
“Tidak, Sayang.” Tama mengecup kening istrinya dan menurunkan Carissa dari pangkuannya. “Aku akan meminta Bik Menok untuk memasak, tunggu di sini dengan patuh, ok!” pintanya. Ia bisa melihat jika saat ini istrinya sedang cemberut padanya, dan hal itu sangat imut di matanya.
Tama keluar kamar dengan menahan tawanya, “Hah! Hampir saja. Jika aku tidak mencegahnya, bisa-bisa aku langsung menyerangnya lagi tanpa ampun. Sentuhannya terus saja membuatku semakin gila!” gumamnya sambil berjalan menuruni tangga. “Tapi aku suka, aku suka jika Risa bermanja-manja seperti itu. Apa aku memindahkan pekerjaanku ke rumah saja?”
“Kamu harus tetap ke kantor, Tama!” seru seseorang yang sudah ada di belakangnya.
Tama menengok dan menemukan Allen yang baru saja keluar dari kamar. “Kamu ingat pulang? Dan kamu sudah tidak bisa tinggal di rumah ini lagi.”
“Aku hanya mampir sebentar untuk mengambil barangku. Setelah itu aku akan kembali ke rumahku lagi.”
“Rumahmu?”
“Tentu saja. Rumah itu atas namaku.”
“Tapi aku yang membelinya.”
“Kenapa marah? Bukannya kamu yang memintaku untuk memakai namaku agar tidak ketahuan dengan Om Bagas?”
“Iya, tapi itu rumahku.”
“Aku akan membayarnya nanti, dengan cara cicil. Tapi aku mau harga normal.”
__ADS_1
“Sudah mencicilnya, masih mau minta potongan harga!”
“Berbaik hatilah kepada sahabatmu ini, aku masih belum punya rumah pribadi karena terus menumpang hidup denganmu.” Allen dan Tama berdebat di ujung tangga. “Mana Risa? Kenapa aku tidak melihatnya?”
“Oh, iya! Aku hampir lupa.” Tama melanjutkan perjalanannya menuju dapur, lalu ia meminta Bik Menok memasak Soto Betawi untuk istrinya.
“Nyonya minta di buatkan soto, Tuan?”
“Iya, Bik.”
“Kenapa Risa minta soto?” tanya Allen yang ternyata sedari tadi mengekor dibelakang Tama.
“Memangnya kenapa? Ada yang salah?”
“Apa? Ke-kenapa aku tidak mengetahuinya? Dan kenapa kalian lebih tau dari pada aku?”
“Kamu tidak ingat? Dulu waktu Bik Menok memasak soto untuk sarapan kita saat nenek masih di sini, Risa sama sekali tidak menyentuh makanannya. Ia justru hanya makan nasi dengan bergedel kentang saja.”
“Benarkah itu?”
“Benar, Tuan. Saat pelayan menarik mundur makanan yang ada di meja, saya melihat ada satu mangkuk yang masih utuh. Saya juga sudah memastikannya langsung dengan Nyonya Risa.”
__ADS_1
“A-aku tidak memperhatikannya. Jadi, bagaimana ini?”
“Apa kamu yakin tidak salah dengar, Tam?” tanya Allen lagi.
“Tidak, dengan jelas ia bilang ingin makan Soto Betawi.”
“Apa jangan-jangan Nyonya sedang nyidam, Tuan?”
“Nyidam?”
“Itu, sesuatu yang sangat di inginkan saat hamil. Biasanya memang begitu, kadang terbalik. Yang tidak suka jadi suka, yang suka jadi benci untuk makan.”
“Coba kamu ingat-ingat, Tama. Apa akhir-akhir ini Risa pilih-pilih dengan makanan?”
“Dia makan seperti biasanya, kecuali hari ini. Dia mual saat makan-makanan hidangan laut atau seafood.”
“Tapi, bukankah soto kali ini juga hal yang aneh?” Allen turut kebingungan.
Bik Menok tersenyum melihat kedua laki-laki di hadapannya sibuk menalar apa yang sedang terjadi, “Tuan-tuan, bagaimana jika telepon dokter Andi saja?”
“Bibik benar!” jawab Tama dan Allen bersamaan.
__ADS_1
“Kenapa kamu ikut bersemangat, hah? Yang hamil ini istriku tahu.”
“Aku tahu! Aku sudah menganggap Risa seperti adikku sendiri. Jadi tanpa sengaja aku juga ikut bersemangat. Cepat-cepat, telepon dokter Andi.” Allen tetap mengekor dibelakang Tama sampai laki-laki itu berhasil meminta dokter pribadi keluarga Syahreza untuk datang.