Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 8


__ADS_3

"Kak Adam mau ngomong apa?" Tanya Karen setelah Adam menutup pintu kamarnya.


"Sini duduk di samping aku." Adam menepuk pinggiran ranjang tempat yang ia duduki.


Karen pun menuruti permintaan Adam dan duduk di sebelah Adam.


"Kamu kenapa tadi ngomong gitu? Bilang gak ada laki-laki yang mau sama kamu?"


"Memang gak ada kan yang mau sama aku, buktinya kak Adam juga gak mau sama aku." Jawab Karen sambil menundukkan kepalanya.


"Lihat aku Ren." Pinta Adam sambil menarik dagu Karen agar melihat padanya.


"Memangnya ada aku bilang gak mau sama kamu? Kan kemaren aku bilang, aku butuh waktu untuk mikirin soal ini Ren, aku tuh suka sama kamu Ren, tapi menikah itu kan bukan hanya soal saling suka atau saling cinta, tapi menikah itu juga harus mantap hati, mantap mental dan mantap dompet. Dan tadi malam aku sedang mengumpulkan kemantapan itu semua. Yah...walaupun soal dompet belum mantap. Tapi mudah-mudahan setelah nikah sama kamu dompet aku makin mantap, dari hasil kerja keras aku sendiri." Ucap Adam mematahkan pikiran negatif Karen.


"Bener cuma karena itu? Bukan karena kak Adam jijik sama aku?" Tanya Karen menyelidik.


"Jijik sama kamu? Jijik kenapa?" Adam malah bertanya balik. Ia memang tidak mengerti kenapa Karen bertanya seperti itu. Sepertinya Adam lupa dengan kejadian saat Bimo menyedot susu cap nona Karen.


"Aku kan udah gak suci lagi kak, tubuh aku udah di lihat sama laki-laki lain, bahkan..." Karen tak sanggup melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba bayangan dimana Bimo merenggut kesucian kompeng susu yang harusnya untuk suaminya kelak kembali melintas di pikiran Karen.


Tubuh Karen bergetar, air mata juga sudah menggenang di bola matanya.


Melihat tubuh Karen bergetar dan hampir menangis, cepat-cepat Adam menarik tubuh Karen dan memeluknya.


"Hei... siapa bilang kamu udah gak suci? Kamu tuh masih suci. Laki-laki itu memang sudah melihat tubuh mu dan sudah merasakan bagian atas tubuh mu, tapi dia kan belum merenggut mahkota mu. Lagi pula, mau gimana pun kondisi kamu, aku terima kok. Jadi jangan kecil hati karena itu, oke." Ucap Adam sambil mengelus punggung Karen.


"Tapi kejadian itu belum bisa hilang dari ingatan aku kak." Akhirnya tangis Karen pun pecah dalam pelukan Adam.


Adam berpikir sejenak cara agar Karen bisa melupakan kejadian itu dari ingatannya.


Mata Adam pun berkeliling melihat langit-langit kamar Karen. Ia sudah menemukan ide agar Karen melupakan kejadian itu.


"Kamar kamu ada cctv nya gak Ren?" Tanya Adam.


Karen yang bingung kerena Adam tiba-tiba menanyakan cctv langsung menjauhkan kepalanya dari dada Adam.


"Gak ada. Kok kak Adam tiba-tiba nanyain cctv?" Tanya Karen bingung.


Adam tak menjawab, ia malah berdiri dari duduknya dan menarik tangan Karen untuk berdiri juga. Lalu menggiring Karen mendekati pintu kamar.


Karen pikir Adam ingin membawanya keluar, tapi ternyata Adam malah menyenderkan Karen di pintu.


"Kak Adam mau apa?" Tanya Karen. Ia masih belum bisa menangkap apa sebenarnya yang ingin Adam lakukan.


"Aku akan membantu mu melupakan kejadian buruk itu dari ingatan mu dan mengganti kejadian indah dalam ingatan mu." Jawab Adam dengan nada suara berat.


Baru saja ide itu muncul di kepala Adam, botol jin yang meleyot seperti botol plastik air mineral ukuran 250ml langsung berubah menjadi botol bir bin*tang yang keras dan panjang. Apalagi kalau Adam sudah merealisasikan ide yang ada di kepalanya, jangan-jangan belum masuk mesin cuci botol, jin iprit dalam botol sudah menyembur duluan.


"Mm-maksud kak Adam?" Tanya Karen grogi. Bagaimana tidak grogi kalau sekarang jarak mereka hanya setengah jengkal saja.

__ADS_1


"Tutup mata mu." Pinta Adam.


"Hah..."


"Tutup mata mu."


"Tapi untuk apa kak..." belum selesai Karen meyelesaikan kata-katanya, Adam sudah langsung menarik tengkuk Karen dan mendaratkan bibirnya di bibir Karen.


Adam sudah tidak sabar untuk melahap bibir calon istrinya itu.


Mata Karen membulat sempurna saat Adam menempelkan bibirnya.


Bibir yang tadi hanya menempel, kini Adam beri lum•atan tipis-tipis.


Bukannya marah, Karen malah membalas lum•atan yang Adam berikan dan menutup matanya. Bahkan Karen juga sudah melingkarkan tangannya di leher Adam.


Kunyahan bibir yang tadi nya lembut semakin kasar dan rakus. Mereka pun saling menukar saliva mereka yang pagi ini belum ada dari mereka yang sikat gigi.


Puas di area bibir, bibir Adam pun turun ke bawah ke area leher. Adam menciumi leher Karen sebelum bibirnya semakin turun ke bagian kompeng kenyal yang belum berair itu. Tak ada jejak kepemilikan yang Adam tinggalkan, karena kalau sampai Adam meninggalkan jejak kepemilikan di leher Karen, bisa-bisa ia tidak selamat keluar dari rumah pak Zidane.


Sambil bibir Adam memberi sengatan di leher Karen, tangan Adam pun mulai menaikkan sleepwear Karen sampai sebatas dada.


Karen yang sudah terbawa suasana sudah tak memperdulikan apa yang tangan Adam lakukan saat ini. Ini pertama kalinya bagi Karen merasakan kenikmatan yang luar biasa, padahal Adam baru memainkan bibirnya masih sebatas di leher.


Serasa menang togel di pagi hari, begitu lah yang Adam rasakan begitu tangannya berhasil menaikkan sleepwear Karen sebatas dada. Karena ternyata Karen tidak memakaikan penutup pada kompeng kenyalnya.


Tangan Adam pun mulai bermain dengan kompeng kenyal yang tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil, ukurannya sangat pas di tangkupan tangan Adam.


"Tahan suara mu sayang, nanti papa mu dengar." Bisik Adam.


Karen pun melipat bibirnya rapat-rapat agar suara kenikmatan tidak keluar dari mulutnya.


Tak puas hanya memainkan kompeng kenyal dengan tangannya, Adam pun mulai menurunkan wajahnya ke dada Karen.


Tanpa menunggu lama, Adam langsung mengelus kismis yang menempel permanen di ujung kompeng kenyal Karen dengan lidahnya.


"Mmm..ah.." desau Karen pelan saat kismis nya bersentuhan dengan lidah Adam.


Mendengar suara desauan Karen, Adam tak bisa lagi menahan mulutnya untuk melahap kompeng kenyal yang tersaji di depan matanya.


Layaknya orang kesurupan bayi yang kelaparan, dengan rakusnya Adam melahap kompeng kenyal Karen, lidah juga sesekali memilin kismis yang belum mengeluarkan air susu.


"Kak..udah kak." Racau mulut Karen, tapi tangannya malah menahan dan menekan kepala Adam agar memperdalam hi•sapan nya.


Jelas saja Adam tidak mempercayai yang keluar dari mulut Karen. Mulutnya tetap bermain di area yang kini sudah sah menjadi daerah kekuasaannya. Tak peduli jika sebelum dirinya sudah ada mulut Bimo yang singgah di daerah itu. Toh juga Adam bukan lah laki-laki suci.


Puas dengan sebelah kanan, mulut Adam pun pindah ke sebelah kiri, agar tidak ada yang cemburu. Tak lupa Adam meninggalkan jejak kepemilikannya disana agar setiap mandi Karen bisa melihat tanda yang Adam tinggalkan disana, dan Karen hanya mengingat tentang kenikmatan yang Adam berikan bukan kenangan pahit tentang malam itu.


Di rasa sudah cukup adil meninggalkan jejak pada si kembar, Adam pun menyudahi aktifitas menyusunya dan menurunkan kembali sleepwear Karen.

__ADS_1


"Aku udah menghapus jejak laki-laki itu disini, jadi sekarang cukup jejak ku saja yang kamu ingat." Ucap Adam dengan nafas yang terengah-engah sambil mengelus kompeng kenyal dengan kedua tangannya.


Karen tak sanggup berkata-kata, matanya sudah sayu, nafasnya juga terengah-engah, tanda kalau hasratnya sudah hampir di ubun-ubun. Lalu bagaimana dengan Adam? Ah.. tidak perlu di tanya lagi, yang jelas celana Adam semakin sempit saja.


"Kalau jejaknya yang aku buat sudah mau hilang, bilang saja sama ku, biar aku buatkan lagi." Ucap Adam lagi.


Cup. Setelah mengatakan itu, Adam pun mengecup kening Karen.


"Aku pulang dulu yah, nanti aku pulang kerja, aku datang lagi kesini, sekalian membahas tanggal pernikahan kita dengan pak Zidane.


Karen pun kembali menganggukkan kepalanya.


Adam pun berbalik membelakangi Karen untuk membenahi tata letak botol jin nya yang menjulang tinggi karena mengeras.


Setelah dirasa posisi botol jin nya sudah benar, baru lah Adam membuka pintu kamar Karen dan keluar dari kamar Karen.


Begitu Adam masuk ke ruang tamu, ternyata sudah ada pak Zidane yang menunggu Adam dan memberi tatapan tajam pada Adam.


"Kenapa lama sekali kamu di kamar Karen? Kamu gak berbuat yang macam-macam kan pada putri saya?" Tanya pak Zidane menyelidik.


"Mana berani saya berbuat macam-macam pak. Saya hanya menenangkan putri pak Zidane saja, setelah nona Karen tenang baru lah kami bicara-bicara sebentar. Sebenarnya nona Karen belum mengizinkan saya keluar dari kamarnya dan masih ingin mengobrol, tapi berhubung saya harus bekerja, jadi mau tak mau saya harus keluar dari kamar nona Karen, tapi saya sudah berjanji pada nona Karen nanti selesai bekerja, saya akan datang lagi sekalian membahas tanggal pernikahan kami." Jawab Adam.


"Benar hanya saling mengobrol?" Tanya pak Zidane mengintimidasi.


"Benar pak. Bapak bisa tanya sendiri pada nona Karen." Jawab Adam menyakinkan.


Melihat jawaban Adam yang meyakinkan, pak Zidane pun jadi yakin dengan jawaban Adam.


"Ya sudah kamu pulang sekarang, nanti pulang kerja kamu datang lagi kesini. Seperti yang kamu janjikan pada Karen, kalau malam ini kita akan membahas tanggal pernikahan kalian. Sebelum kesini jangan makan dulu, biar kita makan malam bersama nanti." Ucap pak Zidane.


"Baik pak. Kalau gitu saya permisi dulu." Adam pun melangkah dengan gagahnya keluar dari rumah pak Zidane.


Tetapi begitu dirinya keluar dari halaman rumah pak Zidane, Adam langsung berlari sekencang-kencangnya menuju mess nya.


Bukan karena takut terlambat bekerja, tapi karena sudah tidak tahan ingin mengeluarkan bibit jin iprit dari dalam botol.


Sedangkan di dalam kamar, selepas Adam keluar dari kamarnya, Karen langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Tak lupa ia mengunci pintu kamar mandinya.


"Astaga... tadi itu apa? Kenapa rasanya enak sekali." Ucap Karen di depan cermin yang ada di wastafel.


"Bagaimana kenangan buruk itu bisa muncul lagi kalau yang di lakukan kak Adam barusan lebih berkesan." Ucap Karen lagi.


Karen pun membuka sleepwearnya untuk memeriksa kompeng kenyal miliknya di depan cermin.


Mata Karen membulat sempurna saat melihat banyak sekali bercak merah keungunan mengelilingi kompeng kenyalnya kiri dan kanan.


"Astaga, jadi ini yang kak Adam maksud jejak yang harus aku ingat? Dan ini juga yang kalau sudah hilang akan kak Adam buat lagi?" Cicit Karen.


Melihat kompeng kenyalnya ditinggali banyak tatto bibir dari Adam, bukannya marah Karen malah senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Kak Adam ih... kamu benar-benar bikin aku pengen ngerasainnya lagi." Lirih Karen sambil senyum-senyum karena sekilas berfantasi liar dengan Adam.


BERSAMBUNG...


__ADS_2