PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 83


__ADS_3

“Aku menawarkan sesuatu yang bagus untukmu.” Kata Tama dengan yakin.


“Apa itu?” jawab Amelia dengan semangat.


“Kamu tetap tidak akan bisa memilikiku apapun yang terjadi, jadi bagaimana jika membunuhku saja, hah? Setelah itu tidak akan ada yang bisa memiliku.” Tama menawarkan idenya, hal itu disambut dengan gelak tawa dari Amelia.


Tama melirik ke arah istrinya berada, dia bisa melihat jika Carissa saat ini sedang menangis dalam bungkaman, ia juga melihat Carissa memohon dan menggelengkan kepalanya agar Tama tak mengorbankan dirinya. Tahu jika Carissa sedang ketakutan, ia mengirimkan isyarat bibir tanpa suara yang berartikan, “Tenang saja, Sayang. Aku akan melindungimu.”


“Idemu itu sangat bagus, Tama. Jadi, aku tak perlu bersaing dengan perempuan lain. Tapi . . . aku tetap ingin memilikimu. Bunuh perempuan itu!!!” perintah Amelia dengan cepat.


Tanpa berpikir panjang, Tama mendorong tubuh Amelia hingga tersungkur dan berlari cepat ke arah istrinya yang saat ini sudah memejamkan matanya karena pisau sudah diarahkan kehadapannya. Dalam hitungan detik, Tama bisa menghalau pisau itu dengan kedua tangannya, lalu menendang tubuh laki-laki besar itu hingga tersungkur. Sempat ada perlawan dari penjaga lainnya, Tama sempat terjatuh saat salah satu penjaga itu memukul perut Tama dengan balok besar, namun akhirnya ia berhasil mengalahkannya dan menjatuhkan lawannya dengan sisa tenaganya.


Pintu gudang dibuka dengan paksa, di sana sudah ada Vian dan anak buahnya beserta kepolisian yang berhasil menggerebek tempat itu. Dengan cepat mereka mengamankan semua orang yang terlibat dan juga barang bukti.


“Kamu tidak apa-apa, Sayang?” tanya Tama dengan ketakutan saat ia melepaskan ikatan Carissa dan juga penutup bibirnya.

__ADS_1


“Tanganmu, Mas. Tanganmu berdarah.”


“Aku tak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja, apa ada yang terluka?”


Carissa menggeleng dengan cepat dan menangis saat Tama memeluknya dengan perasaan lega.


“Kita harus cepat ke rumah sakit, Mas. Cepat periksa tangan Mas Tama dan tubuh, Mas. Tadi . . . tadi . . . “Carissa terlihat ketakutan dan cemas.


“Tenang, Sayang. Aku baik-baik saja.”


“Tidak, Vian. Risa sedang ketakutan, Aku akan kembali ke hotel, tolong panggilkan dokter untuk memeriksaku di sana.”


“Anda yakin Tuan, tadi sekilas saya lihat Anda sempat dihantam di bagian perut.”


“Aku yakin baik-baik saja. Cukup, jangan membuat istriku ketakutan lebih dari ini.”

__ADS_1


“Baik, Tuan.”


Vian mengantarkan Tama dan Carissa sampai ke hotel. Di perjalanan, Carissa terus menangis sambil memegangi kedua tangan Tama yang terluka cukup dalam karena menahan pisau tajam yang akan ditusukkan ke tubuhnya.


“Tenanglah, Risa. Jangan menangis lagi, nanti kamu bisa kelelahan.”


“Tapi lukanya, Mas. Darahnya dari tadi tidak mau berhenti. Kenapa kita tidak ke rumah sakit saja?”


“Jangan. Aku tak mau kamu nanti terganggu oleh wartawan. Lebih baik kita ke hotel, mereka tidak akan bisa masuk kedalam hotel, dan akan terhenti di area depan. Itu lebih aman untukmu. Tenanglah, Sayang.” Tama mengecup kening istrinya dan berusaha menenangkan Carissa.


Terlihat Allen menghubungi Tama beberapa kali, ia juga sempat menanyakan kabar Carissa. Tama meminta Allen mengabari Bagas dan juga keluarganya yang di Amerika, Tama meminta Allen mengabarkan jika mereka saat ini sudah baik-baik saja dan ditempat yang aman. Tama sengaja melarang keluarganya dan juga keluarga Carissa untuk datang ke Bali untuk sementara waktu, karena ia takut jika serangan wartawan akan semakin banyak. Tama meminta mereka menunggu dengan tenang selama di Jakarta.


Seperti dugaan Tama, pemberitaan sudah menyebar kemana-mana, wartawan sudah bergerak mencari keberadaan narasumber utama, yaitu korbannya. Kantor pusat di Jakarta mendapatkan telepon dari berbagai relasi, Tama sengaja menon-aktifkan nomor bisnisnya karena tidak mau terganggu oleh para koleganya. Allen dan tim nya cukup kewalahan menjawab telepon dari para relasi maupun dari wartawan dari beberapa wilayah.


SJ Group juga sedang mengalami masalah saat ini, karena perbuatan kriminal Amelia, membuat harga saham perusahaan itu turun drastis, dan juga banyak relasi yang memutuskan kerja sama secara sepihak.

__ADS_1


__ADS_2