
‘Mungkin benar, sebagian pengarang sembunyi di dalam diksi.’
Sebelum melanjutkan membaca kisah ini, biar kuberitahu dulu, kalau yang sudah ku tulis dari bab awal hingga sampai saat ini, adalah kisah nyata dalam kehidupanku. Sebenarnya tidak banyak hal menarik didalamnya. Tetapi, jika kamu bersabar membacanya hingga akhir, mungkin cerita perihal kami ber empat layak untuk disimak.
Dan satu lagi, aku minta maaf. Jika banyak bagian-bagian cerita yang memang sengaja ku skip. Karena aku memang bukan seorang penulis dengan genre 21+++.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Sebagian orang memilih pergi karena tak ingin melukai, sebagian lagi memilih pergi karena tak ingin terluka.
Waktu bergulir begitu cepat, jarum jam melesat ke arah pukul satu dini hari. Terlihat, Rasyid masih lelap dalam balutan selimut berwarna biru. Sedangkan mataku menyapu seisi kamar. Lalu, pandanganku berhenti pada satu pemandangan yang selama ini belum pernah ku temui.
Raut wajah yang penuh dengan kedamaian, dia tidak tampan, bahkan bisa dibilang tingkat ketampanannya masih dibawah rata-rata. Namun, entah kenapa. Aku begitu menikmati tiap inci wajah yang sedang terlelap di hadapanku ini. Ada sedikit getaran dalam hati. Entah apa itu namanya.
“Dek… kamu udah bangun?” tiba-tiba saja Rasyid membuyarkan lamuanku yang dengan sengaja menatap lekat kepadanya.
“Eh…I-iya…baru mau bangunin Mas.” Tukasku mengelak.
Aku tidak menyangka, jika menatap wajah Rasyid secara lekat-lekat, akan mengakibatkanku amnesia seketika. Aku pernah menatap lekat wajah Daffa. Tetapi, kenapa dengan Rasyid berbeda?
“Kamu kenapa?” suara serak khas orang bangun tidur begitu masih terdengar dikedua telingaku.
Benar. Aku bukan hanya seperti orang yang sedang mengalami amnesia, tapi aku juga merasa jika seluruh tubuh menggigil. Padahal, malam ini Ac kamar sengaja tidak ku nyalakan. Sebab aku memang kurang enak badan. Apa karena aku merasa kurang fit. Jadi, merasa sedikit kacau? Entahlah. Apa yang sedang ku rasakan.
“Nggak apa-apa.. udah jam satu lewat, nanti Mas telat nganter Zaki.” Selorohku, suaraku sedikit terdengar gelagap.
Sekonyong-konyong, Rasyid menyambar ponsel yang terletak di atas nakas. Melihat ada sebuah pesan masuk.
Jika dilihat dari gesturnya. Sepetinya Rasyid menerima pesan dari Pengelana.
“Mas ke kamar mandi dulu, Adek ikut ya? Temanin Mas nganter Zaki ke bandara.”
Sontak kedua mataku membulat. Kedua daun telingaku serasa mekar bak bunga kecubung yang mekar di pukul sembilan pagi.
“Ayu nggak ikut Mas… Ayu dirumah aja.” Runtukku, aku harus menolaknya ‘kan?
“Ayolah Dek, temani suamimu ini.”
“Kan udah ada Om Baginta?”
“Baginta nggak ikut. Soalnya dia mau ke gereja pagi. Takut nggak keburu nanti sampai rumah.” Rasyid terlihat bergegas dari atas kasur, “Mas mandi dulu, kamu juga siap-siap ya?”
Aku hanya bisa mengangguk, apa lagi ini Tuhan?
*****
“Pengagum hanya memandang diam-diam, tanpa berharap kembali dipandang.”
Sebuah pesan dari Pengelana masuk.
Aku menatapnya dari kaca spion yang tergantung diatas kemudi mobil.
__ADS_1
Kami bertiga sedang berada dalam satu mobil. aku memilih untuk duduk di belakang, Rasyid menyetir sedangkan Pengelana duduk di samping kiri kemudi.
“Tolong jangan gila. Kita ini bukan siapa-siapa! Jika Rasyid tahu, dia akan salah paham.” Sebuah balasan ku kirim kepadanya.
Terlihat, Rasyid sedang fokus menyetir.
“Aku masih ada disini, masih dengan perasaan ku yang dahulu, tak berubah dan tak pernah berbeda. Aku juga masih yakin, jika kamu mempunyai perasan yang sama.”
Kali ini, dia mengunggah sebuah story wa, dengan sebuah foto jalanan yang baru saja di abadikan lewat ponsel canggihnya.
Entah. Entahlah, ada yang mengalir hangat di kedua pipiku. Cepat-cepat ku seka buliran air mata tersebut. Tuhan, jangan biarkan aku bermain dengan perasaan yang tak seharunya ku rasakan saat ini.
“Oh, ya, Ki. Sepulang dari Jepang kamu harus nikah lah. Masa tinggal kamu saja yang belum nikah satu angkatan.”
Rasyid memecah keheningan diantara kami bertiga.
“Angkatan apaan Ndan? Saya bukan Tentara.” Tukasnya, di sertai tertawa gelak-gelak.
“Yo nggak gitu tho. Kamu kan juga sudah janji sama saya , kalau saya nikah. Kamu akan nyusul cepet-cepet.”
Pengelana melepaskan tawanya, terdengar sedikit tertekan. Entah hanya perasaanku atau bagaimana.”Belum ada calonnya, Ndan?”
“Lho… bukannya kamu sempat bilang sama saya, jika kamu sudah ada calon. Apa? Kalian putus?”
Beberapa detik, Pengelana terlihat melempar pandangannya kearahku lewat kaca spion. “Diambil orang.”
“Pasti kamu kurang gerak cepat, Ki.” Seloroh Rasyid yang di akhiri dengan tertawa lepas.
“Dek… kamu cariin jodoh nih buat sahabat, Mas. Kasian nanti dia jadi bujang lapuk.”
Spontan, aku menggeleng, “nggak ada.”
Astaga, seharusnya aku tidak menjawab pertanyaan itu dengan suara ketus. Itu akan memperlihatkan, jika aku…. Ah, sepertinya tidak etis jika aku sebutkan kalimatnya.
“Yasudah tho Ki, kalau memang dia sudah jadi milik orang lain. Itu artinya kalian memang dipertemukan bukan untuk menjadi jodoh. Tapi, hanya untuk mengambil pelajaran dari masing-masing diri kalian.” Lagi-lagi, Rasyid mencoba untuk mencairkan suasana.
“Dia diambil secara paksa, Ndan?”
“Secara paksa gimana maksud kamu?”
“Entahlah… tapi saya yakin, jika dia tidak pernah mencintai suaminya. Itu terlihat jelas dari sorot matanya.” Sesekali, Pengelana curi-curi pandang lewat kaca spion. Membuatku sedikit risih dibuatnya.
Kini Rasyid membisu. Terlihat dia lebih fokus kepada kemudinya.
******
Airmata yang meluruhkan rasa tentang kehilangan yang begitu dalam. Isakku semakin menjadi. Memori tentang perkenalan awal hingga di perjalanan menuju bandara beberapa waktu tadi. Semakin melesat di kepala, lalu lalang membuat hatiku kian terasa remuk.
“Pengelana…” kataku lirih, nyaris tak terdengar oleh Rasyid yang berdiri tepat disampingku. Kami melambaikan tangan masing-masing, ketika melihat Pengelana mulai menghilang ditengah kerumunan para penumpang yang hendak boarding pass.
“Kamu kenapa Dek?” telisik Rasyid kepadaku. Mungkin dia menaruh kecurigaan antara aku dan Pengelana.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Sekonyong-konyong tanpa ku sadari, aku telah tenggelam didalam pelukan Rasyid.
Rasyid mengelus jilbabku, sesekali, dia mengecup keningku. Hingga aku merasa sedikit tenang.
“Cerita sama Mas. Apa yang sebenarnya terjadi?” lagi, Rasyid sepertinya benar-benar menaruh curiga kepadaku.
Aku menggeleng, ada yang menyumpal dalam tenggorokan.
Sebuah pelukan hangat menghampiriku lagi, elusan lembut di bahu tampak berusaha membuatku tenang. Tapi, sekali jatuh ke jurang kenangan, sulit rasanya untuk bangkit lagi.
“Aku perempuan egois, terlalu peduli dengan patah hati, tapi tak menangkap sinyal yang Mas kirim untukku.”
Lelaki yang kini berusaha meredakan luapan emosiku terus menyimak. Dia masih belum komentar.
“Mas berkali-kali menunjukkan rasa peduli dan sayang terhadapa Ayu? Tapi Ayu…?”
Suasa hening, hanya terdengar suara hiruk-pikuk orang yang berlalu lalang melintasi kami, yang masih berada di sekitaran bandara Soekarno Hatta.
“Maafkan Ayu. Tidak seharusnya Ayu bersikap cuek sama Mas Rasyid. Mas Rasyid berhak atas Ayu.”
Lelaki berparas biasa saja dengan kulit hitam manis itu masih memperhatikanku dengan kedua bola matanya. Ada aura yang seketika membuatku nyaman, percaya kepadanya. Kemeja birunya semakin memancarkan kebaikan hatinya, memberikan kesan damai.
Aku menutup mataku, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Berusaha meredakan semua amarah karena luka yang terlalu parah.
“Kita pulang…”
*****
Sepanjang perjalananku pulang dari bandara. Kami berdua diam seribu bahasa. Rasyid tak berani bertanya perihal kenapa aku sampai sehisteris itu saat Pengelana pergi.
Sesampai dirumah hijau, Rasyid tiba-tiba keluar dari mobil tanpa menungguku keluar dari mobil tersebut.
Sementara aku yang mulai bisa menguasai segala emosiku, terbaring di sofa coklat di ruangan serba hijau ini.
“Adek mau sarapan apa?” tanyanya lembut dan pelan, seolah meninabobokanku. Rasanya aku semakin enggan membuka mata. “Mau nasi goreng nggak?”
Aku kembali membuka mata. Menatap langit-langit ruangan yang putih. Semilir angin pagi dari jendela yang terbuka terasa membelai tubuhku.
“Mas?”
“Iya? Ada apa Dek?”
“Mas nggak marah sama Ayu?”
Aku mulai menangis lagi. Mengeluarkan semua sisa emosi yang sudah kupendam beberapa bulan ini. air mata meluncur, sederas bayangan masa lalu yang terus muncul di kepalaku.
Semua kenangan bersama Pengelana, saat dia berjanji akan selalu membuatku bahagia, saat dia berusaha menghiburku dengan segala kekonyolannya dan setiap lagu-lagu romantisnya yang dulu ku anggap entahlah. Hingga saat ia mengatakan jika akan berlayar bersama seseorang. Itu adalah hari patah hati yang begitu hebat bagiku. Walau kami bukan sepasang kekasih. Selama mengenal Pengelana aku mencoba untuk memendam rasa, rasa suka, sakit bahkan kecewa. Terlebih tentang Rosa.
“Adek harus tahu, Mas paling nggak bisa marah. Apalagi sama orang yang Mas sayang." selorohnya, lalu menganjur napas dan membuangnya berlahan. " Mas yang minta maaf, karena telah memaksakan kehendak untuk menikahimu. Jika saja Mas tahu, kamu dan Zaki mempunyai hubungan yang lebih dari sebatas kawan. Mas juga nggak akan memaksa Ibu untuk segera melamar kamu.”
Tangisku semakin hebat. Sesekali aku tersedu. Rasyid mencoba menenangkaku.
__ADS_1
“Ayu nggak ada hubungan apa-apa dengan Zaki. Kami hanya sebatas teman baik.”
Aku bahkan jujur kepada Rasyid, jika hubungan kami selama ini memang benar-benar hanya sebatas teman. Teman baik aku menyebutknya demikian.