Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 16


__ADS_3

Kini Adam dan Karen sudah berada di kantin perusahaan, mereka pun sudah duduk manis di meja dengan makan siang untuk Adam yang tersaji di meja. Hanya untuk Adam, karena Karen tidak bisa makan makanan yang sembarangan.


"Beneran nih, aku makan duluan?" Tanya Adam pada istrinya.


"Iya. Sebentar lagi Bik Narti dateng kok bawa makanan aku." Jawab Karen.


"Ya udah, aku makan yah." Balas Adam.


Karen menganggukkan kepalanya.


Adam pun mulai menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.


"Nona Karen." Suara orang yang sangat Karen kenal memanggil namanya.


Karen pun menoleh ke belakang.


"Sonia."


"Saya cari anda kemana-mana Nona. Ini ada makan siang anda. Tadi orang rumah datang menitipkan ini." Ucap Sonia.


"Oh. Terimakasih." Balas Karen sambil mengambil bekal makan siangnya.


"Saya permisi Nona, Tuan. Selamat menikmati makan siangnya." Sonia pun pamit dari hadapan Karen dan Adam.


Karen pun mulai membuka bekal makan siangnya dan menyantap makan siang nya bersama Adam. Mereka tampak mesra, sesekali Adam menyuapi Karen dan Karen pun begitu. Adam memperlakukan Karen sangat manis. Raut wajah kebahagiaan pun terlihat jelas dari wajah Karen.


Tanpa mereka sadari banyak pasang mata sedang memperhatikan kemesraan mereka termasuk Sonia.


"Nona Karen sangat beruntung memiliki suami seperti Tuan Adam. Berbahagialah selalu Nona." Lirih Sonia.


✨✨✨


Waktu berlalu sangat cepat tak terasa seminggu sudah Adam bekerja di perusahaan pak Zidane, ia sudah semakin pintar mengelola perusahaan. Pak Zidane yang bangga dengan perkembangan menantunya yang sangat cepat tanggap itu pun memberikan hadiah motor sport untuk menantunya itu.


Hari ini seperti hari biasanya, Adam harus berangkat bekerja. Tapi hari ini Karen tidak ikut, karena Karen mengeluh tidak enak badan. Jadi mau tidak mau Adam harus mengurus istri bocilnya itu yang tiba-tiba sangat manja. Setelah dirasa Karen sudah bisa di tinggal baru lah Adam pamit pergi bekerja. Untung saja Adam bekerja di perusahan papa mertuanya, kalau saja Adam bekerja di perusahaan orang lain sudah bisa di pastikan Adam mendapat surat peringatan pertama.


Cup. Adam mencium kening Karen.


"Aku pergi yah." Pamit Adam.


Karen menganggukkan kepalanya.


"Gak usah turun kebawah, kalau mau apa-apa telpon aja Bik Narti atau staf dapur."


"Iya kak. Kak Adam juga cepet pulang yah."


"Iya sayang."


Cup. Sekali lagi Adam mengecup kening istrinya.


Setelah itu baru lah Adam keluar dari dalam kamarnya dan turun ke lantai bawah. Di lantai bawah Adam tak langsung keluar rumah, ia menyempatkan diri ke dapur untuk menemui staf dapur.


"Mbak, saya titip Karen yah. Tolong di perhatiin." Ucap Adam pada staf dapur di rumah papa mertuanya itu.


"Iya Tuan. Itu sudah menjadi tugas kami." Jawab salah satu staf dapur.


Adam pun keluar dari dapur dan mencari keberadaan Bik Narti.


"Bik, saya titip Karen yah. Tolong di perhatiin. Kalau ada apa-apa langsung hubungi saya." Ucap Adam pada Bik Narti.

__ADS_1


"Baik Tuan." Jawab Bik Narti.


Setelah memberi pesan pada Bik Narti, Adam pun melanjutkan langkah kakinya keluar dari dalam rumah pak Zidane.


Adam pun berangkat ke kantor dengan menunggangi motor sport pemberian papa mertuanya itu.


Setelah hampir dua puluh menit membelah jalanan, akhirnya Adam sampai juga di perusahaan pak Zidane. Setelah memarkirkan motornya, Adam pun berjalan menuju gedung perusahaan.


Tapi dari kejauhan Adam melihat sosok kakaknya, Ayu.


"Itu kan mbak Ayu, ngapain mbak Ayu disini? Dan laki-laki yang disampingnya itu siapa? Apa itu suaminya mbak Ayu?" Gumam Adam dalam hati.


Saat Ayu dan Lucky pergi dari lobi perusahaan, Adam pun mengikuti Ayu dan Lucky. Ia sangat merindukan kakaknya yang selalu ia repotkan itu.


Ternyata sang kakak dan suaminya masuk ke restoran cepat saji, Adam pun mengikuti sang kakak ke restoran cepat saja itu. Setelah ke restoran cepat saji, Adam kembali mengikuti Ayu ke bioskop. Namun baru di pertengahan film, Ayu dan Lucky keluar dari dalam bioskop. Adam pun sadar kalau sepertinya suami kakaknya itu menyadari keberadaan Adam yang mengikuti mereka.


Adam pun ikut keluar dari dalam bioskop tapi kali ini Adam memberi jarak yang sangat jauh dari posisi Ayu berada dan saat Ayu masuk ke toilet dan suami kakaknya itu pergi entah kemana, Adam pun menunggui Ayu dari balik dinding yang tak jauh dari toilet. Dan saat Ayu keluar, Adam pun memanggil kakaknya itu. Ia sudah sangat merindukan sang kakak, sampai-sampai ia tak tahan hanya dengan menguntit sang kakak, jadi Adam memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya.


Adam memeluk kakaknya itu dengan sangat erat, tapi saat sedang asyik berpelukan, tiba-tiba saja suami kakaknya itu datang dan salah paham. Adam pun harus ikhlas mendapat bogem mentah dari sang kakak ipar. Maklum, suami kakaknya itu memang belum pernah berkenalan dengan Adam, karena sewaktu Ayu menikah Adam tidak datang.


Ayu pun melerai Lucky yang emosinya sedang di ubun-ubun dan memperkenalkan Adam pada Lucky. Ayu pun mengajak Adam dan Lucky ke taman mall untuk mengobrol dan meminta penjelasan Adam, kenapa dirinya menghilang.


( Untuk part Adam bertemu dengan Ayu dan Lucky silahkan baca di bab 54-55 yah. 🙏🙏🙏 )


Setelah pertemuan dengan Ayu yang tak pernah Adam sangka-sangka, Adam pun kembali ke perusahaan pak Zidane. Untung saja saat Adam kembali ke perusahaan, papa mertuanya itu sedang tidak ada di kantor, coba ada di kantor, sudah pasti Adam kena introgasi karena baru datang jam segini.


✨✨✨


Bel jam pulang kantor pun berbunyi. Cepat-cepat Adam merapihkan meja kerjanya dan bergegas pulang ke rumah, karena sejak tadi pikirannya terus memikirkan Karen yang sedang tidak enak badan.


Kini Adam sudah berada di pelataran rumah pak Zidane, setelah memarkirkan motornya, cepat-cepat Adam masuk ke dalam rumah.


"Selamat sore. Istri saya mana?"


"Nona Karen ada di kamarnya Tuan." Jawab pelayan itu.


"Terimakasih." Jawab Adam. Adam pun berlalu dari hadapan pelayan itu dan dengan setengah berlari naik ke lantai atas menuju kamarnya.


Ceklek. Adam membuka pintu kamar.


Karen yang sedang duduk di meja rias sambil merias wajahnya pun menoleh ke belakang.


Melihat istrinya baik-baik saja bahkan sedang merias wajah, Adam bernafas lega.


"Muka kakak kenapa? Kok merah gitu?" Tanya Karen.


Adam mengatur nafasnya yang ngos-ngosan terlebih dahulu baru ia berjalan mendekati istrinya di meja rias.


"Aku tuh takut kamu kenapa-kenapa, di kantor pikiran aku gak tenang ninggalin kamu di rumah. Apalagi orang rumah gak ada yang ngabarin tentang kondisi kamu. Makanya begitu bel pulang kerja, aku langsung meluncur pulang. Aku lari-larian tau gak dari bawah kesini." Jawab Adam.


Karen tertawa kecil mendengar jawaban Adam.


"Kok kamu ketawa sih? Seneng yah bikin aku khawatir, hah?" Tanya Adam sambil menggelitiki perut Karen.


"Kak stop, geli." Pekik Karen.


"Siapa suruh kamu ketawa ngeliat aku khawatir."


"Iya.. iya ampun."

__ADS_1


Adam pun berhenti menggelitiki Karen.


Cup. Lalu mengecup kening istrinya itu.


"Kamu udah baikkan kan?" Tanya Adam setelah mengecup kening Karen.


"Udah kak. Kan aku udah bilang kalau aku cuma masuk angin aja. Habisnya kak Adam gak pernah biarin aku pake baju sih kalau malam." Jawab Karen pura-pura tak senang dengan apa yang Adam perbuat pada dirinya. Padahal sebenarnya Karen juga senang, malahan Karen juga yang mancing-mancing Adam agar suaminya itu menelanjangi dirinya.


"Orang kamu juga yang mancing-mancing kok. Udah tau aku orangnya horny-an." Jawab Adam.


"Masa sih kakak horny-an?" Tanya Karen dengan nada menggoda. Tangannya pun sudah mulai nakai dengan mengelus perut six pack suaminya.


"Jangan mulai sayang, habis kamu kalau si Otong bangun." Adam memberi peringatan pada Karen.


"Masa sih? Aku gak takut tuh." Jawab Karen menantang. Sekarang tangannya mulai membuka resleting celana suaminya.


"Uh..Ren.." Adam menghela nafas panjang, hasratnya mulai bangkit karena ulah tangan Karen yang sekarang sedang mengelus botol jinnya. Botol jin pun mengeras.


Merasakan botol jin mengeras, niat jahil pun terlintas di pikiran Karen. Karen tiba-tiba saja mengakhiri belaian tangannya pada botol jin.


"Kakak mandi sana." Ucap Karen sambil mendorong tubuh Adam pelan.


Adam ternganga mendengar ucapan istrinya yang malah menyuruhnya. Jelas saja Adam tak terima di gantung seperti itu.


"Enak aja kamu, tanggung jawab." Protes Adam.


"Tanggung jawab apa sih? Sana akh." Karen pun berdiri dari tempat duduknya dan hendak berjalan ke ruang ganti, niatnya ingin menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


Tapi baru beberapa langkah Adam sudah langsung mengangkut tubuh Karen seperti karung beras.


"Aaakh.. kak Adam turunin." Teriak Karen sambil meronta-ronta.


"Siapa suruh kamu lari dari tanggung jawab. Pokoknya kamu harus tanggung jawab, mandiin aku sama cuci botolnya si jin Otong." Jawab Adam. Ia pun terus berjalan menuju kamar mandi.


Sesampainya di dalam kamar mandi, Adam langsung mendudukkan Karen di wastafel.


"Aku udah mandi kak." Protes Karen.


"Ya mandi lagi lah. Kan banyak air." Jawab Adam dengan entengnya.


"Ta.. hemph.." Belum sempat Karen mengeluarkan protesnya, Adam sudah langsung menyerang bibirnya dan mengunyah bibir Karen dengan sangat rakusnya.


Tangan Adam pun juga ikut beraksi menyelinap ke balik baju yang Karen kenakan. Tangan Adam meraba punggung Karen dan naik menuju pengait penutup kompeng kenyal. Setelah pengait itu terbuka, tangan Adam memutar arahnya menuju kompeng kenyal dengan kismis di puncaknya.


Karen bisa apa kalau suaminya sudah memberi sengatan kenikmatan di sekujur tubuhnya, ya Karen hanya bisa menikmati dan membalas sengatan yang suaminya berikan padanya.


Kini tangan lihai Adam pun sudah berhasil membuat pakaian yang Karen kenakan teronggok di lantai kamar mandi.


Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, karena botol jin sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam mesin pencuci botol. Adam pun mulai mengarahkan botol jin yang mengeras itu untuk masuk ke dalam mesin pencuci botol yang sudah di basahi dengan cairan agar botol jin bisa masuk dengan mudahnya.


"Ough..." desau keduanya. Tubuh mereka juga sama-sama melengkung saat botol jin terbenam sempurna di dalam mesin pencuci botol.


Adam pun mulai menggerakkan pinggulnya.


"Ough.. kak.."


"Ough... sayang."


Racauan, desauan dan kata-kata cinta tak henti-hentinya keluar dari mulut Karen dan Adam mengiringi ritual pencucian botol sampai akhirnya jin iprit keluar dari dalam botol.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2