
Kini mereka sudah selesai dari aktifitas ganti oli di dalam kamar mandi.
"Kamu disini aja, biar aku bawain sarapan ke sini." Ucap Lucky setelah dirinya selesai memakai baju rumahan. Karena hari ini jadwal Lucky dinas siang.
"Kok sarapannya di bawa ke kamar sih mas, aku turun aja, kita sarapan di ruang makan aja." Tolak Ayu.
"Jangan ngebantah. Aku ngelakuin itu untuk kebaikan kamu dan anak kita. Kamu denger kan dokter bilang apa, kamu gak boleh kecapean, harus banyak istirahat. Turun naik tangga bisa bikin kamu capek, dan aku gak mau itu. Jadi denger kata-kata aku." Ucap Lucky tegas.
Ayu tak membantah lagi perkataan suaminya. Ia pun berjalan menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya.
Lucky pun keluar dari dalam kamar dan turun ke lantai bawah untuk mengambil sarapan yang sudah di buatkan asisten rumah tangga di rumah itu.
Dengan nampan yang berisi sarapan untuk dirinya dan istrinya, Lucky kembali naik ke lantai atas.
Ceklek. Dengan susah payah, Lucky membuka pintu kamarnya.
Lalu berjalan mendekati Ayu yang masih mengeringkan rambutnya.
Lucky meletakkan nampan di nakas samping sofa, lalu berjalan mendekati istrinya.
"Kita sarapan dulu." Ucap Lucky sambil mengambil hairdryer dari tangan istrinya. Lalu menarik tangan Ayu menuju sofa.
Setelah Ayu duduk, Lucky pun mengambil bubur ayam yang di masak oleh si asisten rumah tangga.
"A.." perintah Lucky pada Ayu untuk membuka mulutnya. Lucky ingin menyuapi istrinya.
"Aku aja mas." Tolak Ayu.
Lucky menggeleng.
"Kamu tadi udah cukurin kumis dan jenggot aku, sekarang giliran aku yang nyuapin kamu. Udah ayo buka mulut mu." Perintah Lucky lagi.
Mau tak mau Ayu pun membuka mulutnya. Malas berdebat dengan suaminya, karena perintah suaminya bersifat mutlak alias tak bisa di bantah.
Setelah bubur di mangkok Ayu habis, baru lah Lucky mengisi lambungnya. Sedangkan Ayu kembali ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya yang masih setengah kering dan memoleskan skincare omesgloh di wajahnya.
KRING...KRING.
Nada panggilan masuk di ponsel Lucky menjeda Lucky yang sedang mengisi lambungnya.
__ADS_1
Lucky meletakkan mangkoknya di atas nakas dan berjalan menuju nakas yang ada disamping tempat tidur.
"Rumah sakit." Lirih Lucky saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Lucky menggeser tombol hijau di layar.
"Halo."
"Halo, selamat pagi dokter Lucky. Dokter bisa datang sekarang kerumah sakit? Pasien yang tadi malam di operasi mengalami kejang dok." Ucap perawat yang ada di seberang telepon.
"Baik saya segera kesana. Berikan dulu obat anti kejang pada pasien itu." Jawab Lucky.
"Baik dok."
Panggilan pun berakhir.
"Kenapa mas?" Tanya Ayu yang sedari tadi mendengar percakapan suaminya dengan si penelpon, yang bisa Ayu tebak itu telepon dari pihak rumah sakit.
"Kamu ganti baju sekarang, aku akan suruh Sonia antar kamu ke rumah mama. Aku ada panggilan mendadak. Nanti pulang kerja aku nyusul ke rumah mama." Jawab Lucky sambil berjalan menuju ruang ganti.
Ayu menganggukkan kepalanya.
Kini mereka sudah berganti pakaian dan siap pergi. Ayu pergi ke rumah orangtua Lucky, sedangkan Lucky pergi ke rumah sakit.
"Sonia, tolong kamu antar istri saya kerumah orangtua saya. Dan jangan biarkan istri saya melakukan pekerjaan apa-apa disana." Ucap Lucky pada Sonia.
"Baik pak."
"Dan kamu, ingat jangan kelelahan. Nanti aku telpon mama, untuk siapkan kamar tamu di lantai bawah, biar kamu gak turun naik tangga. Kamu kan suka ngeyel kalau gak ada aku. Mentang-mentang di bela mama terus." Kini Lucky memberi peringatan tegas pada Ayu.
Ayu terkekeh kecil mendengar peringatan suaminya.
"Iya mas."
"Ya udah ayo." Lucky pun menggendong istrinya ala bridal style untuk menuruni tangga. Sesampainya di lantai bawah, Lucky pun berjalan menuju garasi.
Tanpa Lucky, Ayu dan Sonia sadari ada sepasang mata yang sedang mengintip dari balik tembok dapur.
Billy yang pagi-pagi merasa lapar, terpaksa harus keluar mengendap-endap menuju dapur untuk mencari makanan. Saat ada orang masuk ke dapur, cepat-cepat Billy masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dekat dapur, kamar mandi yang jarang di masuki orang selain tamu yang datang kerumah itu. Karena masing-masing kamar dirumah itu memiliki kamar mandi sendiri, termasuk kamar sang asisten rumah tangga.
__ADS_1
Dan saat mendengar tidak ada lagi tanda-tanda orang di dapur, Billy pun keluar dari dalam dapur, niatnya ia ingin kembali masuk ke dalam gudang, karena ia tau kalau jadwal Lucky bekerja hari ini adalah siang hari, dan Billy baru akan menjalankan misi nya saat Lucky sudah pergi bekerja.
Tapi saat hendak mengendap-endap menuju gudang, tiba-tiba saja Billy mendengar suara langkah sepatu dari arah tangga.
Billy pun berhenti sejenak dan mengintip dari balik dinding.
Dengan jelas Billy melihat Lucky menggendong Ayu dengan sangat mesra. Dan itu membuat Billy makin meradang. Ia tak terima tubuh kekar kekasihnya itu menggendong tubuh Ayu.
"Siapa kamu?" Tiba-tiba suara asisten rumah tangga mengalihkan emosi Billy.
Billy yang kaget sekaligus dalam keadaan emosi pun berbalik dan langsung membekap mulut si asisten rumah tangga agar tidak berteriak.
Menarik si asisten rumah tangga menuju gudang, di dalam gudang Billy meluapkan emosi dan cemburunya pada si asisten rumah tangga yang tak tau apa-apa, memukuli si asisten rumah tangga sampai si asisten rumah tangga tak sadarkan diri. Setelah si asisten rumah tangga tak sadarkan diri, di situlah Billy baru berhenti dengan kebrutalannya.
Billy pun terduduk lemas di lantai sambil mengontrol deru nafasnya.
Meninggalkan Billy yang ada di dalam gudang bersama si asisten rumah tangga yang tak sadarkan diri.
Ada Lucky yang kembali masuk ke dalam rumah setelah melihat mobil istrinya keluar dari rumah. Lucky kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar, namun saat hendak naik ke tangga, Lucky teringat kalau istrinya itu tidak membawa susu ibu hamil serta vitamin dan obat penguat kandungan. Jadi Lucky pun berjalan ke dapur, untuk meminta tolong pada asisten rumah tangganya untuk mengantar tiga barang yang tertinggal itu ke rumah orang tuanya.
"Mbak..mbak Lila." Panggil Lucky sambil berjalan menuju ruang makan, lalu ke dapur. Tapi yang di panggil tak menjawab. Mungkin si asisten rumah tangga sedang ke pasar, begitu lah pemikiran Lucky.
Lucky melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Ia sudah sangat buru-buru. Tak mungkin ia menunggui si asisten rumah tangga, dan tak mungkin juga Lucky mengejar mobil Ayu hanya untuk mengantar barang yang ketinggalan, sedangkan pasiennya dalam keadaan gawat.
Lucky pun memutar langkahnya menuju tangga untuk naik kekamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Lucky mengambil ponselnya yang tertinggal dan menghubungi nomor Ayu.
Tuut...tuut..tuut.
"Ya mas." Jawab Ayu dari seberang telepon.
"Sebelum ke rumah mama, kamu singgah ke apotik yah, beli vitamin dan obat penguat kandungan sama susu ibu hamil. Ketiga barang itu ketinggalan disini. Aku mau nyuruh Lila nganter itu ke rumah mama, Lila nya gak dirumah. Jadi kamu beli sendiri yah, nanti aku fotoin resep obatnya." Ucap Lucky.
"Iya mas." Jawab Ayu.
Lucky pun mengakhiri panggilan telponnya. Dan buru-buru keluar dari dalam kamar dan turun ke lantai bawah. Sangking buru-burunya, Lucky sampai tidak ingat untuk memeriksa cctv yang ia pasang di sudut rumahnya. Karena hari ini, hari yang cukup menyibukkan untuk Lucky, sebagai seorang dokter ia harus tetap profesional menjalankan tugasnya meskipun saat ini istrinya juga butuh perhatian lebih darinya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1