PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
SIAPA NADIA?


__ADS_3

Kepulangan ibu disambut oleh para tetangga. Mereka datang berduyun-duyun. Membawa bungkusan-bungkusan. Mulai dari kue, hingga bahan makanan. Ada juga yang membawakan rumput untuk kambing-kambing almarhum ayah, yang berada dikandang belakang rumah.


Tetapi, adegan yang membuat pertahananku runtuh adalah saat ibu memeluk sebuah baju milik almarhum ayah.


“Maafkan ibu, Yah. Ibu janji, akan selalu setia sama Ayah. Ibu akan selalu merindukan Ayah. Dan akan selalu menjadga anak gadis kita dengan baik,” Kata ibu lirih. Menegngelamkan baju milik almarhum ayah ke dalam


dadanya. Airmatanya bercucuran deras.


Aku ingin sekali memeluknya. Tetapi, kalau aku melakukan itu, aku yang tidak akan berhenti menangis. Jadi, aku diam-diam menyelinap ke dapur.


Hari berikutnya, dan berikutnya. Masih ada saja tetangga yang datang ke rumah. Mendoakan, memberi semangat. Membawakan rumput. Kadang mereka sekedar mengabarkan kondisi ibu, sebagian menemani ibu agar tidak


terlalu tenggelam dalam lembah kesedihan.


Hari telah berganti, hampir tiga minggu aku dirumah. Aku mulai mengatur kegiatan. Bangun pagi tetap. Jadwal menulis dini hari tidak berubah. Bersih-bersih, memasak, mencuci dan bergantian melayani kebutuhan ibu. Masalah rumput kambing-kambing, aku memilih untuk membeli kepada tetangga. Karena memang aku tidak bisa mencari rumput.


****


Lima belas hari berlalu.


Ibu mulai merayap pelan ke kamar mandi dengan pegangan dinding.


****


“Lagu siapa itu?”


Aku sedang memasak, dan memutar lagu-lagu rekaman Pengelana ketika Daffa melongok dari jendela dapur.


“Kaya bukan penyanyi aslinya.”


“Memang bukan,” jawabku. Sambil memasukkan potongan-potongan singkong ke dalam panci. Ibu ingin makan kolak singkong. Jadi, aku minta bantuan Daffa untuk mengambil singkong di kebun.


“Dia penyanyi juga?”


“Siapa yang kamu maksud?”tanyaku. kali ini sambil memeras santa.


Daffa tertawa. “Harus kuperjelas, ya?”


Aku tertawa.


“Nggak hanya sekali ini lho, aku lewat kamu muter lagu-lagu itu. Dulu-dulu kamu biasanya suka muter radio.” Kata Daffa.


“Halah, gitu aja di bahas. Musim aja berganti. Perkara muter lagu atau radio bisa berubah, kan?” aku memasukkan sehelai daun pandan yang sudah kuikat ke dalam panci, kemudian menutupnya lagi.


“Apa namanya coba? Ada lagu penyanyi-penyanyi asli, tapi kamu milih dinyanyiin satu orang dan menjadi daftar putar?”


“Terserah kamu menamai apa.”


Daffa tertawa.


“Gimana si Rasyid, sudah menghubungi belum?”


Tanganku yang terulur hendak mengambil toples berhanti di udara. “Kok jadi ngomongin Rasyid?”


Daffa tertawa lagi. “Kan dia minta nomor hpmu. Siapa tahu ibunya kangen kamu.”


Aku mengambil bungkil kelapa dan kulempar ke Daffa. “Kamu tuh yang punya hutang cerita, ayo cerita!”


Daffa tidak menjawab apapun, dia justru pergi. Dan tak lama kemudian terdengar suara sudah diruang tamu, bercakap dengan ibu. Mereka membicarakan rencana penanaman benih-benih cabe yang seharusnya sudah lama


ditanam.


Sejak pulang dari rumah sakit, Daffa kembali sibuk di kebunnya. Beberapa hari sekali ke kota mengantar hasil panen ke tengkulak. Sebenarnya Daffa orangnya ulet dan cerdas. Walaupun dia bukan seorang lulusan sarjana. Namun, tidak bisa dipungkiri jika ilmu yang dia punya bisa dibilang lebih dari seorang sarjana. Bahkan karena keuletannya, Daffa bisa memiliki segalanya di usia yang masih terbilang muda.


Jadi, yang kudengar dari dapur, karena ayah sudah tidak ada dan ibu masih sakit. Daffa yang akan menggarap ladang. Dengan sistem bagi hasil. Setelah cabe habis masanya, selanjutnya diserahkan ke Daffa mau ditanami


apa.


Aku membawa dua mangkuk kolak ŝingkong, keruang tamu. Tetapi, ternyata Daffa sudah pulang. Akupun membantu ibu mencari posisi yang tepat sebelum makan. Ibu bersandar di bantal tinggi. Kalau lelah, baru tiduran


di kasur yang datar. Masih berputar-putar kalau melakukan gerakan cepat. Jadi, semua serba perlahan. Cutiku hanya tinggal beberapa hari, ibu masih dalam kondisi yang tidak bisa aku tinggalkan. Galau, sudah tentu menyelimuti pikiranku. Bagaimana bisa aku meninggalkan ibu seorang diri nanti? Apa aku harus minta bantuan kepada ibu Daffa untuk menjaga ibu? Karena jika aku meminta bantuan kepada Bu Lek, sepertinya tidak mungkin. Karena Bu Lek tinggalnya di Jogja, belum lagi dia punya anak kecil yang masih sekolah SD.


Setelah ibu selesai makan kolak singkong. Aku mengambil rantang, mengisi dengan kolak dan mengantar ke rumah Daffa. Ini kebiasaan ibuku dan ibu Daffa. Saling antar makanan sejak kami kecil. Jadi, aku meneruskan saja


kebiasaan mereka ini.


Rumah kami saling membelakangi. Dipisahkan oleh ladang dan sawah. Aku lewat jalan setapak yang menyambung ke pematang lebar. Melintasi tumpukan jerami dan gerobak sorong, kemudian sampai di halaman belakang rumah


Daffa.

__ADS_1


“Kamu tuh gimana tho, Daff!” itu suara ibu Daffa.


“Apa kamu nggak kasihan sama, Mheta?”


Langkahku berhenti seketika, saat mendengar namaku disebut.


“Ibu hanya nggak bisa membayangkan, bagaimana Mheta kalau kamu tinggal.”


Daffa mau pergi kemana lagi?


“Ibu, aku bisa menjelaskan semuanya,” suara Daffa.


“Mheta itu kurang apa? Bisa-bisanya kamu malah memilih gadis lain.”


Gadis lain?


“Bu…”


“Ibu sama Bapakmu nggak pernah ngajarin kamu untuk menyakiti perempuan. Dari kecil, kami ngajarin kamu untuk menghormati perempuan. Untuk menjaga mereka. Siapapun itu, bisa-bisanya kamu ini?”


Apa yang terjadi pada Daffa? Dari nadanya, ibu Daffa terdengar emosi.


“Sekarang harus bagaimana? Harus bilang apa bapakmu sama orang tuanya Nadia?”


“Nadia? Nadia? Nadia siapa?” gerutuku lirih.


“Ibu, maaf. Nanti aku saja yang bicara pada mereka.”


“Terus Mheta, gimana?”


“Mheta nggak apa-apa. Dia punya seseorang yang bisa membuatnya bahagia.”


“Aduh, kalian ini giman tho? Ibu nggak paham. Mheta punya siapa?”


“Ibu, selama ini kami sudah menjadi apa yang orang-orang inginkan. Teman baik. Nggak pernah bertengkar. Aku yang selalu mengalah. Aku bahkan nggak pernah bilang tidak kepada Mheta. Meskipun aku ingin bilang tidak.


Karena aku menuruti ibu supaya nggak membuatnya sedih.”


Aku membungkam mulut, mendengar pengakuan Daffa. “Jadi selama ini dia, hanya… Ya Tuhan.”


Sejak kecil, Daffa yang dua tahun lima bulan lebih tua dari aku, memang begitu sabar kepadaku. Dengan tabah, menunggu jalanku yang masih tertatih meski dia sudah pandai berlari. Di masa kenak-kanak, Daffa juga rela


Segala keadaan dimasa kecilku, jika ibu sudah menyebut nama Daffa, semua berangsur menjadi baik. Begitulah kami tumbuh bersama. Aku dan dia, seperti kakak adik, beda keluarga. Di mana ada aku, pasti ada Daffa.


“Tetapi, sekarang kami sudah dewasa, Bu. Jarak memberi banyak pelajaran. Kami pernah salah paham hanya karena aku belum memahami jalan pikirannya. Pergi, bertemu orang baru, membuatku paham dengan pilihan-pilihan, Mheta.”


“Ya Allah, anakku lanang. Kamu ngomong apa tho, Daffa?”


“Maaf, Bu. Kalau Mheta menyukai orang lain. Asal orang itu baik, kita harus mendukungnya. Kita harus membiarkannya bahagia. Meski dari kecil kami bersama, bukan berarti kami harus menikah ‘kan? Jangan memaksa dia.”


Tenggorokanku seakan disumpali sabut kelapa. Pandanganku mengabur, ada yang mengambang dari kedua sisi mataku.


“Duh Gusti…”


“Aku dan Nadia belum punya kesepakatan untuk apapun, kami baru berkenalan. Dia seorang Mahasiswi di sebuah kota di Korea, Bu.”


Nadia? Jadi benar, Daffa ingin bercerita semua? Tetapi masih ditahan? Dia selalu menghindar tiap aku menagih cerita perihal di Korea.


“Ibu nggak ngerti jalan pikiranmu. Tapi, ibu nggak mau kamu nyakiti anak orang. Siapapun itu. Mheta atau Nadia-Nadia itu. Jangan sampai ada diantara mereka yang kamu sakiti. Bapak sama Ibu nggak pernah ngararin gitu.”


“Nggih, Bu. Terimakasih.”


“Itulah kenapa dari dulu, Ibu minta kamu itu bicara baik-baik sama Mheta. Gimana kalian ke depannya. Eh… malah bertengkar. Dan kamu ya, bukannya minta maaf sama Mheta, tapi malah lari ke Korea.”


Oh Tuhan.


“Tapi kan ada hikmahnya, Bu. Aku jadi lebih memahaminya.”


Aku mematung lama dibelakang rumah Daffa. Bahkan setelah mereka tidak terdengar bicara lagi.


“Jadi, namanya Nadia?”


“Jadi itu yang dibilang Daaffa pelajaran berharga yang ditemuinya di Korea? Nadia?”


Aku menghirup udara banyak-banyak, kemudian kembali melangkah ke halaman depan. Daffa di luar. Menghaluskan potongan-potongan bambu untuk lanjaran.


“Bibi, mana?” aku bicara senormal mungkin.


“Pergi barusan.”

__ADS_1


“Kolak, nih!”


“Taruh aja didapur.”


Aku sudah terbiasa keluar masuk rumah ini dari kecil. Meskipun aku jarang kesini. Setelah menaruh rantang, aku kembali ke teras dan duduk di kursi kayu.


“Jadi, namanya Nadia?” aku tidak menyangka kalimat itu meluncur dengan mulus dari bibirku.


Seketika Daffa menghentikan gerakan tangannya, dia menaruh sabit dan menoleh padaku. “Kamu nguping?”


“Nggak sengaja dengar.”


Daffa terlihat menghela napas.


“Gimana ceritanya?”


“Seperti yang kamu dengar.” Dia kembali mengambil potongan bambu dan menghaluskan sisi-sisinya yang tajam.


“Kamu… menyukainya?” agak ragu aku bertanya begitu, tetapi aku ingin tahu.


Daffa kembali menaruh sabitnya. Dia menatapku, “menurutmu?”


Oh Tuhan… mungkin benar, Daffa menyukai Nadia. Aku tidak tahu, apakah ini jawaban yang ingin aku dengar atau sebaliknya.


“—ya… nggak apa-apa. Itu kan hak kamu.” Aku tersenyum.


Daffa mengangguk. Mengangkat sabit dan menyisir ruas-ruas bambu yang kasar.


“Daffa,” kataku. “Selama ini kamu nggak pernah menyebut satu pun nama perempuan. Yang ini pasti istimewa.”


Ya, selama ini Daffa memang tidak pernah sekali pun cerita tentang teman perempuannya. Aku belum pernah mendengarnya, terkecuali tentang Nadia.


“Kamu sudah dengar apa yang kami bicarakan, tadi?” tanya Daffa.


“Jadi benar, apa yang selama ini kamu lakukan padaku, adalah tuntutan Bibi?” aku balik bertanya.


“Mheta, aku hanya ingin bilang pada ibu, bahwa kamu berhak melakukan apapun dalam hidupmu. Berhak memilih dan memutuskan akan menjalani hidupmu bagaimana dan dengan siapa.”


Aku tidak menjawab.


“Orang satu kampung tahu, bagaimana kita kecil. Bagaimana kita tumbuh bersama. Bagaimana kedekataan keluarga kita.”


Ya, apa yang dikatakan Daffa benar. Bahkan seringkali saat lebaran, atau ada yang menikah, orang-orang selalu bercanda kapan giliran kami. Meski aku dan Daffa tidak pernah membahasnya. Namuan, ternyata diam-diam,


seperti yang kudengar tadi, bahkan ibu Daffa berharap itu.


“Tapi….” Daffa menyambung kalimatnya, “kalau memang kita nggak punya masadepan, kita tetap bisa berdampingan sebagai rakan, sahabat, tetangga, teman masa kecil…sebab kamu berhak untuk bahagia.”


Mendengar semua itu, aku seoalah menemukan kembali Daffa yang hilang. Percakapan ini sangat jauh berbeda dengan perdebatan di teras rumahku tempo waktu. Pelan-pelan aku merasa ada yang mengambang di mataku.


Seperti apa gadis bernama Nadia itu? Sebaik apa? Apakah Daffa benar-benar jatuh hati padanya? Dalam pandangan pertamakah? Apa mereka akan bahagia? Apakah Daffa akan pergi dari sini untuk ke Korea lagi, dan menemui gadis itu?


“Ceritakan tentang, Nadia.”


“Aku nggak pandai cerita sepertimu.”


“Gimana pertemuan pertama kalian? Apakah kamu langsung menyukainya atau gimana? Ya, cerita semacam itulah. Gimana?”


“Sudahlah nggak usah dibahas.”


“Nggak adil. Curang!”


“Aku hanya nggak mau membahas,” Daffa berdiri, menyarungkan sabit ditempatnya. Kemudian membungkuk mengumpulkan potongan-potongan lanjaran.


“Jadi, Nadia orang mana? Terus kamu akan bicara apa ke Bapaknya Nadia? Akan melamarnya gitukah?” sejujurnya aku masih penasaran..


“Sudahlah, pulang sana. Nanti dicari bibi.”


“Kamu selalu gitu, cerita belum selesai udah ngusir.”


“Aku mau pasang lanjaran, diladang kamu.”


Daffa pergi begitu saja, menyeberangi halaman, berbelok ke pematang lebar dan menuju ladangku, yang ditanamani kacang panjang. “Mheta…” Daffa berteriak.


Aku menoleh menghentikan langkah yang sudah beberapa kali ku ayunkan, “apa!”


“Rasyid baik untuk kamu…”


Kenapa dia membahas Rasyid lagi? Aku saja sudah lupa bagaimana wajah pemuda yang berperawakan tinggi besar itu.

__ADS_1


Aku berjalan pulang, dengan pikiran masih tentang Nadia yang memenuhi kepalaku.


__ADS_2