
Hari-hari berlalu dengan cepat, Tama yang tetap disibukkan dengan pekerjaannya karena Allen masih menghilang tanpa kabar, sedangkan Carissa sibuk melakukan persiapan untuk mengisi gedung yang sudah ia dapatkan guna usahanya.
Suami istri itu hanya bisa bertemu saat sarapan pagi dan juga tengah malam saat Tama pulang dari lemburnya. Tama sering tak tega meminta jatahnya karena melihat istrinya yang begitu kelelahan. Jadi sebisa mungkin ia menahan diri dan terlelap sambil memeluk istrinya.
Hari Sabtu, Tama gunakan untuk menemani istrinya berjalan-jalan mencari-cari kain yang di inginkan, Carissa ingin membuat contoh model saat di rumah terlebih dahulu, lalu sore harinya ia akan mengunjungi papa mertuanya dan juga tante Siska. Sedangkan hari Minggu, Tama gunakan untuk bersantai di rumah bersama istri tercintanya. Rutinitas itu tanpa terasa telah mereka lalui selama satu bulan.
“Bagaimana menurutmu, Mas?” Carissa menunjukkan desain baju yang baru saja ia gambar.
“Cantik. Cantik sekali.”
“Bisa serius sedikit aja, Mas?” protes Carissa.
“Apa yang salah, Sayang?”
“Aku memintamu memberikan tanggapan tentang gambarku, kan.”
“Dan aku sudah memberikan tanggapan dengan berkata jika itu cantik.”
“Iya, tapi kamu tidak melihat gambarku, Mas, tapi wajahku!”
Tama terkekeh, “Karena memang kamu yang paling cantik, Sayang. Sekarang, lepaskan itu.”
“Awww! Apa yang kamu lakukan, Mas?” ia terkejut saat suaminya merebut buku sketsanya dan melemparkannya ke lantai. Lalu laki-laki tampan itu membawa Carissa kedalam pelukannya sambil berbaring di atas kasur yang empuk.
“Ini masih terlalu dini untuk tidur siang, Mas.”
__ADS_1
“Aku hanya ingin memelukmu saja. Hari-hari kita selama ini selalu dipenuhi dengan kesibukan dan kegiatan yang menyita waktu. Kali ini aku ingin kita meluangkan waktu untuk masing-masing.”
“Pekerjaanmu masih sangat banyak, ya?”
“Paling tidak sebelum Allen pulang, maka jawabannya adalah ‘Ya’.”
“Kak Allen belum ada kabar? Bagaimana jika kita lapor polisi saja, Mas? Sudah satu bulan lebih Kak Allen menghilang. Aku takut jika ternyata Kak Allen sedang tidak berlibur.”
“Jangan khawatir, aku tahu dimana ia berada sekarang.”
“Hah? Mas tau? Dimana?”
“Saat ini dia sedang berada di Yogyakarta. Dia ingin kabur, tapi masih menggunakan fasilitas kantor dan masuk ke hotel milik Syahreza Group, tentu saja dengan mudah aku mengetahuinya.”
“Biarkan saja. Aku tahu jika dia sudah bekerja keras saat masa cutiku. Allen sudah cukup menderita bekerja dibawah tekananku. Jadi kali ini, akan kubiarkan.”
Carissa menatap suaminya dengan mata yang berbinar-binar, “Ada apa?” tanya Tama heran.
“Tidak. Hanya saja saat ini sekali lagi aku jatuh cinta padamu, Mas.”
“Hanya dengan hal itu bisa membuatmu jatuh cinta lagi? Apa aku harus sering-sering meliburkan Allen seperti ini, hm?”
“Jangan. Nanti kamu sendiri yang kesusahan.”
“Senangnya diperhatikan sama istri tercinta.”
__ADS_1
“Itu harus, dong.” Jawab Carissa dengan cepat.
“Ini sudah siang, mau makan siang sekarang?” Tama menawarkan.
“Boleh, makan di balkon aja gimana?”
“Ide bagus. Mau makan apa?”
“Terserah Mas aja.”
Tama berdiri dan berjalan keluar, setelah beberapa saat ia kembali lagi masuk kedalam kamar membawa dua orange jus dingin. “Makanannya sebentar lagi akan di antar.”
Carissa dan Tama memutuskan untuk menunggu di balkon sambil menikmati pemandangan, setelah 30 menit berlalu, pelayan meminta izin untuk masuk kedalam kamar dan mengantarkan makanan yang sudah dipesan Tama.
“Udang tepung mentega, bistik sapi mentega, dan juga capcai seafood. Tak lupa, dua piring nasi.” Ucap pelayan dengan ramah.
“Terima kasih.” Jawab Carissa tak kalah ramah. Pelayan itu lalu berpamitan untuk keluar.
“Tumben kamu memesan makanan berat seperti ini, Mas? Biasanya cukup menu olahan daging ayam untuk makan siang.”
“Ingin saja. Entah kenapa tiba-tiba ingin makanan dari seafood ataupun daging sapi.”
Carissa mengambilkan lauk untuk suaminya, lalu untuk dirinya sendiri. Saat ia sudah menyuapkan nasi dan udang tepung mentega kedalam mulutnya, tiba-tiba saja perutnya memberontak dan terasa sangat mual. Bahkan perempuan cantik itu tak mampu untuk sekedar mengunyah karena rasa mual yang begitu kuat.
“Huek!”
__ADS_1