
Tama sudah menjalani penanganan. Kaki kirinya patah karena mendarat menggunakan kaki terlebih dahulu dari ketinggian sebelum berguling dan terhenti oleh pohon rindang. Dan ada beberapa lecet dan memar di tubuhnya.
Carissa dan Mega juga sudah bisa menemui Tama. Betapa bahagianya Tama, saat membuka matanya dia melihat istrinya berada di sisinya dengan linangan air mata. Namun, beberapa saat kemudian, laki-laki besar itu akhirnya menitihkan air matanya saat mendengar kabar tentang neneknya.
Keesokan harinya, Bagas datang menggunakan pesawat pribadi, untuk menjemput putri dan menantu laki-lakinya serta Mega dan Allen. Sedangkan lainnya menaiki pesawat komersil.
Tama langsung di rujuk ke rumah sakit terbaik di Jakarta untuk proses pemulihan, sedangkan yang lainnya langsung memulai proses pemakaman nenek Lita.
Nenek Lita di makamkan di salah satu pemakan terbesar di Jakarta, banyak orang berdatangan untuk mengantarkan kepergian nenek Lita terakhir kalinya. Carissa tidak turut hadir karena tubuhnya masih lemah, hanya Mega yang bersandar di pundak Allen yang ikut mengantar kepergian nenek Lita untuk yang terakhir kalinya.
Kediaman utama keluarga Syahreza tentu saja di rundung duka yang teramat dalam, karena Nyonya Besar yang selama ini mereka layani, telah berpulang ke pangkuan Tuhan.
Pradipta mendapatkan hukuman karena menyuap dokter untuk memberikan keterangan palsu, begitu juga dokter tersebut, harus pasrah saat di jemput dari kediamannya. Sedangkan Kris Danu hanya mendapatkan hukuman percobaan selama 5 tahun dan wajib lapor karena tidak terbukti terlibat secara langsung dengan percobaan pembunuhan yang di lakukan oleh Amelia.
Kris memberikan kesaksian jika ia hanya di minta untuk mengeluarkan Amelia dari rumah sakit, dan menemui Carissa untuk menunjukkan tempat yang indah, yang ternyata di pakai Amelia untuk melenyapkan nyawa seisi mobil itu.
__ADS_1
Selama Tama melewati masa pemulihan, perusahaan kembali di kendalikan oleh Allen secara sebagian. Dia hanya bertugas untuk melakukan pengecekan, sedangkan keputusan tetap berada di tangan Tama.
''Kak Allen!'' sapa seorang gadis dari luar kantor.
''Lira? Mau ke mana kamu pagi-pagi begini?''
''Mau menjenguk Kak Tama di rumahnya.''
''Hm? Terus, apa yang kamu lakukan di sini jika mau ke rumah Tama?''
Deg! Allen tertegun, ia kira jika selama ini hanya dirilah yang merindukan gadis yang pernah satu kali di tidurinya itu. ''Aku kira hanya aku yang merindukannya.'' gumam Allen dalam hati.
''Kalau begitu, mau masuk dulu? Tapi kamu harus menunggu, pagi ini aku ada rapat yang akan di pimpin Tama secara langsung melalui panggilan video.''
''Bolehkah aku menunggu, Kak?''
__ADS_1
''Tentu saja.'' dan akhirnya Allen terkejut kembali saat Lira dengan riang berjalan ke arahnya lalu melingkarkan tangan ke lengannya.
''Tak apa, kan?'' tanyanya dengan penuh harap.
''Kenapa dia sangat imut?'' bisik Allen dalam hati. ''Tentu saja, kamu bisa melakukannya.''
Lira masuk ke kantor sambil menggandeng lengan Allen, tentu saja banyak mata yang memandanginya dengan sengit, karena sejak Tama menikah, hanya Allen lah satu-satunya medan pertempuran, karena mereka berusaha merebut dan mendapatkan hati laki-laki bermata biru itu.
''Kamu tak merasa terganggu?'' bisik Allen kepada Lira saat di dalam lift. Ia menyadari mata seluruh gadis yang berdiri di belakangnya menatap Lira dengan kebencian.
''Aku tak peduli, Kak.'' Lira memandang Allen lalu tersenyum. Tentu saja pandangan mata yang ada di belakang mereka lebih menyeramkan lagi saat melihat ke akraban Allen dan Lira.
Pintu lift terbuka, seluruh karyawan yang ada di belakang Allen dan Lira, seluruhnya turun, sedangkan tempat Allen dan Lira turun, masih satu lantai lagi ke atas. Sebelum pintu lift tertutup, Lira tahu jika para gadis itu melihat ke arahnya.
Di detik-detik terakhir pintu lift akan menutup, semua gadis yang ada di luar menjerit histeris karena mereka melihat Lira dan Allen saling berciuman.
__ADS_1