Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 5


__ADS_3

"Siapa sih ganggu aja!!!!" Geram Adam sambil memakai kembali sem•vak dan celana boxernya, setelah itu baru lah Adam membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa yang mengganggu ritualnya.


Ceklek. Dengan wajah garang Adam membuka pintu kamarnya.


"Ke..." Adam tak melanjutkan kata-katanya yang ingin memaki orang yang mengetuk pintu kamarnya, raut wajahnya juga langsung berubah drastis dari garang ke kemayu. Sama seperti botol jin nya yang tadi berdiri tegak dan kekar langsung meleyot seketika mendengar bunyi ketukan pintu.


"Eh... bang bodyguard." Sapa Adam saat melihat bodyguard pak Zidane yang ternyata mengetuk pintu kamarnya.


"Tuan Zidane memanggil anda." Ucap bang bodyguard tanpa basa-basi.


"Hah.. manggil saya? Ada perlu apa yah bang bodyguard?"


"Kalau mau tau silahkan ikut saya menemui beliau." Jawab bang bodyguard dingin.


"Oke. Tunggu dulu, saya ganti baju dulu." Adam langsung menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju kopernya untuk mencari baju yang agak sedikit layak untuk bertemu dengan pak Zidane.


"Apa jangan-jangan pak Zidane mau ngangkat gue jadi karyawan tetap yah?" Gumam Adam sambil mencari-cari pakaian dalam koper.


"Wah, kalau iya, bisa cepet ketemu sama bapak dan ibu nih. Pasti ibu sama bapak bangga sama gue karena udah jadi karyawan tetap." Gumam Adam lagi.


"Penampilan gue harus berwibawa nih, biar gak malu-maluin pas pak Zidane bilang mau jadiin gue karyawan tetap." Lagi dan lagi Adam bergumam sendiri. Di pikirannya pak Zidane mencarinya karena ingin menaikkan status Adam dari karyawan kontrak ke karyawan tetap karena sudah menyelamatkan Karen. Tak ada dalam pikiran Adam kalau pak Zidane ingin bertemu dengannya untuk meminta Adam menikah dengan Karen.


Sroot.. Sroot.. Sroot. Adam menyemprotkan minyak wangi keseluruh tubuhnya agar aroma jantan dalam diri Adam menguar memenuhi rumah pak Zidane. Adam tidak tau kalau Karen sudah pulang kerumah.


Setelah dirasa dirinya sudah gagah, barulah Adam membuka pintu.


Ceklek. Bang bodyguard langsung menutup hidung nya karena minyak wangi yang Adam pakai terlalu menyengat.


"Ayo bang." Ucap Adam percaya diri, ia tak sadar kalau aroma minyak wanginya menusuk hidung bang bodyguard.


Bang bodyguard pun berjalan terlebih dulu dengan langkah panjang, ia tak tahan dengan minyak wangi Adam.


"Pake minyak wangi apa sih dia, bikin sakit hidung aja." Gumam bang bodyguard dalam hati.


Kini Adam sudah berada di dalam rumah pak Zidane. Bang bodyguard mengantar Adam sampai di ruang keluarga.


"Silahkan duduk. Saya akan memanggil pak Zidane." Ucap bang bodyguard pada Adam.


Adam pun mendudukkan bokongnya di sofa.


Jantungnya berdebar kencang seperti mau melamar anak orang saja. Berulang kali juga Adam menyisir rambutnya dengan jari untuk memastikan rambut klimis nya tetap tertata rapih.


"Selamat malam nak Adam." Sapa pak Zidane dengan suara baritonnya.


Sontak Adam pun menoleh ke arah sumber suara.


Bukan hanya pak Zidane yang datang, tapi dibelakang pak Zidane ada Karen yang tersenyum manis ke arahnya.


Dan senyum Karen itu membuat kaki Adam lemas seketika. Karen baru senyum saja kaki Adam sudah lemas seperti baru bergulat lima ronde, apalagi kalau bibir bawah Karen yang tersenyum, sudah di pastikan Adam tak sadar kan diri tiga hari tiga malam bermain jaran goyang.


"Nak Adam." Panggil pak Zidane sekali lagi saat melihat Adam malah terbengong ditempatnya.


Dan suara pak Zidane itu berhasil membuyarkan lamunan Adam.


"Ah...iya pak." Ucap Adam. Ia pun hendak berdiri dari tempat duduknya untuk menyalam pak Zidane. Tapi sayangnya kakinya terlalu lemas untuk berdiri.


"Sudah... sudah duduk saja." Ucap pak Zidane saat menyadari Adam sedang grogi.


Sedangkan di belakang pak Zidane, Karen menggelembungkan pipinya karena aksi konyol Adam.


"Sial!!! Ini kaki kenapa sih gemeteran!!! Perasaan tadi gak jadi keluar bibit jin nya, tapi kenapa lemes gini!!! Gagal keren kan gue!!!" Gerutu Adam pada dirinya sendiri dalam hati.

__ADS_1


Pak Zidane pun duduk di single sofa sedangkan Karen duduk di sofa depan Adam.


"Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada nak Adam karena sudah menyelamatkan putri saya, Karen." Ucap pak Zidane mengawali pembicaraannya.


"Pasti nak Adam bertanya-tanya kenapa tiba-tiba nak Adam saya panggil malam-malam begini, ia kan?"


Adam hanya menjawab dengan anggukkan.


"Jadi begini nak Adam. Waktu nak Adam menyelamatkan putri saya dan sebelum nak Adam menyelimuti tubuh putri saya, pasti nak Adam sudah melihat detail tubuh putri saya bukan?"


Mata Karen membulat mendengar papa nya bertanya seperti itu.


"Pah..." cicit Karen sambil menekan lengan pak Zidane.


Pak Zidane hanya menjawab dengan sorot matanya seolah mengatakan "tenang saja."


"Iya pak." Jawab Adam yang belum mencerna semua pertanyaan pak Zidane.


Tapi tak lama, ia pun sadar dengan pertanyaan boss nya itu.


"Akh.. maksud saya, saya tidak sengaja pak dan saya juga tidak terlalu detail melihat tubuh nona Karen." Jawab Adam lagi. Bertambah sudah tingkat groginya.


Mendengar jawaban Adam, jelas saja wajah Karen langsung merah merona, ada rasa malu campur sedih. Sedih karena susu cap nona nya sudah di icip laki-laki lain yang bukan suaminya.


"Apapun itu, yang penting kamu sudah menyelamatkan putri saya." Balas pak Zidane.


"Sebelumnya saya ingin bertanya, bagaimana pendapat nak Adam tentang putri saya ini."


Adam menatap wajah Karen yang sedang menunduk malu.


"Kalau saya lihat, nona Karen selain cantik wajahnya tapi juga cantik hatinya." Jawab Adam.


"Laki-laki mana yang tidak menyukai putri bapak. Bapak tanya saja sama semua laki-laki penghuni mess, pasti mereka menyukai putri bapak." Jawab Adam tertunduk malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tapi saya melihat rasa suka kamu berbeda dengan yang lain. Saya melihat ketulusan di dalamnya." Jika biasanya calon menantu yang menggombal calon mertua, kali ini posisinya terbalik, justru calon mertua lah yang menggombali calon menantu.


Adam diam saja, ia semakin malu di buat pak Zidane.


"Nak Adam." Pak Zidane menekan suaranya, tanda dirinya sudah mau masuk dalam topik inti.


"Iya pak."


"Apa nak Adam mau menikah dengan putri saya?" Tanya pak Zidane dengan raut wajah serius.


Bukan hanya pak Zidane, wajah Karen pun juga ikut serius.


"Hah?!" Adam ternganga mendengar pertanyaan pak Zidane.


"Pak Zidane tadi ngomong apa?" Tanya Adam untuk memastikan kalau yang baru saja ia dengar tidak salah.


"Apa nak Adam mau menikah dengan putri saya?" Tanya pak Zidane sekali lagi.


"Pak Zidane gak sedang bercanda kan?" Tanya Adam balik. Ia masih tak percaya, masa iya seorang boss ingin menikahkan anaknya yang bak putri Elsa dengan Olaf.


"Saya serius nak Adam. Tapi perlu nak Adam ketahui, putri saya ini dari luar saja kelihatan kuat tapi sebenarnya dalamnya rapuh. Karen memiliki penyakit autoimun."


"Penyakit autoimun itu apa yah pak?" Tanya Adam yang baru pertama kali mendengar nama penyakit itu.


"Penyakit autoimun itu adalah penyakit yang terjadi karena sistem kekebalan tubuh salah mengenali sel sehat dalam tubuh, yang seharusnya sistem kekebalan tubuh menyerang sel jahat dalam tubuh, ini malah sel sehat yang di serang." Jawab pak Zidane.


"Kalau autoimun yang diidap Karen, jenis Antibody Syndrome yang menyebabkan pembekuan darah. Makanya tiap hari Karen wajib mengkonsumsi obat pengencer darah." Ucap pak Zidane menerangkan.

__ADS_1


Mendengar penjelasan pak Zidane, Adam hanya menganggukkan kepalanya saja seolah mengerti, padahal sebenarnya ia tidak mengerti dengan penjelasan pak Zidane. Menurut Adam, selagi penyakit itu ada obatnya, bisa di katakan penyakit itu belum berbahaya dan mematikan, penyakit yang berbahaya dan mematikan adalah penyakit yang tidak ada obatnya, seperti penyakit iri dengki yang menyebabkan busuk hati.


"Bagaimana nak Adam, apa nak Adam mau menikah dengan Karen dengan keadaan Karen yang seperti itu?"


Adam menatap wajah Karen yang sedang tertunduk sejenak.


"Apa boleh, saya bicara berdua dengan nona Karen pak?"


Karen yang sedang tertunduk langsung mendongakkan wajahnya balas menatap Adam.


"Baik lah kalau begitu. Saya akan memberikan waktu pada kalian berdua." Jawab pak Zidane.


Pak Zidane pun berdiri dari tempat duduknya dan pergi dari ruang keluarga meninggalkan Karen dan Adam.


Setelah pak Zidane keluar, suasana canggung pun menyerang. Tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara.


Sampai akhirnya.


"Nona.. Adam.." ucap mereka bersamaan.


"Kamu dulu." Ucap Karen.


"Nona Karen dulu." Balas Adam.


"Jangan panggil nona, panggil aja Karen." Ucap Karen yang merasa risih dengan panggilan Adam untuknya.


"Mmmm... Karen.." Adam pun memutuskan untuk membuka percakapan terlebih dulu.


"Iya."


"Kalau boleh tau, umur Karen berapa yah?!" Tanya mulut Adam.


"Be•go!!! Kenapa malah nanya umur sih!!!" Umpat Adam dalam hati pada dirinya sendiri. Mulut dan hati Adam sedang tidak sinkron.


"Delapan belas tahun." Jawab Karen malu-malu sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.


Pertanyaan yang tadinya tidak terduga, kini sanggup membuat Adam tercengang setelah mendengar jawaban Karen.


"Delapan belas tahun?" Tanya Adam masih tak percaya.


"Kalau kamu sendiri?!" Karen bertanya balik.


"Saya dua puluh tahun." Jawab Adam.


"Berarti kita beda dua tahun yah." Balas Karen.


"Kalau gitu, aku panggilnya apa nih? Kakak, abang, atau mas?" Tanya Karen.


"Apa aja. Kamu mau panggil nama aja juga gak pa-pa." Jawab Adam.


Pembahasan unfaedah pun masih terus berlanjut, mulai dari sekolah dimana, makanan kesukaan waktu di kantin sekolah apa, warna favorite, horoscope, dan sebagainya.


Persis anak SMP yang sedang pacaran.


Maklum, biar Adam nakal tapi dia tidak pernah pacaran. Sama halnya dengan Karen, meski Karen cantik tapi sampai umurnya ke delapan belas, Karen tidak pernah pacaran.


Di rasa cukup membahas hal yang unfaedah, Adam pun kembali ke topik utama.


"Karen, apa kamu gak keberatan pak Zidane mau menikahkan kamu dengan aku? Kamu tuh cantik, kaya, sedangkan aku? Aku tuh biasa aja, kerja juga masih karyawan kontrak. Ibaratnya nih, kamu tuh toples crystal sedangkan aku cuma kaleng Engkok Gua yang udah peyot-peyot. Masa iya kamu mau nikah sama aku?!"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2