
Hari berlalu, hari ini pak Zidane sudah pulang ke rumah mewahnya.
Dengan menenteng oleh-oleh khas kota B yang di beli oleh anak buah pak Zidane atas perintah pak Zidane agar Karen dan Adam percaya kalau dirinya baru pulang dari kota B.
Sesampainya dirumah, pak Zidane langsung naik ke lantai atas menuju kamar Karen. Tidak ada Adam di rumah itu karena Adam sudah pergi bekerja.
Tok.. Tok.. Tok. Pak Zidane mengetuk pintu kamar putrinya itu.
"Masuk." Jawab Karen dari dalam kamar. Karen pikir itu staf dapur yang ia suruh membuatkan salad buah untuknya.
Ceklek. Pak Zidane pun membuka pintu kamar.
"Papa.." teriak Karen saat melihat sosok sang papa yang membuka pintu kamarnya.
Karen pun hendak turun dari tempat tidur tapi sang papa melarangnya.
"Jangan turun, biar papa aja yang samperin kamu." Ucap pak Zidane. Pak Zidane pun berjalan mendekati Karen.
Karen langsung memeluk papanya sangat erat begitu pak Zidane berdiri tepat di hadapannya.
"Karen kangen sama papa. Papa kenapa sih gak ngabarin Karen?" Rengek Karen. Karena selama tiga hari pak Zidane pergi, pak Zidane sama sekali tidak menghubungi Adam maupun Karen. Bukan karena tidak kangen, tapi kalau pak Zidane menghubungi takutnya nanti Karen minta video call.
"Papa sibuk sayang. Tapi waktu papa baru sampe kota B kan papa nelpon kamu, tapi kamunya gak jawab-jawab panggilan papa. Papa telpon ke nomornya Adam, eh.. kamu nya lagi tidur."
"Oh.. sekarang kerjaan papa lebih penting daripada Karen gitu?"
"Ya gak dong sayang. Kamu tetap lebih penting untuk papa. Tapi sekarang kamu kan udah punya Adam, jadi ada yang gantiin papa untuk ngasih perhatian dan kasih sayang kalau nanti papa pergi."
"Emangnya papa mau pergi kemana?" Tanya Karen dengan polosnya, ia tidak sadar dengan ucapan sang papa.
"Ya pergi keluar kota dong sayang, ngontrol bisnis papa yang di luar kota." Jawab pak Zidane sambil bernafas lega. Untung saja Karen tidak sadar dengan ucapannya barusan.
"Oh.. iya, ada yang mau kamu kabarin gak sama papa?" Tanya pak Zidane basa-basi.
"Kabarin apa?"
"Itu.." pak Zidane memberi kode lewat matanya ke arah perut Karen.
"Astaga.. Karen sampe lupa." Ucap Karen sambil menepuk jidatnya.
"Karen pikir Karen udah ngasih tau ke papa." Kata Karen lagi.
"Sini pah duduk." Karen menarik tangan papanya untuk duduk di sebelahnya.
Setelah pak Zidane duduk Karen pun membuka laci nakas lalu mengambil foto usg janin yang ada dalam kandungannya.
__ADS_1
"Tadaaa...!!! Ini foto calon cucu papa." Ucap Karen bersemangat sambil memberikan hasil usg janin yang ada di kandungannya.
Dengan tangan yang bergetar pak Zidane mengambil foto hasil usg itu.
"Papa gak nyangka putri kecil papa sebentar lagi akan jadi seorang ibu." Ucap pak Zidane dengan suara yang bergetar, air matanya pun lolos begitu saja. Pak Zidane sangat terharu, ia tak menyangka putri kecilnya yang ia rawat dari bayi seorang diri, sebentar lagi akan memberikannya seorang cucu.
"Hai malaikat kecil, ini Opa. Sehat-sehat yah di dalam sana, jangan bikin susah mama mu." Ucap pak Zidane sambil mengelus perut Karen.
"Dokter bilang apa tentang kehamilan mu?" Tanya pak Zidane.
"Dokter bilang, Karen harus rajin-rajin periksa. Kalau ibu hamil pada umumnya sebulan sekali kontrol, kalau Karen dua atau tiga kali sebulan wajib kontrol."
"Terus kapan lagi jadwal kamu kontrol? Biar nanti papa yang antar, papa mau lihat langsung calon cucu papa." Ucap pak Zidane.
"Minggu depan lah pah." Jawab Karen.
"Papa gak sabar nunggu minggu depan." Ucap pak Zidane.
Tok.. Tok.. Tok. Pintu kamar Karen pun terketuk kembali.
"Pasti itu si mbak." Ucap Karen.
"Masuk." Ucap Karen lagi mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam kamarnya.
Dan benar saja ternyata memang staf dapur lah yang mengetuk pintu kamar sambil membawa satu mangkok sedang salad buah pesanan Karen.
"Bawa sini mbak." Jawab Karen.
Si mbak itu pun berjalan mendekati Karen dan memberikan salad buah itu pada Karen.
Setelah memberikan salad buah itu pada Karen, si mbak pun permisi keluar dari dalam kamar Karen.
"Kamu gak ngidam yang aneh-aneh kan?" Tanya pak Zidane.
"Gak kok pah, paling cuma mau makan buah-buahan aja. Malahan tuh yang ngidam kak Adam." Jawab Karen sambil menyendokkan salad buah ke dalam mulutnya.
"Papa tau gak kak Adam ngidam apaan?" Tanya Karen.
"Apa?"
"Kak Adam ngidamnya dandanin aku. Aneh kan? Padahal setau Karen ibu hamil yang ngidam, eh.. ini kak Adam. Udah gitu ngidamnya bukan makanan lagi, tapi ngidamnya dandanin aku." Jawab Karen.
"Nih papa lihat. Ini rambut aku yang ngepang kak Adam, terus baju yang aku pake ini juga pilihan kak Adam. Papa tau gak baju yang aku pake ini, kak Adam beli dari aplikasi belanja online. Katanya dia pengen banget lihat aku pake baju kayak gini, makanya dia sampe bela-belain nyari di aplikasi belanja online. Terus ini juga sendal bulu yang aku pake, kak Adam juga nih yang beliin." Ucap Karen lagi.
Pak Zidane hanya tersenyum mendengar kata-kata Karen. Aneh memang mendengar Adam yang ngidam mendandani Karen, tapi pak Zidane juga senang karena Adam lah yang mengidam bukan Karen. Pak Adam teringat saat Mamanya Karen hamil Karen, Mamanya Karen muntah-muntah sampai lemas, jangankan makan buah, air putih saja masuk ke mulutnya Mamanya Karen langsung muntah-muntah. Dan saat masuk trimester kedua, meski tak ada lagi drama muntah-muntah tapi Mamanya Karen selalu ingin makan-makanan yang asam, asin dan pedas dan setiap hari pak Zidane harus membelikan makanan seperti itu setelah pulang bekerja, kalau pak Zidane tidak membawanya, Mamanya Karen bisa nangis sesunggukkan.
__ADS_1
Makanya mendengar Adam yang mengidam, pak Zidane sedikit bernafas lega, setidaknya Karen tidak perlu merasakan muntah-muntah sampai lemas dan tidak perlu memakan makanan yang tidak boleh Karen makan.
✨✨✨
Dua bulan kemudian.
Tak terasa sudah tiga bulan kehamilan Karen dan Karen berhasil menjaga kandungannya dengan rutin kontrol dan selalu mengkonsumsi makanan sehat.
Pagi ini, entah kenapa Adam sangat merindukan kakaknya, apalagi sejak pertemuan terakhirnya dengan sang kakak, Adam tak pernah lagi bertemu dengan sang kakak.
Adam pun memutuskan untuk mengunjungi sang kakak di rumah barunya sebelum berangkat ke kantor. Untungnya pak Zidane sedang keluar kota, tapi bukan keluar kota yang sesungguhnya melainkan sedang melakukan kemoterapi, jadi Adam bisa datang siang ke kantor.
Kini Adam sudah berada di depan rumah baru sang kakak.
"Maaf pak ingin bertemu siapa?" Tanya satpam penjaga rumah baru kakaknya. Maklum saja pak satpam belum pernah bertemu dengan Adam.
"Ini rumahnya Ayu dan Lucky kan?" Adam malah bertanya balik.
"Iya benar. Bapak siapa yah?"
"Bilang saja sama mbak Ayu, ada Adam." Jawab Adam.
Tapi sayangnya pak satpam tidak langsung mempercayai omongan Adam, karena Lucky sudah mewanti-wanti dari awal tidak boleh langsung mempercayai orang asing yang datang.
Maka dari itu pak satpam pun menghubungi Sonia dengan walkie talkie terlebih dahulu sebelum membukakan pintu pagar untuk Adam.
Pak satpam masuk ke dalam pos dan mengambil walkie talkie nya.
"Nona Sonia, ada orang yang mengaku adiknya Ibu Ayu, namanya Adam. Tolong di periksa." Ucap pak satpam.
Sonia yang mendapat pesan dari pak satpam langsung mengecek cctv yang mengarah ke pagar.
Walau Sonia belum pernah bertemu dengan sosok adiknya Ayu itu, tapi Ayu sering menceritakan pada Sonia kalau adiknya bernama Adam dan juga bekerja di perusahaan penyedia jasa bodyguard yang sama dengan Sonia.
Mata Sonia membelalak saat melihat cctv.
"I-itu kan suaminya Nona Karen. Jadi adiknya Bu Ayu, Adam menantunya pak Zidane." Cicit Sonia.
Sonia pun mengambil walkie talkie nya untuk memberi balasan pada pak satpam.
"Buka kan pintunya, itu memang adiknya Bu Ayu." Jawab Sonie.
Pak satpam pun langsung membukakan pintu pagar untuk Adam.
"Silahkan masuk pak." Ucap pak satpam.
__ADS_1
Adam pun masuk ke dalam halaman rumah Ayu dan Lucky.
BERSAMBUNG...