
Tiga bulan kemudian.
Ayu dan Lucky sudah tidak tinggal di rumah orangtua Lucky karena mereka sudah memiliki rumah baru yang baru mereka tempati dua bulan.
Sonia, bodyguard perempuan yang bertugas menjaga Ayu pun ikut tinggal dirumah itu, padahal Lucky juga menggunakan jasa satpam untuk menjaga rumahnya. Rumah yang Lucky beli tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil tapi tidak juga minimalis. Karena Ayu mendesain rumah baru mereka sangat glowing, mungkin pengaruh hormon ibu hamil yang ingin rumah baru mereka serba bling-bling.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Lucky dan Ayu belum juga turun dari lantai atas.
Dan pagi ini, Adam datang ke rumah baru sang kakak, karena semenjak pertemuan mereka terakhir di mall, Adam belum pernah lagi bertemu dengan sang kakak.
"Selamat pagi Tuan Adam." Sapa Sonia pada Adam. Sonia memanggil Adam dengan panggilan Tuan, karena Sonia tau kalau Adam adalah menantu pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Sst..jangan panggil saya Tuan. Panggil saja saya Adam atau mas Adam, atau pak Adam atau apalah, yang penting jangan Tuan. Kakak saya tidak tau kalau saya sudah menikah, apalagi menikah dengan anak bos. Paham kamu." Ucap Adam memberi peringatan pada Sonia.
"Baik Tu- , eh..maksud saya mas Adam." Jawab Sonia.
"Oh..iya kakak saya mana?" Tanya Adam.
"Pak Lucky dan Bu Ayu masih di kamarnya, mungkin mereka belum bangun." Jawab Sonia.
"Bisa kamu panggilkan? Karena saya tidak bisa lama tinggal disini." Pinta Adam.
"Baik mas." Sonia pun meninggalkan Adam di ruang tamu dan melangkahkan kakinya menapaki anak tangga menuju lantai atas.
Kini Sonia sudah berada tepat di depan pintu kamar Lucky dan Ayu. Sonia pun hendak mengetuk pintu kamar tersebut, namun hal itu ia urungkan karena mendengar suara-suara ghoib dari dalam kamar bos nya itu.
"Ssh...ough..mas..pelan-pelan mas, di dalam ada anak kamu." Racau Ayu sekaligus memberi peringatan pada Lucky yang mulai kesurupan jaran goyang.
"Tahan sayang, sebentar lagi keluar." Jawab Lucky yang sudah hampir sampai di puncak kenikmatan.
"Ssh..ah Ayu sayang.." racau Lucky sambil terus menggerakkan pinggulnya dengan cepat.
"Ah..uh..hemh..mas." racau Ayu saat merasakan kenikmatan yang luar biasa kerena ulah rudal yang menumbuk-numbuk lubang kramatnya.
Bukannya pergi dari depan kamar itu, Sonia malah tetap berdiri di depan pintu kamar itu, mengotori gendang telinganya dengan suara-suara ghoib yang keluar dari mulut Ayu dan Lucky.
Berkali-kali Sonia menghela nafasnya.
"Bukannya pake peredam." Gerutu Sonia dalam hati.
Meski menggerutu, tapi tetap saja Sonia berdiri di depan kamar itu, entah bodoh atau karena terlalu setia, ah...entah lah..
Sedangkan di dalam kamar, ada dua manusia yang tak sadar kalau suara mereka begitu menggelegar.
__ADS_1
"Sssh...ah..mas.." desau Ayu karena Lucky semakin mempercepat dan memperdalam hentakannya.
Lucky pun cepat-cepat mengeluarkan rudalnya dari dalam lubang BuAyu saat merasakan oli dalam rudalnya ingin menyembur keluar. Itu semua Lucky lakukan karena Lucky tidak memakaikan APD pada rudalnya, oli yang keluar dari dalam rudal masih berbahaya untuk kehamilan Ayu yabg masih tiga bulan. Bukan karena tidak ada stok, Lucky pernah memakaikan APD pada rudalnya, tapi rasanya tidak enak. Menurut Lucky, lebih enak daging ketemu daging.
Lucky pun menumpahkan oli rudalnya di lantai di dekat ranjang.
Dan hal itu membuat Ayu naik pitam.
"Mas Lucky jorok!!!!" Teriak Ayu kesal.
"Ssst...nanti aku bersihin." Lucky menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, kode agar Ayu tak melanjutkan ngomel-ngomelnya.
"Udah di bilangin buang di tissue!! Apa artinya itu tissue di siapin di samping kamu mas." Omel Ayu.
"Lupa Yu..." jawab Lucky sambil mendudukkan bokongnya di pinggiran ranjang, kemudian merebahkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang karena sudah lemas.
"Ish...lupa kok tiap hari!!! Itu mah sengaja!" Geram Ayu.
Di luar kamar, Sonia yang sudah tidak lagi mendengar suara ghoib dari dalam kamar, langsung mengetuk pintu kamar bosnya.
Tok..tok..tok.
"Pak, Buk, ada pak Adam di bawah." Panggil Sonia.
"Suruh tunggu." Jawab Lucky dari dalam kamar.
Mendengar adiknya datang, Ayu pun langsung turun dari atas ranjang tanpa mengikuti aturan bangun untuk ibu hamil. Dan itu membuat jiwa bapak-bapak Lucky meronta-ronta.
"Kok gitu kamu bangunnya? Berapa kali sih di bilangin, miring dulu baru pelan-pelan duduk." Omel Lucky.
"Iya maaf, namanya juga buru-buru mas." Ucap Ayu sambil memungut pakaiannya di lantai dan hendak memakainya.
Melihat itu, Lucky langsung berdiri dan mendekati Ayu, membuang pakaian yang baru istrinya pungut dari atas lantai.
"Iih mas Lucky apa-apaan sih? Kok di buang?" Protes Ayu.
"Kamu mau nemuin Adam dalam keadaan kayak gini? Cium tuh badan kamu, bau percintaan kita. Mandi dulu sana!" Perintah Lucky tegas.
"Ish.." kesal Ayu sambil menghentakkan kakinya kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Begitu Ayu masuk ke dalam kamar mandi, Lucky membersihkan tumpahan oli yang keluar dari dalam rudalnya yang berceceran di atas lantai.
Sedangkan di lantai bawah setelah menyampaikan pesan pada Adam untuk menunggu, Sonia berjalan ke dapur untuk membuatkan teh untuk Adam.
__ADS_1
"Silahkan di minum mas." Ucap Sonia sambil meletakkan secangkir teh di meja ruang tamu.
"Apa mereka sudah benar-benar selesai waktu kamu kasih tau aku ada disini?" Tanya Adam pada Sonia.
"Hah..maksudnya?" Tanya Sonia grogi. Dia tau apa maksud pertanyaan Adam.
"Hais...begini..plak..plak..plak.." Ucap Adam sambil menepuk tangannya sebagai isyarat orang sedang berkuda.
Blush. Wajah Sonia memerah seketika mendapat isyarat dari Adam. Bukan dia yang berkuda, tapi dia yang malu.
"Em...itu.." Sonia jadi salah tingkah di buat Adam.
Lebih baik dia di hadapkan dengan gengster daripada harus menjawab masalah ranjang tetangga.
"Ekhem.." Tiba-tiba saja suara berat Lucky memecahkan perasaan canggung yang Sonia rasakan.
"Huft.." Sonia bernafas lega begitu bos nya datang ke ruang tamu.
Sonia pun mundur teratur dari ruang tamu.
"Udah selesai mas?" Kini mulut lemes Adam bertanya pada kakak iparnya.
"Menurut mu? Kalau belum selesai kan tidak mungkin aku ada disini sekarang." Jawab Lucky dengan nada datarnya.
Lucky pun mendudukkan bokongnya di sofa yang bersebelahan dengan Adam.
"Kenapa baru muncul? Apa kamu mau membuat kakak mu stres karena takut hal buruk menimpa mu?" Tanya Lucky.
"Baru ada waktu mas."
"Mbak Ayu mana?"
"Lagi mandi. Sebentar lagi juga dia turun."
Dan benar saja tak sampai sepuluh menit, Ayu turun dari lantai atas dengan rambut yang masih basah.
"Keramas terus sekarang yah mbak." Sindir Adam saat melihat kakaknya masuk ke ruang tamu.
"Cih.." decih Ayu mendengar sindiran adiknya itu.
Ayu pun melangkahkan kakinya menuju sofa tempat suaminya duduk.
"Minggir." Perintah Ayu pada suaminya agar Ayu bisa duduk berdekatan dengan adiknya yang duduk di single sofa.
__ADS_1
Sengaja Ayu melakukan itu agar bibit penyakit suaminya tidak tumbuh karena berdekatan dengan Adam.
BERSAMBUNG...