
Setelah selesai mengurus berkas-berkas untuk operasi darurat Karen, Adam pun menyusul ke ruang operasi.
"Sus, saya boleh ikut masuk gak?" Tanya Adam pada perawat.
"Maaf pak, tidak bisa." Jawab perawat.
"Kok gak bisa? Di rumah sakit lain kok bisa?" Protes Adam.
"Setiap rumah sakit memiliki peraturan yang berbeda-beda pak. Kalau di rumah sakit ini, peraturannya memang tidak mengizinkan keluarga menemani pasien yang akan melakukan operasi. Sekali lagi saya mohon maaf pak." Perawat pun pergi dari hadapan Adam.
"Aaaarghh sial!!!!" Geram Adam sambil meninju udara. Mau tak mau Adam pun harus ikhlas membiarkan Karen berjuang sendiri di dalam ruang operasi. Adam pun duduk di kuris tunggu yang ada di depan ruang operasi, mulutnya terus komat-kamit mengucapkan doa untuk keselamatan istri dan anaknya.
Tak lama Sonia dan Bik Narti pun datang menyusul ke depan ruang operasi.
"Tuan Adam, bagaimana Nona Karen?" Tanya Bik Narti khawatir.
"Gak tau Bik, aku gak di bolehin masuk ke dalam ruang operasi, kita doain aja semoga Karen dan Inces baik-baik saja." Jawab Adam dengan suara bergetar.
"Yang sabar Tuan, Nona Karen pasti bisa melewati masa-masa ini, Nona Karen wanita yang hebat." Kata Bik Narti menguatkan Adam.
"Apa Tuan Zidane sudah di beritahu?" Tanya Sonia.
Adam terdiam, ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Memberitahu Tuan Zidane atau merahasiakan hal ini dari Tuan Zidane.
"Tuan, sebaiknya anda memberitahu Tuan Zidane. Tuan Zidane akan sangat marah besar kalau sampai Tuan Zidane tau tentang kondisi Nona Karen dari orang lain." Bik Narti menasehati Adam. Karena melihat ekspresi wajah Adam, Bik Narti tau pasti Adam ingin merahasiakan kondisi Karen dari pak Zidane.
"Tapi Bik..." Adam menggantung kalimatnya, ia ragu apa ia harus memberitahu kondisi pak Zidane yang sebenarnya pada Bik Narti dan Sonia. Posisi Adam benar-benar serba salah sekarang. Maju kena, mundur kena. Padahal niatnya hanya lah agar kondisi Ayah dan anak itu tidak drop.
"Tapi apa? Apa sebenarnya ada yang Tuan Adam sembunyikan dari kami?" Tanya Bik Narti menyelidik.
Sejak awal kepindahan mereka ke kota P, Bik Narti memang sudah curiga dengan Adam, pasti ada yang Adam sembunyikan. Tapi Bik Narti tidak ingin terlalu ikut campur urusan keluarga majikannya itu.
Adam menghela nafasnya, sepertinya sudah saat nya ia menceritakan tentang pak Zidane pada Bik Narti dan Sonia. Paling tidak dia punya tempat berbagi pikiran saat ini, karena kalau hanya mengandalkan David saja, itu rasanya tidak mungkin. Karena David hanya mampu menghandle pekerjaan pak Zidane tapi kalau untuk menghandle emosi Karen, dia butuh orang yang benar-benar mengenal Karen. Dan orang itu adalah Bik Narti dan Sonia.
"Maaf Bik, sebenarnya papa tidak ada di negara ini. Papa ada di Singapura. Papa sakit leukimia dan sekarang sedang pengobatan di rumah sakit disana. Dan baru dua minggu yang lalu, adik papa mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk papa. Sekarang papa masih dalam masa pemulihan. Aku takut kalau papa di beritahu kondisi Karen, kondisi papa akan drop lagi. Karena sekarang kesehatan papa sudah 60%." Jawab Adam.
__ADS_1
Mata Bik Narti dan Sonia membelalak kaget mendengar pengakuan Adam.
"Astaga Tuan Zidane..kenapa bisa begini." Lirih Bik Narti.
"Apa penyakit Tuan Zidane sudah lama?" Tanya Sonia.
Adam menganggukkan kepalanya.
"Tapi aku baru tau beberapa bulan ini. Makanya begitu aku tau, aku langsung paksa papa untuk berobat di Singapura dan langsung menghubungi keluarga papa dan memohon pada mereka untuk mau mendonorkan tulang sum-sum nya sama papa." Jawab Adam.
"Bagaimana ini Sonia. Apa yang harus kita lakukan sekarang. Kalau Tuan Zidane tau keadaan Karen, pasti Tuan Zidane akan drop lagi tapi kalau sampai terjadi apa-apa dengan Karen dan kita tidak memberitahu Tuan Zidane pasti Tuan Zidane akan sangat marah dan menyalahkan Tuan Adam." Tanya Bik Narti sambil memeluk Sonia.
"Kalau menurut saya Tuan, lebih baik kita beritahu Tuan Zidane. Mungkin fisik Tuan Zidane sekarang sedang lemah tapi tidak dengan mentalnya. Tuan Zidane sudah sangat tau kondis Karen dari Karen masih kecil, jadi saya rasa kalau kita memberitahu keadaan Karen sekarang, pasti Tuan Zidane tidak akan kaget." Kata Sonia mengungkapkan pendapatnya.
Adam diam sejenak memikirkan kata-kata Sonia. Tak lama Adam menganggukkan kepalanya setuju dengan pendapat Karen.
"Baik lah, kalau begitu aku akan menghubungi pak David." Kata Adam.
Adam pun merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya lalu menghubungi David yang ada di Singapura bersama pak Zidane.
Satu setengah jam kemudian.
Setelah menunggu kurang lebih satu setengah jam, akhirnya dokter anak dan dua orang perawat keluar dari dalam ruang operasi dengan membawa bayi perempuan yang sangat cantik yang di masukkan dalam inkubator dan hendak di bawa ke ruang NICU.
Adam, Bik Narti dan Sonia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri dokter yang baru keluar dari ruang operasi.
"Keluarga pasien Nona Karen." Kata dokter.
"Iya dok, saya suaminya." Jawab Adam.
"Nona Karen masih dalam tahap penanganan karena ada sedikit masalah. Dan ini bayi Nona Karen, tapi karena bayinya belum cukup umur kami harus membawa bayi anda ke ruang NICU." Kata dokter menjelaskan.
Adam melirik bayi yang ada di dalam inkubator itu lalu berjalan mendekati inkubator dengan kaki yang gemetaran.
"Hai cantik, bertahan yah. Sebentar lagi kita akan berkumpul dengan mama." Lirih Adam berbicara dengan bayi nya.
__ADS_1
Seolah mengerti dengan apa yang Adam katakan, bayi cantik itu membalas dengan senyuman kecil.
Melihat senyum bayi cantiknya itu, air mata yang sejak tadi Adam bendung, akhirnya mengalir deras membasahi pipinya.
Bukan hanya Adam, Bik Narti dan Sonia yang melihat keajaiban itu pun ikut menangis terharu. Senyum bayi cantik itu seolah ingin mengatakan pada Adam 'aku akan kuat, papa juga harus kuat.'
"Maaf pak, kami harus segera membawa bayi bapak ke ruang NICU." Ucap sang dokter di sela-sela rasa haru Adam.
Adam pun mundur beberapa langkah untuk memberi jalan pada perawat yang membawa inkubator.
Perawat pun mendorong inkubator itu dan membawa bayi cantik Adam ke ruang NICU.
"Yang sabar pak, banyak-banyak berdoa. Karena semua ada di tangan Tuhan bukan di tangan dokter, dokter hanyalah perpanjangan tangan Tuhan saja." Ucap dokter untuk menguatkan hati Adam.
"Terimakasih dok." Jawab Adam.
Dokter pun pergi dari hadapan Adam.
Setelah dokter pergi, Adam pun kembali duduk di kursi lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan melanjutkan tangisannya yang tadi sempat terjeda karena dokter yang mencoba menguatkan hati Adam.
Lima menit kemudian, tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka dan dua orang perawat berlarian. Dan hal itu jelas saja membuat Adam panik.
"Ada apa ini? Kenapa mereka berlarian? Apa yang terjadi dengan Karen?" Adam bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Adam pun berjalan dengan langkah panjang mendekati pintu ruang operasi, tapi dua orang perawat yang bertugas menjaga pintu ruang operasi langsung menahan tubuh Adam.
"Minggir, saya mau lihat istri saya!!! Istri saya kenapa? Hei!!! Ada apa dengan istri saya, cepat keluar, beritahu saya ada apa dengan istri saya!!!" Teriak Adam histeris.
Melihat dua perawat perempuan yang kewalahan menahan Adam yang sedang meronta-ronta, Sonia pun berinisiatif untuk membantu perawat menarik Adam agar menjauh dari depan ruang operasi.
Tapi karena Adam terus meronta dan tidak bisa di kendalikan, refleks Sonia memukul tengkuk Adam sampai Adam tak sadarkan diri.
Mata perawat dan Bik Narti membelalak melihat aksi Sonia yang refleks itu. Jangankan perawat dan Bik Narti, Sonia sendiri pun tidak menyangka dengan gerakan refleksnya itu.
"Maaf, refleks." Ucap Sonia dengan wajah melasnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1