PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 102


__ADS_3

Sesampainya di hotel, Carissa tetap bersemangat dan tidak merasa lelah. Setelah meletakkan tas nya ke dalam kamar, ia meminta Tama menemaninya untuk berjalan-jalan. Hotel itu terletak di Pantai Sire, dengan laut Bali yang tenang. Jadi ia ingin berjalan-jalan tanpa menggunakan alas kaki dan merasakan pasir pantai yang putih.


“Waaahhh . . . bagus sekali, Mas?”


“Bukankah hotel kita di Bali juga tak kalah indahnya?”


“Ya, di sana memang indah. Tapi aku baru kali ini ke Lombok, dan suasananya cukup beda, Mas. Lihatlah! Di sini pepohonannya lebih rindang.” Dari kejauhan, Carissa melihat sekumpulan orang tengah mendekorasi di pinggir pantai. Ada meja besar dan memanjang yang sudah lengkap dengan kain penutupnya yang berwarna putih dan gold, lalu juga sudah ada aula kecil namun terkesan mewah yang kelihatannya akan di pakai untuk pemberkatan besok. “Di sana! Di sana!”


Tama mengikuti arah tangan istrinya menunjuk suatu tempat, “Ya, mungkin di sana acaranya akan di laksanakan besok.”


“Indah banget. Kenapa dulu kita tidak kepikiran untuk menikah di tepi pantai seperti ini ya, Mas?”


“Hm? Kamu menginginkannya? Jika iya, kita bisa melakukannya setelah acara mereka selesai. Aku bisa mewujudkan mimpimu dengan pernikahan yang kamu inginkan.”


“Tidak, tidak. Kita kan sudah menikah.”


“Tapi kita bisa melakukan perayaan lagi.”


“Tidak usah. Jangan membuang-buang uang.”

__ADS_1


“Uangku tidak akan habis, Sayang. Pakailah sepuasnya.”


“Wahh, aku lupa kalau sudah menikahi pria kaya raya.”


“Kamu patut berbangga diri, Sayang.”


“Apanya? Tanpa menikah denganmu pun aku tetap bisa mendapatkan apa yang ku inginkan, Mas. Bahkan jika misalkan sekarang kita berpisah . . .”


Tama memeluk istrinya dengan erat, “Jangan! Jangan pernah berpikir seperti itu. kamu istriku, Risa. Kamu perempuan yang paling aku cintai. Jangan pernah berpikir untuk pergi jauh dariku, jangan meninggalkanku. Bergantunglah kepadaku, aku tak akan menyesalinya, karena aku tak mampu hidup jika tanpamu.”


“Maaf, Mas. Harusnya aku tak berkata seperti itu.”


“Apa ada banyak keluarga dari ayahmu, Mas?”


“Mereka cukup banyak, jadi aku sendiri tidak mengenal mereka semua dengan baik. Hanya beberapa saja yang aku kenal.”


“Kalau sepupumu yang akan menikah ini?”


“Aku mengenalnya. Dia juga salah satu partner bisnisku.” Tama membukakan pintu kamar. “Masuklah, Ratuku.”

__ADS_1


“Aku ingin mandi dulu, Mas.”


“Ya, mandilah. Aku akan ada di balkon jika kamu mencariku. Aku ingin mengecek laporan sebentar.”


Carissa menahan tangan Tama yang akan beranjak pergi, “Ada apa, Sayang?”


Perempuan cantik itu terlihat menggigit ujung bibirnya dengan seksi dan menggoda, “Mau mandi bersamaku, Mas?” Carissa mendekatkan wajahnya, dan berbisik mesra, “Sudah lama kita tidak mandi berdua.”


Tama terlihat salah tingkah, “Emm . . . ku-kurasa kamu harus mandi sendiri, Sayang. A-aku mau mengecek la-laporan sebentar.”


“Ayolah, aku ingin di mandiin sama kamu, Mas. Tadi katanya aku harus bergantung padamu.” Carissa merayu dengan gigih.


“Apa yang harus ku lakukan? Ini tawaran yang sangat menggiurkan, namun aku takut tidak bisa menahannya jika menyentuh tubuhnya nanti.” Tama menggumam dalam hati. Tawaran Carissa kali ini bagaikan penyiksaan baginya.


Dokter kandungan sudah pernah memperingatinya untuk tidak melakukan hubungan suami istri yang berlebihan sebelum kandungan Carissa di usia aman. Jadi Tama selama ini memilih untuk tidak menyentuh istrinya sama sekali karena ia takut tidak bisa menahannya dan berlaku keras pada Carissa, karena ia akan menggila setiap kali menyentuh tubuh istrinya itu.


Terlebih lagi dia sudah menahannya selama hampir dua bulan, jadi ia khawatir saat menyentuh istrinya, ia tidak akan bisa mengendalikan dirinya. “Kita ambil aman ya, Sayang. Ini juga demi kamu dan janin yang ada di kandunganmu. Jadi, lebih baik kamu mandi sendiri, ya?” Tama memberikan penjelasan dengan hati-hati.


Senyum cerah Carissa telah hilang dan berganti dengan kekecewaan, perempuan cantik itu melepaskan genggaman tangannya dengan lemas, “Baiklah kalau begitu. Kukira ucapanmu tadi sungguh-sungguh. Tapi ternyata aku yang terlalu memasukkannya ke dalam hati.” Carissa berjalan menuju kamar mandi dengan menunduk.

__ADS_1


__ADS_2