punya, tak ada yang membawa senjata api.
Mau tak mau, pasukan berjas pak Zidane pun pura-pura kalah, agar bisa menyusup keluar untuk memanggil pasukan berjas hitam pak Zidane yang lain yang berjaga di area pertambangan.
Kini jumlah pasukan berjas hitam pak Zidane jauh lebih banyak dibanding pasukan bertopeng Bimo.
Bagh.. Bugh..Bagh.. Bugh. Begitulah bunyi yang terdengar dari lantai bawah, untungnya belum ada bunyi tembakan.
Meski pasukan berjas pak Zidane adalah pasukan yang memliki izin untuk menggunakan senjata api, tetap saja senjata api di gunakan disaat yang sangat mendesak saja. Selagi mereka bisa mengalahkan dengan ilmu bela diri yang mereka punya, mereka tidak perlu menggunakan senjata api mereka. Jadi jangan membandingkan dengan acara tembak-tembakan di film mafia atau novel yang bergenre mafia.
Adam tak menghiraukan suara orang adu jotos di lantai bawah, fokus Adam sekarang hanyalah menyelamatkan Karen.
BRAAAK. Adam menendang pintu kamar karena ternyata pintu kamar di kunci dari dalam oleh Bimo.
Sangking berna•fsunya ingin mencicipi tubuh Karen, Bimo sampai tidak mendengar keributan yang terjadi di luar kamar.
Mata Adam membelalak saat melihat Bimo dan Karen yang sudah polos. Kedua tangan Karen diikat di kepala ranjang, kedua kaki Karen pun di buka lebar-lebar dan diikat di pinggiran ranjang sebelah kanan dan kiri. Posisi Bimo juga sedang menyesap susu cap nona Karen. Tapi untungnya pisang molen Bimo belum sampai menembus lubang kramat Karen.
Sontak Bimo pun mengalihkan wajahnya dari susu cap nona Karen ke arah pintu.
BUGH.. Belum sempat Bimo mengeluarkan sepatah kata pun, Adam langsung memukul kepala Bimo dengan linggis yang ia pegang dengan sekuat tenaga, sehingga membuat tubuh Bimo jatuh tersungkur seketika.
Begitu tubuh Bimo ambruk di lantai, cepat-cepat Adam menarik selimut untuk menutupi tubuh Karen, lalu membuka tali yang mengikat kaki dan tangan Karen.
"Kamu gak pa-pa?" Tanya Adam, raut wajah khawatir terlihat jelas dari wajah Adam.
Karen tidak menjawab, ia malah langsung memeluk Adam dengan sangat erat dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Adam.
"Tenang Nona, semua sudah berakhir." Ucap Adam menenangkan Karen sambil mengelus rambut Karen.
Tak lama pak Zidane pun masuk ke dalam kamar bersama Bik Narti. Itu tandanya pasukan berjas pak Zidane berhasil melumpuhkan pasukan bertopeng Bimo.
"Karen, putri ku. Nona Karen." Teriak pak Zidane dan Bik Narti bersamaan saat melihat Karen sedang ada dalam pelukan Adam.
Karen pun melepaskan pelukannya dari Adam dan beranjak dari atas ranjang melewati Bimo yang sedang menggelepar diatas lantai dan berlari mendekati pak Zidane dengan selimut yang ia menggulung di tubuhnya.
"Kamu gak pa-pa nak?" Tanya pak Zidane.
"Karen takut pah." Jawab Karen sambil terisak.
"Tenang sayang ada papa, gak usah takut lagi."
Tiba-tiba saja Karen jatuh pingsan. Dan itu membuat pak Zidane panik.
"Karen... Karen.. bangun nak." Teriak pak Zidane sambil menepuk-nepuk pipi Karen, tapi usaha pak Zidane sia-sia, Karen tetap tak sadarkan diri.
"Narti, suruh orang untuk menyiapkan mobil, kita harus membawa Karen ke rumah sakit." Perintah pak Zidane pada Bik Narti.
"Baik Tuan." Bik Narti pun keluar dari kamar Karen dan berlari ke lantai bawah untuk menyuruh salah satu pasukan berjas menyiapkan mobil.
Melihat Karen pingsan, cepat-cepat Adam berjalan mendekati pak Zidane.
"Sini pak, biar saya yang gendong Nona Karen." Ucap Adam menawarkan jasa tak gendongnya.
__ADS_1
Pak Zidane yang tau diri tak mungkin kuat menggendong putri semata wayangnya turun ke lantai bawah akhirnya mengizinkan Adam menggendong Karen.
Adam pun membawa Karen keluar dari dalam kamar dan turun ke lantai bawah.
"Kalian urus Bimo." Perintah pak Zidane pada pasukan berjasnya.
Setelah memberi perintah itu, pak Zidane pun menyusul Adam yang kini sudah berada di dalam mobil dan sudah duduk manis dengan posisi kepala Karen ada dalam pangkuannya.
Pak Zidane membuka pintu belakang, melihat Adam yang sudah duduk manis, pak Zidane pun menutup pintu mobilnya kembali. Lalu membuka pintu mobil bagian depan, ternyata Bik Narti juga sudah duduk manis disitu. Pak Zidane pun menutup kembali pintu mobil itu.
Mau tak mau, ia harus menggunakan mobil lain. Pak Zidane pun memanggil pasukan berjasnya yang lain untuk menyetir sekaligus mengawal kepergiannya menuju rumah sakit, takutnya di tengah jalan mereka di hadang oleh pasukan bertopeng Bimo yang lainnya.
✨✨✨
Medan yang cukup mengerikan di tambah jarak dari rumah pak Zidane ke rumah sakit cukup jauh, membuat perjalanan memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit.
Begitu sampai di rumah sakit, Karen langsung di bawa ke ruang UGD dan langsung mendapat penanganan dari dokter yang berjaga malam itu.
"Bagaimana putri saya, dok?" Tanya pak Zidane pada dokter yang memeriksa Karen.
"Putri bapak baik-baik saja, mungkin karena shock membuat putri bapak kehilangan kesadaran. Kami akan memindahkan putri bapak ke kamar rawat." Jawab sang dokter.
Dokter pun meninggalkan pak Zidane dan Karen yang sedang terbaring di brankar.
"Eugh..." lenguh Karen, ia pun mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
"Sayang." Ucap pak Zidane saat melihat putri semata wayangnya sadar.
"Papa..." lirih Karen.
"Di rumah sakit sayang." Jawab pak Zidane.
"Kenapa Karen di rumah sakit? Apa penyakit Karen kambuh lagi?"
Pak Zidane menggelengkan kepalanya.
"Gak sayang. Papa bawa kamu ke rumah sakit karena kamu pingsan, papa pikir penyakit kamu kambuh lagi, tapi tadi dokter bilang kamu pingsan hanya karena shock."
Tiba-tiba Karen menangis histeris lagi karena mengingat kejadian yang baru ia alami, meski mahkotanya belum terenggut, tapi tetap saja ingatan Karen sewaktu Bimo menyedot susu cap nona Karen nya masih teringat jelas dalam ingatan Karen.
"Sudah sayang jangan menangis lagi, semua sudah berakhir." Ucap pak Zidane menenangkan anaknya.
"Ekhem..." Adam berdehem agar pak Zidane dan Karen menyadari keberadaannya disana. Waktu mendengar Karen menangis, Adam yang ada di luar ruang UGD langsung berlari kedalam untuk melihat kondisi Karen.
Mendengar deheman Adam, pak Zidane dan Karen pun sontak melihat ke arah Adam.
"Maaf pak, ini ada pakaian untuk nona Karen." Ucap Adam basa-basi sambil menyerahkan kantong plastik yang berisi pakaian untuk Karen yang baru saja ia beli di pasar subuh yang letaknya tak jauh dari rumah sakit.
Pak Zidane pun baru sadar kalau ternyata tubuh Karen hanya berbalut selimut yang melilit di tubuhnya.
"Terimakasih." Ucap pak Zidane sambil mengambil kantong plastik dari tangan Adam.
Baru saja pak Zidane mengambil kantong plastik dari tangan Adam, tiba-tiba perawat datang ke bangsal Karen untuk memindahkan Karen ke kamar rawat.
"Permisi yah pak, kita pindahin dulu pasiennya ke kamar rawat." Ucap perawat itu.
Pak Zidane dan Adam pun memberi jalan untuk perawat agar bisa mendekati Karen.
__ADS_1
"Ayo nona, kita pindah ke kamar rawat." Ucap perawat pada Karen.
Dua perawat pun membantu Karen turun dari brankar dan mendudukkan di kursi roda.
Setelah Karen duduk di kursi roda, perawat pun mendorong kursi roda Karen menuju kamar rawat VIP.
Kini Karen, pak Zidane, Bik Narti dan Adam sudah berada dalam kamar rawat VIP Karen.
Bik Narti juga sudah membantu Karen memakaikan pakaian untuk Karen yang baru di beli Adam.
"Maaf nona, kalau pakaian yang saya beli tidak bagus. Maklum, saya beli nya di pasar subuh yang ada di dekat sini." Ucap Adam.
Rumah sakit yang di tempati Karen bukan lah rumah sakit seperti yang di ibukota yang menyediakan pakaian untuk pasien yang di rawat, kamar VIP yang Karen tempati juga tidak sebesar kamar VIP di kota, meski di kamar itu juga sama-sama menyediakan televisi dan sofa kecil.
"Gak pa-pa nak, yang penting putri saya memakai pakaian." Malah pak Zidane yang menjawab.
"Oh iya, siapa nama kamu? apa kamu kerja di perusahaan saya?" Tanya pak Zidane.
"Nama saya Adam pak, saya karyawan kontrak di perusahaan bapak." Jawab Adam.
"Tadi saya gak sengaja mendengar keributan di rumah bapak. Jadi saya beranikan diri untuk mengintip. Eh.. gak tau nya ada perampok. Dan pas saya tau nona Karen dalam bahaya, saya pun memberanikan diri untuk menyelamatkan nona Karen." Ucap Adam lagi.
"Terimakasih nak, kalau gak ada kamu mungkin putri saya..." pak Zidane menggantung kata-katanya, ia tak sanggup untuk meneruskan ucapannya.
"Sudah pak, gak usah di bahas lagi. Yang pentingkan sekarang nona Karen sudah selamat." Ucap Adam yang tau apa yang ingin pak Zidane katakan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu pak." Pamit Adam.
"Nona Karen, saya pulang dulu." Pamit Adam lagi pada Karen.
Mendengar Adam ingin pulang, ada rasa sedih dalam diri Karen, ingin rasanya Karen meminta Adam untuk tetap di sampingnya, tapi rasanya itu tidak mungkin.
Melihat raut wajah sedih putrinya saat Adam berpamitan, pak Zidane sadar kalau putrinya memiliki perasaan pada Adam.
Tapi pak Zidane tidak mau langsung gegabah, ia harus mencari tau dulu tentang Adam, ia tak mau putrinya sampai salah menyukai lelaki.
Setelah berpamitan pada pak Zidane dan Karen, Adam pun keluar dari dalam kamar rawat Karen. Pak Zidane pun ikut keluar dari dalam kamar rawat Karen untuk mengantar Adam.
Karena jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari, jadi sudah bisa di pastikan tidak ada kendaraan yang menuju mess. Oleh karena itu, pak Zidane pun menawarkan agar Adam diantar oleh anak buahnya.
"Biar anak buah saya mengantar kamu sampai ke mess." Ucap pak Zidane.
"Baik pak, terimakasih." Jawab Adam merasa tak enak hati.
"Saya yang harusnya berterima kasih padamu." Balas pak Zidane sambil menepuk pundak Adam.
Adam pun pergi dari hadapan pak Zidane bersama salah satu anak buah pak Zidane yang akan mengantar Adam pulang.
Setelah tubuh Adam tak terlihat lagi, pak Zidane pun menyuruh anak buahnya yang lain untuk mencari tahu tentang Adam.
"Kamu cari tahu tentang laki-laki itu." Perintah pak Zidane.
"Baik Tuan." Jawab salah satu anak buah pak Zidane itu.
Setelah memberi perintah itu, pak Zidane pun kembali masuk ke dalam kamar Karen.
BERSAMBUNG...
__ADS_1