Oh..Dokter Lucky

Oh..Dokter Lucky
Tentang Adam part 31


__ADS_3

Tiga bulan sudah Adam dan Karen tinggal di kota P. Dan selama itu juga Karen sama sekali tidak curiga dengan papanya, karena disaat tubuh pak Zidane fit, pak Zidane selalu menghubungi Karen.


Selama mereka tinggal di kota P pun, Adam juga memboyong Bik Narti dan Sonia. Sengaja Adam menarik Sonia dari kakaknya karena itu permintaan Karen. Karen merasa canggung kalau memiliki bodyguard selain Sonia.


Karena pak Zidane masih di Singapura, mau tak mau Adam harus menghandle semua pekerjaan pak Zidane. Bolak-balik dari kota P ke ibukota lalu ke kota B lanjut ke kota M lalu pulang lagi ke kota P.


Dan hari ini adalah jadwal Adam berkeliling mengontrol semua usaha papa mertuanya yang di bangun dari nol itu.


"Aku pergi yah." Pamit Adam pada istrinya.


Cup. Lalu mengecup kening Karen.


Setelah berpamitan pada Karen, kini giliran Adam berpamitan pada anak yang masih dalam perut Karen.


Adam pun menurunkan wajahnya tepat di depan perut Karen yang sudah membuncit.


"Papa pergi dulu yah. Jangan rewel, jangan bikin mama susah, oke. Nanti papa pulang papa bawain barbie." Ucap Adam di depan perut Karen.


Kenapa barbie? Karena jenis kelamin anak pertama Adam dan Karen yang masih dalam kandungan memang perempuan.


Cup. Adam pun mencium perut istrinya itu agak lebih lama dari saat Adam mencium kening Karen.


"Aku pergi yah." Pamit Adam lagi sambil mengelus rambut Karen.


"Bik Narti, Sonia, saya titip Karen yah. Kalau ada apa-apa hubungi saya. Ponsel kalian juga harus aktif 24 jam dan aktifkan nada deringnya, jadi kalau saya nelpon, kalian bisa dengar. Jauhkan Karen dari ponselnya dan terus ajak bergerak." Pesan Adam. Sengaja Adam menjauhkan Karen dari ponselnya, agar Karen tidak bisa menghubungi pak Zidane, selain itu sangat tidak baik bagi ibu hamil terus-terusan bermain ponsel.


"Baik Tuan." Jawab Bik Narti dan Sonia bersamaan.


Adam pun masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke bandara.


Setelah mobil Adam tak terlihat lagi, barulah Karen masuk ke dalam rumah.


Saat kaki Karen baru menginjak ruang tamu, tiba-tiba perutnya terasa kencang.


"Sssh... auw." Ringis Karen sambil memegang perutnya. Sangking sakitnya, Karen sampai kehilangan keseimbangannya.


"Nona..." Sonia yang ada di belakang Karen dengan sigap menangkap tubuh Karen yang hampir tumbang.


Bik Narti yang baru masuk ke dalam rumah langsung berlari saat melihat Karen yang hampir tumbang.


"Nona Karen kenapa?" Tanya Bik Narti panik.


"Sakit Bik." Ringis Karen.


Bik Narti pun memegang perut Karen. Bik Narti bisa merasakan perut Karen yang mengencang.


"Kayaknya Nona Karen kontraksi. Kita harus bawa Nona Karen ke rumah sakit." Ucap Bik Narti.


Sonia hanya menganggukkan kepalanya.


Dan membopong Karen menuju mobil. Sedangkan Bik Narti mengambil ponselnya untuk menghubungi Adam yang Bik Narti yakin belum sampai bandara.

__ADS_1


Panggilan pun terhubung.


"Ha..." belum selesai Adam mengucap kata Halo, Bik Narti sudah mengebut kata-katanya seperti penyanyi rap.


"Tuan, jangan kebandara, putar haluan ke rumah sakit. Nona Karen sepertinya mengalami kontraksi." Ucap Bik Narti.


"Kontraksi? Kayaknya pernah dengar kata-kata itu." Gumam Adam dalam hati. Untuk beberapa detik otaknya nge-bug.


Saat Adam mengingat apa yang di maksud kontraksi, mata Adam pun langsung membulat.


"Kok bisa? Bukannya kontraksi kalau mau lahiran?" Teriak Adam kaget bercampur panik.


"Saya juga gak tau Tuan. Makanya kami mau bawa Nona ke rumah sakit." Jawab Bik Narti.


"Ya sudah, cepat bawa Karen ke rumah sakit. Kita ketemu disana." Balas Adam.


Panggilan pun berakhir.


Adam pun menghubungi orang yang sudah menunggu Adam di bandara untuk membatalkan penerbangan Adam. Setelah itu, Adam menyuruh supir untuk mengantarnya ke rumah sakit.


✨✨✨


Kini Karen sudah berada di rumah sakit. Karen pun langsung di bawa ke bagian obgyn untuk melakukan pemeriksaan.


Ternyata selama perjalanan dari rumah menuju rumah sakit, Karen mengalami pendarahan tidak Karen sadari karena perutnya yang terus kontraksi antara lima sampai sepuluh menit sekali.


"Darah..." Teriak Bik Narti saat melihat ada darah di dress Karen.


"Cepat panggil dokter." Teriak perawat yang melihat darah di dress Karen.


Tak sampai lima menit, dokter kandungan pun datang.


"Pasien kenapa?"


"Pasien mengalami kontraksi dan pendarahan dok." Jawab perawat.


Dokter pun melakukan pemeriksaan dasar pada Karen. Memeriksa mata Karen, denyut nadi, saturasi oksigen, perut serta memeriksa mesin pencuci botol jin Adam.


Merasa ada yang tidak beres dokter pun melakukan usg untuk membuktikan kebenaran diagnosanya. Dan ternyata diagnosa dokter itu benar adanya, Karen mengalami Solusio Plasenta atau lepasnya plasenta dari dinding rahim bagian dalam.


Ini darurat sangat darurat apalagi kehamilan Karen masih dua puluh lima minggu.


"Apa pasien memiliki riwayat keguguran sebelumnya atau riwayat penyakit lain?" Tanya dokter yang tidak sempat memeriksa riwayat penyakit Karen, karena Karen pasien gawat darurat.


"Gak dok. Nona Karen gak pernah keguguran, ini pertama kalinya Nona Karen hamil. Tapi..." Bik Narti menggantung kata-katanya.


"Tapi apa?"


"Nona Karen punya penyakit autoimun." Jawab Bik Narti.


Dokter menghela nafasnya, penderita autoimun memang rentan melahirkan bayi prematur. Ibu hamil dalam keadaan sehat saja bisa mengalami Solusio Plasenta apalagi pada ibu hamil penderita autoimun.

__ADS_1


"Bayi nya harus segera di keluarkan, kalau tidak akan berbahaya untuk ibu dan janinnya." Ucap dokter.


Mata Bik Narti makin membelalak, ia kaget dengan ucapan sang dokter.


"Oh iya suaminya mana? Biar menandatangani surat persetujuan tindakan operasi." Tanya dokter saat tak melihat sosok laki-laki di ruangan itu.


"Su-"


BRAAAK. Baru saja Bik Narti ingin mengatakan suami Nona Karen sedang dalam perjalanan, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan kasar.


"Saya suaminya dok. Istri saya gak pa-pa kan dok? Anak saya juga gak pa-pa kan dok?" Tanya Adam dengan bibir yang bergetar, nafasnya juga terengah-engah karena berlari.


"Kondisi istri dan janin yang ada dalam kandungan sedang tidak baik-baik saja pak. Anak bapak harus segera di keluarkan, kalau tidak akan sangat berbahaya untuk keduanya." Kata dokter menjelaskan.


"Ma-maksud dokter, istri saya harus di operasi gitu?" Tanya Adam, seluruh tubuhnya lemas seketika.


"Betul pak." Jawab dokter.


"Lakukan yang terbaik dok!! Apapun itu asal istri dan anak saya bisa selamat, lakukan lah yang terbaik."


"Kalau gitu, silahkan bapak menandatangani surat persetujuan terlebih dahulu." Kata dokter pada Adam.


"Sus, siapkan ruang operasi." Perintah dokter pada perawat.


"Baik dok." Perawat dan dokter pun pergi untuk siap-siap melakukan tindakan operasi. Dan perawat yang lain yang ada di ruangan itu pun membantu Karen turun dari atas ranjang periksa dan mendudukkan Karen ke kursi roda.


"Sayang..." Adam menghampiri istrinya yang sudah sangat lemas dan pucat.


"Kak... anak kita kak." Lirih Karen.


"Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja. Kamu harus punya pikiran positif, oke." Ucap Adam untuk menenangkan Karen.


Cup. Cup. Cup. Kecupan bertubi-tubi pun Adam berikan di wajah Karen.


Setelah itu Adam menurunkan wajahnya di perut Karen.


"Dedek udah gak sabar yah mau main Inces udah gak sabar yah mau main barbie sama mama dan papa, makanya Inces mau cepet-cepet keluar? Kalau memang Inces udah gak sabar, Inces harus kuat dan jangan bikin mama sakit berlama-lama oke. Papa akan mengupayakan segala yang terbaik untuk Inces dan mama." Ucap Adam pada anaknya yang masih dalam perut Karen.


Cup. Tak lupa Adam mencium perut Karen.


Setelah itu, Karen pun di bawa oleh dua orang perawat menuju ruang steril untuk di sterilkan sebelum masuk ke ruang operasi.


"Mari pak, ikut saya untuk menandatangani surat persetujuan." Ucap perawat setelah Karen keluar dari ruang obgyn.


"Bik, tolong telepon orang rumah untuk bawa pakaian Karen dan pakaian Inces." Ucap Adam pada Bik Narti.


"Baik Tuan." Jawab Bik Narti.


Mereka pun keluar dari dalam ruangan itu. Adam dan perawat pun pergi untuk mengurus administrasi Karen sedangkan Bik Narti menghubungi orang yang ada di rumah untuk membawa pakaian untuk Karen dan perlengkapan bayi yang baru sedikit sekali Adam dan Karen persiapkan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2