
Kini Ayu dan Lucky sudah bersiap berangkat ke rumah sakit.
Tak seperti orang yang akan melahirkan, Ayu terlihat sangat tenang. Seisi rumah orangtua Lucky juga sangat tenang, mungkin karena seisi rumah berisi orang-orang yang berprofesi sebagai dokter yang sudah terbiasa menangani pasien dengan keadaan tenang makanya suasana rumah itu terlihat sangat tenang. Bahkan orangtua Ayu yang biasanya panik an pun ikut menjadi tenang.
"Semua udah masuk Ky?" Tanya mama Tyas saat Lucky menutup pintu bagasi mobilnya.
"Sudah mah."
"Kalian duluan aja, nanti mama sama papa nyusul." Ucap mama Tyas lagi. Kemudian berjalan mendekati pintu mobil bagian belakang dimana Ayu berada.
"Tetap tenang yah Yu. Nanti mama nyusul." Ucap mama Tyas pada menantu kesayangannya itu dari balik jendela mobil.
"Iya mah." Jawab Ayu.
"Kami pergi yah mah." Pamit Lucky sebelum masuk ke dalam mobil.
Mama Tyas menganggukkan kepalanya. Dan Lucky pun masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobil yang berisi dirinya, Ayu dan orangtua Ayu.
Mengantar kepergian Ayu ke rumah sakit ingin melahirkan seperti mengantar orang mau pergi camping saja, tidak ada tegang-tegangnya.
Di dalam mobil.
"Ssh..auw.." ringis Ayu saat merasakan keram di perut bagian bawahnya.
Lucky melirik dari kaca spion dalam.
"Tarik nafas Yu, buang perlahan." Perintah Lucky.
Ayu pun melakukan apa yang di perintahkan suaminya.
"Bu, mau minum?" Rengek Ayu pada ibu nya yang duduk di sebelahnya yang sedang mengelus-elus punggung Ayu.
Bu Endang pun mengambil botol air mineral yang ada disampingnya, membuka tutup botol itu lalu memberikannya pada Ayu.
Ayu pun menenggak air mineral hingga setengah botol. Lalu memberikan kembali pada ibu nya.
"Mas, kok pelan banget sih bawa mobilnya? Kayak bawa odong-odong aja." Protes Ayu karena sang suami mengendarai mobil sangat lambat.
"Biar lambat asal selamat Yu." Jawab Lucky masih berusaha tetap tenang. Padahal sekarang jantungnya sudah berdegup kencang sangking paniknya. Ini pengalaman pertamanya sebagai seorang suami dan calon Ayah. Ia tak menyangka rasanya semenegangkan ini.
__ADS_1
"Tapi aku engap mas kalau cara bawa mobil mas pelan kayak gini. Cepatan dong mas, biar cepet sampe." Rengek Ayu.
"Ah kamu tuh, biasanya kalau aku cepet-cepet ngomel, gak enak cepet-cepet nyampe. Giliran sekarang minta cepet-cepet nyampe." Jawaban yang sangat ambigu di telinga orangtua Ayu.
"Yang ini kan beda mas, ini aku mau lahiran. Kalau yang biasa kan mau nikmatin perjalanannya." Jawab Ayu.
"Kalian ngomongin apaan sih? Gak ngerti ibu." Tanya Bu Endang yang otaknya mulai traveling kemana-mana.
"Perjalanan ke puncak buk, kan gak enak kalau sampe puncak cepet-cepet. Kan enaknya pelan-pelan, biar nikmatin jalanan." Jawab Ayu.
"Oh..." Pak Andar dan Bu Endang ber Oh ria.
"Ke puncak kenikmatan maksudnya buk." Gumam Ayu dalam hati.
Perjalanan yang normalnya lima belas sampai dua puluh menit menuju rumah sakit yang dekat dengan rumah orangtua Lucky, kali ini ditempuh sampai setengah jam. Apalagi alasannya kalau bukan karena Lucky yang mengendarai mobil sangat lelet, karena tubuhnya dalam keadaan bergetar hebat karena panik.
Kini mobil yang Lucky kendarai tiba juga di pelataran ugd.
Perawat yang sudah mendapat kabar dari papa Lutfi, sudah bersiap menjemput Ayu di depan pintu ugd.
Setelah menurunkan Ayu dari dalam mobil dan membaringkan Ayu di brankar, Lucky pun memarkirkan mobilnya di parkiran.
Efek terlalu panik dan tegang, cara Lucky memarkirkan mobil seperti orang yang baru lulus mengendarai mobil.
"Aargh..!!" Geram Lucky sambil memukul setir mobilnya.
"Tolong parkirin deh pak." Jawab Lucky menyerah. Ia pun keluar dari dalam mobil dan menunggu si satpam memarkirkan mobilnya.
"Ini kenapa sih parkirnya pada mepet semua!!" Dumel Lucky. Padahal tempat kosong yang ingin Lucky masukkan mobilnya sangat lah luas.
Pak satpam hanya geleng-geleng sambil masuk ke dalam mobil.
"Luas gini di bilang mepet. Baru punya mobil kayaknya nih orang." Gumam si satpam sambil memarkirkan mobil Lucky. Pak satpam tidak mengenali Lucky, karena Lucky memang bukan dokter di rumah sakit itu.
Tak sampai tiga menit, mobil pun terparkir mulus. Pak satpam pun keluar dari dalam mobil Lucky.
"Ini pak kuncinya." Pak satpam menyerahkan kunci mobil Lucky.
"Makasih yah pak." Ucap Lucky sambil mengambil kunci mobilnya.
__ADS_1
Lucky pun melangkahkan kakinya menuju ruang ugd. Tapi ternyata dia kelupaan membawa dua tas yang berisi barang-barang Ayu dan calon anak mereka. Mau tak mau Lucky pun kembali melangkahkan kakinya menuju mobil untuk mengambil barang-barang Ayu dan calon anaknya.
"Kalian kenapa gak keluar sendiri sih, maunya di gendong-gendong. Manja banget." Dumel Lucky sambil mengambil dua tas dari dalam bagasi. Tas yang tak tau apa-apa pun harus jadi korban kepanikan Lucky.
Lucky pun berjalan kembali menuju ugd dan kali ini dengan dua tas besar ia tenteng di tangan kanan dan kirinya.
✨✨✨
Setelah meletakkan dua tas di kamar rawat istrinya, Lucky pun turun ke lantai bawah menuju ruang bersalin, dimana istrinya sedang di induksi untuk mempercepat pembukaan karena ternyata air ketuban dalam kandungan Ayu mulai keruh. Padahal seminggu yang lalu saat melakukan usg, tidak ada masalah apapun karena air ketuban.
"Gimana istri saya dok?" Tanya Lucky pada dokter kandungan laki-laki.
"Masih pembukaan empat pak, dan air ketuban juga sudah keruh. Makanya kami bantu dengan cairan induksi." Jawab dokter laki-laki itu.
"Bukaan empat? Berarti barusan dokter ini udah ngobok-ngobok lubang kramat Ayu." Dumel Lucky dalam hati. Lucky salah fokus karena mendengar si dokter mengatakan pembukaan empat. Meski ia dokter yang di tuntut untuk profesional, tapi kalau sudah menyangkut tubuh istrinya luar dalam, ke profesionalan Lucky menghilang entah kemana, Lucky tak mau lubang kramat istrinya di jamah laki-laki lain selain dirinya.
"Jadi tadi dokter VT istri saya?" Tanya Lucky dengan raut wajah tak biasa.
"Bukan pak, tapi bidan asisten saya." Jawab dokter laki-laki sambil tersenyum menanggapi kepanikan suami pasien yang ada di hadapannya. Untungnya dokter laki-laki itu tidak tau profesi Lucky juga seorang dokter, kalau tau sudah pasti Lucky kena ejek dokter laki-laki itu.
Mendengar jawaban dokter Lucky pun bernafas lega.
Dokter pun pergi dari kamar bersalin sambil menunggu pembukaan Ayu lengkap, dokter laki-laki itu pun visit ke kamar pasien ibu melahirkan lainnya.
Setelah dokter pergi, Lucky pun berjalan mendekati Ayu yang sedang meringis tipis karena kontraksi.
Ibu dan bapak Ayu yang sejak tadi menemani Ayu mundur beberapa langkah agar Lucky bisa mendekati Ayu.
"Sakit lagi?" Tanya Lucky.
Ayu hanya menganggukkan kepalanya.
"Tarik nafas.." instruksi Lucky.
Ayu pun menarik nafasnya.
"Buang perlahan." Instruksi Lucky lagi.
Dan Ayu pun membuang nafasnya perlahan.
__ADS_1
Dan begitu terus sampai kontraksi yang Ayu rasakan hilang dengan sendirinya.
BERSAMBUNG...