
Tama membawa istrinya sampai ke ruang makan. Di sana sudah berbaris hampir semua asisten rumah tangga yang ingin memberikan ucapan selamat kepada Tama dan Carissa.
Carissa mendapatkan ucapan dan doa yang tulus, dengan rasa haru ia menerimanya. Takut membuat Carissa kelelahan, Tama meminta semua orang yang ada di situ untuk kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
“Silahkan Nyonya.” Bik Menok menyajikan satu mangkuk Soto Betawi hangat di tambah dengan nasi.
“Terima kasih, Bik.”
“Bik, udang tepung mentega tadi siang apa masih ada?”
“Habis, Tuan. Mau saya buatkan lagi?”
“Emm, tolong buatkan capcai nya saja, Bik. Banyakin udang dan cuminya ya, Bik.”
“Baik, Tuan.” Bik Menok kembali ke dapur untuk membuatkan makanan yang di inginkan oleh Tama.
“Kenapa Mas Tama enggak makan soto aja, Mas. Enak loh, ini.”
“Enggak, ah. Aku mau capcai aja. Makan yang banyak ya, Sayang.” Tama sedikit membungkukkan tubuhnya, “Dan untuk sayang ayah di dalam sini, jangan rewel, ya. Jagain Bunda biar terus sehat.”
“Bunda? Ayah?”
“Ya. Aku mau anak kita memanggil kita seperti itu nanti saat dia sudah lahir. Rasanya sudah tak sabar, kapan ia akan besar?” Tama mengusap perut Carissa dan terus-terusan menciumi perut yang masih datar itu.
__ADS_1
“Sabar, Mas, baru aja sebulan. Udah, ah. Geli!” Carissa tertawa bahagia karena Tama terus saja seolah-olah mengobrol dengan janin yang ada di dalam kandungan istrinya.
***
“Bagaimana keadaan adik saya, Dok?” tanya Pradipta, Direktur Utama SJ Group.
“Amelia terlihat tetap tenang selama ini. Tidak ada pemberontakan yang berarti, tapi dia tidak pernah merespon saat di tanya, Amelia hanya mengangguk jika mau, dan menggelengkan kepalanya jika tidak berkenan. Obat-obatan masih terus kami berikan karena kondisi mentalnya yang belum stabil.” Jelas Dokter kepada kakak kandung Amelia dan juga kepada petugas kepolisian yang turut serta untuk mengawasi perkembangan Amelia.
“Kalau begitu, kami pamit. Terima kasih atas bantuannya, Dok.” Kedua petugas kepolisian itu pergi setelah berpamitan kepada dokter dan Pradipta.
“Sekarang, tolong katakan pada saya yang sebenarnya, Dok. Bagaimana keadaan adik saya?”
“Amelia sebenarnya memiliki obsesi yang berlebihan kepada seseorang yang bernama Tama. Terkadang ia menangis sambil memanggil nama itu, lalu dia tertawa sendiri.”
“Sebenarnya mental adik Anda akan baik-baik saja jika dia bisa mendapatkan keinginannya.”
“Tapi, Anda tau sendiri jika itu tidak mungkin, Dok.”
“Anda benar. Tapi Anda bisa tenang, karena kami akan terus memantau perkembangan Amelia, dan memberikan obat agar kondisi mentalnya bisa stabil.”
“Saya mohon, Dok. Tolong sembuhkan adik saya.”
“Kami akan berusaha, Pak.”
__ADS_1
“Terima kasih juga atas bantuannya, Dok. Berkat bantuan Dokter, adik saya bisa terhindar dari hukuman. Saya tahu jika mental psikopat tidak akan mendapat ampunan dan tetap akan di proses oleh hukum.”
“Saya melakukannya karena ingin membalas hutang budi keluarga saya, Pak Pradipta. Jadi, jangan terlalu menjadi beban pikiran.”
“Bisakah saya menjenguknya, Dok.”
“Mari saya antar.”
Pradipta masuk ke dalam ruangan yang tak terlalu lebar, di sana selama sebulan lebih adiknya telah hidup dengan kesendirian. Saat ia masuk, Amelia sedang memandang keluar, pandangannya kosong menembus jendela.
“Amelia.” Panggilnya.
“Apa Kakak akan mengeluarkanku dari tempat ini sekarang?”
“Tidak, Amel. Kamu masih belum bisa keluar dari tempat ini.”
“Lalu kenapa Kak Dipta ke sini? Untuk apa?”
“Aku mengkhawatirkanmu, Amelia. Sudahi obsesimu itu. Tama sudah menikah.”
“Aku yang harus menjadi istrinya, Kak! Aku!” teriaknya dengan keras. “Aku yang lebih mencintainya, Kak. Bahkan aku sudah memberikan tubuhku padanya.”
“Jangan menjadikan hal itu sebagai alasan, Amel. Di zaman sekarang, hubungan satu malam itu sering terjadi. Dan jangan kamu kira jika Kakak tidak tahu seperti apa hubunganmu dengan asisten pribadimu. Jadi, sebelum keluarga Syahreza menghancurkan kita lebih dalam lagi, sudahi obsesi gilamu itu.”
__ADS_1