
"Pantes tadi laki-laki itu bilang, mbak Ayu udah merenggut kebahagiaan laki-laki itu, aku pikir mbak Ayu udah merkosa laki-laki itu, eh... malah nikah sama mas Lucky." Ucap Adam setelah Lucky selesai bercerita.
"Ngaco kamu!!! Ya gak mungkin begitu lah!!" Protes Lucky.
"Yah.. kan aku pikir tadi. Aku mana kepikiran sih kalau mas Lucky yang..." Adam tak berani menyebut panggilan untuk laki-laki yang menjalin hubungan dengan sesama jenis.
"Ah.. sudah lah, yang penting sekarang semua sudah berakhir. Dan aku harap mas Lucky memang sudah benar-benar sembuh dari penyimpangan mas Lucky. Awas aja kalau sampai aku dengar mas Lucky nyakitin mbak Ayu, aku potong itu terongnya mas Lucky terus aku awetkan pake formalin dan aku jadiin gantungan kunci!!!" Ancam Adam.
Bukannya takut, Lucky malah menyengir mendengar ancaman Adam.
"Tenang aja Dam, aku gak akan mungkin nyakitin mbak kamu itu. Mbak mu yang udah buat aku jadi laki-laki sempurna. Lagipula, mbak mu itu lebih mantap dari laki-laki manapun." Bisik Lucky di akhir kalimatnya.
"Cih.." Adam berdecih sambil memutar bola matanya malas.
"Tapi mas, menurut ku. Lebih baik mas Lucky juga cerita tentang ini sama ibu dan bapak. Jangan sampe bapak dan ibu tau dari orang lain tentang penyimpangan mas Lucky. Adam yakin kalau mereka tau dari orang lain, mungkin ibu sama bapak gak bakalan marah sama mas Lucky melainkan ibu dan bapak malah menyalahkan diri mereka sendiri karena telah memberikan anak gadis kesayangan mereka pada laki-laki yang belum mereka cari tau dulu bibit bebet bobotnya." Ucap Adam memberi saran pada Lucky.
"Mbak Ayu itu anak kesayangan bapak dan ibu. Aku bisa bayangin gimana merasa bersalahnya ibu dan bapak kalau tau hal ini dari orang lain. Jadi sebelum itu terjadi, lebih baik mas Lucky cerita duluan ke ibu dan bapak." Kata Adam lagi.
Lucky terdiam nampak memikirkan kata-kata adik iparnya itu.
"Ya udah yah mas, aku pulang dulu. Tolong pikirin kata-kata aku tadi." Pamit Adam.
"Salam untuk mbak Ayu. Besok aku datang lagi." Kata Adam lagi sambil mengangkat bokongnya dari tempat ia duduk lalu pergi dari depan kamar rawat kakaknya.
✨✨✨
Kini Adam sudah berada di depan pintu lift dan menunggu pintu lift terbuka.
Ting. Pintu lift pun terbuka. Orang-orang yang ada di lift itu pun keluar dari dalam lift. Hanya ada satu orang yang tetap berada di dalam lift dengan pandangan kosong.
Setelah orang-orang itu keluar, Adam pun masuk ke dalam lift dan menekan tombol ke lantai dimana dirinya akan turun. Pintu lift pun tertutup dan orang yang sedang melamun itu masih tetap setia dalam lamunannya.
"Ekhem.." Adam berdehem untuk menyadarkan orang itu dari lamunannya. Takut-takut orang itu kesurupan penunggu rumah sakit.
Dan ternyata deheman Adam berhasil membuat orang itu tersadar dari lamunannya. Sekarang orang itu malah memasang wajah kaget.
"Kenapa lift ini malah turun?" Tanya orang itu terheran-heran.
"Tadi lift ini udah terbuka di lantai VIP. Tapi kamu nya aja yang malah asyik ngelamun." Jawab Adam.
Orang itu pun menoleh ke arah Adam. Matanya membulat saat tau kalau orang yang sedang bersamanya adalah menantu Tuan Zidane. Ya orang itu adalah Sonia.
"Eh.. pak Adam."
"Udah di bilang jangan panggil bapak!!" Omel Adam.
"Tapi kan di lift ini kan cuma ada kita berdua pak, jadi gak mungkin Bu Ayu tau identitas bapak." Jawab Sonia.
"Tetap aja saya risih." Balas Adam.
__ADS_1
Sonia pun diam seribu bahasa dan menundukkan kepalanya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Adam yang melihat perubahan raut wajah Sonia.
Sonia menganggukkan kepalanya.
"Kamu kok bisa kecolongan gitu sih? Untung saya cepet dateng tadi. Kalau gak, saya gak tau lagi apa yang akan di perbuat laki-laki itu pada kalian." Omel Adam.
"Maaf mas, saya sudah lalai. Tadi saya sudah meminta Bu Ayu untuk tidak kembali kerumah, tapi Bu Ayu nya tetap ngotot mau kembali ke rumah mengambil barang yang ketinggalan. Saya gak menyangka kalau target sudah menyusup ke dalam rumah. Saya tidak sempat memeriksa cctv karena memang sangat terburu-buru." Ucap Sonia merasa bersalah karena tidak becus menjaga Ayu.
Melihat raut wajah menyesal Sonia, Adam yang masih ingin mengomeli Sonia tak jadi melanjutkan omelannya.
"Terus kamu kenapa ngelamun? Sampe-sampe pintu lift terbuka pun kamu gak sadar." Adam mengalihkan pembicaraan mereka. Adam pikir, dengan Adam mengalihkan pembicaraan mereka, raut wajah Sonia jadi berubah. Tapi ternyata tidak, Sonia malah terisak dan air mata yang sebisa mungkin ia tahan mengalir dengan derasnya karena mendengar pertanyaan Adam.
"Loh... loh... kok kamu nangis?" Tanya Adam panik. Ia panik karena takut nanti ada orang yang masuk ke lift dan salah paham dengan situasi yang ada.
"Saya keinget almarhum bapak saya mas yang meninggal karena perampokan juga." Jawab Adam.
"Keinget sih keinget, tapi jangan nangis disini juga. Nanti kalau ada orang lain yang masuk terus ngeliat kamu nangis kayak gini, kan saya yang di salahin. Mereka pikir saya ngapa-ngapain kamu lagi." Balas Adam.
Ting. Pintu lift pun terbuka. Dan sudah berada di lobi.
"Saya keluar yah. Silahkan nerusin nangisnya." Ucap Adam pada Sonia.
Adam pun buru-buru keluar dari dalam lift sebelum ada orang yang masuk ke dalam lift. Setelah Adam sampai di pintu lobi baru lah Adam menghela nafasnya lega.
Karena jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Adam pun memutuskan untuk langsung pulang kerumah dan membiarkan motornya terparkir di parkiran perusahaan.
Saat sedang dalam perjalanan, Adam baru teringat akan janjinya yang akan membeli mainan power rangers untuk anaknya yang masih dalam kandungan.
Sayangnya kondisi jalanan sedang macet dan ingin menyuruh pasukan berjas yang membawa mobil untuk memutar arah tidak mungkin.
Mau tak mau Adam memikirkan alasan yang tepat pada Karen kenapa dirinya tidak membawa mainan power rangers seperti yang ia janjikan sebelum berangkat kerja.
Saat otak Adam sedang berpikir keras, tiba-tiba mata Adam melihat penjual mainan yang ada di pinggir jalan.
"Wah... kayaknya tuh abang-abang jawaban dari kegelisahan gue." Gumam Adam dalam hati.
"Kalian tunggu disini, saya keluar sebentar." Ucap Adam pada dua pasukan berjas hitam.
"Pak Adam mau kemana?"
"Kesana sebentar." Adam pun menunjuk penjual mainan yang di gerobak-gerobak.
Tapi dua pasukan berjas hitam itu salah menangkap arah yang Adam tunjuk. Mereka pikir Adam sedang menunjuk penjual pisang coklat yang ada di depan penjual mainan di gerobak.
"Oh.. pak Adam mau beliin Nona Karen pisang coklat."
"Ngapain saya beliin pisang coklat untuk istri saya, kalau saya sendiri punya pisang coklat. Mending pisang coklat saya, udah gede, gak habis-habis lagi." Protes Adam.
__ADS_1
Dua pasukan berjas hitam itu pun diam. Tapi dalam hati mereka memprotes kata-kata Adam, "bukan begitu maksudnya bambang!!!" Kira-kira begitu lah jerit hati dua pasukan berjas hitam itu.
Adam pun keluar dari mobil dan berjalan menuju gerobak penjual mainan.
"Cari apa mas?" Tanya abang-abang penjual mainan.
"Ada mainan power rangers bang?" Tanya Adam balik.
"Ada mas. Mau yang satu set atau yang sendiri-sendiri?" Tanya si abang penjual mainan.
"Kalau yang satu set kayak gimana bang? Dan kalau yang sendiri-sendiri kayak gimana?"
Abang penjual mainan pun mengeluarkan mainan power rangers yang satu set dan yang sendiri-sendiri.
Ternyata bentuk mainan power rangers yang satu set lebih kecil dari pada yang sendiri-sendiri. Dan Adam pun tertarik membeli yang sendiri-sendiri.
"Saya ambil yang sendiri-sendiri aja deh bang." Jawab Adam.
"Mau ambil warna apa?" Tanya si abang penjual lagi.
"Ambil yang merah dan hitam aja."
Abang penjual pun memberikan dua mainan power rangers berwarna merah dan hitam pada Adam.
Adam tak langsung membayar, ia mengecek dulu mainan tersebut, apakah ada yang lecet.
Saat melihat di bagian bokong mainan power rangers mata Adam membelalak, karena bagian bokong mainan itu berlubang, lubang untuk membaut. Adam langsung teringat akan suami kakaknya yang mantan seorang penyuka sesama jenis.
"Astaga, makanya tong jangan doyan main anggar, jadi lobok tuh kan lubang lumpur loe!!!" Lirih Adam mengomel pada mainan power rangers merah itu.
Sekarang giliran Adam mengecek mainan power rangers hitam. Hasilnya sama, ada lubang di bagian bokong. Otak Adam tak tahan terus menerus traveling, dari pada pengakuan kakak iparnya tadi terbawa-bawa dalam mimpi karena melihat lubang di bagian bokong mainan power rangers, Adam pun meminta tukar warna.
"Mau warna apa?"
"Sini saya lihat semuanya."
Abang penjual pun memberikan semua mainan power rangers itu pada Adam. Dan ternyata hanya power rangers pink dan kuning saja yang tidak memiliki lubang di bagian bokongnya.
"Fix, loe semua kecuali yang dua ini, diem-diem pemain anggar. Bisa-bisanya cuma rangers cewek yang kagak lobok lubang lumpurnya." Dumel Adam pelan.
"Saya ambil yang dua ini aja deh bang." Adam pun memberikan dua mainan power rangers itu pada abang penjual untuk di masukan ke dalam kantong plastik. Adam pun membayar sejumlah uang yang diminta si penjual tanpa tawar menawar. Setelah itu barulah Adam berjalan menuju mobilnya kembali.
BERSAMBUNG...
💋💋💋 Singgah yuk di kamarnya Esar dan Millie, yang judulnya Partner In..., othor tunggu yah like, komen, hadiah dan vote kalian.🙏🙏🙏 💋💋💋
Nih yang kayak gini covernya...
__ADS_1