
“Sudah selesai, Sayang?”
“Mas? Kenapa menungguku di luar toilet?”
“Tidak, hanya saja kamu terlalu lama berada didalam.”
“Oh, tadi aku bertemu dengan temanmu. Dia memberikan hadiah pada kita, film yang akan dirilis di bioskop.”
“Hah? Siapa?”
“Entahlah, saat aku menanyakan namanya, dia hanya bilang jika dia mengenalmu dengan baik.”
“Claudia? Apa dia Claudia? Aku punya teman yang mempunyai bisnis dibidang perfilman.”
“Tapi kenapa dia mengatakan jika mengenalmu dengan baik?”
“Ohh, karena kami bersekolah di sekolah yang sama saat SMP dan SMA, jadi dia tahu semua aibku di masa sekolah.”
“Benarkah? Tahu gitu aku mengajaknya mengobrol lebih lama. Aku ingin tahu kenakalan apa saja yang sudah kamu lakukan dulu.”
“Jangan, tak ada bagusnya kenakalanku dulu. Ayo kita jalan-jalan saja.”
__ADS_1
“Dengan pakaian seperti ini?” Carissa menunjuk pakaian suaminya yang masih mengenakan jas lengkap.
“Begini cukup?” Tama melepaskan jasnya dan menyisakan kemeja putih yang kini dasi dan dua kancing teratasnya sudah terlepas.
“Itu jauh lebih baik.”
Setelah menempuh beberapa menit, Carissa dan Tama tiba di Bedugul. Mereka berjalan-jalan menikmati pemandangan yang indah, dan juga menghampiri berbagai toko yang menjual macam-macam oleh-oleh ataupun souvenir.
“Lihatlah, Mas!” Carissa menunjukkan gantungan kunci kecil yang berbentuk kelamin laki-laki kepada suaminya itu, gadis itu terlihat tertawa geli saat melihat ada berbagai ukuran yang terpajang disana.
“Punyaku masih lebih baik.” Jawab Tama dengan yakin.
“Bagaimana dengan ini?” Carissa kali ini menunjukkan ukuran yang paling terbesar hiasan yang menyerupai kelamin laki-laki itu.
“Tidak, tidak, Mas. Yang sudah ada saja membuatku kewalahan, jangan menambahnya lagi. Aku tak akan mampu, bisa mati nanti aku.” Jawabnya dengan panik.
Tama tertawa terbahak-bahak melihat istrinya panik dan ketakutan, “Kamu sungguh luar biasa. Hanya kamu, gadis pertama yang bisa membuatku tergila-gila seperti ini.”
Tama dan Carissa memilih untuk makan malam saat perjalanan pulang mereka ke hotel. Sesampainya ke hotel, Tama mengantar Carissa ke kamar Allen sebentar untuk meminjam laptop. Gadis itu ingin menonton film romance yang siang tadi diberikan padanya.
“Mandilah, Mas. Aku akan menunggumu, dan ayo kita menonton filmnya bersama.” Ajak Carissa saat ia telah selesai mandi.
__ADS_1
“Tontonlah dulu, aku akan menelepon Claudia dan mengucapkan terima kasih padanya atas hadiah yang ia berikan. Nanti aku akan menyusulmu”
“Baiklah, kalau begitu aku akan menontonnya terlebih dahulu.”
Tama keluar dari kamarnya dan ia berusaha menelepon teman masa kecilnya itu, butuh beberapa menit sampai Claudia mengangkatnya. “Ya, Halo.”
“Clau, ini Tama.”
“Oh, hai, Tama. Apa kabar?”
“Aku baik-baik saja. Apa kamu masih ada di Bali sekarang?”
“Bali? Apa maksudmu, Tam?”
“Saat ini bukannya kamu sedang ada di Bali?”
“Tidak! Saat ini aku sedang berada di Belanda, Tam.”
“Apa? Tunggu! Bukannya siang tadi kamu bertemu dengan istriku dan memberikan film yang akan rilis padanya sebagai hadiah?”
“Kurasa kamu salah informasi, Tama.”
__ADS_1
“Oh! Sial!!!” Tama langsung memutus panggilannya dan berlari masuk kedalam kamarnya. Saat dia ingin memasuki kamar tidurnya tempat Carissa berada, dia terkejut karena tidak bisa membukanya dari luar, ya . . . karena Carissa sengaja mengunci pintu itu agar bisa melihat setiap adegan yang ada di dalam video tersebut.
“Risa! Cepat buka pintunya, Sayang! Carissa!” teriak Tama sambil terus menggedor dan mencoba membuka pintu yang dinding kamar dalam seluruhnya tersekat dengan kaca bening itu. Tama dengan jelas dapat mendengar teriakan dan des*han seorang gadis dan juga suara geraman dari seorang laki-laki yang adalah suara miliknya, milik Tama.