PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Extra Part 3


__ADS_3

Mobil Vian dan Allen berhenti saat melihat Carissa telah terlempar dari dalam mobil. Buru-buru Allen turun dan mendekati Carissa.


''Kamu baik-baik saja, Risa?'' tanyanya dengan panik.


Namun bukan jawaban yang ia dapatkan, namun teriakan dan tangisan pilu saat mobil yang Tama tumpangi terjun bebas setelah menabrak pembatas jalan.


Allen memeluk Risa dan berusaha mencegah agar gadis itu tidak berlari mendekati lokasi ledakan mobil. Kepanikannya bertambah saat melihat Mega dan nenek Lita turun dari mobil mereka, ia menyaksikan nenek Lita jatuh tak berdaya di sisi Mega yang juga sedang menangis dan meratapi kematian putranya. Dengan cepat Allen memerintahkan bawahannya untuk membawa nenek Lita ke rumah sakit terdekat.


Carissa tiba-tiba terdiam dalam pelukannya, ia tak menyadarinya jika bukan karena Lira yang menyadarkannya. Allen melihat kedua mata Carissa terpejam dan tubuhnya lemas.


''Risa...Risa! Bangunlah, Risa.''

__ADS_1


''Kak, kita bawa sekalian saja Kak Risa ke rumah sakit. Aku takut ini efek dari luka dan benturan ke perutnya.''


''Kamu benar.'' Allen memberikan pesan kepada Vian untuk tetap berada di lokasi sampai kepolisian datang, ia menggendong tubuh lemas Carissa dan membawanya masuk kedalam mobil. Sebelum berankat, tak lupa ia membujuk Mega agar ikut bersamanya karena kondisi nenek Lita juga tidak terlalu baik.


Sesampainya di rumah sakit, Carissa langsung masuk ke IGD karena adanya kontraksi dalam kandungannya. Namun syukurnya kondisinya cepat stabil kembali.


''Tante, Allen mohon tenanglah.'' Allen mencoba menenangkan Mega karena orang-orang yang di sayanginya sedang berjuanh dengan maut.


Mega sadar jika Tama tak akan selamat karena ledakan mobil itu begitu besar, hatinya terasa sakit melihat anak semata wayangnya meninggal dengan tragis, Carissa juga sempat di nyatakan kritis saat tidak sadarkan diri dan mengalami sedikit pendarahan saat di bawa kerumah sakit, namun Carissa menunjukkan tanda-tanda yang baik, dan bisa membuatnya lebih tenang. Namun Mega belum bisa bernafas lega karena nenek Lita masih dalam penanganan.


Allen tak tahu harus mengatakan apa untuk menenangkan Mega, hatinya juga perih saat mengetahui sahabatnya meninggalkannya dengan tragis. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah hanya memeluk perempuan paruh baya yang sudah di anggapnya seperti ibu kandung itu, dan mengusap punggungnya berharap Mega akan lebih tenang.

__ADS_1


Bak petir di siang hari, belum lepas dari kesedihannya kehilangan putra semata wayangnya, ia harus menerima kabar jika ibunya telah tiada karena serangan jantung. Mega begitu terguncang sampai tidak sadarkan diri.


Satu jam telah berlalu, Mega kini juga di rawat di ruangan yang sama dengan Carissa. ''Belum dapat kabar, Kak?''


''Vian baru saja mengabariku jika saat ini sedang di lakukan evakuasi. Aku sebenarnya ingin ada di sana, mendampingi sahabatku untuk yang terakhir kalinya, tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka di sini.'' Allen terduduk dengan lemas dan memijat pelipisnya yang terasa nyeri.


''Bagaimana ini bisa terjadi? Harusnya aku lebih memperhatikan keamanannya lagi, ini semua salahku, salahku.'' guman Allen.


Lira menangkup wajah Allen dan menghadapkannya ke arahnya, ''Ini bukan salah Kak Allen, tidak ada yang tahu jika perempuan itu ternyata ada di sini selama ini.'' Lira mencoba menyemangati Allen yang terlihat suram. Lira mengetahui sesikit tentang masalah itu karena Allen pernah bercerita padanya.


''Aku tidak tahu jika sopir itu bukan dari pihak hotel, harusnya aku memeriksanya lagi, Lira.''

__ADS_1


''Tenanglah, Kak Allen. Ini bukan salah Kakak.''


Tiba-tiba mereka berdua di kejutkan oleh suara tangisan dari dalam kamar, dari kaca kecil yang ada di pintu, Allen bisa melihat kedua perempuan berbeda umur itu saling memeluk dan menangis dengan miris.


__ADS_2