PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
JEJAK DI LANGIT JOGJA


__ADS_3

Selepas berbenah rumah hijau. Rasyid terlihat menuju dapur. Entah apa yang sedang suamiku itu lakukan. Aku sama sekali enggan mengekorinya.


Aroma sedap tercium oleh indera penciumanku. Sangat lezat.


"Apa dia masak?" batinku, sembari melesatkan langkah ke arah dimana datangnya aroma tersebut.


"Hey, Dek. Mas lagi masak buat kita makan siang. Kamu, mandi saja dulu. Sebentar lagi makanannya siap." Selorohnya dengan menyimpulkan senyum padaku.


Aku hanya mengangguk tak menjawab.


Selepas mandi, aku dan Rasyid menuju ruang makan yang berada di depan kamar belakang.


Laki-laki yang sudah sah menjadi suamiku itu, menyiapkan semua dengan hati-hati. Seakan yang ia lakukan adalah sesuatu yang sakral.


Kedua tangannya terlihat gemetar saat mengambilkanku nasi kedalam piring. Lalu diletakkannya makanan tersebut tepat dihadapanku.


Entah perasaanku atau bagaimana. Terlihat penuh sayang, laki-laki ber kaos warna navy itu tersenyum sejuk kearahku. Tangannya lalu mencari-cari sesuatu di dalam kantong celana yang berbahan parasut. Lalu menarik napas lega setelah menemukan apa yang dicari. Sebuah kotak ukuran kecil berwarna merah jambu.


"Setelah hari ini, Mas akan hidup lebih tenang. Beban yang selama ini menghimpit batin sudah waktunya dilepas." Monolognya terhadapaku, menyodorkan sebuah kotak kecil merah jambu.


Aku mengernyitkan jidat. Tak mengerti apa maksud dari kata-kata Rasyid.


"Mudah-mudahan Gusti Allah selalu membimbing kita menuju Jannah, yang di janjikan kepada Ummatnya yang taat." Sambungnya.


Lelaki dengan tinggi badan 183cm itu berdiri dari tempatnya duduk. Bahkan, kami sepertinya lupa. Jika sebenarnya hendak menyantap makan siang. Rasa laparku hilang seketika, ketika Rasyid berjalan menujuku, duduk dihadapnku serta memegang kedua lutut.


"Mas...ke-na-pa?" sergahku terbata.


Ada yang menyumpal di bagian tenggorokanku. Rasanya sakit. Sakit sekali.


"Nggak apa-apa," dia menganjur napas. "Mas hanya ingin membuatmu bahagia. Entah bagaimana caranya. Mas harap kamu bisa membuka hati untuk Mas, Dek." lanjutnya dengan suara parau.


Aku menyeka air mata dengan punggung tangan. Aku bingung harus menjawab apa. Hati ini belum bisa bekerjasama dengan logika.


"Mas tahu... Jika sebenarnya kamu nggak menginginkan pernikahan ini." katanya, kepalanya tenggelam dikedua lututku yang menggantung di sebuah kursi makan.


Aku berusaha mengangkat kepala itu, berusaha sekuat hati untuk melempar senyum tulus kepada suamiku.


"Maaf... Aku benar-benar minta maaf. Aku belum bisa mencabuti kenangan dengan orang lain." Runtukku kepadanya.


Dengan senyum penuh dengan ke ikhlasan, Rasyid mengangguk lembut. "Mas akan terima kamu. Menerima kekuranganmu, bukan hanya sekedar kelebihanmu."


"Ini apa?" sergahku, ketika kedua mataku kembali fokus pada sebuah benda kecil diatas meja makan.


"Oh iya... Ini kalung buat kamu. Sengaja Mas pesan jauh sebelum kita kenal. Bagi Mas, ini cukup spesial. Karena Mas belinya pakai uang gaji pertama Mas ketika sudah dilantik jadi Tentara. Harganya nggak seberapa, tapi... Mas janji pada diri Mas sendiri. Jika Mas akan memberikan kalung ini hanya untuk seseorang yang benar-benar spesial bagi Mas." Monolognya, sembari mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga matahari.


Entah kebetulan atau bagaimana, yang jelas kali ini aku terperangah ketika Rasyid memakaikan kalung yang ber liontin bunga matahari di leherku. Kalian tahu? Bunga matahari adalah salah satu bunga kesukaanku. Tapi, bukan hanya sekedar bunganya saja. Semenjak kenal dengan laki-laki bermantel basah. Aku malah menggandrungi biji bunga matahari untuk sekedar menikmatinya dengan secangkir kopi.


******


Aku berinisiatif, sepagian ini tidak keluar kamar. Bahkan enggan keluar untuk sarapan pagi. Padahal Rasyid sudah menyipakan menu diatas meja.


"Sarapan aja dulu, Mas. Aku masih malas makan!" Aku sedikit berteriak dari dalam kamar.

__ADS_1


Rasyid tidak menjawab. Saat aku memejamkan mata beberapa menit. Ternyata laki-laki itu sudah berdiri disamping dipan.


Seminggu hidup bersama dengan seorang Rasyid. Aku belum pernah menyentuh perabotan dapur sama sekali. Ternyata, suamiku tersebut hobby masak. Jika dirasa lelah, dia akan mengajakku mencari makan di sekitaran graha Cijantung. 'Bebek bakar moncer' adalah salah satu makanan favoritnya. Rumah makan bernuansa pedesaan itu memang terkenal dengan makanannya yang enak, serta sambal setannya yang juga terkenal tingkat kepedasannya diatas level 8. Mungkin jika kalaian sedang menikmati hari libur di Kota Cijantung. Kalian bisa menikmati makanan tersebut disebelah kanan Markas Kopassus.


"Kamu boleh nggak mau, ketika Mas ajak tidur bersama. Tapi, untuk makan. Mas nggak akan pernah membiarkan isi perutmu keroncongan." sergahnya sembari membuka selimut yang membalut tubuhku.


"Tapi aku nggak lapar?" aku memajukan bibir.


"Kamu nggak suka masakan, Mas?" selidik pria berperawakan tinggi besar itu.


Aku segera menggelengkan kepala, "yaudah, aku pakai jilbab dulu."


Terlihat diatas meja terhidang mie goreng, lengkap dengan potongan ayam goreng, dan udang besar-besar. Lalu acar timun spesial. Masakan Rasyid pagi ini benar-benar mengundang selera. Aku sampai menelan air liur berkalikali.


******


Rasyid masih mengantongi surat cuti empat hari kedepan. Aku berinisiatif untuk mengajak lelaki yang berstatus sebagai suamiku tersebut untuk pulang ke kampung halaman.


"Boleh... kita berangkat nanti sore." tukasnya, ketika aku mengajaknya pulang. Lalu, terlihat dia menyambar ponsel yang tergeletak diatas meja Tv.


Entah sedang mengirim pesan kepada siapa, Rasyid memegang ponsel tersebut hanya kisaran waktu dua menit. Baru saja ponsel kembali ketempat semula. Benda persegi panjang tersebut terdengar melengking di kedua telinga.


"Oh yasudah, tiga puluh menit lagi kamu kerumah saya. Sekarang saya dan istri siap-siap dulu." Monolognya setelah mengucap salam kepada sang penelpon.


Rasyid memberitahuku, jika tiket pesawat ke Jogja sudah dibeli oleh salah satu anggotanya.


Mataku membulat. "Bukannya nanti sore?"tukasku.


"Lebih cepat, lebih baik. Karena Mas juga pengen silaturahmi ke rumah keluarga besar kamu, Dek." Jawabnya, Rasyid berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.


*****


Aku tadi bilang sama Ibu, jika mau mampir kerumah Eyang Utie yang kebetulan rumahnya di kawasan Desa Kasongan. Mungkin, kami juga akan memilih bermalam dirumah Eyang Utie selama satu malam, sebelum pada akhirnya pulang ke Muntilan.


Kasongan terletak di Bantul, sebelah barat Jogjakarta. Daerah pinggiran di mana sawah masih terbentang, di atas tanah kering kecoklatan. Penduduknya selain bertani, juga mencari penghasilan dengan menjadi pengrajin gerabah dan membuat bunga-bunga kering yang kemudian dilempar ke Malioboro, pusat pertokoan terpanjang dan bisa dibilang tak ada matinya di Jogja.


Hanya butuh waktu sekitar kurang lebih satu jam naik taksi dari Kota Sleman. Jalan-jalan di Jogja memang relatif lebih teratur, mungkin karena tidak banyak trayek.


Aku merasakan dada bergemuruh. Perutku terasa tidak enak. Pagi tadi, aku hanya memakan mie dan acar tanpa nasi. Itu pun setelah Rasyid paksa, aku baru keluar kamar dan menyantap hidangan yang telah dimasaknya untukku.


"Kamu kenapa, Dek?" Rasyid bertanya dengan kedua bola mata menyelidik ke arahku.


"Nggak apa-apa, Mas. Cuma rada mual." Aku menjawab dengan kedua mata terpejam. tubuhku, kusenderkan pada bagian belakang kursi mobil taxi. Sedang kedua tanganku masih mencengkeram perut dengan erat-erat.


"Pak bisa sedikit dipercepat lagi?" Seloroh Rasyid kepada sang sopir taksi.


Pengemudi taksi tersebut setuju, "siap Mas."


Disepanjang perjalan menuju kerumah Eyang Utie, Rasyid terus saja memijit-mijit pundak serta lengan tanganku. Sesekali ku lihat, raut wajahnya nampak sedikit tegang. Entah dia panik karena aku sedang sakit perut, atau karena hal lain.


Namun, aku benar-benar terharu dibuatnya. Dengan telaten dan penuh kesabaran dia terus saja memijitiku, sesekali mengolisi minyak kayu putih dibagian pelipis kanan dan kiriku.


*****

__ADS_1


Sesampai dirumah Eyang Utie, ternyata sudah banyak saudara dari Almarhum Ayah serta Ibu berkumpul dirumah berbentuk Joglo tersebut.


Sedikit cerita tentang silsilah keluargaku. Sebenarnya aku termasuk dari salah satu keluarga yang bisa dikatakan Aristokrat. Namun, karena Ibu memilih untuk mengikuti jejak Almarhum Ayah, yang berlatar belakang dari keluarga sederhana, jadi Ibu lebih memilih menanggalkan semua.


"Aduh pengantin baru sudah datang...Ayo-ayo masuk, Eyang sudah nyiapin semua." sapa Eyang Utie dengan begitu antusias.


Setelah bersalaman dengan keluarga besar, saatnya aku dan Rasyid memasuki rumah yang sudah lama sekali tidak ku kunjungi.


"Cah Bagus... Gimana setelah menikah dengan cucu kesayanganku?" Seloroh Eyang Utie tanpa malu-malu.


Keringat sebesar-besar biji jagung terlihat menyumbul dibagian kening Rasyid. Tentu saja dia gemetar, apa yang akan di ceritakannya kepada Eyang? Kami saja belum pernah berhubungan layaknya suami istri.


Rasyid tersenyum, "Alhamdulillah, bahagia Eyang. Doakan kami, segera memiliki momongan." Jawaban Rasyid membuatku terbelalak.


Tak seharusnya dia membuka percakapannya dengan embel-embel momongan, bukan?


Masih banyak hal lain yang bisa di bicarakan selain itu!


*****


Setelah berbincang-bincang, perihal pekerjaan Rasyid dengan keluarga besar. Kini, aku beserta suamiku tersebut melenggang untuk memasuki kamar yang telah disediakan oleh salah satu pekerja di rumah Eyang.


"Mas... Harusnya tadi nggak usah bilang semoga kita cepet dapet momongan..."selorohku setelah memasuki kamar yang berukururan empat kali empat meter tersebut.


Rasyid terlihat sedang serius mencari sesuatu di dalam koper kami.


"Mas! Dengerin Ayu ngomong nggak sih?" sergahku setengah membentak. Lalu melesatkan langkah ke arah tempat laki-laki itu berdiri.


"Iya, Mas dengeri kok."


"Kenapa Mas bilang seperti itu?"


"Ya, namanya orang baru nikah, Dek. Udah bukan rahasian umum lagi kalau pertanyaan mereka pasti mengarah pada pertanyaan 'kapan punya momongan'. Jadi, daripada di duluin Eyang, mending Mas ngomong duluan. Ada yang salah?" Runtuknya, membuatku memanyunkan bibir.


*****


Senja di Kota Bantul begitu elok dan menawan. Membuat hati siapa saja yang menikmati, enggan berjingkat dari tempatnya. Matahari merah saga tersebut nampak gagah. Andai senja itu singgahnya tidak sekelebat mata. Mungkin, kita bisa lebih lama untuk menikmatinya.


Setelah beristirahat beberapa jam, kami memutuskan untuk mengelilingi Kota Bantul. Mencari sesuatu yang bisa kami bawa sebagai oleh-oleh untuk para letting Rasyid di kawasan rumah hijau. Tidak cukup hanya sekedar mencari cindera mata. Aku dan Rasyid memutuskan untuk menikmati makanan-makanan yang cukup terkenal di Kota Bantul. Apalagi aku baru tahu, jika ternyata suamiku itu adalah seorang pecinta kuliner. Dia tidak segan-segan untuk merogoh kocek diatas normal, jika dirasa makanan yang dibelinya terasa enak di lidah.


Tanpa menunggu waktu lama, kami berlenggang kesebuah warung yang tidak begitu besar. Namun, banyak orang bilang, jika makanan di warung tersebut lumayan nendang di lidah. Kami memutuskan untuk mampir ke warung 'Tongseng dan Gulai Ayam Kampung, Sudi Moro.' Menempuh perjalanan sekitar satu setengah kilo dari Kasongan. Tidak begitu jauh. Apalagi, semua makanan di warung tersebut memang membuat lidah kami bergoyang tak henti.


Sejak kapan aku jadi seorang pecinta kuliner? Entahlah.


******


"Sepertinya bahagia sekali?"


Sebuah pesan di wa masuk. Terlihat, Pengelana sedang mengomentari story wa ku.


Aku memang sempat mengunggah sebuah foto bersama Rasyid di story wa. Sebenarnya bukan mengarah kepada kami. Sebetulnya aku hanya ingin memosting makanan yang sedang kunikmati bersama Rasyid. Lalu, dibawah gambar tersebut. Kuselipkan kata 'yummi' ditambah dengan emoticon kartun mengeluarkan liur.


Aku menganjur napas dalam-dalam. Bagaimana jika Rasyid tahu, jika aku dan Pengelana kenal dekat? Aku meninggalkan nama Pengelana tanpa membalasnya.

__ADS_1


Rasyid tengah ngobrol dengan PakDe diserambi rumah Eyang. Sesekali aku mengintip obrolan mereka yang diselingi gelak tawa.


__ADS_2