PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 82


__ADS_3

“Hay, Tama.” ucap gadis itu dengan menggoda, dan dapat Tama ketahui secara pasti jika itu adalah suara Amelia.


“Dimana istriku!”


“Kita sudah lama tidak bertemu ataupun bertegur sapa setelah percintaan kita terakhir kali, bukankah kamu merindukan tubuhku ini, Tama?”


“Cepat katakan padaku dimana Carissa!” teriaknya dengan putus asa.


“Tenanglah, Sayang. Aku tahu jika kamu saat ini pasti sedang melacak keberadaanku, bukan? Sama seperti orang yang mengawasiku, walaupun kamu mengganti orang yang mengawasiku, aku tahu semua itu. Datanglah ke tempat yang telah kamu ketahui keberadaannya, datanglah sendirian jangan membawa para pengawalmu, ingat, aku tahu semua gerak-gerikmu, jika kamu melanggar peraturanku, kamu akan menemukan istrimu dengan tubuh dingin tak bernyawa saat kamu sampai ke tempat ini. Cepatlah datang, Tama, aku sudah sangat merindukanmu.” Ucap gadis itu dengan sangat mengerikan.


Panggilan itu ditutup secara sepihak, Tama menggeram dengan amarah, kali ini ia berjanji tidak akan melepaskan perempuan gila itu.


“Kamu sudah tau dimana tempatnya, Vian?”


“Sudah, Tuan.”


“Aku akan kesana sendirian.”

__ADS_1


“Itu bahaya, Tuan. Bagaimana jika . . .”


“Lebih baik kalian mengikutiku dengan tidak mencolok. Ingat, jangan sampai ketahuan, jaga jarak. Amelia mempunyai orang-orang yang memiliki kemampuan lebih. Nyawa Risa dipertaruhkan, jangan sampai kalian gagal lagi kali ini.”


“Baik, Tuan.”


Tama memilih mengendarai mobil sedan hitam yang ia minta dari pengelola hotel. Tama mengikuti navigasi yang mengarahkannya ke suatu wilayah yang sepi penduduk karena sekitarnya merupakan gudang besar.


Saat Tama tiba, ia disambut oleh dua orang berbadan besar dan bertato, ia digiring memasuki gudang besar yang terbengkalai.


“Hallo, Tama. Apa kabar, aku sangat merindukanmu.” Amelia memeluk tubuh Tama yang menegang saat ia melihat istrinya duduk di atas kursi dengan tangan terikat dan mulut yang tertutup kain. Sedangkan dibelakang istrinya sudah ada laki-laki yang memegang pisau dan mengarahkan pisau itu tepat ke leher Carissa.


“Tenang, jangan terburu-buru. Malam masih panjang, Sayang. Tidakkah kamu merindukan tubuhku, hm?” Amelia meletakkan tangan Tama ke atas dadanya, dia membantu Tama meremasnya, namun pandangan Tama tetap tertuju kepada istrinya yang terlihat ketakutan.


“Lihat aku, Tama, jika kamu tidak ingin pisau itu melukai leher istri tercintamu.” Tama akhirnya menurut. “Tama, hanya aku yang mencintaimu. Dia hanya menipumu, Sayang. Lihatlah, begitu mudahnya ia percaya omongan laki-laki lain hingga mau ikut sampai ke sini.” Amelia tetap mencoba merayu Tama, gadis itu menyusupkan tangannya dibalik kemeja pantai yang Tama kenakan. Ia mendesah ringan saat menemukan otot-otot yang terbentuk indah di tubuh Tama.


“Dia perempuan baik-baik, tidak sepertimu. Kamu perempuan gila!”

__ADS_1


“Aku perempuan gila? Hahahahahaha.” Amelia tertawa keras dan melangkah mundur mendekati Carissa. “Lihatlah dengan jelas, Tama. Siapa yang sebenarnya gila? Aku gila karena kamu, Tama! Sedangkan perempuan ini!” Amelia mendongakkan kepala Carissa dengan paksa. “Perempuan ini yang telah merebutmu dariku. Aku seperti orang gila saat tahu kamu menikahi perempuan lain dan bukan aku. Kamu milikku, Tama, milikku!!! Kamu boleh menyentuh perempuan lain, tapi hanya boleh menikah denganku.” Amelia mulai menggila.


Amelia kembali mendekati Tama, “Aku yakin kamu pasti mencium dan menggunakan bibirmu ini untuk memuaskan perempuan itu, bukan?” Amelia menyentuh bibir Tama dengan obsesi, “Aku juga menginginkannya. Aku akan melepaskannya hidup-hidup jika kamu mau bercinta di sini denganku sekali lagi. Di depan perempuan itu.”


“Kamu benar-benar gila!”


“Kenapa? Apa kamu khawatir? Bukannya istrimu sudah melihat permainan panas kita?” Amelia mengubah pandangannya ke arah Carissa, “Bagaimana? Pergulatan kami begitu panas dan menggairahkan bukan?” Amelia kembali tertawa terbahak-bahak saat melihat Carissa mulai menitihkan air matanya.


Tama berpikir keras cara untuk mengatasi hal gila ini, tidak mungkin dia mau bercinta dengan perempuan lain lagi, terutama di hadapan istrinya. Tapi ia juga tidak bisa mempertaruhkan nyawa istrinya.


“Aku tidak akan menuruti keinginanmu.” Jawabnya datar.


“Apa? Berarti kamu menginginkan kematian istrimu itu, Tama?”


“Walau Risa tiada, sampai matipun aku tidak akan menyentuhmu.”


“Tidak! Kamu harus menjadi milikku! Tidak ada perempuan lain yang boleh memiliki dirimu selain aku.” bentaknya dengan histeris.

__ADS_1


“Aku menawarkan sesuatu yang bagus untukmu.” Kata Tama dengan yakin.


“Apa itu?” jawab Amelia dengan semangat.


__ADS_2