
“Allen!!!” bentak Tama. “Cepat lakukan perintahku sekarang juga!”
Allen akhirnya meminta Vian untuk mengambil kunci cadangan ke resepsionis. “Tama, tenanglah dulu. Ada apa? Kamu membuat Risa ketakutan.”
Saat Vian muncul membawa kunci cadangan kamar itu, ia langsung menghantam Vian dengan keras sehingga laki-laki bertubuh besar itu tersungkur jatuh ke lantai, “Kenapa kerjamu tak becus, hah! Perempuan gila itu sampai bisa menemui Risa!” amuknya.
Vian terkejut, “Maaf, Tuan. Tapi kami tidak melihat adanya kehadiran orang tersebut.”
“Dia menemui Risa di dalam toilet ruang pertemuan siang tadi!”
“Maafkan kami, Tuan. Kami kecolongan.”
“Brengsek kalian!!! Akan kubunuh kalian setelah ini. Pergi!” amuknya kepada Vian dan juga anak buah Vian lainnya. Mereka mundur namun tetap berjaga di sekitar kamar Tama.
“Tama, tenanglah. Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Tolong aku, Len. Carissa tidak mau menemuiku, perempuan gila itu ternyata merekamku saat aku melakukannya terakhir kali di hotel saat itu.”
“Apa! Gila! Dan dia memberikannya kepada Risa.”
__ADS_1
Tama jatuh terduduk dan ketakutan akan ancaman Carissa yang akan meninggalkannya, “Tolong, Len. Tolong bujuk Risa. Dia sama sekali tidak memperbolehkanku masuk.”
“Tunggu sebentar.” Allen menghampiri kamar dimana Carissa berada, “Risa, aku masuk ya.” Allen memakai kunci cadangan untuk membuka kamar itu.
Terlihat gadis itu masih menangis dan terisak dengan kuat, “Kak Allen, aku tak mampu, Kak. Aku tak bisa.”
“Bicarakan dulu semuanya dengan Tama, Risa. Kamu tidak bisa langsung memutuskan hubungan seperti ini? Apa lagi kalian baru saja menikah.”
“Apalagi yang perlu di bicarakan, Kak? Semuanya sudah jelas. Hubungan ini berlandaskan kebohongan. Dari awal, Mas Tama telah membohongiku.” Jawabnya dengan tangis.
Allen terlihat baik-baik saja tanpa perasaan terkejut, “Apa Kak Allen mengetahui semuanya?” tanya Carissa.
“Maafkan aku, Risa.” Ucap Allen dengan rasa bersalah.
“Tapi, tolong dengarkan penjelasan dari Tama dulu, ya. Aku tahu kamu gadis yang berkepala dingin, Risa. Aku mohon, beri Tama kesempatan satu kali saja untuk menjelaskannya. Aku akan memintanya untuk masuk dan berbicara padamu.” Allen keluar dari kamar itu dan memberi tahu Tama untuk masuk. Lalu ia keluar kamar dan berjaga dari luar, takut ada situasi yang tak terhindarkan.
“Risa, Sayang.”
“Berhenti disitu! Jangan mendekat ataupun menyentuhku dengan tangan kotormu itu.”
__ADS_1
Tama terhenti, lalu dia bersimpuh dan memohon kepada gadis yang sangat di cintainya itu. “Risa, aku bisa menjelaskan semuanya. Jadi aku mohon untuk . . .”
“Apa rumor yang beredar di rumah itu juga benar? Tentang para perawat nenek yang keluar tanpa alasan yang jelas. Benarkan karena mereka juga sudah bercinta denganmu, Mas?”
Kedua mata Tama bergetar, ia takut berkata jujur, namun juga ia takut jika suatu saat akan ketahuan jika ia mengucapkan kebohongan lagi, jadi ia mengangguk dengan pelan.
Carissa tertawa sinis, “Jadi memang dari awal kamu sudah membohongiku, Mas? Kamu ingin menjelaskan padaku tentang apa? Katakanlah! Aku akan mendengarkannya. Namun penjelasanmu tidak akan mengubah keputusanku. Aku akan pergi meninggalkanmu.”
“Tidak, tidak, aku mohon, Sayang. Jangan tinggalkan aku.” Tama menghambur dan memeluk Carissa dengan paksa.
“Lepaskan aku, Mas!” teriak Carissa.
“Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu. Kamu milikku, Risa. Kamu milikku. Aku mohon jangan pergi meninggalkanku, Sayang. Aku mengaku salah, maafkan aku, Risa. Maafkan aku. Aku mohon jangan membuangku.” Mohonnya dengan penuh iba.
Carissa terdiam dalam pelukan erat suaminya yang kini sedang kacau, gadis itu memilih untuk diam karena sadar jika ia tak akan bisa melawan tenaga seorang laki-laki berbadan besar.
“Sekarang tunggulah aku di sini.” Tama mendudukkan Carissa di atas ranjang, “Aku akan menjelaskan semuanya padamu setelah aku menyelesaikan masalah ini. Jadi, Sayang, kumohon berikan kesempatan padaku sekali lagi. Tunggulah aku sebentar, aku akan kembali.” Tama keluar dari ruang kamar, dan mengunci kamar itu dari luar.
“Mas Tama! Apa yang kamu lakukan? Buka pintu ini, Mas!”
__ADS_1
“Maafkan aku, Risa. Jika aku tidak melakukannya, aku yakin kamu akan pergi meninggalkanku. Maafkan aku, Sayang. Tunggulah aku sebentar, aku akan segera kembali.” Tama keluar dari kamar itu dengan tatapan sedih.
Carissa terlihat panik, ia langsung mencari handphonenya yang sempat ia letakkan di atas nakas, namun sebesar apapun ia berusaha untuk mencarinya, ia tak bisa menemukan benda kecil itu. “Apa Mas Tama mengambilnya?” gumamnya dalam hati.