PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
MESKIPUN HUJAN BELUM REDA


__ADS_3

“Hei?”


“Eh? Kok… bisa ada di sini?”


Pertanyaan macam apa ini. klise sekali bukan? Untuk beberapa saat aku meyakinkan diri bahwa ini nyata, dan yang di hadapanku benar-benar Pengelana.


Lelaki itu tersenyum. “Kamu mau sholat dulu atau apa? Biar ngobrolnya enak?”


Ngobrol? Jadi, dia kesini sengaja menemuiku?


“Sini!” Pengelana meraih koperku.


“Eh?” aku terkejut.


“Apa memang begini kebiasaanmu di tempat umum?"


" Saya kan bukan orang asing lagi. Dan kaki saya menapak lantai.”


Spontan aku tertawa, ekspresinya lucu sekali. Jadi, kukatakan padanya dengan agak sungkan kalau aku sedang tidak sholat. Kemudian dia menawari untuk mencari tempat berbincang yang enak.


“Disana ada coffe shop,” katanya terdengar santai.


Dia segera mendorong koperku dan mulai berjalan. “Kok jadi dia yang bawain?” aku menggerutu sembari mengikutinya. Aku masih berfikir, apakah ini nyata atau hanya sebuah halusinasi? Kami menyusuri lorong emplacement, melewati bangku-bangku dan orang-orang yang duduk.


“Hei?”


“Eh?” Pengelana kembali mengejutkan.


“Hobby sekali melamun.”


Rupanya tadi dia bertanya sesuatu. Kami telah berdiri di depan coffe shop.


“Mau kopi apa coklat?” tanyanya.


“Saya yang traktir. Memenuhi janji saya dulu,” kataku. “Mau kopi apa mizone? Eh coklat maksudnya.” Aku balik bertanya dengan sedikit gugup.


Pengelana tertawa. “Ya sih, kamu janji akan traktir kopi. Tapi, kita anggap lunaslah. Sekarang kamu mau kopi apa coklat? Atau, kamu masih mau minum mizone seperti dulu?”


“Eh kenapa begitu? Kan saya—“


Tetapi Pengelana memotong kalimatku, “ kopi satu,” katanya pada penjaga. “ Dan…,” dia menggantung kalimat sambil melihatku, “ mizone satu,” ucapnya lagi, tanpa menunggu jawabanku. “Mizonenya yang dingin ya, Mbak,


kopinya jangan terlalu manis,” tambahnya.


Astaga, apa dia tahu, jika didalam ranselku ini ada sebuah botol mizone pemberiannya beberapa bulan yang lalu?


“Kok tahu? kalau saya suka minum mizone?” tanyaku.


“Ngak usah takjub begitu,” sahutnya, “saya yakin, sejak awal kita bertemu beberapa bulan lalu, kamu memang sudah suka mizone.”


Aku membungkam mulut dengan tangan sebelah. Itu kalimat yang pernah kuucapkan. Tetapi aku lupa pernah mengucapkan padanya.


Setelah pesaan jadi, kami menuju bangku kosong.


“Bagaimana bisa sampai di sini?” tanyaku. meneguk  mizone dingin, membuatku lebih santai. Meski lututku masih sedikit agak gemetar. Bersamanya di sini benar-benar suatu kejutaan, yang tak bis diungkapkan dengan kata-kata.


“Sekarang percaya kan, kalau itu hanya mizone?” tanya Pengelana sambil melihat botol dipelukan jari-jariku.


Aku tertawa, “nggak usak meledek begitu.” Tentu saja aku masih ingat begaimana dahulu aku curiga padanya, dan kutulis dengan detail di cerpen itu.


“Ceritakan,” kataku.


“Apa?”


“Ya, gimana bisa sampai sini? Nggak kebetulan, kan?”


“Kamu percaya ada yang kebetulan di dunia ini?”


Astaga, itu kalimatku lagi. Maksudnya aku pernah bertanya begitu padanya.


“Jadi sengaja datang ke sini? Atau memang pas acara pulang?” tanyaku.


Dia pernah cerita, sejak lebaran belum pulang lagi.


“Emang kamu tahu? rumah saya dimana?” tanya Pengelana. Dia meniup-niup kopinya dan menyesapnya sedikit. “Gimana keadaan Ibu?”


Aku menghela napas sejenak, kemudian menceritakan kondisi ibu yang baru tertatih ke kamar mandi. Dia menyimak penuh empati. Aku bisa menangkap raut kesedihan.


“Salam ya, semoga semakin sehat?”


Aku mengangguk.


“Jadi kapan kamu sampai sini?” aku mengalihkan pembicaraan. Setelah sejenak kami diam meneguk minuman masing-masing.


“Tadi pagi,” jawab Pengelana, kemudian menyesap kopinya.


Lalu, tahu-tahu kami membahas perihal pertemuan di tempat


ini.


“Jadi dulu duduk disamping saya bukan karena nggak ada kursi kosong lagi, kan?” tanyaku.


Pengelana tertawa.


“Huh…malah ketawa.” Aku menekuk bibir.


“Kamu tahu nggak, kenapa saya duduk di sampingmu?”


“Bukannya dari tadi saya memang tanya, ya?”


Pengelana menoleh padaku, “diantara semua orang di ruang tunggu, hanya kamu yang nggak pegang ponsel. Kamu melamun dan terlihat begitu… berantakan.”


Aku mengembungkan mulut. “Jadi kamu kasihan sama saya, gitu?”


Pengelana tertawa. Sekali lagi menyeruput kopinya.


“Dan kamu mengarang cerita perihal pelarian itu?” tanyaku menyelidik.


“Kan, sudah saya bilang itu beneran. Hanya kejadiannya memang nggak hari itu.”


Aku meneguk mizone ku. Kemudian ingat lagi, kalau botol bekas itu sekarang tersimpan di ransel. Kira-kira apa tanggapan Pengelana kalau dia tahu aku menyimpan benda itu ya? Dia tidak boleh tahu. jangan sampai dia mengira aku bagaimana-bagaimana.


“Eh, pindah yuk. Di sini jadi ramai sekali.” Kata Pengelana berdiri. Aku melihat sekeliling. Kursi memang penuh. Di sampping kami pasangan suami istri bicara keras pada anak perempuannya yang merengek.

__ADS_1


Kami menuju ruang tunggu luar. Gerimis mulai turun begitu kami duduk. Untuk beberapa saat, aku dan Pengelana saling diam memandang tirai hujan.


“Kemarin saya mimpi…” kataku, memecah keheningan diantara kami.


Pengelana menoleh, “mimpi apa?”


“Saya melihat kamu di pantai. Katamu, kamu mau berlayar. Tidak sendiri, bersama seseoarang. Lalu dalam mimpi saya bilang padamu, hati-hati jangan sampai ada ombak masuk dalam perahumu, gitu.”


“Terus?”


“Terus...,” aku diam sejenak. “sewaktu bangun, kamu memasang foto pantai di akun fb mu.”


Pengelana diam. Dia kembali menatap hujan.


“Katakan, bahwa apa yang saya khawatirkan selama ini nggak benar, M!” ucapnya dengan nada suara yang berubah.


“Tentang apa?” suaraku mendadak parau.


“Kamu nggak jatuh hati pada saya, kan?”


Tenggorokanku mendadak sakit.


“Ke-kenapa tanya begitu?”


“Iya apa nggak?”


Aku menggeleng kuat-kuat. Kenapa dia bertanya begitu? Apa aku terlihat seperti itu?


“Saya nggak akan memaafkan diri saya, jika sampai melukaimu, M…”


“Tentu saja nggak!” aku bicara lebih keras. “Bagaimana mungkin saya jatuh hati pada orang yang terbungkuk-bungkuk membawa masa lalunya? Saya memang menulis tentangmu, tapi bukan berarti yang begitu-begitu.”


“Saya minta maaf ya..”


“Untuk apa?”


“Untuk semua yang nggak semestinya.”


“Menurut saya nggak ada yang nggak semestinya.” Aku menelan ganjalan di tenggorokanku. “Bukankah kamu bilang, bahwa nggak ada sesuatu pun yang kebetulan di dunia ini? mungkin Allah memepertemukan kita biar saya bisa menulis cerita yang menembus media nasional itu.” Aku tertawa parau.


Aku tidak ingin terlihat rapuh di hadapan Pengelana. Aku tegakkan bahuku, dan aku angkat dagu. Aku beranikan menatapnya. Aku


memanggilnya teman baik. Dia sudah punya kekasih. Aku tidak akan


menyulitkannya. Aku tidak akan membuatnya merasa bersalah tentang apapun


semenjak pertemuan kami.


“Apa yang terjadi padamu, sejak mengenal saya?” tanyanya.


Apa yang terjadi? Sebenarnya ingin kukatakan padanya bahwa aku seperti tokoh Ove yang menemukan Sonja di novel A Man Called Ove. Tetapi, tentu saja aku tidak mengatakan begitu. Sebab ending kisahku dan Ove jelas


berbeda.


“Nggak terjadi apa-apa.”


“Sungguh?”


“Ya.”


Aku menggeleng.


Dan untuk beberapa saat kami kembali diam. Aku ingin bicara banyak, tetapi tidak tahu mana yang harus aku katakan lebih dulu.


“Kok kamu bisa mimpi begitu, ya?” ucapnya pelan.


Aku paham maksud Pengelana. Entah bagaimana dia seolah membenarkan bahwa mimpi itu suatu penanda caranya bicara padaku. Dia hendak berlayar bersama seseorang. Seperti yang ada dalam mimpiku. Tentu saja aku


tidak akam menjadi ombak yang menghantam-hantam perahunya. Aku ingin menjadi teman baik yang mendoakannya dengan tulus.


“Percayalah, saya bahagia untuk semua yang membuatmu bahagia.” Kali ini aku tersenyum setulu-tulusnya.


“Kamu nggak apa-apa?”


Aku menggeleng, “nggak.”


“Kamu akan baik-baik saja?”


Aku mengangguk, “tentu, bahkan akupun akan berlayar juga.”


“Sungguh?”


“Ya.”


“Kamu tidak sedang berbohong?”


Aku tersenyum semabari menatap gerimis, “aku tidak bohong. Mungkin dalam waktu dekat ini, aku akan berlayar dengan perahuku.”


Oh Tuhan. Kalau ini adegan dalam novel, aku akan sulit mendeskripsikannya.


“Apa setelah ini kamu akan menghilang?” tanyaku parau. Aku merasakan mataku berkaca-kaca. Sekonyong-konyong  aku disergap rasa khawatir.


“Kamu memilih saya tetap ada atau menghilang?” tanyanya.


Rasanya aku ingin teriak didepannya, bahwa aku ingin dia tetap ada. Aku tidak ingin dia menghilang. Setelah kami berbagi cerita selama ini, rasanya pedih sekali membayangkan dia tiba-tiba pergi. Tetapi yang terucap dari bibirku justru, “apapun yang membuatmu bahagia.”


Tepat saat itu, ponselku berbunyi. Aku merogoh dari dalam ransel. Nama ibu tertera di layar. Aku menunjukkan pada Pengelana. Dia mengangguk.


“Ya, Bu.” Ibu bertanya apa aku sudah sampai di stasiun.


“Iya, sudah.” Lalu, Ibu bertanya bagaimana aku membawa barang-barangku.


“Aku paketkan. Tinggal koper kecil aja.” Dan ibu menyuruhku hati-hati.


“Iya, Bu.”


Aku mengakhiri percakapan dengan ibu.


“Maaf… saya harus pergi.” Kataku sambil memasukkan ponsel ke ransel.


“Tapi hujan masih turun?” kata Pengelana.


“Meskipun hujan masih turun.”

__ADS_1


Aku berdiri. “Terimakasih untuk semuanya.” Kataku.


“Kamu dijemput tunanganmu?” kata-kata Pengelana membuat benteng pertahananku jebol.


Aku menggeleng sembari membuang tatapan. “Nggak.”


“Mau kearah mana, saya antar?” Pengelana memegang lenganku.


Aku kembali menggeleng. “Nggak usah ya. Saya terlalu banyak menerima lambaian perpisahan dari kemarin. Rasanya nggak enak.” Kataku sembari melapas jemari Pengelana.


“Baiklah.”


Aku segera mengambil alih gagang koper dari tangannya. “Makasih banyak…” ucapku berusaha seceria mungkin, tetapi suaraku terdengar serak. Dia telah jauh-jauh datang ke sini menemuiku, aku harus memberi kesan yang baik.


“Kamu itu, terlalu banyak bilang makasih, M.”


Sesaat kami kembali saling diam. Aku menghirup udara, mengucapkan salam, kemudian membalikkan badan dan melangkah menjauh darinya.


Apapun yang terjadi di dunia ini, sudah digariskan oleh Allah bukan? Pertemuan, perpisahan, bahagia, sedih, senyum, tangis, semua sebagai kurnia. Ada hal-hal yang membuat aku bahagia. Tertawa penuh warna. Hal-hal tentang Pengelana. Sayangnya ketika moment seperti ini terjadi, hatiku tetap saja seolah ada yang terkelupas.


Mungkin, aku yang salah. Aku yang menaruh Pengelana di dalam hatiku. Padahal ia tidak pernah menaruhku di dalam hatinya. Meski selalu kutegaskan pada diriku sendiri, bahwa dia sudah punya kekasih, tetap saja aku


takut dia benar-benar menghilang.


Seharusnya tadi kuminta padanya, “jangan menghilang. Tetaplah ada untuk kupanggil sebagai teman baik.” Tetapi, apa hakku meminta begitu? Bukankah perasaan tulus adalah memberi kebebasan asal dia bahagia?


“Mheta…” aku menghentikan langkah. Pengelana memanggilku.


“Pakai ini.” dia mengulurkan jaketnya padaku.


Aku menggeleng. “Nggak usah.”


“Jangan keras kepala, atau kamu mau saya selalu mengganggumu?”


“Kan, kamu sudah mengajari saya untuk tidak takut dengan hujan, saya ada jaket kok.”


Pengelana diam. Ia terpaku bersama jaket di tangannya. Aku mengangguk sekali lagi dn bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Aku tidak apa-apa. Aku harus baik-baik saja. Kisah yang utuh, bukan berarti kita harus selalu


berada di dalam gerbong yang sama, bukan?


Andai aku menulis kisah ini dalam novel. Aku akan menaruh Pengelana sebagai tokoh utama, dan meski hanya dalam fiksi aku akan mencari berbagai cara agar dia bahagia.


Aku terus melangkah.


Saat hendak belok, berhenti sejenak. Ingin rasanya aku menoleh ke belakang lagi. Memastikan apakah Pengelana masih berdiri di tempat semula? Bagaimana kalau sudah pergi? Bagaimana juga kalau dia masih disana?


Aku tidak suka lambaian perpisahan, tidak peduli itu selamat jalan atau sampai jumpa lagi.


Aku kemabali menghirup udara. Dan tanpa menoleh lagi aku berbelok. Menerobos gerimis yang sudah mulai deras.


Apa seharusnya tadi aku menerima jaket yang ditawarkan? Apa aku hanya pura-pura tidak pengecut di hadapannya? Apa aku sengaja menerobos hujan hanya untuk menunjukkan kepadanya kalau aku berani? Aku ini kenapa sih?


Pandanganku berangsur buram. Ini hanya air hujan kan? Bukan air mata?


Saat aku hendak berbelok ke halte sebuah kendaraan memepetku. Aku memiringkan tubuh menjaga keseimbangan.


Aku menoleh, sebuah mobil dengan bak terbuka berhenti di sampingku.


Daffa.


“Ayo!” ucapnya dari belakang kemudi.


Kok, dia disini?


“Jangan bengong. Sampai kapan berdiri disitu?”


Apa dia disuruh ibu? Darimana datangnya dia tadi? Apa dari parkiran? Apa dia melihat aku dan Pengelana?


“Cepetan masuk!”


Aku berfikir sejenak, dia pasti dari setor sayur. Pantas saja dia di sini.


Karena hujan semakin deras, akhirnya aku membuka pintu mobil. Menjejalkan koperku dan duduk dengan kaki menekuk, karena pijakan terganjal koper. Aku memasang sabuk pengaman dan Daffa menjalankan mobilnya


tanpa bicara apapun.


Aku teringat kembali bagaimana waktu itu, aku bertemu dengan Pengelana.. dalam keadaan yang dia bilang berantakan karena habis berdebat dengan Daffa. Dan ternyata benar, Pengelana duduk disampingku karena aku begitu memprihatinkan dan butuh dikasihani?


Sepanjang jalan Jogja-Magelang aku sama sekali tidak bicara. Daffa juga tidak bertanya apapun. Aku memandang ke luar jendela dan sesekali menyeka mataku yang berair.


“Masih mau nangis, atau pulang sekarang?” tanya Daffa.


Mobil berhenti di dekat tempat penitipan moto. Hujan sudh reda di sini. Hanya jalanan yang terlihat lebih gelap.


“Siapa yang nangis?” aku mengusap wajah. Dan bersiap turun.


“Apa kamu disuruh ibu?” tanyaku.


“Keebetulan aja tadi lihat kamu.”


Aku mengangguk.


“Makasih ya tumpangannya. Oh ya, aku nitip koper.”


Lalu, aku membuka pintu dan turun. Tak lama kemudian mobil yang dikendari Daffa berlalu. Aku menuju tempat parkir, mengambil motor yang kutitipkan. Ku edarkan pandangan ke sekitar sambil memakai helm.


“Bismillah.”


*****


Sesampai dirumah, aku bersyukur ibu tidak banyak menanyaiku. BuLek dan PakLek masih disana, jadi seperti biasa mereka lebih banyak berbincang bertiga.


*****


Malamnya saat hendak tidur. Aku kembali memutar lagu Dealova milik Once Mekel yang pernah dikirim oleh Pengelana. Kembali Pengelana mengirim sebuah lagu ‘Andai Aku Bisa’nya Chrisye, akupun memutarnya berulang-ulang.


Aku tidak membalas pesan Pengelana. Dari saat ini aku memutuskan untuk tidak lagi mengganggunya.


“Allah, mohon bahagiakan dia. Bersama siapapun dia mengarungi kehidupan. Mohon sehatkan dia, dan mampukan dia dalam memikul urusan-urusannya. “ akku menangkup tangan kewajah. Terngiang kembali percakapan


dengannya.


“Allah… bolehkah esok hari saya masih menemukannya kembali? Tak apa tanpa pertemuan, cukup membaca namanya dikayar saja. Seperti kemarin-kemarin, menyimak ceritanya. Mendengar dia bernyanyi dan memanggilnya teman baik. Masih bolehkah Ya Allah? Bolehkah?”

__ADS_1


__ADS_2