
Dari meja yang jaraknya hanya dua meja dari tempat Lucky dan Kiana mengobrol, Ayu menatap tajam sang suami yang tidak sadar kalau dirinya sedang cemburu. Mungkin Ayu lupa kalau suaminya tidak selera dengan wanita.
"Selamat malam nona, ini buku menu nya." Ucap pelayan laki-laki berwajah tampan dan masih muda, kira-kira seumuran dengan Ayu.
Ayu mengambil buku menu itu dari tangan si pelayan. Kemudian membuka buku menu itu dan mencari menu yang sangat ia rindukan.
"Apa disini gak ada semur jengkol? Atau sambal udang pete?" Tanya Ayu bergurau, karena ia tau tidak mungkin di restoran semewah ini ada menu yang Ayu tanyakan.
"Apa nona dari Indonesia?" Tanya si pelayan.
Ayu mengangguk.
"Apa kamu juga orang Indonesia?" Tanya Ayu balik.
"Ya. Saya orang Indonesia, dan kebetulan saya disini kuliah sambil bekerja." Jawab si pelayan.
Seperti menemukan sebongkah berlian di padang tandus, begitu lah reaksi Ayu saat si pelayan memberitahu identitasnya.
"Woah..gak nyangka bisa ketemu yang satu negara disini. Kenalkan nama saya Ayu." Ayu menjulurkan tangannya pada si pelayan.
Sama seperti Ayu yang senang bisa bertemu dengan orang senegaranya, si pelayan juga senang bertemu dengan orang senegaranya. Dan dengan senang hati si pelayan menyambut uluran tangan Ayu.
"Andri." Jawab si pelayan memperkenalkan dirinya.
Mereka pun saling bercengkrama, membahas yang tak perlu dibahas, tertawa walaupun tidak ada yang sedang melawak. Dan aksi Ayu dan si pelayan itu berhasil membuat api kecemburuan Lucky berkobar.
"Senang dengan bertemu dengan mu Kiana, sampaikan salam ku pada suami mu. Aku balik dulu ke meja ku." Ucap Lucky berpamitan pada Kiana.
Lucky pun berjalan menuju meja dimana Ayu dan si pelayan sedang asyik ketawa-ketiwi.
Saat Lucky melewati si pelayan, dengan sengaja Lucky menabrak punggung si pelayan.
Dan sebagai tanda Ayu adalah miliknya, Lucky langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Ayu.
__ADS_1
Mata Ayu membelalak saat Lucky mencium bibirnya di depan umum. Jelas saja aksi Lucky itu di lihat jelas oleh si pelayan dan Kiana yang masih memperhatikan gerak-gerik Lucky dan Ayu dari mejanya.
Setelah Lucky melepaskan bibirnya dari bibir Ayu, barulah Lucky duduk di kursi sebelah Ayu. Sedangkan Ayu tertunduk malu karena perbuatan suaminya itu.
Lucky pun merampas buku menu dari tangan Ayu. Tanpa menanyakan pada Ayu apa yang ingin di makan istrinya itu, Lucky langsung memesan dua menu untuk dirinya dan Ayu makan. Setelah itu mengembalikan buku menu itu pada si pelayan.
"Mas..Lucky apa-apaan sih kok makanan buat aku mas Lucky yang pilih?" Protes Ayu.
"Hampir sepuluh menit buku menu di tangan kamu dan kamu belum juga nemuin makanan yang mau kamu makan? Kamu sengaja berlama-lama, sekalian godain pelayan itu?" Tanya Lucky mengintimidasi.
Mendengar pertanyaan Lucky, jelas saja mata Ayu langsung membelalak.
"Maksud mas Lucky ngomong gitu apa? Mas Lucky ngerendahin aku?" Ayu malah balik bertanya dengan nada bicara tak kalah mengintimidasi.
Lucky tak menjawab dan hanya membuang muka, ia tidak merasa bersalah menuduh istrinya seperti itu, ia tidak sadar kalau ucapannya itu sangat melukai perasaan istrinya.
Makanan yang Lucky pesan pun datang. Dalam diam mereka menghabiskan makanan yang telah tersaji di meja.
Tak perlu waktu lama dalam waktu lima belas menit, Ayu sudah menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Ayu pun menenggak air minum, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Pulang!!" Jawab Ayu ketus. Dan tanpa berkata-kata lagi Ayu langsung berjalan keluar dari dalam restoran.
Lucky pun langsung berdiri dari tempat duduknya, niatnya hendak mengejar istrinya, tapi baru beberapa langkah ia sadar kalau makanannya belum di bayar.
Lucky pun memutar langkah kakinya menuju kasir dan membayar makanan yang ia pesan tadi.
Setelah urusan pembayaran selesai, Lucky pun berlari keluar dari dalam restoran. Tapi sayangnya Ayu sudah tidak ada di depan restoran.
"Aaarghh.." teriak Lucky sambil menjambak rambutnya saat istrinya tidak ada dalam jangkauannya.
Lucky pun menyetop taksi untuk mengejar Ayu, yang ia yakini pulang ke apartemen. Di dalam taksi, Lucky juga berusaha menghubungi ponsel Ayu, tapi Ayu tidak menjawab panggilannya, malahan di panggilan ke tiga, Ayu langsung menonaktifkan ponselnya.
"Pak, tolong lebih cepat." Ucap Lucky tidak sabaran.
__ADS_1
Supir taksi pun mempercepat laju mobilnya. Dalam waktu lima belas menit pun, taksi yang Lucky tumpangi tiba di depan gedung apartemen tempat tinggal Lucky.
Setelah membayar ongkos taksi, Lucky pun turun dari dalam taksi dan langsung berlari masuk ke dalam gedung apartemen kemudian masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dimana unit apartemennya berada.
Ting. Pintu lift terbuka.
Lucky pun kembali berlari menyusuri lorong untuk tiba di depan unitnya.
Ceklek. Lucky membuka pintu unit apartemennya.
"Ayu..." panggil Lucky sambil berjalan menuju kamar tidurnya.
Mata Lucky membelalak begitu sampai di dalam kamar, di lihatnya Ayu sedang mengemasi barang-barang ke dalam koper.
Dengan langkah panjang, Lucky berjalan mendekati Ayu.
"Apa-apaan ini Yu? Kamu ngapain susun barang ke koper?"
"Aku mau pulang." Jawab Ayu.
"Kamu marah gara-gara kejadian tadi? Harusnya aku yang marah Yu karena kamu ketawa-ketiwi sama laki-laki lain." Ucap Lucky dengan nada meninggi.
"Salah kalau aku bersikap ramah dengan orang satu negara kita?" Jawab Ayu dengan nada suara tak kalah meninggi dari Lucky.
"Mas Lucky aja bisa cepika-cepiki sama temen perempuan mas Lucky tadi, masa aku cuma bersikap ramah, mas Lucky udah bilang aku ngegoda laki-laki itu!"
"Kiana temen aku Yu, sedangkan pelayan tadi orang lain, orang yang baru kamu kenal di tempat itu!!!"
"Kenapa? Salah?"
"Jelas salah Yu!!!!" Teriak Lucky.
"Oke aku salah karena berusaha ramah dengan laki-laki yang baru aku kenal. Terus, mas Lucky gak ngerasa bersalah saat mas Lucky nyuruh aku duduk duluan, sedangkan mas Lucky meneruskan obrolan dengan teman mas Lucky itu?!"
__ADS_1
Lucky mengernyitkan keningnya, mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Ayu.
BERSAMBUNG...