PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 105


__ADS_3

Carissa tiba-tiba menjadi mual saat baru saja menyendokkan makanan kedalam mulutnya. “Ada apa, Sayang?” Tama bertanya dengan khawatir.


“Aku ingin muntah, Mas. Tolong antar aku ke toilet.”


“Ada apa, Tama?” tanya Mega.


“Risa ingin muntah, Mam. Jadi aku akan mengantarkannya ke toilet sebentar.”


“Cepat, cepat, hati-hati.” Mega terlihat cemas.


Saat Carissa membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan pelayan yang membawa satu nampan minuman. Dan karena tabrakan itu, membuat gelas minuman yang berada di atas nampan terguling dan menyiram tubuh Carissa.


Beberapa perempuan berteriak karena terkejut saat gelas kaca pecah membentur lantai, “Apa yang kamu lakukan!” bentak Tama pada pelayan perempuan itu.


“Maafkan saya, Tuan.” Pelayan itu menundukkan kepalanya dan meminta maaf.


“Kamu hampir saja mencelakakan istriku karena pecahan gelas itu. Apa kamu buta, hah!” Tama meradang. Mega berdiri dan melihat apakah kaki Carissa terluka akibat pecahan kaca.

__ADS_1


“Cukup, Mas. Jangan mengacau di sini. Kita sedang di acara keluarga, jangan merusak kebahagiaan keluarga ini.” Carissa membantu ibu mertuanya untuk berdiri, “Risa tidak apa-apa, Mam. Jangan khawatir.”


“Kamu yakin, Sayang? Badanmu bahkan sekarang basah kuyup.” Cemas Mega.


Membalikkan tubuhnya dan dengan cemas, “Ma-maafkan saya. Karena kecerobohan saya, mengganggu acara keluarga ini.” Carissa memohon maaf terutama kepada calon pengantin pria dan orang tuanya yang juga terlihat cemas.


“Tak apa, Kak. Lebih baik Kakak sekarang cepat mengganti baju, takut masuk angin.” Ucap calon pengantin pria.


“Mohon maaf, lebih baik kami undur diri, Risa juga sedikit mual karena kelihatannya ada udang yang tercampur di makanannya, jadi sekarang Risa merasa kurang enak badan.” Jelas Tama.


“Apa? Ada udang? Bukannya tadi aku sudah berpesan kepada koki hotel ini?”


“Kalau begitu cepat kalian masuk ke kamar dan istirahat saja. Tama, jaga Risa baik-baik.”


“Baik, Mam.” Setelah Tama dan Carissa memohon maaf sekali lagi, mereka berpamitan untuk kembali ke kamar.


“Kamu baik-baik saja, Sayang?” tanya Tama untuk yang kesekian kali.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja, Mas. Aku juga sudah mandi dan berganti baju, jadi aku akan baik-baik saja.”


“Ada sesuatu yang ingin kamu makan? Kamu belum makan sama sekali malam ini.”


“Belum, Mas. Rasa mualku belum hilang. Jadi kurasa aku akan menunggu sebentar lagi sampai rasa mualnya berkurang, setelah itu aku akan memikirkan ingin makan apa.”


“Kemari.” Tama meminta Carissa menghampirinya dan menyuruhnya berbaring di sebelahnya.


“Aku akan membuat koki hotel ini dan pelayan tadi mendapatkan hukumannya.”


“Untuk apa, Mas? Kalau masalah makanan, bisa saja makananku tertukar karena terlalu banyaknya orang. Dan jika karena pelayan tadi, aku yang tidak hati-hati saat bergerak.” Carissa membawa tangan Tama dan meletakkannya di atas perutnya.


“Kenapa? Apa sakit?”


Carissa menggelengkan kepalanya, “Tidak. Hanya saja aku ingin mendengar hal-hal yang baik-baik saja selama aku mengandung. Aku ingin anak kita nanti lahir dengan berkat dan cinta dari orang-orang sekitarnya. Jadi, cobalah berbaik hati kepada orang lain mulai sekarang, jangan langsung menghakimi mereka tanpa alasan yang jelas. Hal yang terjadi tadi jelas bukan kesengajaan.”


Tama membuang napas beratnya, “Baiklah, karena apa yang kamu dengar, dia juga akan mendengarnya, maka aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang. Aku akan menjadi suami yang sempurna dan ayah yang berharga untuk anak kita.” Tama mengecup mesra kening istrinya.

__ADS_1


“Tidurlah sebentar untuk menghilangkan mualmu. Aku akan berjaga di sampingmu. Katakan padaku kapanpun kamu ingin makan sesuatu.”


Carissa mengangguk dengan perasaa bahagia, ia tertidur dalam pelukan hangat suami yang sangat di cintainya.


__ADS_2