
Malam yang ditunggu pun datang.
Dengan menggunakan celana jeans dan kaos semi formal, Adam datang kerumah pak Zidane.
"Silahkan masuk Tuan." Ucap Bik Narti saat Adam menunggu di teras rumah.
"Beugh.. Tuan. Belum juga jadi mantu nya pak Zidane udah di panggil Tuan." Gumam Adam dalam hati.
"Jangan panggil Tuan, Bik. Panggil Adam aja." Balas Adam.
"Gak bisa Tuan, itu perintah Tuan Zidane langsung." Balas Bik Narti lagi.
"Terserah lah." Cicit Adam. Kalau sudah pak Zidane yang memberi titah, Adam bisa apa?!
Bik Narti pun mengantar Adam ke ruang makan, dimana pak Zidane dan Karen sudah menunggu.
"Selamat malam pak Zidane, Nona Karen." Sapa Adam pada calon papa mertuanya dan calon istrinya.
Karen hanya membalas dengan senyum malu-malu.
"Sama calon istri kok manggilnya Nona sih nak Adam." Tegur pak Zidane.
"Maaf pak Zidane, saya belum biasa." Jawab Adam sungkan. Adam belum biasa memanggil Karen dengan nama atau panggilan lain jika di depan pak Zidane, tapi kalau di belakang pak Zidane jangankan panggilan, malahan Adam sudah memperlakukan Karen layaknya istrinya.
"Kalau gitu di biasakan dong mulai sekarang." Balas pak Zidane.
"Baik pak." Balas Adam lagi.
"Mari duduk, kita makan dulu. Nanti habis makan malam baru kita bicarakan tentang tanggal pernikahan kalian." Ucap pak Zidane.
Adam pun duduk di kursi makan tepat di depan Karen.
Kening Adam mengkerut saat melihat menu makanan yang tersaji di meja makan. Ia bingung, kenapa dari begitu banyaknya menu yang tersaji di meja makan tak ada satu pun yang Karen makan, malah Karen mengambil lauk pauk yang sepertinya tersaji khusus di depan Karen.
Pak Zidane yang sadar dengan kebingungan Adam pun langsung membuka suaranya.
"Karen tidak bisa makan sembarangan, jadi Bik Narti memasakkan khusus makanan Karen." Ucap pak Zidane.
"Oh.." Adam hanya ber Oh ria menanggapi penjelasan pak Zidane.
Adam pun mulai mengambil lauk pauk untuk dirinya sendiri.
"Sini kak, Karen siapin." Ucap Karen saat melihat Adam hendak mengambil lauk pauknya.
"Eh.. gak usah, biar aku sendiri aja." Tolak Adam tak enak hati.
"Udah gak pa-pa, sini." Karen meminta piring milik Adam.
"Biarkan saja nak Adam, hitung-hitung biar Karen belajar jadi istri yang baik untuk kamu. Istri yang baik kan harus pintar melayani suaminya." Ucap pak Zidane.
Adam pun memberikan piringnya pada Karen dan membiarkan Karen menyiapkan lauk pauk untuk dirinya.
✨✨✨
Setelah selesai makan malam, mereka pun pindah ke ruang keluarga untuk membicarakan tanggal pernikahan mereka yang sudah pak Zidane siapkan.
"Tidak usah berlama-lama lagi, saya ingin kalian secepatnya menikah. Bagaimana kalau tiga bulan lagi?!" Ucap pak Zidane.
__ADS_1
"Hah??!!!!" Kaget Adam dan Karen barengan.
"Yang bener aja pah, masa tiga bulan sih?!" Protes Karen.
"Kenapa? Apa terlalu lama?" Tanya pak Zidane.
"Itu kecepetan pah." Jawab Karen.
"Maaf pak Zidane, benar apa yang dibilang Nona Karen, itu terlalu cepat. Menikah itu kan perlu biaya, kalau tiga bulan sepertinya uang saya belum cukup untuk membiayai resepsi pernikahan seperti yang pak Zidane inginkan." Timpa Adam.
"Yang minta kamu biayain pernikahan kalian siapa? Kan saya yang minta kamu menikah dengan Karen, ya pasti saya juga lah yang akan mengeluarkan biaya nya." Ucap pak Zidane.
Adam terdiam tak tau harus bicara apalagi, disatu sisi dia senang, tapi di satu sisi ia merasa tidak punya harga diri.
"Jangan berpikir macam-macam. Anggap saja uang yang saya gelontorkan untuk pernikahan kalian, itu sebagai rasa terimakasih saya karena kamu menolong putri saya sekaligus rasa terimakasih saya karena kamu mau menikah dengan putri saya dan menggantikan tugas saya sebagai laki-laki yang mencintai Karen dengan tulus. Hutang uang masih bisa di bayar, tapi hutang budi di bawa sampai mati. Dan ini lah salah satu cara saya membayar hutang budi saya, walaupun saya tau kalau berapa pun uang yang saya keluarkan untuk pernikahan kalian, tidak akan pernah bisa mengganti hutang budi saya ke kamu." Ucap pak Zidane yang melihat raut wajah minder dari wajah Adam.
"Iya pak saya paham." Jawab Adam.
"Jadi kalian setuju kan tiga bulan lagi kalian menikah? Kalau setuju, acara janji suci dan resepsi pernikahannya akan kita adakan di kota B."
"Kota B?" Tanya Adam bingung kenapa harus di kota B. Apa pak Zidane juga ingin Adam dan Karen sekalian bulan madu di kota B.
"Kota B itu kampung halaman mamanya Karen. Jadi saya ingin menikahkan Karen di sana, walaupun mamanya Karen sudah tidak ada, tapi keluarga besar mama Karen kan masih ada disana. Jadi resepsi kalian nanti saya akan banyak mengundang keluarga mama Karen dibanding keluarga dari saya." Ucap Zidane menjelaskan.
"Oh." Adam ber Oh ria sambil manggut-manggut mendengar penjelasan pak Zidane.
"Terserah pak Zidane saja mana yang baik, saya ikut rencana bapak saja." Jawab Adam.
"Kalau kamu Karen?" Kini pak Zidane bertanya pada putri semata wayangnya.
"Kalau kak Adam setuju, yah Karen setuju juga lah pah." Jawab Karen.
"Permisi Tuan, ada Tuan David." Ucap salah satu pasukan berjas pak Zidane tiba-tiba.
"Suruh dia menunggu di ruang kerja saya." Jawab pak Zidane.
"Baik Tuan." Jawab anak buah pak Zidane itu lalu pergi dari ruang tamu.
"Saya tinggal dulu. Kalian ngobrol-ngobrol lah dulu." Ucap pak Zidane.
Pak Zidane pun berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruang keluarga menuju ruang kerjanya untuk menemui David, asisten pribadinya.
Begitu pak Zidane pergi, Adam dan Karen saling menunduk karena canggung. Tak ada yang mau membuka mulut mereka untuk bicara lebih dulu. Sampai akhirnya Adam pun memberanikan diri membuka suaranya lebih dulu.
"Mmm...Ren.." panggil Adam membuka percakapan lebih dulu.
"Iya kak." Jawab Karen malu-malu. Karen malu pada Adam karena setiap melihat Adam yang ada di pikiran Karen adalah tentang kejadian tadi pagi yang di lakukan Adam padanya.
"Pipi kamu kok merah Ren? Kamu pake pemerah pipi yah?" Tanya Adam karena melihat pipi Karen yang memerah.
"Masa sih kak? Gak kok, aku mana pernah pake gitu-gituan." Jawab Karen makin malu.
"Ah yang bener? Coba sini aku lihat." Ucap Adam. Entah memang karena Adam memang belum percaya atau karena Adam sedang dalam misi permodusan.
Adam pun berdiri dari tempat duduknya dan pindah ke sofa yang Karen duduki.
"Eh.. kak Adam mau apa?" Tanya Karen takut. Takut kalau Adam mau melakukan seperti yang tadi pagi Adam lakukan.
__ADS_1
"Kok muka kamu tegang gitu sih Ren? Aku cuma mau lihat aja, ini pipi kamu merah alami atau pakai pemerah pipi." Jawab Adam sambil tersenyum lucu karena melihat wajah tegang Karen.
Adam pun mengusap pipi Karen.
"Iya bener merah pipi kamu alami." Ucap Adam.
Saat sedang mengusap pipi Karen, mata Adam salah fokus dengan bibir merah muda Karen yang tadi pagi sudah ia rasakan.
Adam menelan salivanya susah payah, bibir Karen terlalu menggoda imannya yang setipis kulit bawang.
Melihat mata Adam mengarah ke bibirnya, Karen menggigit bibir bawahnya karena malu. Karen tidak sadar apa yang ia lakukan sekarang membuat Adam makin tidak bisa menahan dirinya dari godaan bibir Karen.
"Kalau bibir kamu itu merahnya alami juga gak?" Tanya Adam dengan suara serak-serak becek nya.
"Hah?" Karen malah ternganga mendapat pertanyaan itu dari Adam.
Adam yang sudah di kuasai hasrat yang membara langsung menarik tengkuk Karen dan mendaratkan bibirnya di bibir Karen tanpa mendengar lebih dulu jawaban Karen.
"Hemph.." Karen mendorong tubuh Adam sekuat tenaga.
"Kak.. nanti papa masuk." Karen memberi peringatan pada Adam saat dirinya berhasil mendorong tubuh Adam.
Adam melirik sejenak ke arah pintu untuk melihat situasi. Merasa kondisi aman dan aroma-aroma pak Zidane tidak ada, Adam pun berniat melanjutkan silahturahmi bibirnya dengan bibir Karen.
"Sebentar aja Ren, aku kangen berat sama bibir mu. Aku kecanduan bibir mu sayang." Jawan Adam.
"Tapi kak..."
"Bentar aja sayang." Ucap Adam yang tidak bisa menerima penolakan.
Adam pun kembali menarik tengkuk Karen dan mengunyah bibir Karen dengan rakusnya. Tak ada lagi perlawanan dari Karen karena Karen juga ingin merasakan lagi apa yang tadi pagi Adam lakukan padanya.
Bibir Adam pun semakin turun ke bawah ke area leher Karen. Tak ada jejak kepemilikan disana, karena Adam belum berani menandai bibir Karen dengan cap bibirnya.
Hasrat keduanya semakin menggelora.
"Tanda yang aku kasih tadi udah hilang belum?" Tanya Adam pura-pura. Padahal ia tau persis kalau tanda yang ia buat tadi tidak mungkin hilang dalam beberapa jam.
"Belum kak." Jawab Karen.
Mendengar jawaban Karen, Adam malah menaikkan baju yang Karen pakai sebatas dada.
"Jangan kak, nanti papa dateng." Sekali lagi Karen memberi peringatan pada Adam.
Tapi dasar laki-laki kalau sudah hasrat di ubun-ubun mana bisa mendengar peringatan.
"Bentar aja Ren. Aku cuma mau nebelin." Jawab Adam.
Karena kompeng kenyal milik Karen di tutupi cangkang kain, mau tak mau Adam membuka terlebih dulu pengait cangkang kain itu agar lebih mudah bibir Adam menebalkan tanda yang ia buat tadi pagi di area kompeng kenyal Karen.
Setelah pengait cangkang kain berhasil Adam lepas, tanpa menunggu lebih lama lagi, Adam langsung menyeruput kompeng kenyal milik Karen dengan kismis manis di atasnya.
"Ssh... ah..." desau Karen pelan sepelan-pelannya. Ia tak kuasa menahan gelora nikmat yang dihasilkan oleh seruputan bibir Adam.
Mendengar suara desauan Karen, Adam pun semakin menjadi-jadi menyeruput kompeng kenyal itu, bukan lagi menyeruput melainkan sudah menyedot.
Keduanya pun sudah hilang akal sampai-sampai mereka lupa kalau sekarang mereka ada di ruang keluarga.
__ADS_1
Pak Zidane yang sudah selesai dengan urusannya dengan sang asisten, pak Zidane pun kembali menyusul Adam dan Karen yang ia tinggal berduaan di ruang keluarga.
BERSAMBUNG...