PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 70


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu, dan baru hari ini Carissa merasa lega. Saat ini Allen ada di Bali dan meminta bantuannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang cukup sulit karena ada beberapa masalah. Tama awalnya menolak karena ia sebenarnya sengaja memblokir nomor Allen agar tidak diganggu oleh teman sekaligus asisten pribadinya itu, namun Allen tak pendek akal, dia menghubungi Carissa dan menanyakan dimana ia berada sekarang, tentu saja Carissa langsung memberikan alamat mereka demi keberlangsungan hidupnya.


“Setelah ini, cepatlah pulang dan pergi dari hadapanku.” Usir Tama.


“Tidak bisa. Kamu harus menyelesaikan masalah ini dulu. Ada kesalahan kontrak dengan SJ Group, Tama. Ini akan merugikan kita.”


“Bukankah kerja sama dengan mereka sudah selesai?”


“Iya, tapi SJ Group mengajukan banding dengan dalih pembayaran yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.”


“Apa?”


“Disini ada dua kontrak yang berbeda. Lihatlah.” Allen menyodorkan dua kontrak kerja sama yang berbeda.


“Dan kedua dokumen ini asli? Apa kamu tidak memeriksanya dengan benar sebelum aku menanda tanganinya?”


“Aku yakin jika sudah memeriksanya dengan benar, aku tidak tahu kenapa ada dua dokumen berbeda seperti ini. Mereka mengancam jika tidak diselesaikan dengan segera, mereka akan membawanya ke ranah hukum.”


“Tidak, tidak. Aku malas berhubungan dengan hukum. Selesaikan saja dengan cepat. Bayar mereka sesuai kontrak yang mereka pegang.”


“Aku sudah menawarkan hal seperti itu. Tapi mereka ingin bertemu terlebih dahulu katanya.”


“Apa! Berani-beraninya mereka!”


“Mereka tidak memperdulikan keputusanku karena aku hanya penggantimu. Bahkan direktur kita saja tidak dipandang oleh mereka.”


“Siapa yang akan menemuiku?”


“Presdir SJ Group, Pak Pradipta yang akan menemuimu besok. Malam ini dia akan berangkat dari Jakarta.”

__ADS_1


“Baiklah, atur pertemuanku dengannya besok. Akan kupastikan dia tidak akan bisa berjalan di bidangnya dengan baik di masa depan. Berani-beraninya dia sengaja mengusikku.”


“Kalau begitu, aku permisi dulu untuk mengatur pertemuan besok. Kalau perlu sesuatu untuk di bahas, hubungi saja. Aku menempati kamar di sebelah kamar Vian.”


“Baiklah.”


“Ada masalah apa, Mas? Kenapa wajahmu kusut begitu? Kalian terlihat begitu serius.” Tanya Carissa saat ia menemui Tama di luar.


“Ada sedikit masalah. Besok siang aku harus bertemu dengan pimpinan SJ Group.”


“Bolehkah aku ikut? Beberapa hari ini aku terus saja di kamar, rasanya suntuk, Mas.”


“Aku tidak akan lama, setelah itu kita jalan-jalan, ya. Jadi tunggu aku di kamar.”


“Mas, boleh ya?” tanya Carissa dengan manja. “Aku berjanji tak akan mengganggu dan akan duduk tak jauh dari tempat kalian. Aku akan menunggu dengan patuh. Boleh ya? Nanti setelah pertemuan itu, kita bisa langsung jalan-jalan.” Pinta Carissa dengan bergelayut manja pada suaminya.


“Asik! Terima kasih, Mas.”


“Sama-sama, Sayang.”


***


Tama dan Allen terlihat serius berhadapan dengan beberapa elite SJ Group di ruang rapat tertutup. Sedangkan Carissa duduk di pojokkan ruangan dengan tenang sambil mendengarkan obrolan yang sama sekali tidak ia mengerti, sesekali ia membuka handphonenya dan mencari sesuatu yang menarik demi menghilangkan rasa bosannya.


Carissa mencoba mencari celah saat Tama melihatnya untuk memastikan apakah Carissa merasa bosan atau tidak. “Mas, aku mau ke toilet sebentar.” Ucapnya dengan isyarat gerakan mulut.


“Hati-hati.” Jawab Tama dengan cara yang sama. Ia tidak bisa meninggalkan rapat tiba-tiba di tengah pembahasan. Pikir Tama pun Carissa akan aman karena diluar sudah berjaga Vian dan juga bawahannya.


Carissa menyelesaikan kebutuhannya yang mendesak dan berkaca sebentar untuk memastikan make up nya masih bagus, saat ia akan keluar dari toilet, ada seseorang yang memanggilnya.

__ADS_1


“Oh, Nyonya Adhitama, betulkan?”


Carissa menengok dan mengangguk kecil, “Ya, saya istrinya. Apa Anda mengenal saya?” Carissa merasa jika ia pernah bertemu dengan perempuan berambut hitam itu, namun ia tak bisa menemukan dimana pertemuan dan kapan mereka bertemu. “Maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya Carissa tidak yakin.


“Mungkin pernah satu kali. Saya tahu Anda saat menghadiri pesta pernikahan kalian, mungkin di situ Anda pernah melihat saya.” Perempuan itu berbohong. “Selamat ya, maaf tidak sempat memberikan ucapan secara langsung karena ada pekerjaan mendadak yang membuat saya harus meninggalkan pesta lebih awal malam itu.”


“Tidak apa-apa, dan terima kasih sudah datang.” Ucapnya tulus.


“Oh, iya. Karena saya telat memberikan selamat, saya punya hadiah yang cukup bagus untuk kalian berdua. Di dalam flashdisk ini, ada film romance yang akan segera tayang di bioskop, ini eksklusif untuk Anda, film ini akan sangat cocok untuk pengantin baru seperti kalian berdua.”


“Apakah boleh untuk saya? Anda tidak takut film ini tersebar sebelum waktunya?”


“Saya yakin Anda bukan orang seperti itu.”


“Terima kasih atas hadiahnya, saya akan menontonnya.”


“Cepat tonton, lalu berikan tanggapannya kepada saya. Anda bisa meminta nomor saya dengan pak Adhitama.”


“Baiklah. Kalau begitu, boleh saya tahu siapa nama Anda?”


“Bilang saja dengan suami Anda, seseorang yang tahu betul siapa dia.”


Carissa merasakan hal aneh, “Maksud Anda?”


“Oh, jangan salah paham. Saya hanya berteman dengan baik dengan suami Anda. Jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh tentang hubungan kami.” Amelia sekali lagi berbohong.


“Baiklah kalau begitu. Saya permisi.” Carissa berpamitan.


“Adhitama, kamu akan segera menjadi milikku.” Ucapnya dengan yakin saat dia berhasil memberikan flashdisk kepada Carissa.

__ADS_1


__ADS_2