PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
SENJA SANG PENGELANA


__ADS_3

Aku belum pernah merasakan kegalauan yang teramat dalam seperti ini. Sebelum mengenal sosok Pengelana tentunya, mengenai Daffa? Aku memang sempat bersedih bahkan dikatakan seperti orang yang sedang berantakan oleh Pengelana. Tapi, galau atau tidak. Aku benar-benar belum paham akan hal itu.


Setelah percakapan via wa dengan Daffa beberapa hari kemarin. Saat ini, aku belum lagi mengetahui kabarnya. Mungkin, saat ini dia tengah bahagia karena telah bertemu dengan masadepannya, Nadia. Aku yakin, Daffa akan bahagia disana. Oleh sebab itu, aku memilih untuk tidak menanyakan perihal apapun terhadapnya.


*****


Aku selalu mengagumimu...


Melalui suara atau tanpa kata-kata...


Kamu tak perlu tahu, cukup aku yang rasa...


Kahilangamu menjadi kesunyian panjang bagiku...


Sungguh, aku selalu menantimu..


Menyapa segala penat dan mau menemani tanpa syarat..


Hadirmu memang tak selalu hangat, tapi di situlah letak indahmu...


Jika saja aku bisa menahanmu dan tak membiarkanmu lepas dalam pekat...


Senja...


Tetaplah disini...


Bersamaku lebih lama lagi...


Aku membaca sebuah status yang kebetulan lewat diberanda fb ku. Sebuah status yang berbentuk bait puisi, diunggah sekitar tiga jam lalu.


Kulihat, begitu banyak komentar yang menghampiri status tersebut. Bahkan ada satu nama yang mengomentari puisi itu. Nama yang seketika membuat ulu hatiku benar-benar merasakan sakit.


Aku terdiam, memandangi layar ponsel dengan sedikit pandangan buram. Tak seharusnya aku bermain hati dengan Pengelana. Tak seharusnya juga aku terhanyut oleh kata-katanya.


Rosa... salah satu perempuan yang begitu dekat dengan Pengelana. Meskipun aku tahu. Jika yang bersanding dalam potret tempo waktu di profilnya, ternyata bukanlah seorang Rosa.

__ADS_1


*****


"Nduk...Mheta, seminggu lagi pernikahanmu akan di gelar, Cah Ayu?" Sebuah suara memudarkan lamunanku yang sedang merindu. Merindu sosok yang sampai saat ini belum bisa kudapati.


Aku tersenyum, "iya, Bu... Nggak kerasa, ternyata Mheta udah sedewasa ini." Tukasku dengan menganjur napas.


"Ibu lihat, sepertinya kamu nggak bahagia. Ada apa, tha? Coba kamu cerita sama ibu?" seloroh ibu, kedua alisnya terlihat saling bertautan. Sedangkan jemarinya menepuk-nepuk pundakku dengan lembut.


Aku tercekat. Tak bisa berkata apa-apa, ketika sebuah tanya di lontarkan ibu kepadaku.


Tidak mungkin aku bilang sama ibu, jika aku tidak mencintai Rasyid 'kan? Bahkan, tidak mungkin juga aku bercerita tentang pemuda bernama Pengelana? Pun masalah Daffa. Aku benar-benar tidak punya nyali untuk mengutarakan semua isi hati saat ini kepada ibu.


"Mheta bahagia... Apalagi jika melihat ibu juga bahagia..." sergahku dengan lirih. Ada yang menyumpal dalam ulu hati. Rasanya sakit, ketika kita harus berbohong tentang perasaan.


"Alhamdulillah kalau memang begitu. Sebab, Ibu yakin jika Rasyid itu pemuda yang baik untuk kamu. Ibu nggak mungkin salah pilih..."


Aku tersenyum sembari mengangguk. Tak ada keberanian bagiku untuk berkata apa-apa. Sebab, tenggorokanku terasa disumpal oleh bongkahan batu besar. Bahkan dadaku terasa lebih sesak.


"Semalam ibu Rasyid juga telepon Ibu, lusa mau kesini jemput kita. Jadi, berangkat ke Jakarta sama-sama," terdengar suara ibu begitu antusias, saat menceritakan tentang keluarga Rasyid, terlebih jika menceritakan pemuda itu kepadaku.


Bahkan, dia sempat berkata padaku tempo waktu, ketika di akhir percakapan kami via telepon. Jika kita bukanlah muhrim. Seorang muslim tidak baik, jika selalu berinteraksi walau hanya sekedar bertanya kabar lewat pesan.


Baginya, mendapat kabar tentangku lewat Ibu atau keluargaku yang lain. Itu adalah sebaik-baik laki-laki yang memang benar-benar menghargai wanita, terlebih calon istri baginya.


"Bukannya pernikahan Mheta masih seminggu lagi, Bu?" kataku, lalu menganjur napas dalam-dalam. "Kenapa mesti cepat-cepat ke Jakartanya?"


"Lha, kan kudu gladi resik dulu? Sebelum acara pernikahan di gelar." sahut ibu yang tengah mengambil posisi berdiri didepan jendela kamarku.


Gladi? Untuk apa harus mengadakan gladi segala? Kami akan menikah, bukan sedang menggelar acara konser 'kan?


"Memang harus gladi, Bu? Bukannya menikah itu yang penting Ijab serta Qobulnya 'kan?" selorohku terhadap ibu. Sebenarnya pertanyaanku tersebut adalah kalimat protes secara halus.


"Mungkin kalau sipil iya, Nduk. Tapi, calon suamimu seorang abdi Negara, apalagi dia seorang Perwira. Jadi memang sudah kewajibannya menggelar pernikahan secara adat militer."


Aku menganjur napas, tak berani menyanggah pernyataan ibu lagi.

__ADS_1


******


Malam belum terlalu larut, namun rumah sudah nampak sepi. Hanya dentingan jarum jam yang masih setia berdetak. Hingga membuat kantuk menghampiriku dengan cepat.


Mataku baru saja terpejam, saat mendengar dering ponsel diatas nakas, membuatku terbangun dan tersentak duduk diatas dipan. Lalu, segera ku raih ponsel pintar tersebut dan memandingi sebuah nama yang tertera di layar ponsel.


segera ku geser tombol berwarna hijau. "Ada apa?" tanyaku setelah memberi salam kepada Pengelana.


"M... Saya harap besok pagi kamu mau menemui saya di gang depan rumahmu. Tadi sore saya kesitu, melihat kamu sedang mencuci motor. Saya yakin, saya nggak salah lihat. Itu kamu dan rumahmu." Suara Pengelana terdengar renyah dari ujung ponselku.


Aku ternganga, pikiranku menyeruak hingga tak tahu kemana.


Namun, yang jelas. Aku tidak pernah menyangka, jika seorang Pengelana bisa senekat itu. Hingga benar-benar mencariku ke alamat yang pernah ku berikan padanya.


"Ngapain kamu kesini? Lalu, untuk apa besok pagi kamu mau menemui saya?" sergahku lirih.


"Saya nggak bisa ngomong lewat hp, M... Saya harus bertemu langsung dengan kamu. Dan menanyakan sesuatu yang sangat penting. Jauh-jauh saya dari Jakarta hanya untuk menemui kamu."


Alisku bertautan, "tanya apa! Perihal kita? Kita bukan sepasang kekasih 'kan? Bahkan, beberapa hari lagi saya akan menikah." suaraku meninggi, namun masih terdengar sangat pelan.


"dr. Ayu Andira, saya harap kamu menemuiku besok pagi."


Mulutku ternganga, kedua mataku terbelalak. Darimana dia tahu tentang profesiku yang selama ini aku sembunyikan darinya? Apa dia seorang Intel? Atau... jangan bilang kalau dia seorang dukun!


"K-ka-mu..."


"Sudahlah, M... Kamu tidak perlu kaget, darimana saya tahu tentang pekerjaanmu yang sebenarnya. Saya hanya ingin bertanya sesuatu kepadamu besok pagi. Setelah semua jelas. Saya tidak akan pernah lagi mengganggumu."


Belum sempat aku melanjutkan pertanyaan. Keburu Pengelana sudah memutus komunikasi kami begitu saja setelah mengucap salam.


Aku masih terdiam, memikirkan darimana sebenarnya Pengelana tahu tentang profesiku. Tentang nama yang sebenarnya, aku pernah memberitahu Pengelana tempo waktu, siapa sebenarnya nama asliku. Namun, untuk perihal profesi, aku memang benar-benar merahasiakannya. Bukan tanpa alasan. Sebab, Pengelana sempat bilang padaku, jika dia benci dengan profesi tersebut.


Lalu, apa yang akan ditanyakan oleh Pengelana padaku besok pagi? Apakah aku harus menemuinya? Otakku serasa mendidih memikirkan semua itu. Karena tidak mungkin juga aku mempersilahkan Pengelana main kerumahku. Bisa-bisa ibu akan jadi bahan omongan para tetangga. Terlebih diriku. Apa kata tetangga, jika tahu aku menerima tamu lawan jenis yang belum pernah mereka temui sebelumnya.


Sebab, aku memang hampir tidak pernah menerima tamu lawan jenis, kecuali Daffa.

__ADS_1


__ADS_2