PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
PENGELANA


__ADS_3

Beberapa menit, aku memandangi pesan dari Pengelana. Berkali-kali aku membaca untuk menebak bagaimana ekspresinya. Ketika menulis pesan yang ia kirimkan kepadaku. Tidak ada emoticon sama sekali.


“Apa yang harus ku katakan padanya, apa aku harus pura-pura hilang ingatan? Apa harus minta maaf?”


Aku mengetuk-ngetuk ujung ponsel, sambil memikirkan kalimat apa yang tepat untuk membalas pesan


dari Pengelana. Oh, Tuhan. Kemarin aku bersusah-susah mencari akunnya. Sekarang sudah ketemu, bahkan dia mengirim sebuah pesan yang spektakuler, sampai aku bingung mau menjawab apa. Dia manusia apa bukan sih, sampai membuat serba salah begini?


“Hei, Pengelana..”


Aku mengetik dua kata. Membaca berulang-ulang, kemudian menghapusnya.


“Apa kabar?”


“Terimakasih mizone nya tempo hari. Maaf kalau saya membuat cerpen tentang kamu tanpa meminta izin terlebih dahulu..”


Aku mencoba mengetik pesan lebih panjang, tapi rasanya kurang pas. Lagi-lagi aku menghapus pesan tersebut. Kenapa susah sekali? Aku terdiam sejenak.


“Maaf..”


Akhirnya, hanya itu yang kutulis. Aku menekan tombol enter sambil memejamkan sebelah mata.


“Hahaha… jadi, kamu ngetik dari tadi hanya untuk menulis


empat huruf itu?”


Pengelana membalas dimenit yang sama. Aku menegakkan posisi duduk, bersandar pada dinding kamar. Jadi, daritadi dia menunggu balasan dariku? Karena bingung harus membalas apa, aku hanya memberikan emoticon tertawa.


“Bagaimana kalau saya merasa dimanfaatkan?” balasnya kemudian.


Merasa dimanfaatkan? Dia bercanda, kan?


Aku tersenyum, “saya tidak pernah memintamu untuk bercerita perihal keadaanmu.” Jawabku. Kali ini aku berdebar menunggu balasan dari Pengelana.


“Tetapi kamu mendengarkan, bahkan menyimpan dalam ingatanmu dengan begitu detail. Parahnya lagi, kamu juga berprasangka buruk kepada saya. Malah menduga ransel saya isi bom pula.”


Tenggorokanku mendadak kering. Ya Tuhan, aku memang menuliskan dengan detail perihal kebersamaan kami di ruang tunggu itu. Suaranya memenuhi kepalaku dan seolah aku menyalinnya begitu saja ke keyboard.


“Maaf…” sekali lagi aku membalas dengan kata itu.


“Kamu penulis, bisa nggak mencari kata selain ‘maaf?”


Aku tertawa lagi. Bagaimana pun juga, meski pernah merasa mustahil, tetapi aku pernah menyiapkan beberapa kalimat jika suatu hari bertemu Pengelana.


“Baiklah.” Aku mengetik dengan menahan napas. “Saya memang harus mentraktirmu kopi untuk semua ini. saya juga berterimakasih untuk sebotol mizone nya.” Aku mengirim pesan itu dan sedetik kemudian menatap botol kosong disudut meja.


“Saya terima ya, saya tagih kapan-kapan,” katanya.


Aku membalas dengan emoticon tertawa lagi.


“Jadi, selain menjual kenangan kau juga mencari peluang ya?” tukas Pengelana.


Mataku seketika melebar.


“Eh? Peluang apa, ya?” aku tidak mengerti dengan apa yang

__ADS_1


dikirimkan barusan.


“Memanfaatkan kisah orang-orang yang bercerita padamu.”


Aku tersenyum, “tidak. Tidak selalu.” Aku berkata jujur. Bisa dibilang, ini memang pertama kalinya aku menulis tentang orang asing, maksudku orang yang baru kukenal.


“Berarti saya spesial, dong?”


Apa dia bilang? Sialnya, kalimat itu membuat pipiku tiba-tiba merona hangat. Apa dia memang spesial? Aku menaikkan alis, memikirkan kalimat yang tepat. Aku tidak boleh menjawab sembarangan.


“Lebih tepatnya menginspirasi.” Aku mengetik balasan sambil mengembungkan pipi.


“Wow! Berapa orang asing yang telah menginspirasimu, Nona aneh?”


Ya Tuhan. Ini orang kenapa begini amat ya, pertanyaannya? Bebera orang asing? Masa juga harus aku jawab baru dia. Akhirnya aku memilih untuk tidak menjawab.


“Ceritamu keren,” katanya kemudian. Kali ini sambil memberi emoticon senyum. Jadi aku membalasnya dengan senyum juga, dan ucapan terimakasih.


“Seharusnya kamu menambahakan nomor ponselku di akhir cerita, agar kisah itu bisa berlanjut. Setidaknya kamu memberikan harapan baik pada tokoh-tokohmu?”


Aku membaca lima kali kalimat yang ditulis Pengelana. Bagaimana bisa dia memikirkan hal itu? Memberi harapan baik pada tokoh-tokoh?


“Saya hanya ingin menulis cerita yang masuk akal saja.”


Seperti yang ku bilang, kadang-kadang sebagian orang hanya berpapasan atau saling bersilangan. Tanpa bertemu lagi, kan?


“Jadi menurutmu, ketika saya menemukanmu sekarang, itu tidak masuk akal?”


“Bukan begitu…” Ya, tentu saja bukan begitu maksudku.


Mataku melebar. Nomor ponsel?


“Eh.”


Apa menurutnya nomor ponsel bisa dengan mudah diumbar?


“Setelah saya membagi nomor ponsel, membagi cerita saya, lalu kamu menulisnya dan dimuat media nasional ternama, sekarang kamu masih mencurigai saya?”


Aku tercekat. Dia mengetik tanpa emoticon, membuatku sulit menebak ekspresinya.


“Bukan begitu.”


Bagiku, tidak mudah membagikan nomor ponsel kepada orang asing. Hanya sedikit nama yang kusimpan sebagai kontak di ponsel-ku. Tetapi kali ini yang meminta Pengelana, seseorang yang telah membuat hidupku setengah gila. Apalagi aku memang menulis tentang kisahnya, dimuat dimedia nasional impian. Dan akhirnya justru dia yang menemukanku, ketika aku mulai menggila untuk mencari keberadaannya.


Aku menatap layar, menimbang beberapa hal. Mungkin memang tidak ada salahnya berbagi nomor dengan seseorang yang beberapa minggu ini menghantui pikiranku. Bukankah kalau dia macam-macam aku bisa blokir nomornya.


“0812*****”


Aku mengetik nomorku. Pengelana hanya membaca. Dia tidak membalas. Karena memang aku tidak memakai aplikasi messenger, jadi tidak tahu dia masih online atau tidak. Akupun segera mencari bubu catatanku. Mengecek nomor yang pernah dia beri, kemudian menyalinnya ke dalam kontak. Sebagimana di facebook dia memakai foto profil ransel di akun WA nya.


Bermenit-menit kemudian, bagaimana aku dengan mudahnya memberikan nomor ponselku kepada pria asing, yang hanya sekali kutemui secara tidak sengaja diruang tunggu kereta api. Dan aku juga merenungi bagaimana dengan mudahnya aku terhubung dengan Pengelana. Kalau di novel-novel. Ini seolah dibuat-buat. Seakan direncakan. Dan sepertinya hanya sebuah kebetualan. Kadang hal begini akan mendapat kritik dari pembaca.


Tetapi, apasih yang tidak mungkin terjadi dalam hidup ini, jika Allah sudah menghendaki? Dalam cerita, penulis mungkin perlu kisah yang masuk akal, sementara dalam kehidupan nyata sering kali beberapa hal seolah diluar nalar.


Aku kembali mengecek inbox. Tidak ada balasan lagi. Dia juga tidak menyapa di WhatssApp. Namun satu permintaan pertemanan muncul di notifikasi. Kali ini aku tidak perlu berfikir dua kali untuk konfirmasi.

__ADS_1


“Mheta!” Rini melongok di jendela. “Kamu baik-baik saja?”


“Kenapa memangnya, Rin?”


“Ku lihat dari tadi, kamu senyum-senyum sendiri. Bukan karena botol bekas mizone itu, kan?”


Aku tergelak, Rini melotot.


“Bagaimana kalau aku jawab, memang karena itu?”


“Maasyaa Allah, Mheta! Menapaklah ke bumi, Mhet!”


Seketika aku melompat dari atas kasur dan berdiri dilantai, “sudah?”


Rini melotot. “Sampai kapan kamu teropsesi sama orang yang belum tentu juga masih mengingatmu, Mhet?”


Aku tersenyum semanis mungkin. Menunjukkan layar ponsel yang menampilkan halaman cerpenku.


“Buset! Dimuat disitu? Satu bulan gajimu tuh honornya?”


“Dan ini?” aku menggeser layar dan menunjukkan akun Pengelana.


“Aplikasi?”


“Apa aku semenyedihkan itu, sampai harus halu bikin aplikasi akun segala?”


Rini terdiam. Dia menatapku, seoalah meneliti setiap inci dari wajahku. Mungkin, dia sedang mengira apakah aku sedang berbohong soal Pengelana.


“Mheta, sayangnya aku harus pergi sekarang. Kamu harus cerita padaku nanti.”


“Nggak janjiiii!” terikku seiring kepergian Rini.


Akupun segera bersiap pergi kewarung nasi dekat dengan kost. Untuk mencari sarapan. Karena isi perut sudah berlenggang keroncongan. Sementara menunggu antrian di warung nasi. Aku mengeluarkan ponsel yang ada disaku rok.


Ada pesan whatsapp dari Pengelana.


“Kamu itu kelihatannya jaim, tapi ternyata mudah percaya


juga.”


Astaga Tuhan, kalimat macam apa itu?


“Kamu bicara sama siapa?” balasku.


"Jadi kamu percaya, kalau semua cerita saya di stasiun itu benar?” pertanyaan macam apa lagi itu?


“Jadi, kamu hanya membual?” rahangku mulai mengeras.


Dia tidak membalas, hingga waktu giliranku memesan makananan. Sesampai di kost, kulihat ponselku. Namun belum juga ada jawaban.


Aku mencoba melihat media sosial. Diberanda paling atas muncul unggahan foto Pengelana. Sendal jepit merk Swallow yang dipenuhi pasir dengan penggalan puisi Sapardi Djoko Damono, yang fana adalah waktu, kita abadi. Satu meneit yang lalu.


Satu menit yang lalu memegang ponsel, tapi tidak membalas pesanku? Apa dia memang sedang mengerjaiku?


Perasaanku menjadi tidak nyaman, “kenapa aku ceroboh sekali?”

__ADS_1


__ADS_2