PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 99


__ADS_3

“Jangan menjadikan hal itu sebagai alasan, Amel. Di zaman sekarang, hubungan satu malam itu sering terjadi. Dan jangan kamu kira jika Kaka tidak tahu seperti apa hubunganmu dengan asisten pribadimu. Jadi, sebelum keluarga Syahreza menghancurkan kita lebih dalam lagi, sudahi obsesi gilamu itu.”


“Aku baru kali ini merasakan perasaan seperti ini, Kak. Tolong aku, Kak. Tolong aku.” Amelia menangis sambil memohon kepada kakaknya. “Tolong bun*h perempuan itu, Kak! Demi aku.”


“Cukup, Amelia!!! Harusnya kamu bersyukur bisa terhindar dari hukuman jeruji besi.”


“Ba-baiklah, Kak. Maafkan aku.” Amelia kembali tenang karena ia merasa akan rugi jika terus melawan kakaknya.


Pradipta pamit untuk ke toilet sebentar, tanpa ia sadari jika Amelia dengan buru-buru menghubungi Kris menggunakan handphone yang ia tinggalkan di atas meja, Amelia meminta asisten pribadinya itu untuk datang menemuinya. Setelah menghubungi Kris, Amelia buru-buru menghapus history panggilan saat Pradipta terlihat akan keluar dari toilet.


“Kalau begitu, aku akan kembali ke Jakarta. Bisnis kita sedang kacau balau akibat ulahmu. Seminggu lagi aku akan mengunjungimu lagi. Jadi, tetaplah tenang di sini. Ingat, kamu masih terus di pantau oleh kepolisian setempat.”


Beberapa hari kemudian, Kris Danu berhasil menyusup ke rumah sakit berkat bantuan seorang perawat, dia menyuapnya dengan sejumlah uang. Kris menggunakan baju perawat dan memakai masker agar tidak ada yang bisa mengenalinya, lalu masuk kedalam kamar Amelia.


“Nona Amelia.”

__ADS_1


“Kamu sudah datang, Kris? Apa yang membuatmu begitu lama untuk menemuiku?”


“Maafkan saya, Nona. Saya harus mencari cara agar bisa masuk ke sini tanpa melalui penjagaan.” Kris mendekati Amelia yang sedang menatap keluar, menembus gelapnya malam melalui jendela kamarnya. “Apa yang harus saya lakukan, Nona?”


“Bawa aku keluar dari sini. Aku harus segera merebut Tama dari tangan perempuan jal*ng itu.”


“Kalau begitu, tunggu sebentar, Nona.” Kris keluar untuk menemui seseorang, lalu ia kembali masuk kedalam kamar Amelia setelah beberapa saat. Kris memberikan baju perawat perempuan untuk Amelia pakai. Di tengah malam, penjagaan mulai lemah, jadi mereka berdua bisa leluasa melenggang pergi melewati jalur belakang tanpa adanya pengawasan.


Keesokan paginya, Pradipta di kejutkan oleh kabar yang mengatakan jika Amelia telah menghilang. Pihak rumah sakit bahkan mengirimkan rekaman CCTV dan memperlihatkan seorang laki-laki yang masuk dan membawa pergi Amelia.


“Kris!!! Berani-beraninya kamu!” Pradipta langsung mengenali sosok itu.


***


Seperti yang di harapkan, kedua belah pihak keluarga berbahagia mendengar kabar jika saat ini Carissa sedang hamil. Apalagi Tama dan Carissa sama-sama merupakan anak tunggal di dalam keluarganya. Bagas bahkan sampai menangis haru saat ia memberi tahu papanya secara langsung tentang janin yang ia kandung, betapa bahagianya Bagas, ia sudah tidak sabar akan menjadi seorang kakek.

__ADS_1


Seperti yang Tama lakukan, Bagas bersikap berlebihan. Sampai-sampai ia meminta Tama dan Carissa untuk pindah ke rumahnya agar Siska bisa membantu Carissa saat Tama sedang bekerja, namun dengan halus Carissa menolaknya. Ia ingin merasakan kehamilannya bersama dengan Tama agar bisa lebih memaknai momen-momen di mana mereka akan segera menjadi orang tua.


Mega telah memberi kabar dan sudah menjadwalkan kepulangannya ke Indonesia satu bulan lagi, kali ini ia akan pulang bersama dengan nenek Lita. Ayah Tama saat ini dalam kondisi stabil, jadi kali ini ia akan pulang untuk memberikan dukungan kepada menantunya dan calon cucunya. Dan kebetulan ada undangan dari keluarga belah ayah Tama yang berada di Lombok.


“Tak pernah kuduga sebelumnya, Mas. Ternyata semangat yang berlebihan bisa membuat lelah seperti ini.” Carissa memulai obrolannya saat ia dan suaminya sudah siap untuk tidur malam.


“Mau bagaimana lagi? Dia kan calon cucu pertama di kedua belah keluarga.” Tama mengusap perut datar Carissa dengan lembut.


“Tapi semangat mereka luar biasa, Mas. Melebihi kebahagiaan kita kurasa.”


“Maklum saja, namanya juga cucu. Dulu nenek juga seperti itu, apa yang ku mau pasti akan di turuti, setelah punya cucu, dialah yang nomor satu, anak jadi nomor dua. Nanti jangan cemburu ya jika bukan kamu lagi yang di utamakan.”


Carissa memeluk suaminya dengan erat, “Aku tak akan cemburu dengan itu, yang penting bagiku, aku tetap nomor satu di hatimu.”


“Tentu saja kamu nomor satuku, Sayang?”

__ADS_1


“Benarkah? Kamu yakin?”


“Emmm . . . kita lihat saja nanti. Sudah malam, ayo kita istirahat.” Tama menyelimuti Carissa dengan selimut tebal, dan tertidur dengan damai sambil memeluk istrinya.


__ADS_2