PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
PAKET UNTUK IBU


__ADS_3

Tiga bulan berlalu dengan begitu cepat. Ibu sudah terlihat semakin membaik dan semakin segar. Perihal Pengelana, kami sudah tak lagi bertegur sapa di whatsapp maupun di akun media sosial yang lain. Namun,terkadang aku masih suka mencuri waktu hanya untuk sekedar mengintip akun-akunnya.


Terlihat dia masih suka mengunggah lagu-lagu di akun fb nya. Sebenarnya ingin sekali aku mengomentari setiap statusnya. Namun, demi menjaga kenyamanan Pengelana. Aku memilih untuk menahan keinginanku. Aku bukan sedang rindu dia, kan? Ya, aku bukan sedang rindu, aku hanya ingin menyapanya, hanya sekedar menyapanya. Bukan perihal yang lain.


 *****


Dimusim kemudian, Pengelana tengah mengunggah sebuah foto bersama seseorang di Instagram. Mereka memandang lautan. Aku takjub sekali, foto itu seolah menjadi lanjutan mimpiku tempo waktu.


Pengelana benar-benar berlayar dengan seseoarng, yang ternyata bukan Rosa. Melainkan seseorang yang lain, yang dia bilang padaku sebagai orang yang paling mengerti dirinya. Yang dimatanya, dia temukan telaga


kedamaian. Yang pada senyumnya, dia dapati kedamaian. Yang kepada hatinya, dia sebut rumah pulang.


Pengelana telah berlayar. Dan tentu saja aku bukanlah ombak yang akan menghantam-hantam perahunya. Aku pantai yang akan ikut bahagia saat memandang, dan diam-diam selalu mendoakan untuk kebahagiannya.


Dan pada akhirnya, foto profil di semua media sosial Pengelana bukan lagi berupa ransel hitam. Tetapi dua tangan dengan jari-jemari yang saling bertauatan. Ada sepasang cincin disana. Siapapun pasti tahu, apa artinya, bukan?


Aku tahu, cepat atau lambat ini semua akan terjadi. Pengelana pernah cerita perihal seseorang itu. Jadi, memang dia tidak serta-merta diam-diam atau tiba-tiba begitu. Dan, sekali lagi dia pernah bertanya padaku, apa aku tidak apa-apa? Aku bilang pada Pengelana bahwa aku akan baik-baik saja.


Detik ini pula, aku menyadari bahwa kadang, kutipan-kutipan bijak yang pernah aku baca lebih mudah diucapkan daripada dijalankan. Tetapi, bagaimana pun juga, jika kamu sungguh-sungguh menyayangi seseorang, kamu akan


ikut bahagia saat dia bahagia, meski kadang kau berusaha payah mengusir rasa nyeri yang tak terlihat. Percayalah, tidak ada kepedihan yang kekal. Waktu yang akan melapangkan semua.


*****


“Kalau nanti ada kiriman paket buat Ibu, tolong kamu terima. Kamu taruh dikamar, Ibu mau ke sawah sebentar, melihat tanaman cabe yang Daffa tanam.” Ibu berucap padaku.


Aku sedang menyetrika baju yang akan kupakai besok untuk menemui Pak Camat, “paket apa, Bu?”


“Terima saja, nanti kamu juga akan tahu, kalau Ibu sudah membukanya. Ibu pergi dulu, mumpung cuaca tidak begitu panas.”


“Iya, Bu…”


Setelah selelasi menyetrika baju yang besok akan kupakai ke kantor kecamatan Muntilan. Kini aku bergegas kemeja di ruang keluarga. Setumpuk buku yang baru dicetak bertumpuk didepanku. Lumayan banyak yang pesan. Ada rasa ingin memberi kabar kepada Pengelana. Jika, buku-buku puisi dan sajak tentangnya telah kucetak dan banyak yang suka. Namun, rasa ingin menghubunginya segera kutepis. Aku tidak mau mengganggu kebahagiaannya dengan pasangannya. Aku tidak ingin wanita itu salah paham atas pesanku kepada Pengelana. Biarlah, Pengelana akan tahu dengan sendirinya, cepat atau lambat.


*****


“Paket…”


Suara seseorang terdengar setengah berteriak dari arah depan rumah. Segera aku berjingkat dan berjalan membuka pintu.


Seorang bapak-bapak dengan memakai baju berwarna biru tua, tengah berdiri dengan kedua tangan membawa sebuah amplop coklat. Jika dilihat dari bungkusannya, sepertinya itu adalah sebuah buku yang lumayan tebal.


Akupun segera menerima paket atas nama ibuku tersebut. Setelah bertemakasih kepada bapak pengantar paket, aku segera melenggang ke kamar ibu. Menaruh paket itu diatas nakas. Ada rasa ingin tahu, apa yang sebenarnya


terbungkus didalam amplop  tersebut? Aku melihat nama pengirimnya atas nama ‘Ibu Srie Wahyuni.’


“Sejak kapan ibu punya teman atas nama ibu Srie Wahyuni? Apa semenjak aku di kota Malang?”


Aku menganjur napas panjang, masih melirik paket yang kutaruh diatas nakas.


“Mheta…” suara Daffa terdengar memanggilku dari luar rumah.


Aku berjalan kearah suara Daffa memanggil, “iya..ada apa?” kataku sembari berjalan.


“Mana bukunya?”


“Tuh, di ruang tengah.” Kataku setelah berdiri dihadapan Daffa.


“Jadi? Namanya Pengelana?”


Aku menahan napas. Daffa melepaskan topi kebunnya, duduk dikursi dan mengamati paket untuk Pengelana yang tidak jadi kukirimkan.


“Kamu boleh ambil satu, aku nyetak banyak, kok,” kataku menunjuk tumpukan buku.


“Nggak ah. Kan bukan tentangku?”


Aku berpaling dari buku dan amplop yang hendak kubungkus, menatapnya sejenak, “aku menulis untuk para pembaca, Daf..bukan untuk seseorang saja. Jadi, siapapum yang baca ya artinya untuknya.”


Sosok didepanku tidak menjawab. Aku kembali membungkusi buku-buku di meja.


“Dia sangat spesial, ya? Sampai kamu membuat buku tentangnya?”


Aku tersenyum, “nggak ada yang spesial, Daff.. semua buatku sama. Apalagi dia hanya teman baik, bukan siapa-siapa.”


“Yakin?”

__ADS_1


“Yakinlah… bagi pengarang, apapun yang lewat ya disamber saja untuk dijadikan tulisan.” Jawabku dengan tersenyum.


“Tapi dia sampai satu buku.”


“Sok tahu kamu.”


“Bibi kemana?”


“Lha, bukannya Ibu kesawah. Katanya ingin melihat hasil tanaman cabe kamu. Emang kamu nggak ketemu?”


“Nggak? Apa mungkin bibi lewat jalan lain ya? Kenapa kamu bolehin ke sawah, bibi kan baru sembuh?”


“Kamu tahu sendiri, kan? Ibu orangnya nggak bisa diem. Pengennya ke sawah terus. Bahkan kemarin saja dia sudah pengen nyari rumput untuk kambing-kambing almarhum ayah.”


“Terus kamu biarin?”


“Ya nggak lah… mana mungkin aku bolehin ibu nyari rumput. Aku udah bilang sama ibu, perihal makanan kambing, biar tetangga yang ngasih makan. Nanti biar aku yang ngasih uang ke tetangga sebagai upah.”


“Kamu emang anak baik, Mhet..”


Aku tertawa.


Seketika raut Daffa berubah. Sejak kutanya kapan dia akan ke Korea dulu, dia belum berangkat sampai kini. Dia bahkan selalu menghindari setiap kali kutanya tentang itu.


“Mau sampai kapan kamu menunda?” tanyaku, “jangan biarkan dia menunggu.”


“Maksudmu?”


“Nadia? Jangan biarkan dia menunggumu terlalu lama.”


“Aku tidak pernah membiarkan orang menunggu.”


“Maksudmu?” Aku menghentikan melipat amplop.


“Ya, gitu.”


“Ya, gitu gimana? Kamu dari dulu susah amat cerita tentang Nadia ke aku? Padahal kamu tanya banyak hal tentang Pengelana, dan aku jawab semua.” Sudah lama aku ingin mengomel kepada Daffa perihal ini. sekarang aku mendapat kesempatan.


“Karena tidak ada yang perlu diceritakan.”


“Nggak.”


“Ya terus apa? Kamu mbulet banget Daff, kalau ditanya. Menyebalkan, tahu nggak sih?” suaraku mulai meninggi. “kamu itu kalau suka sama orang ya mbok perjuangkan. Jangan hanya memberi harapan, tapi kamu gantung.


Kamu kan nggak pernah nyebut-nyebut nama cewek. Sekali nyebut nama Nadia, makanya kupikir itu pasti berarti banget buat kamu.”


Daffa diam.


“Pergilah,” kataku sambil merekat lem pada amplop.


“Aku akan pergi, setelah memastikan kamu baik-baik saja.”


Aku terperangah, “maksudmu apa?”


“Setelah memastikan kamu bahagia.”


“Astaga Daffa. Kamu fikir selama ini aku menderita?”


“Aku mengenalmu sejak baru lahir.”


Aku berkali-kali mendengar cerita kalau Daffa dikenalkan padaku sejak aku usia tiga hari. Sepulang ibu dari bidan. Konon, katanya ibu Daffa bilang, kalau aku harus dijaga, tidak boleh disatiki, tidak boleh dibuat menangis.


“Aku akan tetap disini sampai… setidaknya kamu menemukan penggantinya.” Daffa menatap tumpukan buku di depanku.


“Maksudmu…pengganti, Pengelana?” aku menatap lelaki didepanku. “Daffa, Pengelana teman baikku. Aku memanggilnya teman baik, di hatiku tidak pernah kemana-mana. Jadi, tidak ada yang bisa menggantikan. Aku


menerima takdir kami. Sebagai dua orang yang bertemu di perjalanan dan menjadi teman.” Aku diam sejenak. “seperti kamu, misalkan bersama Nadia ya kamu tetap temanku. Nggak lantas kita jadi musuh atau pura-pura tidak kenal, kan?”


“Bukan begitu.”


Aku menautkan alis. “lalu?”


“Bagaimana kalau kamu ta’aruf dengan Rasyid? Dia lelaki baik untukmu, Mhet…”


“Hah?!” aku terperajat, sampai-samapai menjatuhkan begitu saja kertas dan buku yang ku pegang. Bagaimana Daffa masih mengingat pemuda yang hanya sesaat kami jumpai di rumah sakit? Bahkan, aku saja sudah lupa

__ADS_1


wajahnya. Namanya saja sudah lupa, jika bukan Daffa yang mengingatkan barusan.


“Dia baik, shaleh Insya Allah, sayang orang tua, dan…” belum sempat Daffa melanjutkan kalimatnya aku segera memotongnya.


“Dan aku sudah lupa sama dia, bahkan aku nggak ada niatan sedikitpun untuk dekat sama dia.”


“Tapi, aku serius.”


“Ya Allah Daffa… kamu pikir aku apaan?”


Aku masih menatap Daffa tak mengerti. Lelaki itu justru kelihatan santai. “Dia beberapa kali menanyakanmu.”


“Kenapa kamu nggak bilang padaku?” aku melotot padanya, “apa saja yang kamu ceritakan tentangku padanya? Jadi, dirumah sakit kalian tukeran nomor hp?”


“Jangan nyolot.”


“Bukannya aku nyolot, tapi darimana dia tahu kalau bukan kalian tukeran nomor hp? Bukan dia katanya dinas di Jakarta?”


“Aku kan pernah bilang padamu, kalau dia sempat kerumah nenekku dan menanyakan perihal kamu.”


“Aku kira kamu hanya bergurau?”


“Jujur, kami memang tukeran nomor hp. Tapi, dia juga sempat mencari tahu tentangmu kepada nenekku.”


“Daffa… kalau kamu ingin mengejar Nadia, sudah sana pergi.Nggak usah peduliin aku. Pake acara nyuruh aku ta’aruf sama lelaki yang nggak aku kenal. Perihal sakit hatiku karena Pengelana, kamu tahu apa tentang kami?


Aku kecewa sama kamu.”


“Jadi kamu marah?”


“Aku nggak marah, aku hanya kecewa.”


******


Setelah pulang dari sawah, ibu segera membersihkan badan dan bergegas memunaikan sholat ashar.


Selepas menunaikan sholat, ibu terlihat sedang duduk dibibir dipan didalam kamra. Aku memerhatikannya sedang membuka bungkusan amplop berwarna coklat. Segera aku berjalan menuju ibu, karena penasaran dengan isi paket tersebut.


Sebuah berkas fotocopy.


“Berkas apa itu, Bu?”


“Sini duduk. Ibu pengen ngomong serius sama kamu."


Aku menautakan kedua alis, “Serius? Ngomong perihal apa?” aku mengambil posisi duduk berdampingan dengan ibu.


“Sudah hampir tiga bulan, ibu menunggu jawaban dari kamu.”


“Jawaban? Memang ibu pernah tanya apa?”


“Lha kok tanya apa? Masalah pernikahan. Kamu lupa?”


“Astaga, Ibu. Jadi, perihal perjodohan itu benar?”


“Ibu hanya ingin yang terbaik buat kamu, Nak.”


“Tapi, Bu? Siapa lelaki itu?”


Ibu menatap berkas yang dipegang dikedua tangannya, “kamu pelajari dulu semua ini, jika kamu sudah paham, kamu kasih jawaban sama lbu. Tapi, Ibu harap jawaban kamu akan membuat Ibu senang, Nak.”


“Berkas apa ini, Bu?”


“Pengajuan pernikahan.”


“Maksud Ibu? Mheta mau Ibu nikahin sama siapa? Kenapa harus ada surat pengajuannya? Terus, siapa Bu Hari Wicaksono?”


“Mheta… kamu ingin melihat Ibu bahagia, kan?”


Aku mengangguk. “iya.”


“Apa kamu percaya, jika Ibumu ini akan menjerumuskan kamu pada hal-hal yang tidak baik?”


“Tidak, Bu. Mheta tidak percaya. Mheta yakin pilihan Ibu adalah pilihan terbaik untuk masadepan Mheta.”


Ibu tersenyum sembari mengelus pipiku, “menikahlah dengan pilihan, Ibu.”

__ADS_1


Aku tercekat. Ada goncangan luar biasa didalam dadaku.


__ADS_2