Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Bab 55


__ADS_3

Kini Ayu, Lucky dan Adam sudah duduk di bangku taman.


"Bukannya kamu di kota P, Dam?" Pertanyaan yang sejak tadi ingin Ayu tanyakan akhirnya keluar juga dari mulut Ayu.


"Ia mbak, tapi udah seminggu aku disini. Aku dapet tawaran kerja di perusahaan penyedia jasa bodyguard." Jawab Adam.


"Oh..jadi kamu udah ngikutin kami dari perusahaan itu?" Malah Lucky yang menanggapi.


Adam menganggukkan kepalanya.


"Terus kenapa kamu gak manggil mbak sih Dam? Jadi kena jotos kan sama mas Lucky."


"Adam malu mbak ketemu mbak."


"Tau malu juga kamu!! Jadi ibu sama bapak tau kalau kamu udah ada di kota ini?"


Adam menggelengkan kepalanya.


"Rencananya baru mau ngasih tau kalau Adam udah keterima kerja di perusahaan itu mbak."


"Kok bisa ada orang yang nawarin kamu kerja di perusahaan itu? Badan kamu aja gak kekar. Terus, memangnya kamu bisa bela diri? Pas aku bogem aja tadi, kamu langsung oleng." Lucky ikut nimbrung percakapan antara istri dan adik iparnya.


"Badan aku memang gak kekar seperti bodyguard-bodyguard pada umumnya mas, tapi kalau soal nyali, gak usah di tanya, nyali ku besar. Aku juga jago bela diri kok, tanya aja mbak Ayu kalau gak percaya."


"Terus selama disini kamu tinggal dimana?" Tanya Ayu, ia tak mau menanggapi percakapan suami dan adiknya. Pikirannya hanya fokus dengan kehidupan adik satu-satunya itu. Ia takut seminggu di ibukota, adiknya hidup luntang-lantung.


"Aku tidur di rumah pemilik perusahaan penyedia jasa bodyguard itu mbak. Beliau juga yang menawarkan aku kerja di perusahaannya." Jawab Adam.


"Kamu serius?" Tanya Ayu yang tidak langsung mempercayai ucapan adiknya.


"Serius mbak. Mbak pikir, aku dapet pakaian kayak gini dari mana? Terus aku dapet fasilitas motor dari mana?" Jawab Adam lagi.


"Kamu juga di kasih motor?"


Adam mengangguk.


"Sebenarnya kamu tuh udah kerja apa baru mau masuk kerja sih, kok udah dapet fasilitas?" Tanya Ayu yang makin aneh dengan jawaban Adam.


"Baru mau masuk mbak. Adam tuh kenal sama pemilik perusahaan waktu di kota P, mungkin dia kasihan lihat Adam jadi kuli, makanya nawarin kerjaan di perusahaannya." Jawab Adam berbohong.


Karena kenyataan yang sebenarnya, Adam telah menikah dengan putri pemilik perusahaan bodyguard itu. Pemilik perusahaan itu menikahkan Adam dengan putrinya karena ingin berterimakasih pada Adam yang telah menyelamatkan nyawanya dan nyawa putrinya dari perampokan saat si pemilik perusahaan berada di kota P. Bukan hanya perampokan, putri si pemilik perusahaan itu pun hampir saja di per•kosa oleh para perampok. Tapi untungnya, Adam datang tepat waktu dan hanya dengan sebuah linggis di tangannya, Adam berhasil meringkus para perampok itu.


"Kamu gak lagi bohongin mbak kan?" Tanya Ayu sambil memicingkan matanya.


"Gak mbak." Jawab Adam berusaha meyakinkan Ayu.


"Oh..ya mbak, ngomong-ngomong kalian ngapain ke perusahaan itu? Apa mau nyari bodyguard?" Tanya Adam mengalihkan pembicaraan.


"Ceritanya panjang Dam. Mbak gak bisa ngasih tau kamu detailnya." Jawab Ayu. Ia tidak mau mengumbar aib masa lalu suaminya, selain untuk menjaga harga diri suaminya, Ayu juga tidak ingin menjadi bahan pikiran keluarganya.


"Tapi intinya ada psikopat yang mengancam akan menghabisi nyawa mbak. Sebenarnya orang ini udah di deportasi dari negara ini, tapi namanya juga psikopat, segala hal pasti akan mereka lakuin agar tujuannya tercapai." Lanjut Ayu lagi.


Adam mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan langkah yang di ambil Ayu untuk menyewa bodyguard.


"Tapi mbak harus tetap waspada sekalipun sudah ada penjagaan dari bodyguard."


"Iya, mbak tau. Oh ya, kasih mbak nomor ponsel mu, biar kita tetap saling komunikasi."


Adam pun memberikan nomor ponselnya.

__ADS_1


Sedangkan di di hadapan mereka ada Lucky yang sedang jadi kambing congek karena tak di ikut sertakan dalam percakapan Ayu dan Adam.


"Aku pulang dulu yah mbak. Kalau ada apa-apa hubungi aku." Pamit Adam setelah memberikan nomor ponselnya pada Ayu.


"Cih..gaya kamu!! Harusnya mbak yang ngomong gitu, karena kamu kan tukang buat masalah. Nanti kalau kamu udah keterima kerja, jangan buat masalah di tempat kerja mu. Paham gak!! Ingat kamu tuh masuk di perusahaan itu karena pemilik perusahaan yang langsung merekomendasikan kamu, jadi kamu harus jaga kepercayaan si pemilik perusahaan itu." Ayu memberi nasehat pada adiknya sebelum mereka berpisah.


Adam menganggukkan kepalanya paham. Kemudian ia berdiri dari tempat duduknya.


"Mas, aku pulang dulu. Tolong jaga mbak Ayu dengan baik. Aku sudah sering bikin dia sakit kepala, jadi mas Lucky jangan menambah penyakitnya dengan berkelakuan aneh-aneh." Ucap Adam pada Lucky.


"Sialan kamu! Memangnya ada tampang saya suka bikin aneh-aneh." Lucky membela dirinya sendiri. Dia tak sadar kalau kelakuannya melebihi kata aneh.


Adam pun pergi meninggalkan Ayu dan Lucky di taman.


Setelah Adam pergi, Lucky pun berdiri dari tempat duduknya dan duduk di sebelah Ayu, tempat dimana Adam tadi duduk.


"Masih mau disini atau mau pulang?" Tanya Lucky.


Ayu berpikir sejenak. Ingin masuk lagi ke dalam mall, tapi ia sudah malu, karena pertikaian suaminya dan adiknya tadi. Tapi ingin pulang, tapi belum terlalu sore.


"Kita ke taman kota aja deh mas, aku pengen duduk-duduk disana, nanti kalau udah jam enam baru kita pulang."


Lucky menganggukkan kepalanya.


"Ayo." Ajak Lucky sambil berdiri dari tempat duduknya.


Ayu pun ikut berdiri.


Mereka pun berjalan bergandengan tangan menuju parkiran. Saat mereka melintasi sepasang kekasih yang sedang menikmati ice cream, air liur Ayu langsung menggenang di dalam mulutnya.


"Mas.."


"Mau ice cream." Rengek Ayu.


"Nanti batuk."


"Iikh..mas Lucky. Emangnya aku anak kecil apa! Ayo lah mas, pengen ice cream." Rengek Ayu lagi.


"Kamu tuh gak bisa di bilangin yah Yu, kamu tadi udah muntah-muntah karena makan satu bucket ayam goreng. Sekarang minta ice cream. Nanti kalau kamu batuk gimana?" Ceramah Lucky.


"HUUUAAAAAA..." Ayu menangis seperti anak kecil yang baru kena marah orangtuanya.


"Loh..loh..kok nangis." Lucky jadi panik sendiri, apalagi Ayu suara tangis Ayu sangat kencang, membuat mereka menjadi pusat perhatian di taman.


"HUUUAAAA...Mas Lucky jahat, aku kan cuma minta satu ice cream, bukan minta ice cream satu gerobak, mana mungkin aku batuk mas. HUAAAA.." Tangis Ayu semakin kencang.


Dan itu membuat Lucky jadi malu dan panik.


"Cup..cup..cup..oke kita beli ice cream, tapi kamu diam dulu yah." Bujuk Lucky.


Sontak Ayu pun menghentikan tangisnya.


"Beneran?" Tanya Ayu sambil menyeka angka sebelas yang keluar dari hidungnya.


"Iya. Ayo." Lucky langsung menarik tangan Ayu pergi dari taman mall, karena sudah sangat malu menjadi perhatian orang-orang yang sedang pacaran di taman mall.


Kini mereka sudah ada di stand penjual ice cream yang sangat Ayu inginkan.


Berkali-kali Ayu menelan salivanya melihat gambar yang terpampang di stand ice cream.

__ADS_1


"Mau rasa apa buk?" Tanya si penjual ice cream.


Ayu nampak berpikir. Ingin rasanya ia memesan semua jenis ice cream yang di jual. Tapi sayangnya suaminya sudah memberi peringatan keras untuk Ayu agar hanya membeli satu ice cream saja.


"Lama banget mikirnya, kamu mau pesan yang mana?" Tanya Lucky sudah tidak sabaran.


Tiba-tiba saja otak licik Ayu bekerja dan memberi ide cemerlang agar dirinya bisa merasakan rasa ice cream yang sangat ia inginkan.


"Ini rasanya bisa di mix gak mas?" Tanya Ayu pada si penjual ice cream.


"Oh..boleh buk. Ibu mau rasa apa?"


"Aku mau rasa vanila di mix sama avocado. Terus rasa mint chocolate chip di mix sama rasa kopi." Ayu menyebutkan rasa-rasa ice cream yang sangat ingin ia rasakan.


Mendengar Ayu memesan dua ice cream jelas saja Lucky melayangkan protesnya.


"Kok kamu pesan dua?"


"Satu buat mas Lucky lah."


"Tapi aku gak mau."


"Udah di pesan, gak boleh di cancel." Balas Ayu dengan senyum licik merekah di bibirnya.


Lucky hanya bisa menghela nafasnya.


Ice cream yang Ayu pesan pun sudah ada di tangan Ayu, setelah membayar harga dua buah ice cream itu, Lucky dan Ayu pun keluar dari dalam mall menuju mobil. Sebenarnya, Ayu mengajak untuk duduk-duduk di taman mall, tapi karena Lucky menolak mentah-mentah ajakan Ayu, karena sudah malu. Jadi mereka pun memutuskan untuk langsung ke mobil.


"Nih mas." Ayu menyodorkan satu ice cream untuk suaminya.


Dengan berat hati Lucky mengambil ice cream yang Ayu sodorkan padanya. Dan mulai menji•lati ice cream dengan terpaksa.


"Mas Lucky gak suka?" Tanya Ayu.


"Menurut mu?" Lucky malah bertanya balik.


Ayu menggelembungkan pipinya menahan tawanya melihat wajah suaminya.


"Udah sini kalau mas Lucky gak mau." Ayu merampas ice cream yang ada di tangan suaminya.


"Eh..gak boleh, kamu gak boleh makan dua-duanya. Nanti muntah-muntah lagi."


"Ish..mas Lucky nih bawelnya ngalahin bapak-bapak rumah tangga yah. Dari pada mas Lucky cuma liatin. Lihat tuh, ice creamnya sampe meleleh mas Lucky liatin terus, jadi baper ice creamnya kan." Balas Ayu sambil menikmati ice cream milik Lucky yang sudah ia rampas dan ice cream miliknya secara bergantian.


"Terserah kamu aja lah." Ucap Lucky pasrah. Ia pun menyalakan mesin mobilnya. Kemudian mengendarai mobilnya keluar dari parkiran mall. Tujuan mereka sekarang adalah taman kota sesuai permintaan Ayu sebelumnya.


Kini mobil yang Lucky kendarai sudah sampai taman kota. Dua ice cream pun sudah ludes Ayu lahap sebelum mobil yang suaminya kendarai sampai di taman kota.


Lucky pun memarkirkan mobilnya, dan setelah mobil terparkir mulus, Lucky pun keluar terlebih dahulu dari dalam mobil.


Tak lama Lucky memutari mobil menuju pintu mobil sebelah kiri dimana Ayu berada, karena sang istri tak kunjung keluar dari dalam mobil.


Lucky pun membuka pintu mobil.


"Ayo. Kok gak turun-turun?" Ajak Lucky pada Ayu yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Mas.." lirih Ayu sambil membuka kedua tangannya dari wajahnya. Keringat dingin nampak jelas membasahi wajah Ayu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2