PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

“Nduk, sudah siap?” Ucap Ibu yang tengah berdiri disebalahku, lalu sekoyong-konyong memeluk tubuhku.


“Bu… terimakasih banyak, karena selama ini telah membimbing, Mheta.” Tukasku, tanpa terasa aku menitikkan air mata.


“Iya, itu semua sudah kewajiban Ibu. Jangan nangis gitu, nanti luntur makeup mu. Oh ya, dulu Almarhum Ayah kamu sempat berpesan kepada Ibu. Kamu, harus jadi istri shalihah untuk suamimu. Karena, setelah melepas


masa lajangmu. Maka semua tanggung jawab Ibu serta Almarhum Ayahmu otomatis berpindah pada suamimu. Jadi, Ibu harap kamu bisa berbakti kepada suamimu.” Terang Ibu, kata-katanya membuatku semakin terhanyut dalam lembah kerinduan kepada sosok Almarhum Ayah.


Harusnya, saat ini yang memelukku bukan hanya Ibu, namun juga Ayah. Bahkan, aku masih memimpikan, jika yang akan menjadi wali nikahku adalah Ayah. Bukan Pak De. Namun, kembali lagi kepada rencana. Rencana termanis yang dirangkai tidak akan ada guna, jika sang Empunya hidup tidak Meridhoi.


“Mbak Yu, pengantin pria dan penghulu sudah siap.” Bu lek Titin berseru, sembari masuk kedalam ruangan yang memang telah disediakan untukku.


“Oh, yasudah, Bismillah ya Nduk. Kita tunggu disini sampai acara akad selesai,” tukas Ibu sembari menenangkanku.


Kalian tahu… bagaimana perasaanku yang sebenarnya saat ini? Aku merasa sedang bermain dalam sebuah film, yang semuanya sudah di setting sedemikian rupa oleh sang sutradara. Sedang pikiranku? Masih jauh melanglang


buana entah kemana. Apakah aku sedang memikirkan Daffa atau Pengelana? Tentu saja keduanya. Mungkin kalian menganggapku tamak. Ya, itu terserah kalian. Karena, memang itu adanya.


Aku memikirkan Daffa bukan karena tahu perasaanya. Bukan, karena bukan sekedar dia yang mempunyai perasaan itu. Sebab, aku pernah menjadi makhluk yang berantakan disebabkan oleh teman kecilku tersebut. Namun, kali ini yang aku pikirkan adalah, tentang dia yang tidak hadir ke acara pesta pernikahanku dengan Rasyid. Dia adalah sahabat terbaikku, aku baru menyadiri itu beberapa hari kebelakang. Bagaimana dia saat ini? apa yang dilakukannya di Negera orang? Entahlah. Semoga dia selalu baik-baik saja. setelah acara ini selesai, aku


berniat untuk menghubunginya.


Sedangkan Pengelana. Lelaki yang membuat separuh waktuku terbuang sia-sia hanya untuk sekedar mencari tahu tentangnya, menatapi sebuah botol bekas mizone yang pernah di sodorkannya padaku. Membuatku sedikit gila,


entah saat ini kemana dia? Bahkan yang aku pikirkan adalah, darimana dia tahu jika aku akan menikah dengan Rasyid.


****


“Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Andira Binti Almarhum Muhammad Abdul Lathif dengan mas kawin dua puluh delapan juta tujuh ratus dua ribu sepuluh rupiah beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Terdengar


suara Rasyid membaca ijab dan qabul dengan begitu lantang dan lancar. Seketika ada yang menyumbat dibagian tengah dadaku.

__ADS_1


Kini, statusku benar-benar telah berubah. aku bukan lagi Mheta yang masih lajang, yang bisa seenaknya sendiri mengambil keputusan dalam hal apapun. Dan yang paling menyesakkan dadaku, aku telah sah menjadi seorang


istri dari pemuda bernama Dony Al Rasyid. Pemuda yang tak pernah ku sangka-sangka akan menjadi seorang imam serta nahkoda di sebuah rumah mungil yang akan kutempati setelah ini.


“Sah…” terdengar suara dari para saksi serempak.


Aku segera keluar dari tempat persembunyian dengan memakai gaun berwarna putih di dampingi oleh Ibu dan Bu Lek Titin.


Ketika mata saling bertemu, Rasyid menatapku dengan tersipu. Tidak sepertiku, rasanya ingin sekali menerkam pemuda yang telah sah menjadi suamiku tersebut. Lalu, menjambak rabutnya yang botak, melemparkannya keluar gedung. “Sial sekali aku menikah denganmu!” monologku dalam hati.


Akupun terpaksa mencium punggung tangan lelaki tersebut, yang telah sah menjadi suamiku. Tak seperti acara pernikahan yang selalu kuhadiri. Rasyid tidak berani mencium keningku. Mungkin karena dia canggung, sebab kami sebenarnya tidak saling akrab.


Beberapa saat kemudian, aku dan Rasyid berganti gaun untuk acara resepsi pedang pora. Sebuah prosesi upacara adat dalam pernikahan seorang TNI dengan pangkat Perwira.


Aku dan Rasyid keluar ruangan dengan bergandengan tangan, menyusuri karpet berwarna merah dan melewati satu persatu pedang pora disertai alunan musik instrumen dari para Perwira.


 Acara ini adalah perkenalan untukku, bahwa aku akan memasuki kehidupan baru bersama seorang Rasyid


yang berprofesi sebagai Abdi Negara. Kemudian, dilanjutkan dengan pembentukan formasi pedang pora seperti payung diatas kepalaku dan Rasyid, oleh semua tim pedang pora. Lalu, diakhiri oleh penyerahan baju persit secara simbolis oleh Ibu ketua persit beserta lencana, menandakan jika aku telah resmi menjadi bagian dari keluarga persit.


Begitu banyak tamu undangan, hingga aku merasa sedikit kelelahan menyalaminya. Namun, rasa lelah yang menggelayutiku, seketika pudar. Ketika ku lihat sosok yang tak asing dari kejauhan.


Aku mengamatinya yang berjalan dengan kepala tertunduk, memakai kemeja berwarna biru.


“Benarkah itu dia? Tapi rasanya tidak mungkin…” gumamku.


Sesekali aku melihat kearah Rasyid, bahkan lelaki yang berdiri disampingku, kini melambaikan tangan ke arah pemuda berkemeja biru.


“Permainan macam apa ini? apa aku salah lihat? Bukankah semalam aku sudah ristirahat dengan cukup? Tapi kenapa kedua bola mataku masih saja membayangkan pria itu?” batinku bergolak.


“Bro… lama banget, kemarin saya sudah menjemputmu di kontrakan. Tapi malah nggak ada. Katanya kamu pulang kampung?” Seloroh Rasyid kepada pemuda yang kini telah berdiri dihadapan kami berdua.

__ADS_1


Terlihat, dari tatapan mereka, sepertinya kedua pemuda itu sudah saling mengenal jauh sebelum Rasyid akan menikahiku. Sangat terlihat jelas.


“Iya maaf, Ndan… Saya pulang kampung, soalnya lagi ada urusan.” Tukas pemuda itu, tatapannya kini beralih padaku.


Ada yang begitu menghangat direlung hati. Bukan, bukan sekedar menghangat. Kali ini, aku benar-benar tidak bisa menahan tangis. Benteng pertahananku tumpah dihadapan Pengelana. Terlebih ketika dia menyalamiku. Mengucapkan selamat menempuh hidup baru.


Tuhan, lelocon macam apa ini? Mengapa Pengelana harus hadir diacara pernikahanku dengan Rasyid.


“Selamat ya Mbak… Semoga menjadi keluarga yang diberkahi Allah.” Selorohnya ketika ujung jemari kami saling bertemu.


Aku menutup mulut dengan kedua tanganku.


“Kamu kenapa, Dek?” Tanya Rasyid, menyentuh pundakku dengan begitu lembut.


Aku menatap lekat kedua mata Rasyid. Banyak sekali pertanyaan yang sebenarnya ingin ku layangkan kepadanya. Namun, segera ku urungkan niatku tersebut. Tak mungkin aku menanyakan perihal pemuda ber kemeja


biru, yang kini berjalan menjauhi tempat kami berdiri.


“Aku nggak apa-apa. Aku hanya terharu dengan kemeriahan pesta ini,” jawabku pura-pura tegar.


Terdengar ditengah kemeriahan pesta. Sebuah musik mengalun indah. Tapi, nampak jelas jika lagu itu dinyanyikan oleh seseorang dengan di aransemen ulang.


Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu…


Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu..


Karena langkah merapuh tanpa dirimu…


Ooh, karena hati tlah letih…


Aku mendengarkan dengan seksama lagu yang biasa ia nyanyikan ketika kami saling berbincang via telepon. Kini, tepat dihari bahagiaku, kata sebagian orang tentunya. Pengelana menyanyikan lagu Dealova. Dari kejauhan,

__ADS_1


sorot mata itu menatap tepat kearahku dan Rasyid berdiri.


“Lagu ini, saya nyanyikan spesial untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia di atas pelaminan. Semoga bahagia selalu menyertai sahabat saya dan juga istrinya. Jangan lupa, kasih saya keponakan yang lucu dan keren.” Selorohnya dari kejauhan, sebelum menuntaskan lagu Dealova.


__ADS_2