
Aku tersenyum melihat balasan Pengelana. Tentu saja aku tidak perlu menerka-nerka apa maksudnya. Lagi pula di facebook dia juga sering kok memberi emoticon-emoticon hati pada orang-orang yang mengomentari statusnya.
Sejak mengenalnya, secara tidak langsung, dia telah mengajarkan banyak hal padaku. Mislanya, ketika kami membahas buku dan dia bertanya, “coba katakan apa yang kamu ingat dari novel itu, M?”
“Saya lupa.” Saat itu aku memang lupa. “Saya hanya mengingat hal-hal yang berkesan saja. Maksdunya, buku-buku yang berkesan.”
“Kalau saya berkesan tidak?”
Pertanyaan macam apa itu? Aku tidak mungkin kan mengatakan kepadanya kalau botol bekas mizone itu saja masih aku simpan? Bisa-bisa dia menertawakanku.
“Apa suatu hari, kamu akan melupakan saya?” Pengelana kembali bertanya.
“Pertanyaan macam apa itu?” aku membalas sembari cemberut.
“Jawab saja.”
Aku diam.
“Jawab.”
Aku masih diam.
“Jawab.”
Aku bahkan tidak pernah menghapus obrolan kami sejak dari awal. Ratusan foto kirimannya dan lagu-lagu yang ia nyanyikan, kubuat sebuah daftar putar khusus.
“Mungkin… mungkin saya akan mengingat kamu memanggil saya aneh dan berantakan.”
Pengelana tertawa, lalu dia membalas. “Kalau saya, mungkin suatu saat akan berusaha mencari cara untuk melupakanmu.”
“Maksudmu, apa?”
“Bercanda.”
“Apa salah saya?”
“Bercanda, M.”
“Nggak lucu.”
“Maaf.”
Saat itu, entah kenapa aku jadi sedih. Itu pertama kalinya Pengelana membuatku sedih. Kemudian aku selalu berpikir, apa salahku? Jadi sesekali disela percakapan kami, aku sering bertanya, “sebenarnya apa sih salah saya?”
“Kamu itu, apa-apa jangan dianggap serius. Jangan mudah baper. Saya bilang minta maaf, eh kamu malah baper. Saya nyanyi kamu baper.”
“Bukan baper sih…”
“Sudah mulai sekarang kamu nggak usah tanya-tanya apa salahmu lagi. Jangan hubung-hubungkan lagi.”
Waktu itu aku hanya menjawab, “ok.” Tetapi diam-diam aku mencerna kata-kata Pengelana. Mungkin benar aku begitu. Namun tahukah dia bahwa aku tidak bersikap seperti itu ke semua orang?
Tetapi ya, kemudian, aku mulai memahami diriku sendiri. Bahwa perasaan semacam itu karena…. Karena aku takut kehilangan dia. Bagiku selama ini Pengelana adalah teman bicara yang dikirim oleh Tuhan. Berbincang
dengannya membuat hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang berharga.
Hanya Pengelana yang tahu bagaimana membaca daun yang berserakan. Bagaimana memahami burung sendirian. Bagaimana menangkap lampu berpendaran, bagaimana mendengar raungan hujan, dan bagaimana caranya memotong senja. Bicara begitu dengan orang lain, kadang aku dianggap tidak masuk akal dan berlebihan.
Jadi, baru membayangkan dia menghilang saja, rasanya sudah menyakitkan. Meski aku tahu ada Rosa. Aku tahu mereka sepasang kekasih. Aku sadar benar itu. Tetapi perasaan tak ingin kehilangan tidak selalu perasaan ingin memiliki, bukan? Apa aku salah?
Aku pernah memanggilnya, “hei teman baik.”
Tetapi dia justru bertanya, “sejak kapan kamu memanggil saya teman baik?”
“Sejak saya menganggapmu teman baik.”
Waktu itu Pengelana tertawa dan balik tanya lagi, “kalau saya sudah pernah belum, memanggilmu teman baik?”
“Belum, tapi saya nggak peduli.”
“Suatu saat pasti saya lakukan.”
“Nggak perlu memaksakan diri kali. Saya nggak masalah dipanggil apapun kok. Lagi pula, meski saya menganggapmu teman baik kan belum tentu kamu menganggap saya baik juga.”
“Kamu memang si aneh, sih. Tetapi suatu hari dia benar-benar mengatakan, “kamu teman yang baik,” hanya karena dalam satu hal kami punya pendapat dan selera yang sama.
Jadi begitulah kembali ke emoticon yang dikirim Pengelana tadi, aku tidak membalas apapun. Dan juga tidak berfikir apapun. Apakah itu artinya hal-hal yang diajarkan Pengelana padaku berhasil?
“Mbak?”
Lamunanku buyar. Aku menoleh pada pengunjung pasien sebelah yang memanggilku.
“Ya, Mas?”
“Maaf sebelumnya, saya mau merepotkan. Saya harus nebus obat ke apotek. Bisa minta tolong nanti sampaikan pada Ibu saya kalau bangun dan nyari saya?”
“Oh, iya bisa, Mas.”
“Terimakasih ya, Mbak.”
“Sama-sama.”
Pasien sebelah adalah seorang ibu yang lebih tua dari ibuku. Sejak datang memang sering mengomel. Mulai dari tusukan jarum infus yang sakit, hingga bantal yang posisinya kurang pas. Awalnya datang bersama suami dan anaknya. Kemudian suaminya pulang, dan tinggal anak lelakinya.
Aku menunggu sambil membaca buku. Apotek berada di lantai bawah, di area depan terdepan rumah sakit. Selain jauh juga setiap kali kesana selalu ramai dan antri.
__ADS_1
“Rasyid! Rasyid!”
Ibu itu bangun, sekonyong-koyong aku mendekat.
“Masnya sedang ke apotek, Bu.”
Rasyid maksudmu?”
Aku mengangguk, “ya.”
“Ah mana dia tidak bilang-bilang mau pergi. Sudah tahu Ibunya sendiri disini.”
“Tadi Ibu sedang tidur, “kataku. “Apa yang bisa saya bantu, Bu?”
“Aku kehausan, pengen minum.”
Aku segera mengambilkan gelas diatas nakas.
“Rasyid nggak mau kusuruh bawakan sedotan. Kalau minum bisa tumpah kan miring-miring.”
Aku menaruh kembali gelas itu, dan membantunya bangun, sehingga posisi kepalanya lebih tegak. Saat itu, Daffa muncul dan membantu meminumkan.
“Kalian suami istri atau kakak beradik?”
“Tetangga, Bu?”
Aku dan Daffa saling berpandangan. Kami menjawab bersamaan dengan kata-kata yang sama.
Aku mengembalikan posisi ibu itu berbaring seperti semula. Bertanya apakah bantalnya sudah nyaman atau belum. Katanya sudah nyaman. Tetapi dia bilang punggungnya gatal, curiga ada semut dibantalnya. Jadi aku memerikasa dan memastikan tidak ada semut.
“Rasyid itu anakku. Namanya pemberian Pak Kyai Gontor. Makanya, Rasyid dulu menempuh pendidikannya juga di Gontor. Tapi setelah lulus SMA, dia memutuskan untuk masuk Akademi Militer. Dia dinas sudah enam tahunan. Belum nikah. Hampir nikah, tapi pas calonnya diajak ke rumah nggak balik lagi. Katanya nggak mau kalau nanti tinggal dirumah dinas. Maunya tinggal dirumah orang tuanya. Anak gadis jaman sekarang ya, belum-belum sudah mengatur. Calon menantu macam apa itu. Tapi syukurlah si Rasyid nggak jadi sama dia, nggak jadi nikah.”
Aku tersenyum.
“Mbaknya Rasyid saja tinggal di rumah dinas sama suaminya. Dia nggak protes. Padahal kan tinggal dirumah dinas juga nggak selamanya.”
Aku masih tersenyum, duduk dikursi samping ranjangnya.
“Rasyid itu ya perhatian sekali kalau sama aku. Lebih perhatian daripada ayahnya. Lebih memahami aku. Pas dikabari kalau aku sakit saja, dia langsung pulang. Padahal dia dinasnya bukan didaerah sini. Dia dinas
di Jakarta. Dia anaknya sabar, nggak kaya mbakyunya yang suka ngambek dan nyinyir kalau dinasehati ibunya. Tapi syukurlah, setelah menikah mbakyunya bisa berubah. Lha kalau nggak berubah kan bisa malu-maluin aku sama besanku tha.”
Aku hanya mendengarkan dan mengangguk.
“Rasyid anak baik, aku berharap dia mendapat istri yang baik juga.”
Wanita didepanku terbatuk.
“Lha kamu ini kerja apa sekolah?”
“Kerja, Bu.”
“Mmm… saya dokter.”
“Dokter? Kaya mbakyunya Rasyid, mbakyunya Rasyid dokter anastesi. Tapi sekarang dinasnya di Jogja. Sekalian ikut suaminya dinas disana. Kalau kamu dinas dimana?”
“Saya… dinas di kota Malang, Bu.”
“Jauh ya? Kamu asli orang Malang?”
“Tidak, Bu. Saya asli orang sini. Di Malang saya merantau.”
“Lha kok jauh banget. Kenapa nggak kerja di rumah sakit sekitar kota Magelang saja?”
“Mungkin karena saya kuliahnya juga di Malang.”
“Oh… iya.”
Ibu itu terus cerita tentang Rasyid. Hingga anak lelakinya itu datang.
“Wah maaf ya Mbak. Jadi merepotkan.”
“Nah ini Rasyid anakku, “ucapnya. “Mereka nolong Ibu tadi. Mereka itu tetangga. Bukan suami istri.”
“Ibu…” Rasyid menyentuh punggung tangan ibunya. “Mbak, Mas.” Kata Rasyid mengangguk ke aku dan ke Daffa. “terimakasih ya sudah menolong. Maaf merepotkan.”
Aku berdiri dan kembali ke ranjang ibu. Sementara Rasyid dan ibunya masih bicara soal obat yang pahit, dan semut yang dicurigai datang karena makanan tercecer.
“Aku pulang dulu ya.” Kata Daffa.
“Makasih, ya.”
Daffa mengangguk dan kemudian pamit kepada ibu.
Tak lama setelah Daffa pergi, magrib tiba. Karena aku tidak mungkin meninggalkakn ibu ke mushallah. Jadi aku berfikir meminta izin pada Rasyid agar tidak kelaur masuk kamar dulu. Ruang yang tersisa dari kamar ini
memang tepat menghadap pintu.
Tetapi, justru Rasyid yang lebih dulu memanggilku.
“Mbak, bagaimana kalau kita shalatnya gantian. Biar ada yang jaga di kamar ini?”
“Oh, gitu? Ya, bisa, bisa.”
Jadi, begitulah. Aku dan Rasyid bergantian ke mushalla. Karena dia memberiku diliran duluan, setelahnya aku baru membantu ibu.
__ADS_1
“Bu,” kata Rasyid lirih, tetapi karena jaraknya sangat dekat dan hanya bebatasan dengan gorden, aku tetap bisa mendengarnya.
“Ibu sebelah lho shalat, Bu.”
“Lha aku piye, nggak bisa berdiri.”
“Bisa sambil duduk, Bu. Ibu sebelah malah sambil tidur saja karena tidak kuat bangun.”
“Lho kakiku sakit, kok.”
“Iya, Ibu nggak usah berdiri, sambil duduk ya?”
“Ya wis ajari. Piye caranya?”
Aku tersenyum. Ibu juga. Rupanya ibu diam-diam ikut menyimak.
****
Jam sembilan malam, Pengelana mengirim pesan. Dia sudah sampai di Tangerang, dan sedang mengikuti acara pembukaan. Dia tanya, apa aku ingin melihat langsung atau rekaman videonya saja. Dan aku pilih rekaman videonya saja.
“Gimana keadaan Ibu?” tanyanya lagi.
“Masih belum kuat bangun.”
“Salam ya. Semoga segera sehat.”
Lalu Pengelana mengirim beberapa foto-foto sekitar acara. Hampir jam sebelas ketika Pengelana mengirim video musikalis puisi. Aku menunjukkan pada ibu kalau itu bagian dari acaranya. Dan ibu menanggapi antusias.
Ditengah-tengah kami menonton, terdengar ketukan pintu. Bukan perawat yang muncul. Tetapi Daffa.
“Apa yang ketinggalan?” tanyaku.
“Nggak ada.”
“Terus?”
“Di suruh Ibu.”
“Nginap sini?”
“Ya.”
tak lama setelah Daffa datang, ibunya telepon ke ponsel ibuku.
“Mheta? Daffa sudah sampai?”
“Sudah Bik.” Aku menoleh ke Daffa dan memberi isyarat kalau ibunya menelpon.
“Lha iya, dia bilang tadi pulang karena ranjang sebelah ada penghuni. Lalu balik lagi. Katanya pasien sebelah hanya satu yang jaga laki-laki gitu. Nggak baik buat kamu katanya.” Aku menahan tawa.
“Ooh… katanya disuruh Bibi?” aku menoleh ke Daffa yang mengutak-atik ponselnya.
“Hanya kuomeli. Bibi suruh balik dia dari Korea kan memang biar ada yang menemani kamu di rumah sakit.”
Aku mengucapkan terimakasih pada ibu Daffa. Meski sebenarnya aku jadi tidak enak. Jika kenyataannya Daffa memang masih ingin di Korea.
Kami tak banyak bicara. Entah hilang kemana keakraban kami yang dulu. Daffa sering berbincang dengan Rasyid.
Jadi, malam ini kami berlima. Setelah malam-malam sebelumnya aku hanya berdua dengan ibu. Aku tidur sambil
duduk. Dengan kepala bersandar disamping ibu. Rasyid tidur dilantai dekat ranjang ibunya. Dan Daffa di kkursi samping meja.
****
Jam tiga dini hari aku bangun. Menyalakan laptop pelan-pelan. Ada artikel mingguan yang harus kukirim.
Saat membuka ponsel untuk mengaktifkan hotspot, ada satu pesan dari Pengelana.
Dia mengirim foto bulan.
“Ini bulan apa saturnus?? Tanyanya sambil memberi emoticon tertawa.
“Wah ada lingkaran luarnya.”
“Coba lihat, di sana ada lingkaran nya juga nggak?”
Aku mengenda-endap, membuka jendela. tetapi di luar gerimis. Jadi, kau balas padanya langit sedang mendung.
Kupandangi foto itu. Lalu aku ingat Bruno.
“Nyanyiin Talking to the moon, dong.” Kataku.
“Nggak hafal.” Jawabnya dengan emoticon tertawa.
“Pokoknya nyanyiin!” aku bercanda dengan memberi tanda seru. Lalu aku off dan menyelesiakan artikel.
Satu jam kemudian saat aku mengecek ponsel, ada satu pesan yang dihapus. Aku tidak bertanya dia menulis
apa. Ditanya pun dia tidak akan menjawab. Pengelana juga juga mengirim lagu.
Aku memasang headset. Memeutar lagu itu. Kukira lagu Bruno. Ternyata bukan. Dia mengirim Please Don’t Go,
miliknya Barcelona.
Kata Pengelana, aku tidak boleh menghubung-hubungkan lagu itu atau apapun, kan?
__ADS_1
Jadi, aku mendengarkan saja sambil mengetik. Da kelak, lagu ini akan sering kuputar untuk menemaniku
menulis, selain Dealova.