PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 86!!! (Disarankan membaca setelah buka puasa )


__ADS_3

“Oohh . . . Risa.” Sahutnya sambil memandang istrinya dengan mata yang nanar.


“Diamlah, aku sedang membersihkan tubuhmu, Mas.”


“Bagaimana aku bisa menahannya jika kamu menyiksaku seperti ini dengan sengaja?”


“Kalau begitu, nikmati saja.” Perintahnya. Carissa tahu jika Tama saat ini sedang berusaha kuat menahan gairahnya, sesekali laki-laki itu mengeluarkan suara des*han kecil karena Carissa terus mengurut benda keras itu.


“Cukup! Aku tak tahan lagi.” Tama menarik istrinya hingga membuat Carissa terduduk diatas pangkuannya, Tama mencumbu bibir merah itu dengan perasaan penuh damba dan gairah yang memuncah. Tangannya aktif meremas, walau tak sekuat biasanya karena telapak tangannya sedang terluka.


“Tolong masukkan, aku tak bisa mengarahkannya karena tanganku sedang terluka.” Pintanya dengan harap.


“La-lalu, a-apa yang harus kulakukan setelah itu?”


“Instingmu akan menuntunmu dengan sendirinya, Sayang.” Bisik Tama dengan mesra.


Dengan malu-malu, Carissa mengarahkan benda itu agar masuk kedalam dirinya, gadis itu sedikit melenguh karena terasa penuh kedalam dirinya, “I-ini rasanya sa-sangat . . .”


“Hm? Kenapa, Sayang? Apa rasanya sangat nikmat? Ini pasti akan menjadi posisi favoritmu setelah ini.” Ucap Tama dengan senyum puasnya.

__ADS_1


“La-lalu apa yang harus kulakukan, Mas?” tanyanya lagi dengan susah payah saat benda tumpul itu sudah masuk secara penuh.


“Cukup goyangkan saja pinggulmu, Risa. Kamu akan tahu bagaimana mencari sisa kenikmatan itu.”


“Ahhh . . . beginikah, Mas?” tanyanya sambil sibuk memaju mundurkan pinggulnya.


“Ya, Sayang. Apa kamu sudah merasakannya?”


Carissa mengangguk dengan malu-malu, “Istriku sangat cantik jika tersenyum malu begini.”


“Jangan menggodaku.” Carissa menambah ritme pergerakannya. Berikutnya adalah suara kecipak dari air di dalam bathtub besar itu, dan juga di iringi dengan desisan dari kedua tubuh yang semakin memanas.


“A-apa yang akan Mas lakukan?” Carissa cemas karena kini Tama sudah berada tepat di belakangnya.


“Posisikan tubuhmu seperti ini, Sayang.” Tama merendahkan punggung istrinya tapi menaikkan pinggul indah itu.


“Mas, i-ini . . . Arrggghhhh!” Tama melesatkan miliknya masuk kedalam daerah inti Carissa secara terburu-buru, ia sudah tidak mampu menahan hasratnya lebih lama lagi.


“Bertahanlah, Sayang. Aku akan memberikanmu kepuasan.” Ucapnya mesum.

__ADS_1


Dengan posisi ini, Tama dapat meremas buah dada yang menggantung bebas dari belakang, laki-laki yang sudah terbakar gairah itu juga menghujamkan miliknya berkali-kali sehingga membuat Carissa terus mendes*h kenikmatan, pikirannya melayang, akal sehatnya kacau, hanya suara des*h yang keluar dari bibir merahnya, hal itu semakin membuat Tama semangat menggerakkan pinggulnya. Perban yang menutup tangannya terlihat mulai berdarah kembali karena ia pakai untuk meremas dan juga membantu menggerakkan pinggul istrinya. Ia tak peduli karena saat ini kepuasan lah yang sedang ia kejar.


Tama semakin mempercepat gerakannya saat ia mulai merasakan sesuatu akan datang dan keluar mencapai puncak kenikmatan. Carissa dan Tama melenguh hampir bersamaan, membuat mereka berdua terduduk lemas dengan deruan napas yang tak beraturan. Tama tetap mencumbu bibir merah itu, namun bibir itu kehilangan pasangannya saat Carissa menarik dirinya.


“Mas, tangan Mas Tama berdarah lagi.”


“Tidak apa-apa, Sayang. Cukup diperban ulang nanti.”


“Tidak, tidak. ini pasti jahitannya terbuka lagi. Aku harus memanggil dokter untuk ke sini.”


Carissa bergegas berdiri dari tempatnya dan mengenakan handuk seadanya, saat ia ingin membuka pintu, gadis itu terkejut karena Tama sudah berada tepat di belakangnya untuk menahan pintu itu.


“Jangan kemana-mana, Sayang. Aku masih merindukanmu.”


“Tapi, Mas . . .” cup! Tama mengunci bibir merah itu dengan ciuman panasnya lagi.


Dengan mudah Tama menggendong Carissa dan menempelkan punggung gadis itu ke dinding, reflek Carissa mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya, “Aku masih sangat merindukanmu, Sayang. Aku merindukan dirimu yang kembali menerimaku. Jangan kemana-mana, dan tetaplah bersamaku.”


“Mas, tunggu! Kita urus dulu tangan Mas Tama.” ucap Carissa dengan susah payah karena Tama sudah menenggelamkan wajahnya di leher mulus itu.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak mau menunggu lagi.” Sekali lagi Tama menghujamkan miliknya dan kali ini dengan posisi yang berbeda. Carissa terus merasakan jantungnya berdebar kencang karena pengalaman baru yang ia dapatkan dalam bercinta. Tubuh besar Tama dengan mudah menahan berat tubuh istrinya, dan dengan posisi itu Tama lebih leluasa mengendalikan miliknya untuk terus bergerak dan membuat istrinya mau tak mau kembali bergairah dan menggeliat dengan hebat.


__ADS_2