PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Extra Part End


__ADS_3

Pintu lift terbuka, seluruh karyawan yang ada di belakang Allen dan Lira, seluruhnya turun, sedangkan tempat Allen dan Lira turun, masih satu lantai lagi ke atas. Sebelum pintu lift tertutup, Lira tahu jika para gadis itu melihat ke arahnya.


''Lebih baik ku kerjai saja mereka.'' pikir Lira dengan cepat. Lira menarik leher Allen agar laki-laki tampan itu sedikit menunduk, dan tentu saja ia bisa mendengar dengan jelas jeritan para gadis yang ada di luar, karena ia berhasil mencium bibir tipis milik Allen.


''A-apa yang kamu lakukan, Lira?'' tanya Allen saat dia sudah terlepas dari kecupan Lira dan tersadar dari keterkejutannya.


''Bisakah kita keluar dulu, Kak? Pintu lifnya sudah terbuka lagi.''


''O-oh, iya.'' Allen membawa Lira menuju ruang tunggu yang ada di sebelah ruangannya. ''Kamu bisa menunggu sebentar di sini, aku harus rapat dulu sebentar.''


''Maaf ya, Kak. Aku hanya ingin mengerjai mereka. Berani-beraninya mereka melirik benci ke arahku secara terang-terangan. Awas saja jika aku nanti bisa bekerja di kantor ini?''


''Bagaimana jika kamu bekerja di kantor ini dan ternyata menjadi bawahan mereka, hm?''


''Tidak masalah, di manapun posisiku, aku tidak akan bisa di tindas.''


Allen tersenyum cerah dan senang melihat keberanian gadis yang saat ini masih berusia 20 tahun itu. ''Kalau begitu tunggu aku di sini, aku akan rapat sebentar.''


''Jangan tergesa-gesa, Kak Allen. Aku akan menunggumu di sini.'' senyum Lira cukup bisa membuat Allen terpana beberapa detik.


Dengan otak yang penuh pertanyaan dalam dirinya, ia berjalan menuju ruang rapat. ''Ada apa denganku? Kenapa aku bahagia melihat senyumnya? Kenapa aku tidak marah dengan tindakannya?''pertanyaan itu terus saja berputar di kepalanya.

__ADS_1


''Allen? Allen!!!'' seseorang meneriakinya dari seberang sana.


''I-iya, Pak Tama.'' jawab Allen gelagapan, ia bisa melihat wajah kesal Tama dari layar besar yang terhubung dengan video. ''Ma-maafkan saya, Pak.''


''Fokuslah, Len.'' Tama memperingatkan. Rapat akhirnya berjalan kembali dan selesai dengan lancar.


Allen berjalan sedikit lebih cepat untuk menuju ruang tunggu di kantornya, di sana ia melihat Lira sedang mendengarkan musik sambil memejamkan matanya dan bibirnya mengikuti lirik lagu dalam diam. Tanpa ia duga, ia tersenyum lega saat memastikan Lira masih ada di tempatnya.


Allen mendekati Lira duduk, dan menyentuh tangan gadis itu. ''Lira.'' panggilnya.


''Oh, Kak Allen. Sudah selesai rapatnya.''


''Kalau begitu, aku permisi dulu, Kak. Emm...tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu.''


''Apa itu?'' Allen penasaran.


''Selama satu bulan ini, aku tidak menjalin ataupun dekat dengan laki-laki lain.''


''Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan hal seperti itu?''


Lira terlihat malu-malu, ''Agar Kak Allen tahu, jika aku tak bisa melupakan saat-saat kita bersama di Lombok, Kak. Aku sangat merindukan Kak Allen, aku juga ingin di peluk dan menghabiskan malam bersama dengan Kak Allen, seperti malam itu.''

__ADS_1


Allen terbelalak, wajahnya memerah karena malu, gadis kecil di hadapannya saat ini sedang mengatakan isi hatinya dengan jujur, ''A-apa yang kamu sukai dari diriku ini?''


''Jika Kakak bertanya tentang malam panas itu, maka aku akan menjawab jika aku suka milik Kakak yang besar itu dan ...''


''Bukan! Bukan yang itu!'' wajah Allen semakin merona karena ucapan terus terang Lira. Sebenarnya ia juga merasakan senang saat gadis itu berkata jika menyukai miliknya. ''Diriku, aku yang sesungguhnya, apa yang membuatmu merindukanku?''


''Kakak tahu jika selama ini aku sudah berhubungan dengan beberapa laki-laki lain, dan aku akan menerimanya jika Kak Allen menolakku dengan alasan itu. Tapi, dari semua yang pernah mempunyai hubungan denganku, aku tidak pernah menemukan satu sifat dari mereka, yaitu tanggung jawab. Saat aku melihat Kak Allen mengurus Kak Risa dan Tante Mega, juga semua masalah yang terjadi selama di Lombok dengan tanggung jawab penuh, aku merasa jika aku akan bisa hidup bahagia jika menjadi pendamping hidup Kak Allen.'' Lira melirik ke arah Allen dan melihat jika Allen sedang tertegun dan terdiam. ''Ah! Tapi itu hanya pemikiranku saja, Kak. Hanya keinginanku. Aku tidak pernah berpikir untuk memaksa Kak Allen menjalin hubungan serius denganku. Seperti yang Kakak tau, aku hanya seseorang yang blak blakan dengan apa yang kurasakan.'' ucap Lira sembari berdiri. Ia merasa malu dan canggung karena Allen tidak mengatakan apa-apa padanya.


''Ka-kalau begitu, aku permisi dulu, Kak.'' Lira berjalan cepat menuju Lift.


''Tunggu, Lira!'' panggil Allen saat Lira sudah ada di dalam lift. Gadis itu menahan pintu lift dengan tangannya.


''Maaf jika aku tak berkata apa-apa, hanya saja aku sedikit terkejut dengan pengakuanmu. Tapi...bisakah nanti malam kita makan malam berdua?''


''Berdua?'' tanya Lira untuk memastikan.


Allen tersenyum dengan tulus, ''Ya. Aku ingin mengenalmu lebih jauh, karena aku juga ingin mencoba hubungan serius jika itu denganmu.''


Lira tersenyum bahagia dan dia mengangguk dengan semangat, ''Kabari aku, Kak. Semangat bekerjanya.'' Lira melepaskan tanganya dan melambai kepada Allen sesaat sebelum pintu lift tertutup. Siapa yang sangka jika hubungan satu malam itu akan membekas di hati keduanya dan membuat benih-benih cinta mulai muncul di saat kebersamaan mereka selama di Lombok.


Part Extra Allen selesai...🥳🥳🥳

__ADS_1


__ADS_2