PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 90!!!


__ADS_3

“Kamu salah besar, Sayang.” Tama mendorong tubuh Carissa hingga membentur pohon kelapa yang cukup besar, dia bisa melihat istrinya menatapnya dengan tatapan tak percaya atas apa yang telah ia lakukan. “Kamu harus bertanggung jawab karena telah membangunkan binatang buasku.”


“Tapi, Mas . . . emppp!” bibirnya kini sudah terbungkam oleh ciuman panas dari suaminya yang sudah mulai menggila atas dirinya. “Mas! Tunggu! Jangan di sini.”


“Aku tak bisa bersabar, Risa. Harusnya kamu tahu sebelum memprovokasiku.”


“Aaahh!!!” Tama meremas kedua daging kenyal yang mulai menegang itu.


“Lebih baik kamu tahan suaramu jika tidak ingin Vian berlari ke sini, Sayang.” Tama berjongkok tepat di hadapan Carissa dan mengangkat kaki kanan Carissa lalu menopangkannya di pundaknya, tak sulit menemukan apa yang dicarinya karena Carissa mengenakan gaun pendek di atas lutut.


“Tunggu! Mas, apa yang kamu lakukan, eeemmmhhhh!!!” Carissa melenguh hingga tubuhnya melengkung dan memejamkan kedua matanya, ia susah payah menahan suaranya dengan menutup bibirnya dengan sebelah tangannya. Ia kini kehilangan akal sehatnya dengan sempurna saat Tama bermain dibawah sana menggunakan lidahnya yang terus menggelitik di daerah tersensitifnya.


“Mas, cukup! Aku mohon!” permintaan Carissa sama sekali tidak dihiraukan oleh Tama, ia justru lebih bersemangat karena merasakan tubuh istrinya yang semakin menggeliat, dan akhirnya ia berhenti saat menyadari tubuh Carissa menegang hebat dan mencengkeram kepalanya dengan kuat.


“Kurasa kamu sudah siap untuk langkah berikutnya.”


“Maaf, Mas. Aku tak akan melakukannya lagi.”

__ADS_1


“Jangan berkata seperti itu. Teruslah melakukannya agar aku bisa mempunyai alasan untuk menyerangmu.”


“Mas! Mas Tama!” panggilnya dengan cemas saat melihat Tama mulai menurunkan ritsletingnya.


“Jangan cemas, Sayang. Berbaliklah, dan nikmati permainannya.” Tama memutar tubuh Carissa dan membuat istrinya itu bersandar pada pohon kelapa. Dengan satu hentakan, Tama berhasil memasuki Carissa karena telah panas karena permainannya sebelumnya.


“Emmmpp...emmp...emppp.” Carissa membungkam mulutnya dengan susah payah, ia takut jika tidak menutup mulutnya, teriakannya akan terdengar kemana-mana. Ia tak mau menjadi tontonan orang lain. Walaupun itu daerah privat khusus karena fasilitas yang memang disediakan hotel, tetap saja ia tak mau jika pengawal pribadi Tama mengetahui tindakan mereka yang di luar kata normal.


Di tengah gelapnya malam dan terpaan angin pantai yang semakin dingin, tak membuat mereka berdua kedinginan, justru keringat mengucur di seluruh tubuh yang saat ini sedang bekerja keras mencari titik kenikmatan.


“Ini rasanya sungguh gila! Aku benar-benar menggila dengan tubuh ini.” Gumam Tama dalam hati. Baru pertama kali ia melakukan hal semacam ini di luar ruangan, namun bukan membuatnya takut, justru membuatnya sangat bergairah terutama saat mendengar istrinya menahan suara desah yang terdengar sangat seksi itu.


“Hah . . . hah . . . Mas, aku akan . . . emmpp!”


“Tunggu, Sayang. Aku akan menyelesaikannya sekarang.” Tama menggerakkan pinggangnya semakin cepat, wajahnya semakin terlihat serius hingga akhirnya ia mengeluarkan cairan kental itu bersamaan dengan nikmat yang menyelimuti tubuhnya juga istrinya.


Carissa menegakkan tubuhnya dan merapatkan tubuhnya ke pohon dengan bantuan Tama. Tama memeluk tubuh itu dari belakang dan menciumi pundak Carissa yang sudah tidak tertutup dengan selimut lagi.

__ADS_1


“Sekarang kita harus kembali.”


“Aaakhh! Apa yang kamu lakukan, Mas?” Carissa berteriak karena terkejut saat laki-laki tampan itu dengan mudah mengangkatnya.


“Aku akan membantumu kembali ke kamar.” Dengan enteng Tama membawa tubuh Carissa seakan tanpa bemban.


“Vian! Perintahkan pada seluruh anak buahmu, beri jarak penjagaan dari kamar ini.” Perintahnya saat melihat Vian berjaga didepan kamarnya. “Yang jauh, tapi tetap bisa bagi kalian memantau kamar ini dari kejauhan.”


“Baik, Tuan.” Vian menuruti tanpa bertanya dan berjalan menjauh.


“Mas, kenapa kamu meminta Vian menjauh?”


“Kamu sudah susah payah menahannya tadi bukan, kali ini kamu tidak perlu bersusah payah.”


“Hah? Apa maksudmu?” setelah itu tubuhnya bergidik saat mendengar Tama berbisik tepat didepan telinganya.


“Aku akan membuatmu berteriak lebih kencang dari pada malam-malam sebelumnya. Teriaklah sepuasnya, Sayang. Karena tidak akan ada yang bisa mendengarmu dari luar.” Bisik Tama dengan senyum yang menyeringai.

__ADS_1


“Tidak! aku tidak akan bisa bangun besok. Seseorang, tolong bantu aku.” Teriaknya dalam hati. Namun akhirnya hanya menyerah yang bisa ia lakukan saat Tama sudah mengurungnya kembali dalam desakan gairah.


__ADS_2