Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 17


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Hari ini Adam bangun terlebih dahulu dari Karen. Tak seperti biasanya memang karena Karen biasanya jam lima sudah bangun, tapi ini sudah hampir jam tujuh Karen belum juga bangun. Melihat wajah Karen yang sangat nyenyak, Adam jadi tak tega membangunkannya, apalagi tadi malam mereka tiga kali melakukan ritual cuci botol.


Adam pun turun ke lantai bawah untuk sarapan tanpa Karen.


"Karen mana?" Tanya pak Zidane yang tak melihat keberadaan sang putri karena biasanya Karen selalu turun bersama Adam.


"Masih tidur pah." Jawab Adam sambil mendudukkan dirinya di kursi.


"Karen sakit?" Tanya pak Zidane khawatir.


"Gak kok pah. Mungkin Karen kecapean, kan semalam..." Adam tak melanjutkan kata-katanya. Hampir saja dirinya keceplosan kalau semalam Karen habis ia gempur.


"Ekhem." Pak Zidane hanya berdehem karena tau apa yang hendak ingin menantunya itu ucapkan.


"Ya sudah, cepat lah sarapan. Papa hari ini mau ke kota B, mau mengecek usaha disana. Papa percayakan perusahaan pada mu." Ucap pak Zidane lagi.


"Berapa hari papa disana?" Tanya Adam.


"Mungkin dua atau tiga hari. Jaga Karen yah." Ucap pak Zidane.


Sebenarnya pak Zidane bukan mau pergi ke kota B, melainkan karena pak Zidane harus menjalani kemotherapy.


"Iya pah, papa tenang aja." Jawab Adam.


Tak lama kemudian pak Zidane sudah menyelesaikan sarapannya.


"Papa pergi dulu yah. Bilang sama Karen papa ke kota B." Pamit pak Zidane.


"Iya pah. Hati-hati yah pah." Jawab Adam.


Pak Zidane tak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menepuk pundak Adam lalu berlalu dari hadapan Adam. Meninggalkan Adam yang masih menyantap sarapannya.


Tak ada rasa curiga dari Adam karena tubuh pak Zidane terlihat segar bugar.


Adam pun selesai menyantap sarapannya.


Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur untuk mencari Bik Narti.


"Bik." Panggil Adam pada Bik Narti.


"Iya Tuan."


"Tolong siapin sarapan buat Karen. Biar sekalian saya bawa ke atas." Ucap Adam.


"Baik Tuan." Jawab Bik Narti.


Adam pun kembali ke meja makan untuk menunggu Bik Narti menyiapkan sarapan untuk Karen.


Lima menit kemudian Bik Narti pun datang membawa nampan yang berisi sarapan untuk Karen kepada Adam yang ada meja makan.


"Ini Tuan." Bik Narti menyerahkan nampan itu pada Adam.

__ADS_1


Adam pun mengambil nampan itu dari tangan Bik Narti lalu berjalan keluar dari ruang makan dan naik kelantai atas.


Ceklek. Adam membuka pintu kamar dengan bersusah payah karena ada nampan di tangannya.


"Hoek.. Hoek.." terdengar suara Karen dari dalam kamar mandi begitu Adam membuka pintu kamarnya.


"Karen." Pekik Adam. Buru-buru Adam meletakkan nampan di atas meja rias dan berjalan ke kamar mandi untuk melihat keadaan Karen.


Braak. Sangking paniknya, Adam membuka pintu kamar mandi dengan kasar.


Karen yang sedang menunduk di wastafel pun menoleh ke arah pintu.


"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Adam panik sambil berjalan mendekati Karen.


"Kayaknya masuk angin deh kak." Jawab Karen lalu membersihkan mulutnya dengan air kran.


"Ini tuh udah gak bener sayang, kamu harus diperiksa. Kita ke dokter yah." Ajak Adam karena Karen sudah sering seperti itu.


"Aku gak pa-pa kak, percaya deh sama aku. Nanti di olesin minyak angin juga sembuh." Jawab Karen.


"Kamu sayang gak sama aku? Kalau kamu sayang sama aku, jangan buat aku khawatir dan gak tenang. Pokoknya sekarang kita harus ke dokter." Paksa Adam.


Karen pun mengangguk pasrah.


"Sekarang kamu cuci muka sama gosok gigi aja. Habis itu sarapan, aku udah bawain sarapan buat kamu."


Sekali lagi Karen hanya menganggukkan kepalanya pasrah lalu mulai mengerjakan apa yang Adam perintahkan padanya.


Setelah Karen selesai mencuci muka dan menggosok giginya, Adam pun menggendong Karen ala bridal style keluar dari dalam kamar mandi.


"Udah diem." Balas Adam.


Adam pun mendudukkan Karen di sofa lalu berjalan menuju meja rias untuk mengambil nampan yang berisi sarapan untuk Karen. Dengan telaten dan penuh kasih sayang Adam pun menyuapi Karen sampai makanan yang ada di piring Karen habis.


Setelah Karen menghabiskan sarapannya, Adam pun berjalan ke ruang ganti untuk mengambil pakaian ganti untuk istrinya lalu membantu Karen mengganti pakaiannya. Setelah itu membantu Karen merias dirinya.


"Oke, beres. Sekarang kita pergi ke rumah sakit." Ucap Adam setelah Karen selesai ia dandani dengan make-up polos.


Adam tak sadar kalau sejak tadi Karen cemberut karena Adam memilihkan pakaian yang tak ia sukai dan memoleskan bedak tabur ke wajahnya dan mengoleskan lipstik berwarna nude ke bibirnya. Padahal Karen mau nya memakai bedak padat dan lipstik berwarna merah maroon.


"Ayo." Ajak Adam sambil menarik tangan Karen tanpa melihat wajah istrinya yang masih cemberut.


Mau tak mau Karen berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti langkah suaminya.


Saat sudah di depan tangga, Adam kembali menggendong Karen. Adam tak mengizinkan tenaga Karen keluar untuk menuruni anak tangga.


"Iikh kak, aku bisa jalan sendiri."


"Udah gak pa-pa. Hitung-hitung olahraga. Udah lama aku gak olahraga. Perut ku sixpack ku aja udah mau berubah jadi six fat." Jawab Karen.


"Lama gak olahraga? Lah terus yang tiap malam sampe dua-tiga ronde itu apa? Bukannya olahraga." Protes Karen.


"Beda lah sayang. Kalau yang kita lakuin tiap malam itu kan olahraga mengencangkan otot si Otong, sedangkan aku harus ngelakuin olahraga yang mengencangkan otot perut sama lengan." Jawab Adam.

__ADS_1


"Sama aja. Sama-sama mengeluarkan keringat dan membakar lemak." Jawab Karen.


"Iya lemaknya si Otong doang." Timpal Adam.


Karen yang tadinya cemberut pun jadi tertawa geli dengan percakapan mereka.


Mereka pun sudah lantai bawah, Adam pun menurunkan Karen.


Mata Karen berkeliling untuk mencari keberadaan sang papa.


"Papa mana? Udah berangkat?" Tanya Karen.


"Papa ke kota B. Mau ngecek usahanya yang disana." Jawab Adam.


"Kok papa gak bilang sama aku?"


"Papa udah bilang sama aku. Tadinya papa mau pamit sama kamu tapi kamunya masih nyenyak banget. Makanya papa cuma pamit sama aku dan titipin kamu sama aku." Jawab Adam.


"Oh.." Karen hanya ber Oh ria. Sama seperti Adam yang tak merasa curiga, Karen pun juga tak merasakan sesuatu yang janggal dari papanya.


"Aku telpon kantor dulu yah. Izin dateng siang." Ucap Adam.


Karen pun menganggukkan kepalanya.


Adam pun mengambil ponselnya dan menghubungi David kalau hari ini dirinya datang siang karena harus membawa Karen ke dokter. Setelah memberitahu David, Adam dan Karen pun berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh supir pribadi Karen.


Adam tak mau ambil resiko dengan membawa Karen dengan motornya, jadi kali ini mereka pergi menggunakan mobil Karen dengan supir yang mengendarai mobil.


✨✨✨


Kini mereka sudah sampai di rumah sakit langganan Karen.


Setelah melakukan pendaftaran di poli penyakit dalam, kini Karen dan Adam sedang menunggu antrian. Meski bukan pasien dengan asuransi dari pemerintah, mereka juga harus menuruti peraturan yang berlaku. Kecuali mereka sudah membuat janji terlebih dahulu.


Di rumah sakit yang sama, ternyata di pak Zidane juga melakukan kemotherapy di rumah sakit itu. Untungnya Karen dan Adam tak melihat pak Zidane, hanya pak Zidane yang melihat mereka saat sedang melakukan pendaftaran.


"Kenapa mereka ada disini? Apa penyakit Karen kambuh lagi?" Gumam pak Zidane.


Pak Zidane yang penasaran pun mengambil ponselnya dan melakukan kepada anak buahnya untuk menanyakan apa yang terjadi pada Karen. Karena kalau dia sendiri yang mendatangi Karen dan Adam, pasti mereka akan curiga karena pak Zidane tadi pamit untuk ke kota B.


"Baik lah. Kalau begitu pantau terus mereka berdua. Dan segera kabari saya berita terbarunya." Perintah pak Zidane pada anak buahnya.


Setelah itu pak Zidane pun mengakhiri panggilannya.


"Tuan Zidane." Panggil dokter yang menangani pak Zidane.


Pak Zidane pun menoleh.


"Mari ikut saya." Ucap dokter tersebut.


Sebenarnya pak Zidane masih ingin memantau anak dan menantunya dari jauh, tapi apa boleh buat, dirinya datang ke rumah sakit juga karena harus melakukan serangkaian pengobatan. Ia ingin memperpanjang umurnya sedikit lagi, setidaknya sampai ia bisa melihat cucunya, yang pak Zidane juga tidak tau kapan hadirnya. Tapi pak Zidane berharap semoga Karen segera hamil.


Mau tak mau pak Zidane pun mengikuti dokter yang menangani dirinya itu dari belakang.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2