PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 109


__ADS_3

“Amelia ada di sini, Len. Dia mengendari mobil yang ku tumpangi.”


“Apa! Gila! Didepan sana ada tikungan tajam. Di rest area yang akan kita tuju, ada tikungan di sana Tama.” Allen terlihat panik. Mobilnya dan juga mobil Vian beriringan ingin menghentikan mobil yang Amelia kendarai, namun mereka sedikit kesusahan karena banyaknya mobil dari arah yang berlawanan.


Tama mencoba berbicara dengan Amelia, “Amelia, aku mohon, hentikan mobil ini sekarang. Kita harus berbicara dengan tenang. Kumohon.”


“Tidak! tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.”


“Aku akan menjadi milikmu, itu yang kamu mau kan? Jadi, kumohon hentikan mobil ini sekarang. Kita hanya perlu menurunkan Risa di sini, dan aku bisa ikut bersamamu.”


“Benarkah?” Amelia menatap Tama dengan tetesan air mata dan senyum yang mengembang, terlihat dengan jelas jika saat ini ia terlihat panik dengan Carissa yang ketakutan di sisinya, namun satu hal yang ia sadari, jika Tama tetap mengutamakan istrinya karena secara tidak langsung ia meminta untuk menyelamatkan Carissa terlebih dahulu. “Kamu berbohong padaku. Aku tak akan mau tertipu olehmu lagi!” teriak Amelia dengan keras. “Kamu tak akan bisa mencintaiku, Tama. Aku sangat mencintaimu, jadi kumohon kali ini, pergilah bersamaku ke neraka.”

__ADS_1


Tama kebingungan dan semakin panik, Amelia sudah tidak bisa di ajak berbicara lagi, akal sehatnya sudah sepenuhnya hilang dan di butakan karena obsesi yang berlebihan.


Tama akhirnya ingin melepas sabuk pengamannya dan berencana berpindah ke kursi depan untuk menghentikan Amelia, namun ketakutan terpancar semakin jelas di wajahnya saat ia tidak bisa melepaskan sabuk pengaman itu.


“Ada apa, Mas?” tanya Carissa dengan panik saat Tama juga mencoba membuka sabuk pengamannya. Tahu jika tidak bisa terbuka, Carissa juga mencoba membantu Tama menarik tali sabuk pengamannya. “Kenapa tidak bisa terbuka?” ucapnya dengan cemas.


“Sabuk pengaman kita telah di sabotase, aku tak bisa melepaskannya. Tahan, Risa. Aku akan membukanya dengan paksa.” Dengan sekuat tenaga Tama mencoba melepaskan sabuk pengaman itu, namun tetap saja susah untuk di buka. Tama menggertakkan giginya dan menarik sabuk itu sekuat tenaga karena tahu tikungan sudah ada di depan mata. Setelah berhasil membuka sabuk pengaman itu, tama mencari lagi handphone yang sempat di lemparnya ke sembarang tempat.


“Ya, Tama, aku masih di sini.”


“Jaga jarak mobil kalian dengan mobil ini, aku akan melemparkan Risa keluar dari mobil. Sabuk pengaman kami di sabotase, aku sudah bisa melepaskan sabuk Risa.”

__ADS_1


“Itu bisa berbahaya untuk Risa, Tam.”


“Akan lebih berbahaya jika ia tetap di dalam mobil ini, Len. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menyelamatkannya.”


“Apa? Tidak, tidak, Mas. Jangan lakukan itu.” ucap Risa dengan lelehan air mata.


“Aku mencintaimu, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Maaf, kamu akan terluka setelah ini.”


“Tidak! Aku tidak mau, Mas. Jangan!” Carissa berusaha menahan dorongan dari Tama dan berpegang kuat pada tubuh suaminya, namun selanjutnya ia sudah merasakan tubuhnya melayang dan membentur kerasnya aspal, tubuhnya sempat terpental lalu menggelinding akibat terjatuh dari mobil yang melaju cepat. Mobil Allen dan Vian berhenti tepat di belakangnya, mereka buru-buru turun untuk memastikan keadaan Carissa.


Semua mata terbelalak saat menyaksikan suara benturan keras saat mobil melaju dengan kencang dan menabrak pagar pembatas jalan, mobil itu melayang melewati pembatas dan terjun dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


“Mas Tama!!!!” teriakan Carissa terdengar menyayat hati. Tangisnya semakin pecah saat terdengar suara ledakan dan api yang membumbung tinggi.


__ADS_2